Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Pukul delapan lewat empat puluh lima menit pagi. Matahari mulai meninggi, memancarkan sinar terik yang memantul di atas permukaan lantai marmer halaman depan rumah mewahku. Suasana di dalam kompleks perumahan terpadu itu begitu tenang sebuah ketenangan yang mematikan sebelum badai besar menghantam.
Di balik pintu kayu jati berukir yang terkunci rapat dari dalam, Mama Rahma duduk meringkuk di atas sofa ruang tamu. Wajah wanita tua itu pucat pasi, matanya sembab dengan lingkaran hitam pekat di sekelilingnya. Semalaman ia tidak bisa memejamkan mata sedetik pun. Setiap kali mendengar gemerisik angin atau suara mesin mobil yang melintas di luar, jantungnya serasa ingin lompat keluar karena ketakutan yang luar biasa jika aku tiba-tiba pulang.
Namun, tepat pukul sembilan pagi, suara deru beberapa mesin mobil besar terdengar berhenti secara bersamaan tepat di area carport rumah.
Mama Rahma terlonjak kaget dari sofa. Tubuhnya gemetar hebat saat mendengar suara ketukan keras dan berwibawa di pintu utama, disusul suara kunci diputar secara paksa dari luar menggunakan kunci cadangan resmi.
KLIK!
Pintu ganda yang megah itu terdorong terbuka lebar.
Mama Rahma membelalakkan mata dalam horor murni. Di ambang pintu, berdiri Siska dengan pakaian formal serba hitam yang sangat rapi dan tajam. Di belakang Siska, berbaris sepuluh orang personel sekuritas berseragam lengkap dengan tubuh tegap, dua orang petugas dari tim kurator hukum penyita aset, serta seorang pengacara senior berpakaian setelan jas rapi.
"K-kalian... kalian siapa?!" jerit Mama Rahma dengan suara serak bercampur panik. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak pinggiran meja hias. "Mau apa kalian masuk ke rumah anak saya sembarangan?!"
Siska melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan sudut bibir terangkat tipis, memancarkan aura dingin yang meniru gaya kepemimpinanku. Ia tidak sedikit pun menunjukkan rasa hormat pada wanita tua di hadapannya.
"Selamat pagi, Ibu Rahma," panggil Siska dengan nada suara formal yang sangat datar. "Kami datang ke sini untuk melaksanakan proses pembalikan nama sertifikat kepemilikan aset secara resmi, sekaligus pengosongan area bangunan ini."
Seorang petugas dari tim hukum melangkah maju, membuka sebuah map kulit tebal dan menunjukkan selembar berkas legal berkop Glowinc Group dan Pengadilan Negeri.
"Rumah ini secara sah terdaftar sebagai aset properti milik Ibu Titania," tegas pengacara tersebut. "Berdasarkan surat kuasa khusus yang telah ditandatangani sore kemarin, seluruh hak guna bangunan dan izin tinggal atas nama Aris Pratama serta keluarganya resmi dicabut mulai detik ini."
Deg.
Wajah Mama Rahma seketika kehilangan seluruh warna darahnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan histeris, menolak mempercayai kenyataan kejam yang ada di hadapannya.
"Nggak! Ini nggak bisa! Kalian nggak bisa melakukan hal sewenang-wenang seperti ini!" jerit Mama Rahma penuh emosi, menunjuk-nunjuk wajah Siska dan tim hukum. "Kalian semua tidak punya hak! Nanti kalau Tita tahu kalian mengacak-acak rumah ini dan mengusir saya, Tita bakal menghukum kalian semua! Tita itu menantu saya! Dia sangat menghormati saya!"
Mendengar ucapan polos bercampur halusinasi dari Mama Rahma, salah satu staf dari tim penyita aset menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas pendek.
"Ibu Rahma, tolong kooperatif dan jangan mempersulit," sahut staf tersebut dengan nada dingin. "Bahkan seluruh tindakan pengosongan dan penyitaan aset hari ini adalah perintah langsung dari Nyonya Tita sendiri."
"Bohong!" potong Mama Rahma seketika, berteriak histeris di depan wajah staf itu. "Kamu pasti bohong! Tita itu bahkan belum pulang ke rumah ini dari semalam! Bagaimana bisa dia memberikan perintah seperti ini?! Jangan coba-coba menipu saya pakai nama menantu saya!"
Siska yang berdiri di tengah ruangan tampak menghentakkan tumit sepatu heels-nya ke lantai marmer. Suara ketukan nyaring itu seketika memotong jeritan histeris Mama Rahma.
Siska menatap Mama Rahma dengan pandangan yang penuh rasa jijik dan kemarahan yang sudah ditahannya sejak lama.
"Cukup, Bu Rahma!" bentak Siska dengan nada suara tegas dan lantang yang membuat seluruh ruangan mendadak hening.
Siska melangkah tiga jalan mendekati Mama Rahma, menatap wanita tua itu tepat di matanya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Buka mata Ibu lebar-lebar!" cecar Siska penuh penekanan. "Bos saya... Ibu Tita... sama sekali tidak perlu turun tangan secara langsung hanya untuk mengurus sampah seperti Anda!"
Kalimat "mengurus sampah seperti Anda" menghantam dada Mama Rahma bagaikan pukulan telak. Wanita tua itu membeku, matanya berkedip-kedip tak percaya mendengar asisten menantunya bicara selantang itu padanya.
"Selama bertahun-tahun Ibu Tita bersabar, diam dan pura-pura tidak tahu kelakuan busuk Ibu dan anak Ibu yang gila harta itu!" lanjut Siska dengan nada tajam bagaikan sembilu. "Ibu pikir Ibu Tita tidak tahu kalau uang lima belas juta yang diperas Mbak Jessica kemarin pagi dipakai untuk foya-foya?! Ibu pikir Ibu Tita tidak tahu kalau kemarin sore Ibu dan wanita simpanan Aris saling cakar di ruang tamu ini?!"
Mama Rahma menelan ludah parau, tubuhnya makin gemetar hebat. "K-kalian... kalian tahu dari mana...?"
"Ibu Tita memantau setiap detik kebodohan kalian melalui kamera CCTV rumah ini sejak kemarin!" tegas Siska dengan senyuman miring yang mematikan. "Ibu Tita tidak perlu mengotori tangannya atau membuang waktunya yang berharga untuk datang ke sini melihat wajah Ibu. Beliau menyerahkan tugas pengosongan ini sepenuhnya kepada saya!"
Siska berbalik ke arah jajaran sekuritas dan petugas kurator, mengibaskan tangannya memberi komando.
"Lakukan penyitaan sekarang!" perintah Siska nyaring. "Sita seluruh barang berharga, brankas, perhiasan, tas-tas bermerek dan jam tangan mewah yang dibeli menggunakan uang perusahaan! Masukkan seluruh pakaian dan barang pribadi milik Ibu Rahma ke dalam kantong plastik hitam, lalu keluarkan dari area properti!"
"Siap, Bu Siska!" sahut sepuluh personel sekuritas serempak.
Seketika itu juga, suasana di dalam rumah mewah berubah menjadi riuh. Para sekuritas dan staf kurator bergerak cepat menyisir setiap sudut rumah. Mereka membuka lemari-lemari besar di kamar utama, mengeluarkan tas-tas mahal, perhiasan emas yang disimpan di dalam brankas, serta pakaian-pakaian desainer yang selama ini dipamerkan Mama Rahma dan Jessica.
"Jangan! Jangan ambil barang-barang saya!" jerit Mama Rahma bagaikan orang kesurupan. Ia berlari mencoba menahan seorang sekuritas yang membawa tas perhiasannya, namun dengan mudah dihalau oleh dua orang petugas lainnya.
"Itu punya saya! Itu dibelikan sama anak saya, Aris!"
"Uang yang dipakai Aris untuk membeli semua ini adalah uang hasil penggelapan dana Glowinc Group!" sahut pengacara senior tegas sembari mencatat berkas penyitaan. "Secara hukum, seluruh barang ini adalah barang bukti tindak pidana dan aset yang disita untuk menutupi kerugian perusahaan Nyonya Tita!"
Dua orang sekuritas lainnya membawa tiga kantong plastik hitam besar berisikan pakaian-pakaian biasa milik Mama Rahma, lalu meletakkannya dengan kasar di atas lantai di depan pintu utama.
"Ibu Rahma, silakan keluar secara mandiri," panggil Siska dingin, membukakan pintu utama lebar-lebar. "Atau sekuriti kami yang akan mengangkut Ibu keluar dari area rumah ini secara paksa?"
Mama Rahma bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Air matanya menetes deras membasahi pipinya yang keriput. Kesombongan, keangkuhan, dan rasa bangga menjadi "ibu mertua dari pengusaha kaya" yang selama ini ia agung-agungkan seketika hancur tak tersisa.
Ia memegangi ujung celana Siska dengan tangan gemetar, memohon dengan suara parau yang amat menyedihkan.
"Siska... tolong Siska..." bisik Mama Rahma terisak-isak. "Tolong sampaikan salam Mama buat Tita... Mama mohon... Minta Tita ampuni Aris dan Mama... Biarkan Mama tinggal di kamar belakang saja tidak apa-apa, Siska... Mama tidak punya uang, Mama tidak punya tempat tinggal..."
Siska menarik kakinya mundur dengan kasar, menatap Mama Rahma dari atas ke bawah tanpa sedikit pun rasa iba.
"Rasa kasihan Ibu Tita sudah habis sejak Ibu dan Aris memutuskan untuk membawa wanita siri ke dalam kehidupan beliau," jawab Siska dengan nada yang teramat dingin. "Sekarang, silakan nikmati hasil dari keserakahan kalian sendiri."
Siska memberi isyarat mata kepada dua sekuritas berbadan tegap. Dengan cepat, kedua sekuritas itu memegangi kedua ketiak Mama Rahma, mengangkat wanita tua yang terus meronta dan menangis itu, lalu memapahnya keluar melintasi pintu utama.
Kantong-kantong plastik berisi pakaian biasanya dilemparkan begitu saja ke dekat gerbang luar.
BRUK!
Mama Rahma tersungkur di atas aspal jalanan di luar gerbang rumah. Pintu pagar besi yang megah itu langsung ditutup rapat dan dikunci dari dalam oleh sekuritas, meninggalkan Mama Rahma sendirian yang terkapar di luar.
"Ariss! Titaaa! Tolong Mama!" jerit Mama Rahma histeris, memukuli batang besi gerbang dengan kedua tangannya yang gemetar. Namun, tidak ada satu orang pun di dalam rumah yang memedulikannya lagi.
Para sekuritas sibuk memasang stiker dan segel resmi bertuliskan "PROPERTI INI DALAM PENGAWASAN HUKUM GLOWINC GROUP" di sepanjang pintu dan gerbang utama.
Siska berdiri di dalam area halaman, merapikan blazernya dengan senyuman puas yang meluap-luap. Ia mengambil ponsel pintar dari dalam saku bajunya, mendial nomor kontakku, dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Sementara itu, di dalam mobil Rolls-Royce hitam yang melaju tenang menyusuri jalan tol menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Aku duduk di kursi belakang yang empuk, mendengarkan laporan langsung dari Siska melalui sambungan telepon.
"Bu Tita, eksekusi rumah utama sudah selesai seratus persen," lapor Siska dengan suara bernada gembira di seberang telepon. "Seluruh aset perhiasan, tas desainer, dan dokumen penting milik Pak Aris dan Bu Rahma sudah diamankan oleh tim kurator. Dan Bu Rahma resmi dikeluarkan dari area rumah tepat pukul sembilan sepuluh menit tadi."
Aku menyunggingkan senyum kemenangan yang amat anggun, menatap pemandangan pepohonan di luar jendela mobil.
"Bagus sekali, Siska," sahutku pelan namun tegas. "Pastikan semua kunci cadangan diganti total hari ini juga, dan tempatkan empat penjaga sekuritas dua puluh empat jam di rumah itu agar mereka tidak bisa mendekat lagi."
"Baik, Bu Tita. Semuanya sudah diatur," jawab Siska mantap.
"Terima kasih atas kerja kerasmu, Siska," ucapku sebelum mematikan sambungan telepon.
Aku meletakkan ponselku di atas pangkuan. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit pagi.
Satu jam lagi, pesawat jet pribadi dari Singapura yang membawa Kak Olan akan mendarat secara resmi di area terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta.
Pembalasan dendamku untuk bagian pengusiran dan perampasan harta keluarga Aris sudah tuntas sepenuhnya. Namun, babak yang sesungguhnya untuk menghancurkan fisik dan mental Aris di balik jeruji besi baru saja akan dimulai.
Kak Olan tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Dan Aris Pratama akan segera belajar bagaimana rasanya berhadapan langsung dengan seorang pria yang bisa menghancurkannya tanpa perlu menyentuh hukum sama sekali.
Mobil Rolls-Royce yang kutumpangi terus melaju kencang, membelah jalanan ibu kota menuju tempat di mana sang pelindung utamaku akan kembali.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣