NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Satu Ranjang

Rayhan berhenti merapikan selimut.

Nadhira menatap Alif yang menunggu jawaban dengan mata bulat, lalu melihat Arkan yang tetap tidur tanpa peduli pada masalah besar yang baru dilemparkan kakaknya.

"Papa punya kamar sendiri," jawab Rayhan akhirnya. "Mama juga punya kamar sendiri."

"Kenapa?"

"Karena orang dewasa kadang tidur lebih nyaman begitu," kata Nadhira.

Alif mengerutkan dahi. "Waktu hujan sama-sama."

"Waktu hujan, kalian takut. Jadi kita berkumpul."

"Sekarang Alif takut."

"Takut apa?"

Alif melihat sekeliling kamar baru, mencari jawaban. "Takut ranjang baru."

Rayhan mengangkat satu alis. "Tadi katanya bagus."

"Bagus tapi takut."

Nadhira menahan senyum. "Malam ini Mama tunggu sampai Alif tidur. Papa juga. Besok kita bicara lagi."

Alif menerima kompromi itu. Lima menit kemudian, ia sudah tertidur dengan tangan masih mencengkeram ujung baju Nadhira.

Rayhan berdiri lebih dulu. Mereka berjalan keluar tanpa menyalakan lampu utama.

Di lorong, Nadhira berbisik, "Kamu menjawabnya seperti rapat dewan."

"Kamu juga tidak menawarkan jawaban yang lebih baik."

"Karena saya ingin melihat CEO Pradipta Group dikalahkan anak tiga setengah tahun."

"Dia menunda keputusan, bukan mengalahkan saya."

Nadhira tersenyum sepanjang jalan menuju kamarnya.

Malam berikutnya, Alif datang membawa bantal sebelum jam tidur.

Arkan mengikuti di belakang dengan selimut, mobil merah, dan foto Dini yang dibungkus kain kecil agar bingkainya tidak tergores. Keduanya berhenti di depan kamar Nadhira seperti orang pindahan.

"Apa ini?" tanya Nadhira.

"Tidur keluarga," jawab Alif.

"Siapa yang mengizinkan?"

Alif menunjuk Arkan.

Arkan langsung menggeleng. "Alif."

Rayhan muncul dari tangga, masih memegang ponsel kerja. Ia melihat tumpukan barang di lantai.

"Rapat lanjutan?"

"Keputusannya sudah dibuat tanpa kita," kata Nadhira.

Anak-anak tidak takut ranjang baru. Mereka hanya menemukan alasan agar kedua orang tua kembali berkumpul. Nadhira tahu itu, Rayhan tahu itu, bahkan Kopi yang berlari masuk membawa kaus kaki mungkin tahu.

Tetapi tak ada yang membatalkan.

Mereka menetapkan aturan: satu cerita, tidak melompat di kasur, Kopi tidur di alasnya sendiri, dan besok semua kembali ke kamar masing-masing jika tidak ada alasan lain. Alif setuju terlalu cepat. Arkan mengangguk sambil sudah naik ke tengah ranjang.

Malam ini berbeda dari badai. Tidak ada listrik padam, tidak ada guntur, dan tidak ada anak menangis. Keempatnya memilih berada di sana dalam cahaya lampu tidur yang hangat.

Alif meminta cerita tentang kunang-kunang lagi. Arkan menambahkan seekor anjing hitam sebagai penjaga. Rayhan memperbaiki alur ketika Nadhira membuat tokohnya tersesat untuk ketiga kali.

"Kalau cahayanya ada di kanan, kenapa mereka belok kiri?" tanyanya.

"Karena ini dongeng, bukan laporan proyek."

"Tetap perlu arah yang masuk akal."

"Kalau begitu, kamu lanjutkan."

Rayhan melanjutkan kisah dengan rute yang terlalu teratur. Alif tertidur sebelum para tokoh sampai rumah. Arkan bertahan sampai anjing hitam memperoleh makan malam, lalu matanya tertutup.

Kopi mendengkur pelan di bawah ranjang.

Nadhira berbaring menghadap langit-langit. Di antara mereka, kedua anak tidur saling membelakangi. Ruang yang tersisa sempit, membuat lengan Rayhan hanya sejengkal dari lengannya.

"Terima kasih soal Kartika," bisik Nadhira.

"Saya tidak melakukan apa-apa."

"Kamu mengubah jadwal pendamping dan mobil tanpa bertanya isi pertemuan."

"Itu privasinya."

Nadhira menoleh. Dalam gelap, garis wajah Rayhan hanya terlihat dari cahaya lampu tidur.

"Dia mulai bertemu psikolog. Saya senang, tapi takut salah membantu."

"Kamu tidak harus menyelesaikan hidup semua orang."

"Saya tahu. Dulu saya ingin sekali ada satu orang yang mendengarkan tanpa mengambil keputusan untuk saya. Sekarang saya ingin jadi orang itu."

"Kamu sudah melakukannya."

Hening turun. Bukan hening canggung, melainkan ruang yang membiarkan suara pendingin dan napas anak terdengar.

Rayhan bertanya, "Kamu masih ingin belajar bisnis properti?"

"Masih."

"Kamu pernah kuliah?"

"Tidak sampai selesai. Setelah menikah dengan Hendra, uang dan waktu selalu kurang. Lalu Alif lahir."

"Kalau kamu mau kuliah lagi, saya bisa atur."

Nadhira langsung menoleh penuh. Rayhan mengoreksi dirinya sebelum ia sempat bicara.

"Maksud saya, saya bisa mengatur bagian yang memang tanggung jawab saya. Jadwal antar anak, waktu pengasuhan, dan akses informasi program. Kamu yang memilih kampus, bidang, serta mendaftar."

"Kamu belajar cepat."

"Saya tidak ingin mengulang pertengkaran soal pengawal dalam bentuk pendidikan."

Nadhira menahan tawa agar tidak membangunkan anak.

"Saya mungkin mulai dari kelas daring atau program yang jadwalnya lentur. Saya ingin belajar membaca laporan keuangan, hukum tanah, dan cara menilai risiko. Bukan sekadar punya sertifikat."

"Besok saya minta Gilang mengumpulkan pilihan."

"Minta dia kirim sumbernya kepada saya. Jangan pilihkan tiga terbaik lalu menyuruh saya menentukan dari pilihanmu."

"Baik. Semua pilihan yang terakreditasi dan relevan. Tanpa peringkat versi saya."

"Jangan hubungi rektor atau memakai nama perusahaan supaya saya diterima."

"Saya bahkan belum tahu kampus mana yang kamu pertimbangkan."

"Saya membuat aturan sebelum kamu punya kesempatan."

"Wajar."

Rayhan menawarkan staf administrasi hanya untuk membantu memperoleh salinan berkas pendidikan lama, bukan mengerjakan formulir atau tugas. Nadhira akan menghubungi bagian penerimaan sendiri dan memeriksa apakah program daring memiliki pertemuan wajib, ujian tatap muka, serta beban semester yang sesuai dengan pengasuhan anak.

"Saya mungkin tidak langsung mengambil banyak mata kuliah," katanya. "Saya ingin mencoba satu semester tanpa menjadikan anak alasan berhenti atau menjadikan kuliah alasan menyerahkan semua pengasuhan."

"Kita bisa membuat jadwal yang tidak menggantungkan semuanya pada Mbak Wati. Saya juga orang tua."

"Kalau ada rapat penting?"

"Rapat bisa dipindah. Anak dan ujianmu tidak selalu harus mengalah."

Nadhira menyimpan kalimat itu. Bukan sebagai janji romantis, melainkan sesuatu yang kelak boleh ia tagih.

"Dan biaya kuliah dicatat sebagai pinjaman atau dari bagian uang saya sendiri."

Rayhan terdiam. "Kita bisa membicarakan biaya. Saya tidak keberatan membayar pendidikan istri saya."

"Saya tahu. Tapi saya perlu merasa keputusan itu tidak bisa dipakai untuk mengikat saya."

"Tidak akan. Kita tulis kesepakatannya jika itu membuatmu aman."

Jawaban itu menyingkirkan sesuatu dari dada Nadhira. Rayhan tidak tersinggung karena kebaikannya diberi batas. Ia justru bersedia membuat batas tersebut bisa dilihat.

"Apa impianmu?" tanya Nadhira.

"Kamu sudah bertanya saat badai."

"Waktu itu jawabanmu cuma ingin pulang tanpa memeriksa siapa yang pergi."

"Itu cukup besar."

"Bukan untuk orang yang membuat ranjang sendiri dan memasak ayam kecap diam-diam."

Rayhan memandang Arkan, lalu Alif. "Saya ingin suatu hari mereka datang kepada saya bukan karena takut, tetapi karena mereka tahu saya akan mendengar."

Nadhira menatap tangannya sendiri di atas selimut. Ia baru sadar jarinya bergerak mendekati tangan Rayhan. Tidak menyentuh, hanya berhenti di antara mereka.

"Mas Ray," bisiknya.

Rayhan menoleh cepat. Itu pertama kalinya Nadhira memakai panggilan tersebut.

"Kenapa kamu sebaik ini?"

Jeda panjang mengisi gelap.

"Karena kamu layak mendapatkannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!