Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
#21
“Aku terima telepon dulu, ya?” Bagas pamit menyingkir sejenak, sepertinya itu urusan kerja.
Bastian dan Indy memanfaatkan situasi itu untuk bicara secara pribadi dengan keponakan mereka. “Jadi, kalian beneran mau rujuk?” Om Bastian memajukan tubuhnya.
“Pikirkan lagi baik-baik, bukan berarti Tante tak setuju, dengan keinginanmu dan Bagas.” Tante Indy ikut menimpali.
“Duh, Om dan Tante ini apa-apaan, sih, kayak gak kenal aja gimana Bagas. Dari dulu, kan, orangnya selalu begitu, nggak pernah serius, jangan percaya omongannya begitu saja.” Dinda kembali menegaskan bahwa ucapan Bagas tidak serius.
“Yakin? Jangan bermain api, loh, apalagi api cinta. Kalau terbakar bisa bahaya, Dind, apalagi kalian sudah tidur satu kamar.”
Dinda menyorot kesal pada sang paman, sebenarnya dia itu menyemangati atau mengejek, sih? Serba tidak jelas. “Terus aja ngeledek,” sungut Dinda. Wajahnya memerah menahan malu, bercampur kesal akibat ledekan suami tantenya itu.
Semua ini gara-gara Bagas, mantan suaminya itu, mungkin perlu memeriksakan otaknya ke dokter. Agar bicaranya tidak ngelantur hingga membuat orang salah paham. “Aku sudah bilang, bahwa aku kembali ke rumah Mas Bagas karena Eyang Tuti, karena mengkhawatirkan kondisi kesehatannya. Bukan untuk kembali menjalin hubungan dengannya.” Dinda menekankan.
“Itu bukan alasan, Dind. Kamu bisa saja menolak, karen Eyang Tuti bukan eyang kamu, jadi kamu sudah tak berkewajiban mengorbankan diri demi menolongnya. Apalagi sampai melemparkan dirimu begitu saja ke dalam sebuah sandiwara yang bisa saja membawa hatimu kembali padanya.”
Ah, betul juga ucapan Om Bastian, kemungkinan itu ada berapa persen? Mungkin lebih dari lima puluh. Dengan kata lain Dinda belum menyelami perasaannya, sebaliknya ia hanya berpegang pada rasa empati atas ucapan Bagas hari itu, bahwa kemungkinan ini adalah kesempatan untuk mengabulkan permintan terakhir Eyang Tuti.
“Baru permulaan saja, Bagas sudah mengajakmu rujuk, Om rasa tak perlu lagi menjelaskan bagaimana usaha Bagas nantinya agar kamu benar-benar kembali ke pelukannya. Kamu tahu bagaimana Bagas dan betapa gigih usahanya untuk mendapatkanmu dulu.”
Hem, benar sekali ucapan Om Bastian.
“Kemungkinannya hanya ada dua, kamu hentikan sandiwara konyol ini, atau sekalian saja kamu kembali pada Bagas. Tapi ingat, jangan lagi ada air mata, Om nggak suka lihat kamu menangis lagi seperti dulu.”
Ucapan Om Bastian seperti sebuah isyarat bagi Dinda, bahwa ia bisa kabur kapan saja dari Bagas. Daripada terlanjur menyesal karena kembali dekat dengan pria itu, yang ujung-ujungnya hanya akan sakit hati seperti sebelumnya.
Dinda mengangguk dengan mata berkaca-kaca, Dinda mengakui bahwa semangatnya untuk menemukan Abel kembali bangkit, dan ia yakin kali ini Abel benar-benar akan ditemukan. Berkat Bagas? Sayangnya, iya. Mungkin mereka memang ditakdirkan untuk menyatukan semangat demi buah hati mereka juga.
Om Bastian menggenggam tangan Dinda untuk memberinya semangat. “Baiklah, jika kamu bersemangat, Om juga akan berusaha memulai lagi, dengan mulai mendatangi semua panti asuhan di sekitaran Jabodetabek.”
“Ngomong-ngomong kamu demam?” tanyanya.
Tante Indy pun ikut kaget, “Masa, sih, Mas? Tadi aku salaman sama Dinda nggak merasakan demam.” Indy mendekat dan ikut memeriksa kening leher serta lengan Dinda.
“Iya, dia masih demam Om, Tante. Tapi maksa ngajak kesini, padahal aku sudah menyuruhnya istirahat.”
Benar sekali ucapan Bagas, sebab Dinda tak mau lagi mendapatkan hujan perhatian dari mantan suaminya. Kemarin sore sepulang dari mengantarkan Eyang ke dokter, Bagas masih terus memberikan pengawasan ekstra, hingga begadang sepanjang malam.
“Dia saja yang ngeyel, Om, orang aku cuma demam bukan pasien sekarat, masih aja nekat begadang nungguin.”
Dinda sampai lelah mengatakan bahwa ia tak apa-apa, jadi berhentilah khawatir. Tapi dasar Bagas terlalu babal, hingga akhirnya dia kelelahan sendiri lalu tertidur di sofa.
“Kalian berduaan sepanjang hari dan sepanjang malam, dalam satu kamar?! Aku tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi padamu jika Kak Juwita sampai tahu kelakuan kalian. Bisa-bisa kalian dikira kumpul kebo.”
“Mama sudah tahu, kok, Om, dimana Dinda saat ini. Jadi—”
“Belum tentu, jangan mudah percaya,” sela Tante Indy. “Mungkin kakakku mengiyakan saja hanya demi Dinda, anaknya. Sedangkan kamu? Bersiaplah menerima konsekuensinya.”
“Tuh, kan, Sayang. Makanya ayo kita rujuk saja, aku juga sudah curiga karena mama kamu iya-iya saja waktu aku telepon. Ternyata—”
Dinda memutar bola matanya, jengah dengan kelakuan Bagas.
“Aku curiga, jangan-jangan tipe pria idaman kamu sudah berubah, apakah kecurigaanku benar?” Bagas mencondongkan tubuhnya lalu meletakkan lengan di sandaran kursi yang diduduki Dinda.
Dinda beringsut, ia risih, apalagi ada om dan tantenya di sana. “Singkirkan tanganmu, Mas! Lagian kamu ini, ngajak rujuk kayak ngajak orang beli permen aja,” sungut Dinda sinis.
Wanita itu pun berdiri, “Tante, aku mau ke toilet.”
“Ah, iya, silahkan. Tante juga mau mengembalikan nampan.”
Setelah Dinda dan Tante Indy menghilang di dalam rumah, Om Bastian kembali menatap Bagas dengan tatapan tajamnya. Tidak mengancam, hanya saja ingin memberikan peringatan tegas pada pria itu.
“Jangan mempermainkan Dinda.”
“Aku sangat serius untuk mengajaknya rujuk, Om,” ungkap Bagas, wajahnya pun tak kalah serius dari wajah Om Bastian yang sedang menatapnya dengan tajam. “Aku ingin meminta maaf padanya, memperbaiki semua yang telah porak poranda sejak putri kami hilang. Aku tahu sikapku dulu salah, aku tak hanya merokok, tapi juga mabuk-mabukan, memarahi, membentak, dan menyalahkannya atas hilangnya putri kami. Hingga Papa dan Mama juga membenciku karena aku sudah kasar pada putri mereka.”
“Apalagi mereka tahu kamu ada di apartemen bersama seorang wanita.”
“Harus kubilang berapa kali, Om. Aku tak tahu siapa wanita itu, dan bagaimana bisa ia ada di apartemenku?”
Saat itu, apartemen adalah tempat Bagas melarikan diri, menepi sejenak, jauh dari Dinda. Tapi pokok permasalahan yang akhirnya membuat Dinda benar-benar murka adalah, apartemen itu Bagas beli secara diam-diam tanpa sepengetahuan Dinda.
Dengan demikian lengkaplah kekecewaan Dinda, kesalahpahaman semakin meruncing, karena Dinda menganggap Bagas sengaja membeli apartemen itu untuk selingkuhannya.
“Kau tahu, hari itu Dinda mendatangiku, manangis histeris, dan rasanya aku ingin sekali menghajarmu, tapi Dinda menghalangiku. Kamu tahu, kamu benar-benar pria brengsek.”
Iya, Bagas akui itu, dirinya adalah pria brengsek, karena sudah lari untuk bersembunyi, alih-alih mendampingi Dinda menyelesaikan masalah mereka. Kini harapan Bagas hanyalah bisa kembali bersama Dinda, memperbaiki kesalahan dan berjuang bersama menemukan putri kecil mereka, Abel.
“Om bisa bantu kalian dengan memulai kembali pencarian Abel, tapi urusan hati, Om tak bisa ikut mencampuri.” Om Bastian mengangkat kedua tangannya. “Sekarang, cepat bawa dia pulang, dia butuh istirahat untuk memulihkan tenaga.”
“Iya, Om.”
Tak lama kemudian, Dinda dan Tante Indy kembali keluar, “Ayo pulang,” kata Dinda.
“Jika butuh apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi kami,” kata Indy.
“Iya, Tante, Om. Terima kasih.”
aku lupa nama Kaka nya bagas