Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Tumbuh Rasa
Belva menghentikan langkahnya kala sampai di lobi. "Sebenarnya kamu mau ngajak aku ke mana sih?" ketus Belva.
"Kamu maunya ke mana? pokoknya malam ini aku bakalan ngikutin kemauan kamulah," sahut Abi.
Belva mengerutkan keningnya curiga. "Kok aku merasa curiga sama kamu," ucap Belva.
Abi dengan gemasnya menjitak kening Belva yang sedang mengerut itu membuat Belva mengusap keningnya. "Ih, apaan sih baru kenal aja sudah berani KDRT, aku laporin kamu sama atasan kamu," kesal Belva.
"Laporin aja kalau berani," sahut Abi dengan santainya.
Abi masuk ke dalam mobilnya tapi Belva masih diam sembari memperlihatkan wajah yang cemberut. "Buruan masuk, kamu mau sampai kapan berdiri di situ?" seru Abi.
Akhirnya dengan wajah yang kesal, Belva pun masuk ke dalam mobil Abi. Abi mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan santai. "Mau ke mana kita?" tanya Abi.
"Mana aku tahu, kamu yang ngajak," ketus Belva.
"Ya, sudah tapi kamu jangan protes ya," seru Abi.
Abi membawa Belva ke sebuah tempat nongkrong anak muda di tengah kota itu. Tempatnya enak dan nyaman, bernuansa taman-taman gitu ditambah dengan live musiknya juga. "Kita nongkrong di sini saja," seru Abi.
"Kenapa di sini sih? kamu gak lihat apa di sini itu kebanyakan orang yang pacaran," sahut Belva.
"Ya, terus kenapa?" seru Abi.
"Gak enak aja, nanti disangkanya kita sepasang kekasih lagi," ketus Belva.
"Sama-sama single, ngapain gak enak. Jika ada yang mikir kaya gitu jangan didengar, aku tahu kamu butuh hiburan setiap hari ngurusin skincare memangnya kamu gak jenuh?" seru Abi.
Belva terdiam, benar apa yang dikatakan Abi mengurus pekerjaan setiap hari membuat Belva kadang-kadang jenuh juga. Abi pun memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Entah kenapa malam itu penyanyi menyanyikan lagu-lagu romantis membuat Belva dan Abi sedikit salah tingkah juga.
Tidak lama kemudian, Mario dan Tissa masuk juga ke tempat itu. "Ih, sayang bukanya itu Abang kamu ya? kok dia sama si Belva sih?" tunjuk Tissa.
"Lah, jadi tadi Bang Abi izin keluar itu mau pergi sama Belva. Wah, gak bisa dibiarkan ini, aku gak mau Bang Abi dekat-dekat dengan Belva," sahut Mario.
Tissa tersenyum mendengar ucapan Mario, ternyata kebohongan yang selama ini dia buat membuat Mario benar-benar percaya kepada dirinya dan membenci Belva. Mario menggandeng tangan Tissa dan menghampiri meja Belva dan Abi. "Bang, kok ada di sini?" tanya Mario.
Abi dan Belva menoleh secara bersamaan. "Kamu yang lagi ngapain di sini?" Abi balik bertanya kepada Mario.
"Kok Abang malah balik tanya sih? ya, sudah kita duduk di sini saja," ucap Mario.
"Pak Tentara, aku pulang saja," seru Belva sembari bangkit dari duduknya.
Abi dengan cepat menahan tangan Belva. "Tunggu dulu," seru Abi.
"Kenapa? kamu gak mau ya kita gabung dengan kalian? sombong banget," sinis Tissa.
"Pelayan toko saja sombongnya minta ampun," sambung Mario.
"Dulu saat ada Papa kamu, kamu memang anak orang kaya mau apa pun semua yang kamu inginkan pasti akan dituruti sama Papa kamu, tapi sekarang kamu tidak lebih dari anak orang miskin yang sudah tidak punya apa-apa lagi, bodoh sekali kamu pergi dari rumah dan memilih hidup melarat di luaran sana bahkan sekarang kamu harus bekerja menjadi pelayan di sebuah toko skincare, sangat menyedihkan," ledek Tissa.
Belva tersenyum sinis. "Lebih baik hidup sederhana dari pada hidup mewah tapi hasil merebut kebahagiaan orang lain," sahut Belva.
"Kurang ajar." Tissa hendak menyerang Belva tapi dengan cepat Abi berdiri di hadapan Belva untuk melindunginya.
"Bang, ngapain sih dekat-dekat dengan Belva? dia itu jahat, bermuka dua bahkan dia memasang wajah seperti bidadari padahal hatinya begitu jahat melebihi setan. Dulu, aku juga sempat tertipu dengan kecantikan dan kelembutan dia, tapi setelah Tissa menceritakan semuanya aku baru sadar kalau selama ini dia memutar balikan fakta seolah-olah dia yang tersakiti padahal kenyataannya dia sendiri yang selalu jahat kepada Tissa," geram Mario.
Belva mengepalkan kedua tangannya, tanpa banyak basa-basi dia pun segera pergi dari tempat itu. "Abang tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap kasar kepada wanita, sekarang kamu bersikap seperti itu dan kamu sudah kemakan rayuan dia. Jangan pernah menyesal, dan jika nanti terjadi sesuatu sama kamu jangan salahkan Abang karena Abang sudah mengingatkan kamu!" tegas Abi.
Abi pun segera berlari mengejar Belva. Abi celingukan mencari keberadaan Belva. "Ke mana dia?" gumam Abi khawatir.
Setelah celingukan, terlihat dari kejauhan Belva sedang duduk berjongkok sembari menenggelamkan wajahnya ke tangannya sendiri. Belva merasa sakit hati dengan ucapan Mario yang menurutnya sangat keterlaluan. Mario menganggap dia sebagai orang yang sangat jahat padahal dulu Belva sempat menganggap jika Mario akan menjadi orang yang bisa menjaga dan menyayanginya.
Abi menghampiri Belva dan berdiri di hadapan Belva. "Belva, bangun!"
Belva mendongak, lalu perlahan dia pun berdiri. "Aku mau pulang, sekarang aku lagi nungguin taksi kamu tidak usah mengantarkan aku," seru Belva sembari mengusap air matanya.
Belva hendak pergi tapi dengan sekali hentakan, Abi menarik tangan Belva dan memeluk Belva. Awalnya Belva menolak dan berontak tapi Abi tidak melepaskan pelukannya. "Lepaskan Pak Tentara, aku mau pulang," seru Belva dengan deraian air matanya.
"Jangan pura-pura kuat, aku tahu kamu saat ini sedang rapuh aku hanya membantu kamu menenangkan diri. Kamu boleh menangis sekencang-kencangnya jangan takut ada orang yang lihat, jika ada orang yang menegur kamu maka aku akan tonjok orang itu," ucap Abi.
"Aku tidak butuh belas kasihan dari orang lain, dulu adik kamu juga seperti ini datang disaat aku sedang butuh orang buat dijadikan sandaran hati, tapi lama-kelamaan dia justru lebih percaya kepada anak sialan itu dibandingkan aku padahal dulu aku sudah memberikan seluruh cinta aku untuknya," ucap Belva dengan isakan-isakan kecilnya.
Abi semakin mengeratkan pelukannya, dia tahu betapa sakitnya jadi Belva. Tidak ada satu pun keluarga yang melindunginya, berdiri sendiri membangun usaha. Dia tahu jika dulu Belva sangat mencintai Mario hanya adiknya saja yang brengsek percaya dengan mulut manis wanita itu.
"Kamu keterlaluan Mario, menyakiti Belva seperti ini," batin Abi.
Sementara itu dari kejauhan Mario melihat semuanya. Tadi dia pura-pura izin ke toilet, padahal dia penasaran kepada Belva dan Abi. Entah kenapa dia merasa cemburu melihat Abi memeluk mantan kekasihnya itu.
"Kenapa aku tidak suka melihat Abang dekat dengan Belva?" batin Mario.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva