Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Kecurigaan Desi
Hari ini, Desi kurang bersemangat menjalani hari. Terlalu banyak hal-hal di luar perkiraannya. Mulai dari suaminya yang memberi nafkah jauh dari bayangannya hingga perkataan mbok Muna kemarin. Semua itu membuatnya pusing. Tapi Desi berusaha menepis semua itu. Ia mencoba bertahan demi anak-anaknya yang masih kecil-kecil.
'Belum saatnya aku bertindak, ikutin dulu apa kemauan mas Ridwan, kalau aku sudah tidak kuat, baru aku akan pergi, tentu dengan membawa semua anak-anakku' , bathin Desi.
Begitulah, Desi tetap bertahan dengan semua ini sambil berusaha mencari lebih banyak uang memenuhi kebutuhan dia dan anak-anak. Mulai dari berjualan pulsa. Sebenarnya, Desi berencana berjualan makanan juga dan akan dititipkan di kantin sekolah, tapi dia belum menemukan ide berjualan apa.
'Sepertinya berjualan es mambo tidak terlalu sulit membuatnya, tapi aku tanya dulu dengan ibu kantin, bisa nggak nitip mulai besok.' , ucap Desi dalam hati.
Akhirnya, Desi memberanikan diri bertanya pada ibu yang jaga kantin di sekolahnya kalau besok dia mau nitip jualan es mambo.
"Bu, besok apa bisa saya nitip berjualan es mambo di kantin ?" , tanya Desi.
"Boleh bu Desi, silahkan kalau mau titip jualan. " , jawab bu Siti, penjaga kantin.
"Makasih banyak bu Siti." , ucap Desi.
"Sama-sama bu Desi." , jawab bu Siti.
Sepulang sekolah, Desi segera membeli bahan-bahan untuk membuat es mambo. Dia bersemangat apalagi sudah mendapat ijin dari ibu kantin. Sampai di rumah, Desi beristirahat sebentar sebelum dia mulai membuat es mambo.
"Mama bikin apa?" , tanya Aqilla
"Mama lagi buat es sayang, untuk dijual di sekolah." , jawab Desi.
"Boleh nanti Aqilla minta es nya ma? " , tanya Qilla.
"Boleh sayang, tapi jangan banyak-banyak ya." , jawab Desi.
"Iya mama, dikit aja kok." , ucap Qilla.
"Mama, aku bantuin ya?" , ucap Bagas.
"Iya sayang, coba Bagas ambilin baskom yang agak besar buat naruh es yang sudah mama ikat ini. " , pinta Desi.
"Siap mama. Nanti aku yang susun di frezer ya ma." , kata Bagas bersemangat.
"Iya sayang. Makasih ya udah bantuin mama." , ucap Desi.
"Sama-sama mama." , jawab Bagas.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Bagas, ini es nya susun di frezer ya, yang rapi nyusunnya." , perintah Desi pada Bagas.
"Siap mama." , jawab Bagas.
Keesokkan harinya, Desi bangun lebih pagi untuk memasak supaya bisa berangkat kerja lebih awal. Desi tetap memasak untuk suaminya karena nanti Ridwan akan pulang kerja shift malamnya. Desi berangkat berjalan kaki bersama Bagas sambil membawa termos es jualannya. Desi sama sekali tidak malu. Saat ini, yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya bisa mendapatkan uang dengan cara yang halal.
Sesampainya di sekolah, Desi langsung menuju kantin.
"Pagi bu Siti, ini saya sudah bawa es mambonya bu, semua ada 60 biji. Harganya dua ribuan ya bu. Setiap 6 biji dari saya sepuluh ribu, kantin dapat untung dua ribu." , ucap Desi pada bu Siti.
"Iya bu Desi. Taruh aja disitu termosnya." , jawab bu Siti.
"Iya, makasih bu. Saya ke kantor dulu ya bu." , jawab Desi.
"Iya bu Desi, sama-sama." , jawab bu Siti.
'Kasihan bu Desi.' , gumam bu Siti pelan.
Di lain tempat, Ridwan sedang bersiap-siap untuk pulang setelah 3 hari tidak pulang. Dia bilang lembur ke istrinya, padahal yang sehari dia menginap di rumah pacarnya, lebih tepat selingkuhannya. Ridwan terlalu berani, dia tidak memikirkan resiko ke depannya, bagaimana nasib rumah tangganya nanti. Ya, saat ini dia menjalin hubungan dengan mantan pacarnya dulu waktu di SMA. Ridwan bertemu kembali dengan Ayu saat reuni yang diadakan di sekolahnya. Akhirnya, cinta lama bersemi kembali. Ridwan tidak memikirkan ketiga anaknya, bahkan setiap bulan dia sudah memberikan gajinya untuk Ayu. Bahkan lebih besar dari yang diberikan ke Desi, istri syah nya.
Setelah sampai di rumah, ia disambut oleh Aqilla, sementara Rafi belum pulang sekolah.
"Ayah pulang, ayah pulang." , seru Aqilla kegirangan.
"Ayah bawa apa ? Qilla kangen cama ayah. Ayah kok lama pulangnya?" , tanya Aqilla.
"Ayah kerja sayang. Ini ayah bawa mainan buat Qilla, masak-masakan." , jawab Ridwan.
"Acik, Qilla punya mainan macakan, makacih ayah." , jawab Qilla kegirangan.
Ridwan sengaja membelikan Qilla mainan tadi di jalan pulang, kebetulan dia bertemu abang penjual mainan di depan sekolah Rafi. Walaupun mainan murah tapi Qilla sangat senang. "Main sama mbok dulu ya Qilla, ayah mau mandi terus makan dulu." , ucap Ridwan.
"Iya ayah." , jawab Qilla.
Setelah mandi dan makan, Ridwan menyempatkan diri menemani Qilla bermain. Setelah Qilla mengantuk, mereka tidur bersama. Saat Qilla sudah tidur nyenyak, Ridwan pindah ke kamarnya lalu mengunci pintu seperti biasa. Kemudian dia menelpon si Ayu, pujaan hatinya saat ini.
'Mumpung Desi belum pulang.' , gumam Ridwan.
Di luar kamar, mbok Muna yang mendengar suara Ridwan pas nelpon hanya bisa geleng-geleng kepala. 'Kasihan ibu.' , bathin mbok di dalam hati.
Di sekolah, selesai mengajar, Desi mampir ke kantin untuk menanyakan es jualannya.
" Bu Siti, es mambo saya laku nggak bu? " , tanya Desi.
" Laku banget bu, anak-anak seneng bu. Ini sudah habis. Besok lebihin bawa bu Desi. " , jawab ibu penjaga kantin.
"Alhamdulillah bu kalau begitu, iya insyaallah besok saya lebihin bawa." , jawab Desi.
"Ini uangnya bu Desi, semua jadi seratus ribu ya? " , tanya bu Siti sambil menyerahkan uang.
"Iya bu. Makasih banyak ya bu." , jawab Desi.
"Termosnya biar disini aja ya bu, besok saya bawa pakai plastik aja dari rumah biar nggak berat." , ucap Desi.
"O iya boleh." , jawab bu Siti.
Akhirnya Desi pamit langsung pulang.
Saat pulang, Desi dan Bagas mampir ke pasar sebentar membeli keperluan membuat es mambo. Desi membuat berbagai rasa agar anak-anak tidak bosan. Setelah selesai, mereka pulang.
Sampai di rumah, Desi melihat Aqilla sedang bermain masak-masakan. Sedangkan suaminya sedang tidur, mungkin kecapekan nelpon.
"Assalamu'alaikum, Aqilla punya mainan baru nih? " , tanya Desi.
"Wa'alaikumcalam, iya mama, dibeliin cama ayah tadi pas ayah pulang kerja." , jawab Qilla.
"O iya, wah bagus sekali mainannya. Mama masuk dulu ya sayang, mau ganti baju " , jawab Desi.
"Iya mama." , jawab Qilla masih sambil main.
Dia senang sekali, maklum masih baru.
Setelah Desi berganti baju, mbok pamit pulang.
"Bu, mbok pulang dulu ya, anak-anak sudah makan siang semua. ", pamit mbok Muna.
"Iya mbok. Makasih banyak ya mbok sudah jagain anak-anak." , jawab Desi.
"Iya bu sama-sama. Assalamu'alaikum." , ucap mbok.
"Wa'alaikumsalam mbok." , jawab Desi.
Rumah mbok Muna tidak jauh dari rumah yang Desi tempati saat ini. Mungkin hanya sekitar 300 meter. Mbok Muna berjalan kaki pulang ke rumahnya. Kemudian, Desi mengajak Aqilla untuk masuk ke dalam dan menyuruh Bagas menemani Aqilla bermain, sementara Desi membuat es mambo untuk dia jual besok di sekolah. Ya, Desi harus kuat demi anak-anak yang dia sayangi.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.