Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih kecemburuan.
Nova menarik tangannya dengan kuat dari genggamanku. "Irish.. bukan aku meragukanmu, tapi kau melupakan misi utama dan malah asyik bermesraan dengan kedua orang itu."
"Kau menguntitku, dan menuduhku sembarangan?!"
"Ya .. Aku melihat kau bahkan berciuman dengan Zane. Kau bahkan membiarkan Aldrik meremas payudaramu, kau lebih terlihat bagai wanita murahan dari pada agent!"
Plaaaaakkk. Aku melayangkan tamparan keras je pipi Nova. Aku benar-benar tak tahan dengan ocehannya.
Suara tamparan melayang keras di pipi kanan Nova. Bunyi kibasan tangan itu mengaung menerpa telingaku. Pipinya memar memerah bekas tamparanku. Dia terhuyung hingga jatuh. Rendy dan dua anggotaku yang lain tertunduk menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
Aku tak tahan lagi dengan sikapnya yang aneh. Emosiku meledak. Kecemburuannya membutakan otaknya yang jernih. Kata-kata yang dia lemparkan pahit dan menusuk hatiku.
"Jika kau benar-benar mengintip, kau seharusnya melihat dengan jelas, itu berciuman atau sedang bicaraaaa? Aku membiarkan Aldrik, katamu?? Matamu benar-benar buta ... jika kau benar mengintip, harusnya kau lihat apa yang di lakukannya padaku?!!. Dia mencengkram pipi dan bahuku bagai hendak melahapku, jika aku tak mengigat jati diri sebagai agent, sudah ku habisi dia saat itu juga."
Aku berteriak dan memojokan gadis seumuranku itu hingga ia tampak ketakutan. Aku menunjuk ke arah wajahnya yang tampak kesal kepadaku. Nova terpojok ke sudut kamar semakin jauh.
"Apa kau pikir aku dengan suka rela melakukannya? Jika aku bisa membunuhnya secepat kilat, aku tidak akan melakukan misi kotor ini? Apa kau pikir aku senang memainkan perasaan? Setiap menatap mereka aku selalu teringat dengan mayat kakaku yang membiru penuh tusukan. Apa yang lebih menakutkan dari menabur cinta palsu kepada musuh? Rasanya lebih buruk dari kematiaaaann? Saat Zane menyentuhku ingin rasanya ku patahkan tangan itu, tapi peringatan dari organisasi agar aku selalu tenang!! Apa kau tidak pernah memikirkan betapa sulitnya posisiku ini? aku harus mendekati musuhku demi sebuah informasi. Apa kau pernah merasa sakitnya jadi barang taruhan? Diremehkan. Di anggap tak pantaaaasss. Aku menelan semua itu demi misi, hanya untuk menghancurkan seluruh Starling Gruop!!" Teriakanku lantang hingga nafasku ngos-ngosan.
Aku mengambil berkas yang tadi ku baca. Ku banting buku besar itu tepat di depan wajah Nova. Dia tersentak kaget. Wajahnya semakin kesal menatapku.
"Baca itu!"
"Aku tidak berhak membaca misi ketua tim," ucapnya pelan memalingkan wajah.
Aku mengambil buku itu lalu ku buka lembarannya dan kubacakan dengan nyaring di hadapan semua anggota tim ku sambil jongkok di depannya.
"Kakaku di perkosa secara brutal pada tahun 2012, penyebab kematian di picu pendarahan hebat akibat empat puluh tusukan dan tujuh sayatan persisi di lehernya. Mata sebelah kiri di cungkil paksa dan di tusuk besi panas. Sekujur tubuh terdapat kurang lebih tujuh belas suntikan yang membuat darah dan hormon tak stabil. Apa kau pernah melihat kasus kematian semengerikan ini?" tanyaku menahan tangis.
Nova tertunduk setelah mendengar kata-kataku. Aku menutup laporan itu dan menyeka wajahku yang memerah. Tak terasa air mataku jatuh. Luka lama yang ku sembunyikan belasan tahun lalu terbuka oleh kecemburuan anggota timku sendiri.
Aku mengusap mataku, aku sudah berjanji tidak akan menangis sebelum dendamku terbalaskan. Tapi perkataan Nova yang menyebutku melupakan misi membuat hatiku terluka dan berdarah.
"Apa kau tau Nova .... salah satu pelakunya adalah wali dari lelaki yang hampir menciumku di toilet tadi. Apa kau tau siapa? Adam Starling!!!"
Suaraku serak hampir terputus. Tapi aku kembali mengganas. Aku mencengkram rahang Nova dengan kuat.
"Apa kau tau berapa lama bagiku untuk mengetahui pelakunya??" Pekikku. "Empat belas tahun... aku berlatih siang malam agar pantas menerima misi ini, dan kau meragukanku hanya karena rasa cemburu yang sesat. Sebaiknya kau keluar dari timku, kau hanya akan menganggu pemandangan. Aku tidak butuh tim yang tidak percaya pada ketuanya!" Ujarku sambil melepaskan cengkraman itu.
Aku menarik nafas panjang. Ku simpan berkas itu dengan rapi di atas meja. Ku lihat wajah Nova membara karena merasa di permalukan. Nafasnya turun naik, aku tau dia ingin melawan, tapi dia menahan emosinya. Walaupun aku agak keterlaluan, aku takkan minta maaf padanya. Aku mengambil handphoneku dan bersiap menelpon ketua Asosiasi.
"Tunggu ... " Ucap Nova. "Jangan keluarkan aku dari tim. Maaf, aku hanya terbawa suasana ... aku akan mengikuti setiap perintahmu. Aku berjanji tidak akan meragukan apapun yang kau lakukan." Tambahnya melas sambil memegang kakiku.
Aku menggelengkan kepala, tapi aku berfikir kembali untuk membuangnya. Nova sangat berbakat dalam hal penyamaran, aku butuh anggota tim seperti itu. Aku mencoba membuang pikiran jahatku. Aku pun menyetujuinya setelah berpikir matang-matang.
Aku lalu menjelaskan misi yang akan kami jalankan, membagi anggota dan peran masing-masing untuk bersiap menyerbu area boxing hall. Aku tidak tau, ternyata Nova diam-diam menyimpan dendam setelah kejadian tadi.
Keesokan paginya.
Sesuai janji kepada Aldrik, hari ini aku akan menghabiskan waktu bersamanya. Dia datang tepat waktu ke restoranku. Menunggu di area parkir dengan tampilan nya yang tampak aneh dan bersandar di depan mobil spot mewah berwarna merah miliknya. Seolah hacker itu ingin memamerkan kekayaan miliknya padaku.
Aku berjalan mendekatinya dengan pandangan lucu. Aku tersenyum melihat penampilannya yang norak. Kemeja pink muda dengan kaus coklat dalamnya lalu celana jeans pendek warna biru. Pakaian yang sama sekali tidak cocok untuk acara apapun. Perpaduan warnanya sangat buruk. Aku terkekeh melihatnya.
"Aldrik ... kau seperti anak sma yang sedang nongkrong di tepi jurang." Ucapku menahan tawa.
"Benarkah?" kata Aldrik sambil berkaca di spion mobilnya. "Apa kau tidak suka?"
"Kau tampak konyol. Sebaiknya kita ke perbaiki dulu penampilanmu."
"Apa hanya penampilan Zane yang bagus di matamu?"
"Bu ... "
Belum sempat aku menjelaskan kalimatku, pria yang lebih muda dua tahun dariku itu langsung mengubah muka dan berpaling.
Aldrik tampak kesal kepadaku, dia langsung masuk ke dalam mobil dan membanting pintu berlapis baja itu dengan keras. Aku menggelengkan kepala melihat sikapnya yang kenakan. Tampaknya untuk menjinakkannya butuh kekuatan ekstra.
"Ya ampun ... kali ini sangat berat, aku harus mengurus anak kecil."
Aku duduk di sebelah Aldrik dengan perasaan canggung, dia diam saja dengan muka yang masam. Sementara roda mobil itu melaju kencang di ruas jalan licin. Tak sepatah katapun terucapkan.
"Menghadapinya lebih sulit dari menembakan peluru ke kepala teroris. Ya Tuhan ... sepertinya buku itu tidak bisa menaklukannya."
Aku berusaha tersenyum, ku gemggam tangan Aldrik dengan mesra. Aku mengubah raut wajahku seolah anak kecil yang ingin di belai.
"Apa kau marah?" Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita mau kemana?"
"Ke butik langganan keluarga Starling." Jawabnya ketus.
Aku tertawa kecil, dia benar-benar kekanakan.
**** untuk di bab ini dan seterusnya tanda tulisan hitam tebal dan miring adalah kata hati dari karakter ya ... jadi gak di cantumkan lagi kata-kata seperti, hatiku, dalam hati, dan sebagainya. Itu khusus buat si Irish aja kek nya.****