Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Milik Menjadi Ratu
Mobil mewah melaju diam menuju gerbang Istana Surya. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin berat dan sunyi. Alex bersandar lemas di jok kulit, mata terpejam menahan perih di lengan kirinya yang robek cukup dalam bekas tusukan pisau lawan yang ditangkisnya tadi malam. Darah sudah berhenti menetes berkat ikatan darurat dari kain sapu tangan sutra milik Aulia, namun noda merah gelap masih jelas terlihat di lengan kemeja putihnya.
Di sampingnya, Aulia duduk dengan wajah cemas, tangannya sesekali menyentuh luka di lengan Alex dengan ragu namun penuh kepedulian. Ia masih bisa merasakan getaran tubuh Alex saat bertarung, masih terbayang jelas bagaimana pria itu membunuh Bara dengan tangan kosong demi melindunginya. Rasa takut bercampur rasa kagum dan perasaan aneh yang makin hari makin mengakar kuat di lubuk hatinya.
Sesampainya di kamar utama Alex ruangan seluas rumah kecil dengan nuansa hitam, abu-abu, dan marmer putih yang dingin Aulia langsung mengambil alih. Tanpa perlu disuruh, ia memerintahkan Bu Siti menyiapkan kotak P3K lengkap, air hangat, dan kain bersih.
“Duduklah di tepi kasur, Tuan. Lepas kemejamu,” perintah Aulia lembut namun tegas.
Alex membuka matanya perlahan, menatap gadis itu dengan sorot mata gelap yang berat. Biasanya, tidak ada satu pun makhluk hidup yang berani memberi perintah kepadanya, apalagi menyuruhnya membuka pakaian. Tapi saat ini, di hadapan nada suara cemas dan wajah pucat Aulia, egonya luruh begitu saja. Ia menurut perlahan, melepas kancing demi kancing, membiarkan kemeja putihnya jatuh ke lantai.
Tubuh bagian atas Alex terpampang jelas di hadapan Aulia. Bidang dada lebar berotot, perut rata keras seperti batu, kulit sawo matang yang sempurna… namun keindahan itu dirusak oleh puluhan bekas luka bekas sayatan pisau, bekas tembakan peluru, goresan parang, dan tanda bakar jejak panjang kehidupan berdarah yang dijalaninya selama bertahun-tahun. Bukti nyata bahwa Alexandra Surya bukan lahir jadi raja, melainkan berjuang mati-matian untuk menjadi raja.
Aulia menahan napas, matanya memanas. Tangannya gemetar saat menyentuh lengan yang terluka. Luka itu dalam, jahitan medis seharusnya diperlukan, tapi Alex menolak dokter.
“Tidak ada dokter luar. Mereka mulutnya longgar,” ujar Alex dingin, meski suaranya sedikit serak menahan sakit. “Cukup kamu saja yang menyentuhku, Aulia. Hanya kamu.”
Aulia mengangguk pelan. Ia mulai membersihkan darah kering dengan kapas yang dibasahi alkohol hangat. Setiap kali kain itu menyentuh daging yang robek, otot lengan Alex menegang keras, urat-uratnya menonjol, namun pria itu tidak mengerang sedikitpun. Wajahnya tetap tenang, seolah rasa sakit itu tidak ada artinya. Tapi Aulia tahu, pria ini hanya terbiasa menahan segalanya sendirian.
“Kenapa kau begitu nekat?” bisik Aulia pelan, matanya tertuju pada luka itu, air mata menetes jatuh mengenai lengan Alex. “Kau bos besar, kau punya ratusan anak buah. Kenapa kau sendiri yang maju? Kenapa kau harus terluka demi aku?”
Alex menatap puncak kepala Aulia yang tertunduk. Jari jempolnya yang kasar perlahan mengusap pipi gadis itu, menyeka butiran bening yang jatuh. Gerakannya begitu lembut, kontras total dengan tangan yang baru saja mematahkan leher manusia beberapa jam lalu.
“Karena kau bukan sekadar urusan biasa, Sayang,” jawab Alex parau, suaranya rendah dan dalam, bergema di ruangan hening itu. “Mereka berani menyentuhmu, berani mengancammu… itu sama saja menginjak kepalaku. Aku tidak bisa membiarkan orang lain menangani urusan yang menyangkut nyawamu. Karena jika terjadi sesuatu padamu… seluruh kekayaanku, seluruh kekuasaanku, seluruh kota ini… jadi sampah yang tak berharga bagiku.”
Aulia menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap manik mata hitam Alex yang menatapnya begitu dalam, seolah bisa menembus sampai ke jiwanya. Di sana, di balik aura kejam sang Raja Mafia, ia melihat ketulusan yang jarang dimiliki siapa pun. Ia melihat rasa takut kehilangan yang nyata.
“Dulu…” Alex melanjutkan, matanya menatap jauh, mengenang masa lalu kelamnya. “Orang-orang yang aku sayang selalu mati atau pergi karena aku lemah, karena aku membiarkan orang lain bertindak atas namaku. Aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan pernah lagi membiarkan hal itu terjadi. Dan kau, Aulia… kau adalah hal terbaik yang pernah masuk ke dalam hidupku yang berantakan ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan maut sekalipun, mengambilmu dariku.”
Hati Aulia serasa diremas kuat namun penuh kehangatan. Selama ini ia merasa dirinya hanya barang belian, budak, atau mainan. Tapi kalimat Alex itu meruntuhkan tembok pertahanannya. Perlahan, dengan berani, Aulia menempelkan telapak tangannya yang kecil di dada bidang Alex, tepat di atas jantungnya yang berdetak kuat dan hidup.
“Kau bodoh, Alex…” bisik Aulia, air matanya mengalir deras namun kali ini bukan karena sedih. “Kau bodoh karena menaruh hati pada gadis rendahan sepertiku. Kau bodoh karena menaruh nyawamu di ujung pisau demi aku. Tapi… entah kenapa… aku tidak bisa lagi membayangkan hidupku tanpa kau di dalamnya.”
Alex tersenyum. Bukan senyum sarkas, bukan senyum ancaman, melainkan senyum tulus pertama yang pernah terukir di wajahnya selama bertahun-tahun. Senyum yang membuat wajah garang itu seketika tampan dan mempesona luar biasa. Ia menarik tubuh kecil Aulia mendekat, memeluknya erat, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya, mendengarkan detak jantung satu sama lain yang kini berirama serasi.
“Kalau begitu, jangan pernah coba-coba pergi dariku, Aulia,” gumam Alex di telinga gadis itu, bibirnya menyentuh kulit halus leher Aulia. “Karena kalau kau pergi… aku akan menghancurkan seluruh dunia ini sampai aku menemukanmu kembali.”
Malam itu bukan sekadar malam pengobatan luka fisik. Malam itu adalah malam penyatuan jiwa. Batas antara pemilik dan milik perlahan runtuh, digantikan ikatan yang jauh lebih kuat, jauh lebih dalam: Ikatan Hati.
Tiga hari berlalu. Luka Alex sudah kering dengan cepat berkat tubuhnya yang kuat dan perawatan telaten Aulia. Pagi itu, suasana di Lantai Puncak Gedung Surya Corp jauh lebih sibuk dari biasanya. Para sekretaris berlalu lalang dengan wajah tegang namun antusias. Kabar tentang hancurnya Grup Macan Hitam dan pengambilalihan aset mereka oleh Alex sudah menyebar ke seluruh lapisan bisnis maupun dunia gelap kota. Alexandra Surya makin tak tersentuh, makin perkasa.
Namun hari ini ada satu hal lagi yang akan mengguncang seluruh kota.
Alex berdiri di balik kaca besar ruang kerjanya, mengenakan jas hitam sempurna tanpa cacat, wajahnya dingin dan berwibawa seperti biasa. Di sampingnya berdiri Aulia, mengenakan gaun blazer berwarna putih gading rancangannya sendiri elegan, cerdas, namun lembut. Rambutnya diikat rapi, menampilkan aura percaya diri yang baru.
Alex menoleh, menatap gadis di sampingnya. Ia meraih tangan Aulia, mengaitkan jari jemari mereka dengan erat. Tidak ada sembunyi, tidak ada rahasia.
“Siap, Ratu Kecilku?” tanya Alex rendah, nada bangga terdengar jelas.
Aulia menarik napas panjang, lalu menatap balik dengan mantap, sedikit tersenyum. “Siap, Rajaku.”
Pintu besar terbuka. Mereka berdua berjalan keluar menuju ruang konferensi utama terbesar, tempat ratusan orang berkumpul rekan bisnis, investor, media massa, kapten pasukan, dan orang-orang penting kota. Semua mata langsung tertuju pada dua sosok itu.
Aura dominan Alex berjalan beriringan dengan keanggunan Aulia. Langkah mereka serempak.
Alex berhenti di depan podium mikrofon. Ia tidak melepaskan tangan Aulia, bahkan justru mengangkatnya sedikit, menampakkan kaitan jari mereka yang tak terpisahkan. Ruangan hening total.
“Selamat pagi semuanya,” suara Alex bergema berat, tegas, dan mutlak, terdengar hingga sudut paling jauh. “Hari ini, kita merayakan kemenangan atas musuh, ekspansi wilayah, dan pertumbuhan perusahaan yang luar biasa. Tapi ada satu hal yang jauh lebih penting daripada semua uang, tanah, dan kekuasaan ini.”
Alex menoleh, menatap Aulia dalam-dalam, sorot matanya melunak di depan mata semua orang.
“Selama ini, banyak dari kalian yang berpikir Aulia Permata hanyalah gadis yang kubeli, hiasan, atau aset bisnis semata. Kalian berpikir dia ada di sini karena dia tunduk padaku, karena dia takut padaku.”
Beberapa orang di ruangan itu menunduk, takut, berharap tidak ada yang salah.
Alex kembali menatap kerumunan, aura pembunuhnya meledak perlahan, menegaskan posisinya.
“Dengar baik-baik, karena aku hanya akan bilang sekali seumur hidup. Aulia Permata… BUKAN milikku. Aku yang milik dia. Setiap napasku, setiap tindakanku, seluruh kekuasaanku… semuanya sekarang berada di bawah kakinya. Dia bukan barang dagangan. Dia bukan sekadar desainer. Dia adalah Pasangan Resmiku. Dia adalah Ratu Surya Corp, dan satu-satunya Wanita di dunia ini yang berhak berdiri di sampingku, mendampingiku memimpin kerajaan ini sampai kapan pun.”
Suara gemuruh kaget, takjub, dan ngeri meledak di ruangan itu. Mengumumkan pasangan di dunia bisnis biasa saja sudah besar, tapi bagi seorang Bos Mafia Terbesar seperti Alex, menyatakan posisi wanita setinggi itu sama saja mengumumkan perang pada siapa pun yang berani menyakitinya. Itu adalah perlindungan tingkat tertinggi, pengakuan publik yang mutlak.
“Siapa pun yang berani meremehkannya, menyakitinya, atau berpikir dia bisa dipermainkan… sama saja menandai dirimu sebagai musuhku. Dan kalian semua tahu nasib musuhku,” tambah Alex dingin, mengingatkan mereka pada nasib Bara dan Grup Macan Hitam.
Alex kembali menatap Aulia, lalu mengangkat tangan gadis itu dan mengecup punggung tangannya dengan penuh kehormatan sikap yang belum pernah Alex tunjukkan pada manusia mana pun sebelumnya.
“Mulai hari ini, setiap keputusan besar, setiap langkah bisnis, setiap rencana… akan melibatkannya. Pendapatnya adalah hukum. Keinginannya adalah perintah. Dia adalah separuh jiwaku, dan tanpa dia… Kerajaan Surya hanyalah tumpukan debu tak bernyawa.”
Air mata bahagia menggenang di mata Aulia. Ia tidak pernah membayangkan, gadis yang dijual keluarganya seharga uang muka saja, kini berdiri di puncak dunia, diakui secara terbuka oleh pria paling berkuasa dan ditakuti, sebagai satu-satunya penguasa di hatinya.
Di tepi ruangan, Brian tersenyum tipis, Bu Siti mengusap air mata haru, dan Tuan Darmawan mengangguk puas. Mereka tahu satu hal pasti: Alexandra Surya tidak lagi bertarung sendirian. Ia kini memiliki Ratu yang kuat, cerdas, dan penuh cinta di sisinya. Dan bersama-sama, tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa menjatuhkan mereka.