Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan Ketos
Sekarang Nara lagi-lagi dibawa ke ruang OSIS.
"Aduh, tau gini mending gue nggak nolong deh," gumamnya dalam hati.
Matanya melirik ke segala arah, berniat mencari kesempatan buat kabur. Namun, sayangnya gerak-geriknya langsung dibaca oleh Alden.
"Jangan ada niat buat kabur," ucap Alden tegas.
Nara langsung mati kutu. "Hehehe... nggak kok, gue nggak kabur, beneran."
Alden cuma diam sambil tetap berjalan menatap lurus ke depan. Sikap cueknya itu malah bikin Nara cemberut.
Saat melihat lorong di depan, otaknya langsung menyusun rencana. Begitu hendak berbelok, tiba-tiba tangannya langsung digapai Alden.
"Udah gue bilang, jangan berniat buat kabur."
"Iya deh..." cicit Nara pasrah.
Sepanjang jalan, tangannya terus digenggam Alden. Mau cari celah buat kabur pun jadi susah.
Nggak lama kemudian, pintu ruang OSIS terbuka. Di saat yang sama, Selena baru saja keluar dari dalam.
"Loh, Al... Naya?" ucap Selena bingung.
Tatapannya langsung jatuh ke tangan Alden yang masih menggenggam tangan gadis itu.
"Ada apa?"
"Dia lagi berurusan sama gue. Dia bandel," jawab Alden santai.
"Sel, gue nggak ada niat ngerebut kok, beneran. Dia ini nih yang ngeselin banget. Lepasin!" protes Nara sambil berusaha menarik tangannya.
Bukannya dilepas, Alden malah tetap menggenggam tangannya dan langsung masuk ke ruangan Ketua OSIS.
"Sel, nanti gue jelasin!" teriak Nara dari dalam.
Begitu masuk ke ruangan, Alden duduk di kursinya.
"Duduk."
Nara menatap cowok itu heran sebelum akhirnya duduk.
"Eh, lo jadi cowok yang gentleman dong. Masa cewek yang lo bawa dibiarin bikin orang salah paham? Harusnya lo jelasin ke Selena pas baru sampai," omel Nara nggak percaya.
Alden terlihat sama sekali nggak peduli.
"Dia bukan pacar gue. Jadi stop mikir kalau gue sama dia pacaran. Paham, lo?"
Nara langsung diam.
"Lo tau kan masalah lo apa?" tanya Alden sambil membuka laptop di depannya.
Nara melipat kedua tangan di dada. Salah satu kakinya ikut dinaikkan ke kursi, duduk santai seperti cewek tomboy.
"Tau. Gue berantem di depan. Udah, kan?" jawabnya jutek.
"Hmm... gue bakal ngaduin lo ke papi sama mami lo."
Nara langsung menoleh cepat.
"Hah? Kan gue udah bilang sama lo, jangan sok ngatur hidup gue. Gue nggak mau diatur, paham, lo?"
"Udah beberapa kali juga gue bilang, gue nggak bakal ngatur hidup lo kalau lo nggak ngelanggar aturan sekolah."
Jawaban Alden tetap santai. Tatapannya kembali fokus ke layar laptop.
Nara mengembuskan napas panjang.
"Gue nggak ngelanggar. Gue cuma bantuin aja. Emang salah?"
"Salah. Lo udah masuk ke lingkaran itu pas ada perkelahian. Jadi lo tetap harus tanggung konsekuensinya."
Mendengar itu, Nara langsung menatap kaget. Otaknya mulai memutar berbagai cara supaya mami dan papinya nggak sampai tahu.
"Al... pleaseee... jangan kasih tau mami sama papi," pintanya.
"Kenapa?"
"Yang ada gue dimarahin sama mereka. Lo nggak tau, gue pernah ketahuan balapan waktu kelas sebelas di London. Besok paginya gue langsung kena sidang sama mami, papi, oma, sama opa lewat video call."
Alden menatap Nara penuh tanda tanya.
"Jadi... gara-gara itu nama lo Mont pas balapan?"
Nara mengangguk pelan.
"Gue nggak mau fasilitas sama uang jajan gue dipotong. Jadi gue mau ngajak kerja sama sama lo. Gimana? Deal?"
"Tetap aja gue bakal kasih tau orang tua lo."
Seketika wajah Nara berubah panik.
"Gue beliin apa pun yang lo mau."
"Nggak."
"Gue turutin semua ucapan lo."
"Nggak."
"Gue janji gue nggak bakal bandel lagi."
"Tetap nggak."
"AAAAA... ayo lah, Al..." ucap Nara frustrasi sambil mengacak rambutnya sendiri.
Alden tetap sibuk menatap layar laptop, seolah semua rayuan itu nggak mempan.
Sementara itu, Nara memutar otak lagi. Sampai akhirnya sebuah ide muncul di kepalanya.
"Al..."
"Kenapa?"
"Lo lupa? Gue dibesarkan di London."
"Terus?"
Nara berdiri dari kursinya, lalu berjalan pelan menghampiri Alden dengan penuh percaya diri.
Melihat langkah gadis itu semakin dekat, Alden akhirnya mendongak dari laptopnya.
"Alden..."
Kali ini suara Nara terdengar lembut, bahkan sedikit mendayu. Senyum manis terukir di wajahnya.
Tanpa aba-aba, Nara mendorong perlahan kursi Alden sampai sedikit bergeser ke belakang.
"Ngapain sih, lo?"
Bukannya menjawab, Nara malah duduk begitu saja di pangkuan Alden. Salah satu tangannya melingkar di bahu cowok itu.
Alden langsung menegang.
"Alaric Alden Adinata... lo itu tunangan gue, kan? Udah seharusnya lo lindungin gue. Lo turutin semua keinginan gue, dan nanti gue juga bakal nurutin semua keinginan lo."
Suara Nara terdengar begitu lembut. Tatapannya lurus menatap manik mata Alden.
Sementara Alden malah terpaku menatap balik gadis itu. Jarak mereka sekarang terlalu dekat.
"Ayo dong, Al... kali ini aja. Gue bakal kasih apa pun ke lo. Bahkan... bibir gue sekali pun, ya?"
Kalimat itu sukses bikin Alden susah bernapas. Tenggorokannya terasa kering sampai menelan ludah saja rasanya berat.
"Nar... berdiri."
Suara Alden terdengar lebih berat dari biasanya.
"Nggak mau. Gue masih mau duduk di sini. Kecuali lo turutin apa yang gue minta."
Sambil berkata begitu, Nara mengangkat sebelah tangannya dan membelai pelan pipi Aldden.
Alden langsung memejamkan mata sejenak, berusaha menahan dirinya sendiri.
"Nar... lo tau kan gue cowok normal? Gue bisa aja minta pertanggungjawaban atas apa yang barusan lo lakuin ke gue."
Nada suaranya terdengar menantang.
Nara sempat terkejut mendengarnya. Namun, ekspresi itu buru-buru ia sembunyikan.
"Why not? Lo mau minta tanggung jawab? Boleh kok."
Alden benar-benar nggak habis pikir sama jalan pikiran cewek di depannya.
"Oke. Gue nggak bakal bilang sama orang tua lo."
Wajah Nara langsung berbinar.
"Tapi sekarang lo berdiri dari atas gue."
"Yes!"
Nara langsung tersenyum lebar.
"Thanks, Al."
Tanpa berpikir panjang, Nara refleks mengecup pipi Alden sebelum buru-buru keluar dari ruangan.
Pintu ruangan pun tertutup.
Sementara Alden masih membeku di tempatnya.
Tangannya perlahan menyentuh pipinya yang baru saja dicium Nara. Wajahnya memanas, bahkan kedua telinganya ikut memerah.
"Sial..." umpatnya pelan.
Sedangkan Nara berjalan keluar dengan langkah ringan. Senyum di wajahnya nggak bisa disembunyikan.
"Akhirnya gue nggak perlu takut lagi," ucapnya dalam hati sambil tersenyum puas.
"Nayaa!"
Tiba-tiba seseorang meneriaki namanya. Nara langsung menoleh. Di sana terlihat Asha dan Rora yang sedang berlari ke arahnya.
"Hai, guys! Gue lagi happy banget nih!" ucap Nara semangat.
"Lo dari mana aja sih? Gue denger kabar lo ikut berantem juga, ya? Lo ada—OH MY GOD! Bibir lo kenapa? Itu kaki lo kenapa diplester? Lo luka?!" teriak Rora dengan suara cemprengnya.
Sedangkan Asha menatap Nara penuh rasa khawatir.
"Oh, udah biasa ini mah. Nggak sakit, aman. Gue cuma nolongin mereka aja. Secara geng si Niel cuma lima belas orang, sedangkan musuhnya lebih banyak. Jadi gue bantuin deh," jawab Nara santai.
"Duh, Nay. Kalau gue tau lo ikut berantem, udah gue tarik lo ke lift. Lagian ngapain sih? Lukain diri lo sendiri aja, tau nggak!" gerutu Rora kesal.
"Aman gue mah, udah biasa," jawab Nara santai sambil nyengir.
"Oh iya, tas lo mana?" tanya Rora saat sadar tas di punggung Nara nggak ada.
Nara langsung refleks menoleh ke belakang. Tangannya meraba pundaknya yang kosong.
"Perasaan tadi gue bawa deh pas tawuran dibubarin."
Ia langsung mengingat-ingat beberapa menit yang lalu.
"Anjir... ketinggalan di ruang OSIS," jeritnya dalam hati.
"Gue duluan ya! Bye!" ucapnya buru-buru sebelum langsung berlari meninggalkan kedua temannya.
Nara berlari menuju ruang OSIS. Begitu pintunya dibuka, ternyata Alden sedang berdiri tepat di depan pintu.
Karena terlalu kaget, langkah Nara langsung terdorong mundur hingga hampir terjatuh. Refleks, Alden langsung meraih pinggang gadis itu agar nggak jatuh.
"Al... Alden, lepasin," ucap Nara gugup.
Baru sadar apa yang barusan ia lakukan, Alden langsung menarik kembali tangannya.
"Ngapain lagi lo ke sini?" tanyanya.
Entah kenapa suasana di antara mereka terasa sedikit canggung.
"Oh, itu... tas gue kayaknya ketinggalan di sini deh," jawab Nara tanpa merasa ada yang aneh.
Alden mengambil sebuah tas dari atas meja.
"Ini tas lo. Tadinya mau gue bawain aja, tapi ternyata lo datang sendiri."
"Thanks ya. Ternyata bener ketinggalan di sini," ucap Nara sambil tersenyum cengengesan.
Alden sempat terpaku melihat senyum itu sebelum akhirnya berdeham pelan.
"Lo pulang sama siapa? Mobil lo udah dianterin ke sini?"
"Belum. Kayaknya gue mau pulang naik taksi aja deh."
"Kalau suasana kayak gini, nggak bakal ada taksi yang lewat depan sekolah."
Nara mengangguk pelan.
"Bareng gue aja."
Ajakan itu membuat Nara menatap Alden dengan heran.
"Eh, nggak usah. Gue nggak mau ngerepotin lo lagi," tolaknya halus.
"Gue nggak ngerasa direpotin. Lo datang bareng gue, jadi pulang juga bareng gue."
"Terus Asha gimana?"
"Dia nanti pulang sama Niel, katanya."
"Oh... boleh deh."
Mereka pun berjalan berdampingan keluar dari ruang OSIS.
Sekolah sudah mulai sepi. Setelah keadaan berhasil dikendalikan, seluruh siswa dipulangkan lebih awal karena kondisi sekolah yang sudah nggak kondusif.
"Nara."
Suara Alden memecah keheningan.
"Kenapa?" tanya Nara santai.
Alden berdeham pelan sebelum akhirnya bicara.
"Lain kali jangan kayak gitu lagi."
Nara menatapnya bingung. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk paham.
"Nggak kok. Gue nggak bakal ikut berantem lagi. Janji deh."
Karena yang dipahami Nara, Alden sedang membahas tawuran tadi.
Alden malah mengembuskan napas pelan.
"Bukan."
"Terus?"
"Yang lo lakuin ke gue tadi... di ruang OSIS."
Nara langsung mematung.
"Untung lo ngelakuinnya ke gue. Coba ke cowok lain, emang mereka bakal diem aja?"
Ucapan Alden sukses bikin Nara salah tingkah.
"Gue kan terpaksa. Lo nggak baper, kan?" tanyanya memastikan.
Alden terkekeh pelan.
"Nggak lah. Ngapain juga? Ingat, gue nggak bakal nyentuh atau ngerusak lo sebelum lo resmi jadi istri gue. Paham, lo?"
Nara langsung mendelik.
"Siapa juga yang mau dirusakin," gumamnya pelan sambil memalingkan wajah.
Tanpa sadar, sudut bibir Alden terangkat tipis melihat tingkah Nara.
Nara pun langsung mempercepat langkahnya, menyusul Alden menuju area parkiran sekolah.
Sesampainya di rumah gadis itu, Nara langsung turun dari motor. Ia kemudian menoleh ke arah Alden yang masih duduk di atas motornya.
"Temenin gue ke dalam dulu, dong. Lo yang ngomong sama mami gue. Soalnya kalau gue yang ngomong, mereka pasti nggak percaya," bujuk Nara.
Alden yang tadinya sudah bersiap untuk pulang akhirnya membuka helmnya, lalu ikut turun dari motor. Mereka berdua berjalan menuju pintu rumah. Untung saja, saat hendak masuk, ternyata Papi Ronald dan Mami Felly baru saja akan keluar.
"Loh, kok udah... Ya ampun, Nara!" teriak Mami Felly kaget begitu melihat wajah putrinya.
Tatapannya langsung tertuju pada bibir Nara yang masih menyisakan bekas luka.
"Ini kenapa bibir kamu begini, hah? Kamu habis ngapain?" ucapnya penuh khawatir sambil mendekat.
"Maaf, Tante, Om. Alden tadi nganterin Nara pulang. Bibirnya kepentok pintu kantin tadi, makanya sempat berdarah," bohong Alden dengan wajah setenang mungkin.
Di sampingnya, Nara hanya melirik Alden sekilas. Dalam hati ia cukup heran melihat cowok itu bisa berbohong selancar itu demi menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Ya ampun, makanya lain kali hati-hati, dong," ucap Mami Felly sambil mengusap pelan pipi putrinya.
"Iya, Mi. Nggak sengaja," balas Nara singkat.
"Kalau gitu Alden pulang dulu ya, Om, Tante," pamit Alden sopan.
"Hati-hati ya, Nak. Makasih ya udah anterin Nara pulang," ucap Felly sambil tersenyum kepada calon menantunya itu.
Alden mengangguk kecil, lalu kembali memakai helmnya sebelum menyalakan motor dan meninggalkan rumah keluarga Valenzia.
Begitu Alden benar-benar pergi, Nara menoleh ke arah kedua orang tuanya.
"Mami, Papi mau ke mana?" tanyanya.
"Mami sama Papi mau ke kondangan temen Mami. Kamu tukar baju dulu, habis itu istirahat, oke?" pesan Mami Felly.
"Iya, Mi," jawab Nara sambil mengangguk pelan. Setelah itu, ia masuk ke dalam rumah, sementara kedua orang tuanya bersiap berangkat menghadiri acara tersebut.