NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022

Nama di Dokumen

Pagi setelah uang pertama masuk, Bunga mulai memahami bahwa mencari Reno lebih sulit daripada mencari scarf langka.

Scarf punya foto, stok, harga, dan pembeli panik. Reno tidak. Rangga hanya tahu kebiasaannya: datang lebih awal, tidak suka bicara di telepon, selalu memastikan kopi Rangga tidak terlalu panas, dan punya cara berjalan yang membuat orang lain minggir tanpa merasa diusir.

"Itu bukan data pencarian," kata Bunga sambil menatap kartu nama barunya.

"Itu data perilaku."

"Kalau aku tanya ke satpam, `Pak, ada orang yang jalannya bikin orang minggir tanpa merasa diusir?` aku yang diusir."

Rangga terdengar hampir geli. "Benar."

Bunga memutuskan tidak mendatangi fasilitas Wicaksana hari itu. Ia mengirim satu pesan promosi singkat ke beberapa kontak acara yang didapat dari grup Melati, menawarkan jasa personal sourcing dan bantuan event kecil. Tidak langsung ke Wicaksana. Tidak ke Reno. Hanya menyebar jaring tipis.

"Jaring kecil dulu," katanya.

"Itu lebih aman."

"Aku tahu. Aku sedang belajar jadi orang yang tidak mati di langkah pertama."

Sampai tengah hari, hanya dua orang yang membalas. Satu menanyakan apakah Bunga bisa mencari sandal edisi lama. Satu lagi hanya membaca pesan tanpa menjawab. Tidak ada nama Reno. Tidak ada jalur Wicaksana. Bunga hampir kesal, tetapi Rangga mengingatkannya bahwa orang seperti Reno tidak muncul karena iklan acak.

"Dia muncul karena kebutuhan," kata Rangga.

"Berarti kita harus menciptakan kebutuhan?"

"Atau menunggu kebutuhan yang sudah ada terlihat."

"Menunggu itu kegiatan mahal."

"Maka kita gunakan waktu untuk membaca pola."

Sementara Bunga belajar menunggu, seseorang lain datang ke fasilitas Wicaksana dengan hak yang tidak perlu dijelaskan.

Aditya Nugraha memasuki lobby menjelang siang, mengenakan setelan biru tua dan wajah orang yang terlalu lama menahan marah agar tetap terlihat profesional. Resepsionis langsung berdiri.

"Mas Adit."

"Mas Arjuna ada?"

"Di atas, Mas."

"Saya naik."

Tidak ada yang menghentikannya. Nama Nugraha masih punya berat, dan Aditya terlalu sering datang bersama Rangga sebelum insiden untuk dianggap tamu biasa. Namun hari ini, akses kartu yang dulu langsung membuka lift tidak lagi berfungsi.

Aditya menatap lampu merah kecil di panel.

Senyumnya tipis. "Menarik."

Resepsionis buru-buru memanggil staf. Lima menit kemudian, Arjuna turun sendiri.

"Adit."

"Mas Arjuna." Aditya menjabat tangannya. "Aku baru tahu aksesku dicabut."

"Dibatasi."

"Bahasa keluarga besar selalu lebih halus daripada artinya."

Arjuna tidak tersenyum. "Keadaan berubah."

"Rangga masih sahabatku."

"Dan adikku masih koma."

Kalimat itu menghentikan Aditya sesaat. Di balik semua logika dan sarkasmenya, ada lelah yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Aku ingin melihatnya."

Arjuna menatapnya lama, lalu mengangguk. "Lima menit. Tidak ada foto. Tidak ada rekaman."

"Aku bukan media."

"Aku tahu. Tapi aku juga tahu kamu pengacara."

Aditya menerima batas itu.

Kamar Rangga berada di lantai atas, di balik dua pintu akses. Ruangannya terlalu tenang. Mesin monitor berbunyi halus. Tirai putih bergerak pelan karena pendingin ruangan. Rangga berbaring di ranjang, wajahnya lebih pucat daripada yang pernah Aditya lihat, tetapi tetap tampak seolah hanya sedang tidur setelah memutuskan dunia tidak layak diberi ekspresi.

Aditya berdiri di sisi ranjang.

"Kamu selalu dramatis," katanya pelan. "Kalau ingin menghindari rapat, ada cara yang lebih murah."

Arjuna menoleh sedikit, tetapi tidak menegur.

Aditya menatap tangan Rangga yang diam di atas selimut. Tangan yang dulu menandai pasal di buku hukum, mengetuk meja saat menemukan celah argumen, menolak tanda tangan kalau satu klausul saja terasa kotor.

"Dokter bilang apa?"

"Stabil. Belum ada respons neurologis signifikan."

"Dia bisa dengar?"

"Tidak ada yang berani memastikan."

Aditya mendekat sedikit. "Kalau kamu dengar, Rangga, bangun. Ayahmu mulai membuat rapat terasa lebih menyebalkan dari biasanya."

Arjuna akhirnya mengeluarkan napas yang hampir seperti tawa, tetapi wajahnya langsung kembali keras.

Sebelum Aditya pergi, seorang staf legal muncul di pintu, jelas tidak menyangka ada tamu di kamar.

"Mas Arjuna, maaf. Pak Prabu minta dokumen opsi kuasa dikirim ke email beliau. Ada juga berkas kepatuhan yang katanya sudah diproses atas nama Mas Rangga, perlu konfirmasi..."

Ruangan mendadak dingin.

Aditya menoleh sangat pelan.

"Apa tadi?" tanyanya.

Staf legal pucat. "Maaf, Mas?"

"Berkas kepatuhan atas nama Rangga?"

Arjuna berkata tajam, "Keluar."

Staf itu langsung mundur, tetapi Aditya sudah menangkap cukup.

"Mas Arjuna," katanya, suara rendah. "Rangga koma sejak malam gala."

"Aku tahu."

"Siapa yang memproses berkas atas namanya?"

Arjuna tidak menjawab.

Aditya menatap wajah Rangga yang diam, lalu ke Arjuna. "Jangan bilang itu prosedur keluarga."

"Aku sedang menahan lebih banyak hal daripada yang kamu tahu."

"Kalau ada tanda tangan digital Rangga setelah waktu insiden, itu bukan administrasi. Itu pemalsuan atau penyalahgunaan akses."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa aku baru dengar dari staf yang salah masuk kamar?"

Arjuna memejamkan mata sebentar. Untuk pria yang biasanya tampak seperti dinding, kelelahan di wajahnya saat itu terlihat jelas.

"Karena kalau aku bergerak terlalu cepat, Prabu akan memindahkan Rangga ke tempat yang bahkan aku tidak bisa akses."

Aditya terdiam.

Di ranjang, mesin monitor terus berbunyi stabil, seolah tidak ada perang keluarga di sekitarnya.

"Aku perlu melihat log dokumen," kata Aditya.

"Tidak bisa."

"Mas Arjuna."

"Belum."

Aditya menatapnya tajam. "Kalau Prabu memakai nama Rangga saat dia tidak sadar, itu bukan hanya urusan keluarga. Itu membuka pintu untuk semua orang yang ingin memakai tubuhnya sebagai stempel."

"Aku tahu," kata Arjuna lagi, lebih keras.

Kali ini Aditya mendengar sesuatu di balik suara itu: takut.

Ia menurunkan nada. "Aku akan cari dari jalur lain."

"Jangan gegabah."

"Kamu bicara seperti adikmu."

Arjuna melihat Rangga. "Bagus. Berarti ada yang masih waras di ruangan ini."

Aditya keluar dari fasilitas itu dengan wajah tenang. Terlalu tenang. Di mobil, ia membuka laptop, masuk ke sistem arsip firma hukum keluarganya, lalu mencari jejak dokumen Wicaksana yang masuk setelah malam gala.

Satu file muncul.

Lalu satu lagi.

Memo kepatuhan. Persetujuan revisi. Catatan internal. Semua memakai kredensial Rangga Wicaksana sebagai peninjau.

Aditya menatap waktu aksesnya.

Setelah Rangga koma.

Jauh setelah itu.

Ia mengenal Rangga cukup lama untuk tahu satu hal: sahabatnya itu tidak pernah membiarkan kredensial kerja tersimpan sembarangan. Rangga mengganti sandi seperti orang lain mengganti playlist, menolak tanda tangan digital kalau koneksi tidak bersih, dan pernah memarahi Aditya setengah jam hanya karena membuka dokumen klien di Wi-Fi kafe.

Jadi kalau nama Rangga muncul di log, ada dua kemungkinan.

Seseorang punya akses yang tidak seharusnya.

Atau seseorang di dalam keluarga membukakan pintu.

Ia bersandar di kursi mobil, rahangnya mengeras.

"Siapa," gumamnya, "yang memakai nama kamu, Rangga?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!