Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Leticia sedikit terkejut saat melihat Calistha yang duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Calistha menyambut kepulangan menantunya dengan senyuman hangat.
“Berapa kelas hari ini?” Tanya wanita paruh baya itu yang kini beranjak dari duduknya.
Leticia memang ada dua kelas untuk hari ini dan kelasnya sudah selesai semua. Calistha sendiri menunggu kepulangan menantunya sejak satu jam yang lalu, sambil melihat-lihat keadaan Mansion yang ternyata ada kurangnya… yaitu foto pernikahan Max dan Leticia yang tidak sempat diambil.
Sehingga, nanti Calistha akan menyewa fotografer terkenal untuk datang dan mengambil foto Max dengan Leticia.
“Dua, Mom. Dan semuanya sudah selesai. Mommy sudah lama di sini? Kenapa tidak mengabari kalau mau berkunjung?” Tanya Leticia yang bersikap seperti biasanya.
Calistha menarik tangan menantunya untuk duduk di sofa, agar mereka bisa mengobrol dengan santai.
“Mommy hanya merindukanmu. Bagaimana kabarmu? Apa baik-baik saja? Max tidak berbuat macam-macam ‘kan?” Tanya Calistha yang tengah memancing sang menantu untuk memberikan alasan kenapa Max sampai seperti itu.
Leticia tidak langsung menjawabnya, karena ia ragu untuk mengatakan dengan jujur atau menutupi tentang kepergian Max tadi malam.
Leticia hanya tidak ingin Calistha merasa kecewa, kalau mendengar Max keluar tengah malam dan kembali pagi-pagi buta. Bahkan pria itu juga berbohong kepada istrinya sendiri.
“Baik, Mom.”
Calistha merasa tidak puas mendengar jawaban dari menantunya.
“Sayang, kalau ada sesuatu yang membuat hatimu tidak tenang… kau bisa menanyakannya kepada Mommy!” Wanita paruh baya itu memainkan perannya dengan sangat baik.
Leticia hampir goyah mendengar pernyataan sang mertua, tetapi ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ada dipikirannya. Apa Max benar-benar memiliki wanita lain di belakangnya atau tidak?
Kebohongan pria itu yang membuat Leticia merasa ragu, bahkan sampai meragukan perasaan Max kepadanya.
“Sayang, kenapa diam saja? Katakan kepada Mommy apa yang terjadi sudah Max lakukan kepadamu?” Tanya Calistha yang kini mulai curiga dengan putranya sendiri, sebab Leticia menunjukkan ekspresi sedihnya.
“Tidak ada, Mom. Hanya saja aku sedang emosional, karena hari pertama datang bulan.” Jujur Leticia.
Calistha langsung mengeri dan memeluk sang menantu dengan erat, ia mengusap punggung Leticia yang kini merilekskan tubuhnya di dekapan hangat sang mertua.
“Pantas saja tadi Max kebingungan sampai mampir ke Mansion utama, karena kau tidak mau didekati olehnya.”
Leticia sedikit terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka kalau Max sampai menemui Calistha.
“Baru kali ini Max curhat kepada Mommy, bahkan dia terlihat seperti orang yang kehilangan arah… karena istrinya tidak mau dicium,” kekeh Calistha yang membuat kedua pipi sang menantu mulai memerah.
“Nanti Mommy akan memberitahu Max kalau perempuan yang sedang kedatangan tamu bulanan memang sering berubah moodnya, jadi Max bisa langsung mengerti seperti apa emosimu. Atau kau bisa mengatakannya langsung kepada Max, karena suamimu itu memang kurang peka dan tidak pernah dekat dengan perempuan… jadi dia pasti sangat bingung menghidupimu yang tiba-tiba tidak ingin didekati olehnya,” jelas Calistha yang membuat Leticia tersenyum kecut.
Leticia sangat ingin mengatakan apa yang sebenarnya membuatnya marah, tetapi rasanya tidak bagus menceritakan hal yang masih belum pasti dan hanya ada dipikirannya saja.
“Mom, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” Tanya Leticia sambil menarik diri dari pelukan sang mertua.
“Boleh Sayang, kau ingin menanyakan apa?” Calistha mengusap pipi memerah sang menantu.
“Temanku sedang ada masalah kecil dengan calon kekasihnya. Temanku bercerita kalau dia belum yakin dengan perasaannya kepada calon kekasihnya dan dia bilang kalau calon kekasihnya itu akan menunggu sampai perasaannya benar-benar yakin kepadanya. Tapi tiba-tiba calon kekasihnya itu bersikap aneh, katanya dia keluar tengah malam dan pulang pagi-pagi buta. Lalu saat temanku bertanya, kekasihnya menjawab dengan kebohongan. Apa calon kekasih temanku itu sudah lelah menunggu dan mencari perempuan lain?” Tanya Leticia yang sebenarnya sedang menanyakan tentang dirinya sendiri.
“Tunggu sebentar! Temanmu itu tinggal satu rumah dengan calon kekasihnya?” Tanya Calistha yang dibalas anggukan oleh sang menantu.
“Temanmu itu apa sudah jatuh cinta sama calon kekasihnya?” Tanya Calistha lagi.
“Iya, tapi tiba-tiba calon kekasihnya berbohong dan membuatnya kembali bingung dengan perasaan calon kekasihnya yang benar-benar mencintai atau ternyata hanya membohonginya,” jelas Leticia
Calistha mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menampilkan ekspresi seperti orang yang sedang berpikir keras. Namun di dalam hati, wanita paruh baya itu langsung tahu siapa yang dibicarakan oleh menantunya.
Sebab tadi Calistha sudah bertanya kepada Mabel tentang permasalahan antara Leticia dengan Max. Dan Mabel mengatakan kalau sikap Leticia semalam baik-baik saja, berubahnya pagi tadi. Lalu Mabel juga mengatakan kalau tengah malam tadi, Leticia terbangun dan mencari keberadaan Max yang sedang pergi ke markas.
“Mommy takut salah memberi saran. Coba kau hubungin temanmu itu untuk bertemu dengan Mommy, biar Mommy bicara langsung kepadanya!” Kata Calistha yang sebenarnya ingin tertawa saat melihat ekspresi panik sang menantu.
“Di-dia tinggal di luar kota, Mom.” Leticia mencoba mencari alasan.
“Begitu ya, coba hubungi dia! Biar Mommy bicara dengannya!” Calistha sebenarnya tidak tega mengerjai menantunya, tetapi ia merasa gemas dengan ekspresi Leticia yang tidak bisa dikondisikan.
“Dia kerja, Mom. Nanti kalau bisa dihubungi, aku akan beritahu Mommy,” Leticia berusaha untuk tersenyum, agar tidak menimbulkan rasa curiga.
“Baiklah, padahal Mommy tiba-tiba mendapatkan saran yang sangat bagus untuknya,” ucap Calistha dengan ekspresi sedihnya.
Leticia ingin mengatkan sesuatu, tetapi ingin membuat mertuanya semakin curiga. Jadi ia menahannya untuk tidak bertanya, padahal dirinya sangat membutuhkan saran.
“Kenapa Sayang?” Tanya Calistha yang membuat sang menantu langsung menggelengkan kepalanya.
“Bilang saja kepada temanmu untuk jujur saja tentang apa yang dia rasakan kepada calon kekasihnya itu. Dia juga harus mengatakan kalau dia melihat calon kekasihnya keluar tengah malam dan pulang pagi-pagi buta, lalu dia tanya kenapa calon kekasihnya itu harus membohonginya!” Saran Calistha yang sebenarnya tidak tega melihat Leticia yang sedang overthinking dan Max yang sedang kebingungan dengan salahnya sendiri.
Dan sekarang, Calistha sudah mengetahui akar masalah. Nanti ia akan mengatakannya kepada Max, agar jujur tentang posisinya yang merupakan pemimpin dari Mafia Leder.
“Baik, Mom. Nanti aku akan sampaikan kepadanya,” ucap Leticia yang jadi kepikiran untuk mengikuti saran dari mertuanya.
“Sekarang kita makan siang! Kau pasti sudah lapar, Mommy sudah meminta Koki untuk memasakkan makanan kesukaanmu!” Calistha berdiri dari duduknya dan menarik lembut tangan menantunya.
Leticia mengangguk dengan penuh semangat. Entah mengapa, perasaannya menjadi sedikit lega… setelah mendengar saran dari mertuanya.
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️