NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2 - Teman Sebangku Baru

"Keiko, kamu duduk di sebelah Kelvin."

Begitu suara Pak Arif jatuh, seluruh Kelas XI-IPA 4 mendadak sunyi.

Sunyi yang aneh. Bukan sunyi karena murid-murid patuh pada guru, melainkan sunyi karena semua orang serentak menahan napas. Beberapa kepala langsung menoleh ke barisan paling belakang, ke kursi dekat jendela yang sejak tadi tampak seperti wilayah terlarang.

Di sana, seorang cowok duduk menyamping dengan punggung bersandar ke dinding.

Seragam putih abu-abunya dipakai asal. Kemeja bagian atas tidak dikancingkan rapi, lengan dilipat sampai siku, dasi sekolah tergantung longgar seperti benda yang tidak ada gunanya. Di meja, sebuah buku terbuka menutupi sebagian wajahnya. Dari sela buku itu, Keiko hanya melihat rambut hitam yang sedikit berantakan dan rahang yang tajam.

Kelvin Susanto.

Nama itu sudah Keiko dengar sebelum masuk kelas.

Di ruang guru, saat Pak Arif membantunya mengurus berkas pindahan, dua murid yang lewat sempat berbisik dengan suara terlalu keras.

"Anak baru itu nanti sekelas sama Kelvin?"

"Kasihan. Baru pindah langsung duduk dekat bom waktu."

Pak Arif waktu itu hanya mengetuk meja dengan ujung pulpen, membuat dua murid itu buru-buru pergi. Namun bisikan mereka tertinggal di kepala Keiko, berdampingan dengan aroma kertas administrasi, obat di dalam tasnya, dan detak jam dinding yang terasa lebih keras dari biasanya.

Sekarang, semua mata menunggu reaksinya.

Keiko mengencangkan genggaman pada tali tas. Telapak tangannya agak dingin. Bukan karena takut pada cowok di belakang sana, melainkan karena terlalu banyak tatapan menempel di tubuhnya sekaligus.

Pak Arif menoleh padanya. Suara wali kelas itu dibuat ringan, tetapi matanya berhenti sebentar di wajah Keiko, seolah bertanya tanpa kata.

Kamu tidak apa-apa?

Keiko membalas dengan anggukan kecil.

"Iya, Pak."

Dia berjalan menyusuri lorong di antara meja.

Bisik-bisik langsung hidup lagi, pelan tapi rapat.

"Serius dia duduk situ?"

"Pak Arif tega banget."

"Kelvin bangun nggak, tuh?"

Keiko pura-pura tidak mendengar. Dia berhenti di samping kursi kosong. Meja itu bersih, berbeda dari yang dia bayangkan. Tidak ada coretan kasar, tidak ada bekas rokok, tidak ada benda aneh. Hanya ada satu buku tulis hitam, satu pulpen, dan sebuah buku Bahasa Inggris yang sudutnya kusut.

Cowok di sebelahnya masih tidak bergerak.

Keiko menunggu beberapa detik, lalu berkata pelan, "Permisi."

Buku yang menutupi wajah cowok itu turun sedikit.

Sepasang mata gelap terbuka.

Keiko akhirnya melihat Kelvin Susanto dengan jelas.

Matanya tajam, seperti orang yang terbiasa membuat orang lain mundur sebelum mereka sempat mendekat. Kulitnya agak pucat, hidungnya tinggi, bibirnya tipis dan hampir tidak punya lengkung. Tidak ada ekspresi ramah di wajahnya. Bahkan tidak ada rasa ingin tahu.

Dia menatap Keiko sebentar, lalu menatap kursi kosong di sebelahnya.

"Kamu yakin?" tanyanya.

Suaranya rendah. Datar. Tidak seperti ancaman, tapi juga jelas bukan sambutan.

Keiko berkedip. "Pak Arif yang menyuruh."

"Aku tanya kamu."

Beberapa murid di depan langsung pura-pura sibuk membuka buku, padahal telinga mereka jelas mengarah ke belakang.

Keiko menatap kursi kosong itu, lalu menatap Kelvin lagi. "Aku murid baru. Aku belum tahu tempat duduk lain."

Kelvin diam.

Keiko berpikir dia akan menyuruhnya pergi, atau setidaknya memasang wajah kesal seperti orang yang wilayahnya diganggu. Namun cowok itu hanya menarik kakinya yang tadi menghalangi sedikit jalan, lalu menyingkirkan buku hitamnya ke sisi meja sendiri.

Gerakannya kecil.

Tetapi cukup.

Keiko duduk.

Aroma sabun cuci seragam yang tipis bercampur dengan bau kertas lama dari buku di meja Kelvin. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi Keiko tetap bisa melihat luka kecil di buku-buku jari cowok itu, bekas merah yang tampak belum lama mengering.

Pak Arif berdeham di depan.

"Baik. Kita lanjutkan perkenalan singkat. Keiko pindahan dari Jakarta. Mulai hari ini dia resmi bergabung di Kelas XI-IPA 4. Tolong bantu dia menyesuaikan diri."

"Baik, Pak," jawab sekelas, tidak kompak.

Pak Arif menatap barisan belakang. "Kelvin."

Cowok itu mengangkat mata malas.

"Jangan bikin teman sebangkumu menyesal di hari pertama."

Kelas langsung menahan tawa.

Kelvin tidak ikut tertawa. Dia hanya menjawab, "Iya, Pak."

Keiko menoleh sedikit. Jawaban itu pendek, tetapi tidak melawan. Tidak sinis. Hanya seperti seseorang yang sudah terlalu sering dianggap salah sampai malas menjelaskan apa pun.

Bel pergantian jam berbunyi tidak lama setelah itu.

Pak Arif keluar, digantikan guru Bahasa Inggris yang membawa setumpuk kertas fotokopi. Suasana kelas berubah menjadi lebih ribut. Murid-murid membuka tas, menyeret kursi, saling meminjam pulpen. Keiko juga membuka tasnya, mencari buku paket yang tadi disebut dalam daftar pelajaran.

Tidak ada.

Dia baru ingat, bagian administrasi mengatakan semua buku paket akan diberikan setelah data pindahannya selesai masuk sistem. Hari ini dia hanya membawa buku catatan kosong, kotak pensil, dan map berisi berkas.

"Open your textbook, page forty-six," kata guru Bahasa Inggris dari depan.

Kertas-kertas berdesir.

Keiko menatap meja kosong di depannya.

Di sebelahnya, Kelvin melirik sekilas. Tidak mengatakan apa pun. Tangannya bergerak mendorong buku Bahasa Inggris kusut itu ke tengah meja.

Keiko menoleh.

Buku itu sekarang berada tepat di antara mereka.

"Pakai aja," kata Kelvin, masih menatap papan tulis.

"Kamu?"

"Aku bisa lihat."

Keiko mengikuti arah pandangnya. Dari posisi Kelvin, setengah halaman masih terlihat, tetapi jelas tidak nyaman. Apalagi tulisan di bukunya penuh coretan kecil dan beberapa bagian hampir lepas dari jilidan.

"Terima kasih," ucap Keiko.

Kelvin tidak menjawab.

Guru mulai membaca dialog contoh di halaman itu. Keiko menunduk, mencatat kata-kata penting dengan pulpen ungu muda. Dia terbiasa menulis rapi, menandai kalimat utama, membuat garis bawah kecil. Di sampingnya, Kelvin hanya menopang dagu, matanya tampak mengarah ke papan tulis, tetapi entah benar-benar memperhatikan atau tidak.

Setelah beberapa menit, guru Bahasa Inggris berjalan mengitari kelas.

Langkahnya berhenti di meja mereka.

"Kelvin."

Keiko mengangkat wajah.

Guru itu menatap meja Kelvin yang tampak tidak punya buku karena buku satu-satunya berada di sisi Keiko.

"Lagi-lagi tidak bawa buku?"

Beberapa murid tertawa kecil.

Keiko segera berkata, "Bu, ini sebenarnya buku Kelvin. Saya yang belum dapat buku, jadi dia..."

"Keiko, kamu baru pindah, tidak perlu membela dia." Guru itu memotong, suaranya tidak keras tapi dingin. "Kelvin, berdiri di luar. Kalau tidak niat belajar, jangan mengganggu murid lain."

Keiko terdiam.

Kelvin bahkan tidak terlihat terkejut.

Seolah kejadian ini terlalu biasa baginya.

Dia menarik buku dari tengah meja dan meletakkannya kembali di depan Keiko. "Lanjut baca."

"Tapi..."

Kelvin sudah berdiri.

Kursinya berderit pelan. Tingginya membuat bayangan jatuh sebentar di atas halaman buku Keiko. Saat melewati meja, dia berhenti setengah detik, cukup dekat sampai Keiko bisa mendengar napasnya.

"Nggak usah jelasin," katanya pelan.

Lalu dia berjalan keluar kelas.

Tidak membanting pintu. Tidak membantah guru. Tidak menatap murid-murid yang menertawakannya. Dia hanya keluar, lalu berdiri di koridor dengan satu tangan masuk ke saku celana.

Guru Bahasa Inggris melanjutkan pelajaran seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun Keiko tidak lagi bisa fokus.

Di halaman empat puluh enam, dialog tentang memperkenalkan diri tiba-tiba terlihat buram. Pulpen ungu mudanya berhenti di tengah garis bawah. Dari jendela, dia bisa melihat sisi wajah Kelvin di luar kelas. Cowok itu menatap halaman sekolah, matanya kosong, punggungnya tegak seakan terbiasa berdiri sendirian di tempat hukuman.

Murid-murid bilang dia bom waktu.

Pembuat onar.

Anak yang tidak peduli pada siapa pun.

Tetapi buku yang sekarang terbuka di hadapan Keiko adalah miliknya.

Dan dia memilih dihukum daripada menarik kembali buku itu.

Keiko menunduk, menyentuh sudut halaman yang kusut dengan ujung jari.

Untuk pertama kalinya sejak masuk SMA Bina Bangsa, dia bertanya-tanya apakah rumor tentang Kelvin Susanto benar-benar sesederhana itu.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!