Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Lahan Keras Desa Perbatasan
Langkah kakinya membawa Yang Chan melewati ruang tengah yang mungil. Ibunya, wanita paruh baya dengan senyum hangat, menyodorkan sepiring nasi goreng sederhana sebelum menyuruhnya segera menyusul sang ayah ke luar. Mengunyah cepat-cepat, ia langsung melangkah menuju pintu belakang.
Udara dingin langsung menusuk pori-porinya begitu pintu dapur terbuka. Langit pagi itu tampak sangat suram, tertutup awan abu-abu tebal yang menggantung rendah seolah siap menumpahkan badai kapan saja. Angin kencang sesekali bertiup, membawa debu kering yang membuat mata perih.
Di depannya terbentang ladang pertanian keluarga Yang yang tidak seberapa luas. Wilayah perbatasan ini memang terkenal tidak ramah. Tanah di sini berwarna keabu-abuan, keras, dan pecah-pecah akibat sisa kontaminasi energi monster liar dari hutan seberang beberapa tahun lalu.
Sangat sulit untuk ditanami apa pun. Kebanyakan penduduk desa bahkan sudah menyerah dan memilih mencari peruntungan di pusat kota yang lebih aman. Cuaca buruk yang melanda akhir-akhir ini pun seolah sengaja ingin menghabisi sisa-sisa harapan para petani lokal yang bertahan.
Namun, pemandangan berbeda terlihat di tengah petak tanah yang gersang itu.
Seorang pria paruh baya mengenakan caping anyaman lusuh tengah mengayunkan cangkulnya dengan ritme yang sangat teratur. Ia adalah Yang Wei, ayah Yang Chan. Tubuhnya yang kurus bergoyang mengikuti setiap hantaman mata besi cangkul ke tanah liat yang membatu.
Tidak ada kilatan energi spiritual di tubuh pria itu. Tidak ada aura magis yang membungkus cangkulnya seperti para kultivator hebat yang sering muncul di berita televisi. Ia murni hanya seorang manusia biasa yang menggunakan ototnya untuk bertahan hidup.
Anehnya, wajah Yang Wei sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran. Di tengah ancaman badai dan kondisi tanah yang rusak parah, wajahnya justru terlihat sangat damai. Ia mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu tersenyum saat melihat kedatangan anak laki-lakinya.
"Chan, kau sudah bangun?" sapa Yang Wei, suaranya terdengar renyah di sela deru angin pagi.
"Sudah, Ayah," jawab Yang Chan, berjalan mendekat sambil berusaha tidak tersandung gundukan tanah keras. "Tanahnya keras sekali hari ini. Apa tidak sebaiknya kita berteduh dulu? Langitnya terlihat sangat mengerikan."
Yang Wei tertawa pelan. Ia menancapkan cangkulnya ke tanah, lalu menyandarkan kedua tangannya di ujung gagang kayu yang halus karena sering digunakan.
"Badai memang akan datang, Chan. Tapi tanah ini tidak akan melunak kalau kita hanya mendiamkannya di dalam rumah," tutur ayahnya dengan nada santai.
Pria paruh baya itu kemudian menunjuk ke arah kandang bebek kayu di pojok ladang. Beberapa ekor bebek tampak berkumpul tenang, tidak terganggu oleh angin yang bertiup kencang.
"Lihat hewan-hewan itu. Mereka tahu badai akan datang, tapi mereka tidak panik. Mereka hanya bersiap," lanjut Yang Wei. Ia berjongkok, mengambil segenggam tanah kering yang keras, lalu meremasnya perlahan hingga hancur menjadi butiran debu di sela jarinya.
Yang Chan memperhatikan gerakan ayahnya dengan saksama. 'Tenang sekali,' pikirnya heran. Sikap ayahnya seolah-olah menganggap cuaca ekstrem ini hanyalah sapaan ramah dari alam.
"Bertani itu bukan tentang memaksa tanah menghasilkan buah dengan cepat, Chan," kata Yang Wei lagi, matanya menatap lurus ke arah ladang yang kosong. "Ini tentang kesabaran. Kita merawat, kita menunggu, dan kita menyelaraskan diri dengan apa yang alam berikan. Bahkan tanah yang tercemar ini pun punya hak untuk bernapas."
Ia menepuk pundak Yang Chan dengan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan. Sentuhan itu terasa hangat, mengalirkan rasa tenang yang aneh ke dalam dada remaja itu.
"Jika kau bertarung melawan alam, kau akan kalah. Tapi jika kau berjalan bersamanya, bahkan tanah gersang ini pun suatu hari akan tunduk dan memberi kita makan. Ingat itu."
Kata-kata sederhana itu mengalir masuk ke dalam benak Yang Chan. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya, bukan energi spiritual, melainkan sebuah pemahaman baru yang mendalam tentang kehidupan di sekitarnya.
Ia memandangi tanah abu-abu di bawah kakinya. Kali ini, ia tidak lagi melihatnya sebagai tanah jelek yang rusak. Ia melihatnya sebagai makhluk hidup yang sedang terluka dan membutuhkan waktu untuk pulih.
'Menyelaraskan diri dengan alam,' gumam Yang Chan dalam hati. Ia tersenyum tipis. Konsep ini terasa sangat cocok dengan keinginannya untuk hidup tenang tanpa konflik.
Ia mengambil cangkul cadangan yang bersandar di dekat pagar kayu. Merasakan beratnya gagang kayu di tangannya, ia mulai mengayunkannya ke tanah gersang itu, mencoba meniru ritme santai yang ditunjukkan oleh ayahnya.
Satu hantaman. Dua hantaman.
Setiap kali mata cangkul membentur tanah, Yang Chan mencoba melepaskan semua beban pikirannya. Ia membiarkan napasnya mengalir selaras dengan embusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Perasaan damai yang luar biasa mulai menyelimuti dirinya, seolah ia bisa mendengar denyut nadi bumi yang tersembunyi jauh di bawah sana.
Tanpa disadarinya, sebuah benih pemahaman spiritual yang sangat murni mulai tertanam di dalam jiwanya. Sebuah fondasi dari apa yang kelak akan dikenal sebagai niat pertanian sejati dalam dunia kultivasi modern.
Tiba-tiba, petir menyambar di kejauhan, membelah langit abu-abu dengan kilatan cahaya biru yang terang. Suara guruh yang menggelegar langsung menyusul, membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan.
Yang Wei mendongak ke langit, lalu beralih menatap anaknya dengan cengiran lebar.
"Nah, sepertinya alam sudah mulai tidak sabar. Mari kita selesaikan petak ini dengan cepat sebelum kita benar-benar basah kuyup!"
Yang Chan ikut tertawa, mengangguk penuh semangat sembari mengayunkan cangkulnya kembali ke atas tanah yang keras.