Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*26
Sha melepas napas berat secara perlahan. Jujur saja, dia juga tidak ingin tinggal di kedua tempat itu. Rumah mewah atau vila bukan pilihan yang tepat untuk mereka tinggali.
"Sha .... "
"Ee ... nggak. Pilihan kamu mungkin sudah tepat, Za. Kita tinggal di apartemen saja. Gak masalah."
Wajah Irza langsung terlihat cerah. "Beneran gak papa, Sha?"
"Hm. Iya. Gak papa."
Dalam hati Asha berkata. 'Andai saja aku bisa tinggal di kamar apartemen yang lainnya, itu lebih bagus.'
Sementara itu, Irza juga bicara dalam hati. 'Maaf, Sha. Aku pilih tempat tinggal ini bukan karena yang lain terlalu besar, dan aku tidak nyaman. Melainkan, karena aku ingin selalu ada di dekat kamu. Dengan tinggal di apartemen ini, kita bisa selalu dekat. Karena ruangan yang terbatas akan membuat kamu selalu ada di sekitar aku, Asha.'
Benar. Itulah alasan Irza memilih kamar apartemen yang saat ini mereka tinggali. Karena sebenarnya, apartemen elit itu punya banyak bagian. Malahan, ada yang luas sampai punya dua kamar. Tapi Irza memilih yang ukuran paling kecil. Karena alasannya dia ingin selalu ada di sekitar Asha. Lagian, apartemen elit ini milik keluarganya. Tentu saja ia saja ia sangat mudah untuk mendapatkan yang mana saja yang ia inginkan. Dan, dia juga sangat tau seluk beluk dari apartemen tersebut.
*
Akhirnya, mereka mulai menata tempat tinggal baru mereka dengan bahagia. Sebagian barang pribadi milik keduanya telah pun di antar ke tempat tersebut. Keduanya pun sepakat untuk mulai berbagi tempat. Karena di sana hanya ada satu lemari pakaian, satu meja rias, juga satu meja kecil tempat belajar. Jadinya, mereka harus berbagi semuanya.
Asha tidak keberatan dengan hal tersebut. Hal itu sangat membahagiakan buat Irza. Usai berberes, keduanya sama-sama berbaring di atas ranjang. Melepas lelah setelah menata tempat tinggal baru mereka dengan sangat baik.
"Hah ... akhirnya selesai juga," ucap Sha sambil tersenyum kecil dengan mata yang menatap ke arah langit-langit.
"Sha ... lelah kan? Lapar gak? Mau aku pesankan makanan apa?"
"Mm ... apa-apa juga boleh. Asal bisa di makan, Za."
"Oke deh. Ku pesan pare mentah gimana, Sha?"
Sontak, Asha langsung memutar tubuh dari berbaring jadi telungkup. "Ha? Pare? Kamu-- "
"Ya katanya ... apa saja boleh asal bisa di makan," ucap Irza sambil tersenyum jahil.
Sha pun langsung memasang wajah cemberut.
"Kamu bisa nakal juga ya, Za. Mau nguji kesabaran ku?"
"Eh ... nggak. Aku cuma bercanda."
"Wah wah wah. Bercandaan mu ini sangat lucu tau .... Rasanya ... aku ingin memukul mu sekarang juga, Irza."
"Oh, nggak. Ya Tuhan. Jangan marah, Sha. Aku cuma bercanda," ucap Irza kali ini tidak dengan senyum jahil lagi. Tapi sebaliknya, dengan wajah cemas plus guratan penuh rasa bersalah.
Melihat kepanikan Irza, Asha langsung terkekeh. Luar biasa lucunya wajah Irza barusan di depan mata Sha. Padahal awalnya, pria itu sedang mengajak Sha bercanda. Eh ... gara-gara wajah Sha yang berubah, Irza malah jadi panik.
"Sha .... Kenapa tertawa?" Irza bertanya dengan nada bingung.
Asha masih tetap tertawa lepas.
"Za. Kamu lucu. Sangat-sangat lucu, tau gak sih?"
"Lucu?"
"Hm. Iya, kamu lucu."
"Lucu ... di mananya, Sha?"
"Ya wajah mu kok tiba-tiba panik sih, Za? Padahal kan aku hanya balas candaan yang kamu lontarkan padaku sebelumnya. Eh ... kamu malah panik gitu."
"Barusan itu ... kamu cuma bercanda, Sha?"
"Hm. Iya. Apa lagi? Kamu pikir serius?"
Irza langsung salah tingkah. Tangannya reflek menyentuh tengkuk dengan cepat. "Iya ... aku pikir kamu serius. Kamu kesal padaku gara-gara candaan yang aku lontarkan padamu."
Sha tersenyum lepas. Kali ini, senyum itu bisa Irza nikmati dengan sangat baik. Hatinya pun langsung mekar dengan bunga-bunga yang hampir bisa ia cium bau harumnya dengan sangat jelas.
"Irza ... Irza. Mm ... ya sudahlah. Katanya mau pesan makan siang buat kita berdua. Pesan sekarang aja, Za. Kebetulan, aku udah lapar nih sekarang."
Sayangnya, yang Asha ajak bicara malah sedang menikmati harumnya bunga cinta yang sedang mekar. Mana sadar dengan apa yang baru saja Asha katakan.
Alhasil, Sha harus memanggil Irza karena pria gemulai itu sedang berdiri mematung bak pajangan di toko pakaian saja.
"Za."
Satu kali. Dua kali panggilan. Sayangnya, tidak kunjung di respon oleh Irza. Seketika, Sha menaikkan volume panggilan lebih tinggi dari sebelumnya. "Irza Rahardi."
"Hah! Iya, Sha. Ada apa?"
"Melamun soal apa?"
"Ha? Eng-- enggak. Gak melamun kok."
"Gak melamun tapi kok gak jawab panggilan aku?"
"It-- itu ... aku .... "
"Hm ... ya sudahlah. Lupakan saja. Katanya mau pesan makan, Za. Gak jadi ya?"
"Eh ... jadi kok, Sha. Jadi. Kamu mau-- "
"Jangan nanya lagi ya. Pesankan saja apa yang enak untuk di makan." Potong Asha dengan cepat.
Irza pun langsung mengangguk cepat.
"Baiklah. Aku pesankan saja ayam bumbu buat kamu. Katakan jika ada yang mau di pesan lagi."
"Gak ada."
"Baik, Nona."
Makanan pun Irza pesankan. Sambil menunggu, mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tidak banyak bicara karena Asha sedang sibuk dengan gawai miliknya. Sementara Irza, dia juga memegang gawai miliknya. Namun, perhatiannya tidak ia tumpukan pada benda pipih tersebut. Karena di sampingnya ada Asha, jadi semua perhatiannya dia tumpukan hampir sepenuhnya pada wanita pujaan hatinya ini.
Beberapa waktu berlalu dalam keadaan hening. Akhirnya, ketukan di pintu terdengar. Perhatian keduanya pun langsung terfokus pada pintu tersebut.
Irza langsung bangun dari duduknya.
"Nah, itu pasti kurir buat antar makanannya, Sha."
Benar saja apa yang Irza katakan. Yang datang memang kurir yang mengantar makanan yang ia pesan. Irza yang membuka pintu dengan tangan kosong, saat berbalik sudah menenteng dua paper bag coklat di tangannya.
"Sha. Ayo makan!"
Asha mengangguk. Awalnya, ia pikir Irza benar-benar hanya memesan ayam bumbu untuk mereka makan. Namun setelah membongkar paper bag yang ada di atas meja. Makanan yang Irza pesan malah cukup untuk makan lima sampai enam orang.
Asha terdiam sesaat sambil menatap semua makanan yang terhidang di atas meja makan sedang yang ada di dapur apartemen tersebut.
"Za ... kita cuma berdua kan? Kamu gak ngundang tetangga yang lain untuk makan siang ke rumah kita bukan?"
"Enggak." Irza menjawab dengan polos.
"Kenapa, Sha?"
Asha langsung nyengir tak enak.
"Enggak. Ku pikir kamu undang tetangga buat makan di rumah kita, makanya kamu pesan makanan sebanyak ini. Za, gimana cara ngabisin nya? Ini terlalu banyak, tau?"
Irza hanya bisa nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sedikitpun. Dia memang gemulai, dia memang berbeda. Tapi dia sedang berusaha untuk meratukan wanita yang ia cintai walau caranya cukup sederhana.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi