NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 33 Terlalu Terbiasa

Rabu pagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah kontrak—

Rania Azarina bangun…

di sofa.

Oh.

Benar.

Semalam.

Ia ketiduran.

Perlahan matanya berkedip.

Selimut masih menutupi badan.

TV sudah mati.

Lampu ruang tengah tinggal lampu kecil dekat dapur.

Dan—

kepalanya langsung berhenti bekerja.

...

Oh.

Pelan.

Sangat pelan—

Rania duduk.

Tatapan turun.

Selimut.

Bukan miliknya.

Dan—

di meja kecil depan sofa—

ada secangkir kopi.

Masih hangat.

Beserta sticky note kecil.

Tulisan rapi.

Bangun pindah ke kamar. Leher kamu bisa sakit. — G

Boom.

Oh tidak.

Oh tidak.

Kenapa harus begitu?

Kenapa harus perhatian?

Kenapa harus kayak—

suami sungguhan?

Dan yang lebih buruk—

sudut bibirnya naik sedikit.

Senyum kecil.

Refleks.

Natural.

Rania langsung membeku.

Sebentar.

Apa barusan dia senyum sendiri karena Gavin?

Bahaya nasional.

Sangat bahaya.

Karena—

orang waras tidak senyum sendiri gara-gara sticky note.

Kan?

Kan?!

Ini masalah.

Masalah besar.

Sebab—

hal paling berbahaya dari perhatian Gavin Mahendra bukan gesturnya.

Tapi—

caranya terasa…

natural.

Seolah memang seharusnya begitu.

Seolah—

mereka memang tinggal serumah.

Beneran.

Bukan kontrak.

Dan itu—

mengganggu.

Sangat mengganggu.

Pintu kamar kerja terbuka.

Langkah pelan.

Lalu—

Gavin keluar.

Kemeja putih.

Lengan sedikit tergulung.

Laptop di tangan.

Tatapan otomatis berhenti ke sofa.

Ke dirinya.

Diam dua detik.

“…Udah bangun.”

Pendek.

Biasa.

Seolah menyelimuti orang semalam adalah aktivitas biasa.

“Iya.”

Pendek.

Terlalu cepat.

Tatapan Gavin turun sedikit.

Ke lehernya.

“Apa leher kamu pegal?”

Apa?

“Kamu tidur miring aneh.”

Pendek.

Biasa.

Seolah memang memperhatikan.

Rania membeku.

Sebentar.

Karena—

kapan dia lihat?

Dan—

kenapa hal beginian terasa terlalu intim?

“…Lumayan,” jawabnya akhirnya.

Gavin mengangguk kecil.

“Hari ini jangan duduk terlalu lama.”

Boom.

Bagus.

Jam tujuh pagi—

dan jantungnya sudah mulai berdetak tidak karuan lagi.

Di meja makan.

Aneh.

Sangat aneh.

Karena—

semuanya terasa terlalu normal.

Gavin baca email.

Rania makan.

Kadang ngobrol kecil.

Kadang diam.

Tidak canggung.

Tidak awkward.

Tidak ada pembahasan tentang semalam.

Tentang selimut.

Tentang note.

Tentang—

“Rania.”

Ia menoleh.

“Hm?”

“Jangan lupa obat.”

Boom.

Apa?

Tatapan Gavin tetap ke laptop.

“Muka kamu udah mau migrain.”

Seolah sudah hafal.

Dan—

masalahnya—

memang hafal.

Rania diam dua detik.

“…Kamu terlalu perhatian.”

Keluar begitu saja.

Refleks.

Gavin akhirnya menoleh.

Diam sebentar.

Lalu—

pelan.

“…Udah kebiasaan.”

Deg.

Oh.

Bagus.

Sekarang sarapan juga tidak aman.

Di kantor.

Jam sembilan lewat tiga menit.

Ruang meeting.

Orang-orang mulai masuk.

Laptop terbuka.

Kopi tersebar.

Theo sudah terlihat ingin pensiun dini.

Normal.

Yang tidak normal?

Kursi di sebelah Gavin.

Kosong.

Dan—

Gavin beberapa kali melirik jam.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu—

“…Rania belum datang?”

Boom.

Sunyi.

Theo berhenti buka laptop.

Nisa menggigit bibir.

Menahan tawa.

Kevin perlahan mengangkat kepala.

Senyum mulai dosa.

Nada penuh makna.

“Bu Rania ke HR lima menit.”

Kevin menyandarkan badan.

Pelan.

Takut-takut.

“…Pak.”

“Hm?”

Nada Gavin datar.

Kevin menunjuk kursi kosong.

“Ini meeting atau lagi nyari istri?”

Satu ruangan hening.

Theo menutup laptop pelan.

“Saya mendukung cinta selama deadline aman.”

Gavin tetap datar.

“…Kerja, Kevin.”

Pendek.

Namun—

anehnya—

tidak menyangkal.

Kevin langsung melirik Nisa.

Mulut membentuk huruf O besar.

Oh.

Ini menarik.

Lima menit kemudian—

pintu terbuka.

Rania masuk buru-buru.

Bawa laptop.

Sedikit ngos-ngosan.

“Sorry.”

Dan—

tanpa sadar—

langsung duduk.

Di kursi sebelah Gavin.

Refleks.

Seolah memang tempatnya.

Gavin mendorong gelas kopi ke arahnya.

Less ice.

Favoritnya.

Natural.

Tanpa lihat.

Tanpa tanya.

“…Thanks,” gumamnya refleks.

Sunyi.

Kevin perlahan menutup laptop.

“Saya mau nangis.”

Nisa.

“Saya mau pulang.”

Menjelang siang.

Koridor kantor.

Rania sedang berdiri bersama Andrian.

Bahas revisi vendor.

Laptop terbuka.

Dokumen berantakan.

Normal.

Profesional.

Lalu—

Andrian tertawa kecil.

“Bu Rania ternyata galak juga ya kalau revisi.”

Rania ikut ketawa kecil.

“Karena legal suka nyusahin.”

“Eh, kita makan siang sekalian bahas lanjut?”

Normal.

Sangat normal.

Sampai—

suara datar muncul dari belakang.

“Meeting lima menit lagi.”

Rania menoleh.

Oh.

Gavin.

Berdiri.

Tatapan terlalu tenang.

Yang justru menyeramkan.

Andrian berkedip.

“…Bukannya dua puluh menit lagi ya, Pak?”

Diam.

Dua detik.

Tiga detik.

“…Biar siap.”

Pendek.

Dingin.

Tatapan pindah ke laptop.

Lalu ke Andrian.

Lalu balik lagi ke Rania.

“Jangan telat.”

Boom.

Tatapannya berhenti sepersekian detik terlalu lama pada Andrian.

Lalu—

pergi.

Begitu saja.

Sunyi.

Andrian berkedip pelan.

“…Pak Gavin emang segitu disiplin-nya?”

Kevin muncul entah dari mana.

Tentu saja.

Karena iblis tidak pernah cuti.

Menatap arah Gavin pergi.

Lalu—

berbisik dramatis:

“Oh.”

Tatapan penuh makna.

“Cemburu.”

“Kevin,” desis Rania.

“Saya serius.”

Nada penuh ilmu gosip.

“Itu tadi vibes-nya kayak suami ngeliat istrinya diajak makan orang lain.”

Kurang ajar.

Sangat kurang ajar.

Lunch tim.

Satu meja panjang.

Makanan datang.

Dan—

seperti biasa—

mereka gagal menjaga batas profesional.

Andrian melihat menu.

“Bu Rania nggak makan pedas ya?”

Belum sempat jawab—

“…Maag.”

Gavin.

Refleks.

Pendek.

Natural.

Rania diam sepersekian detik.

Karena— bahkan dirinya sendiri kadang lupa.

Tapi Gavin tidak.

Andrian perlahan menoleh.

“Oh.”

Tatapan pindah ke Gavin.

Lalu balik ke Rania.

OHHH.

Kevin hampir meninggal bahagia.

“Pak hafal penyakit juga 😭”

“Kevin, makan,” jawab Gavin datar.

“Pak ini makan. Ini menikmati drama.”

Jam enam sore.

Kantor mulai sepi.

Biasanya—

Rania akan langsung pulang.

Tidak mikir.

Tidak peduli.

Tapi—

hari ini?

Aneh.

Karena—

Gavin belum keluar.

Padahal biasanya—

jam segini sudah ngajak pulang.

Meeting?

Masih kerja?

Udah makan belum?

Sebentar.

Rania membeku.

Oh tidak.

Kenapa dia jadi mikirin?

Bahaya.

Sangat bahaya.

Karena—

harusnya dia lega.

Harusnya senang bisa pulang sendiri.

Tapi—

kenapa malah nunggu?

Tidak. Ini cuma kebiasaan. Kebiasaan bisa hilang. Harusnya.

Dan entah kenapa— pikiran terakhir itu justru terasa paling tidak meyakinkan.

Basement parkiran.

Tiga puluh menit kemudian.

Mobil masih diam.

Mesin mati.

Lampu redup.

Dan—

Rania masih di sana.

Apa sih sebenarnya yang dia lakukan?

Lalu—

pintu lift terbuka.

Gavin keluar.

Sedikit kusut.

Kemeja tidak serapi pagi tadi.

Raut wajah capek.

Langkah berhenti begitu lihat mobil masih ada.

Lalu—

dia masuk.

Menutup pintu pelan.

Diam dua detik.

Tatapan pindah ke Rania.

“…Kamu belum pulang?”

Dan—

tanpa pikir.

Tanpa filter.

Tanpa kontrak.

Jawaban itu keluar begitu saja.

Natural.

“Nunggu kamu.”

Deg.

Membeku.

Karena—

oh.

Oh tidak.

Apa tadi?

Rania langsung menoleh cepat.

Panik internal nasional.

“Maksudnya—”

Terlambat.

Karena—

tatapan Gavin berhenti terlalu lama.

Lebih lama dari biasanya.

Lebih lembut.

Sedikit terlalu lembut.

Lalu—

pelan.

Hampir terdengar seperti senyum kecil.

“…Kamu mulai terbiasa juga ya?”

Boom.

Dan untuk pertama kalinya—

Rania tidak langsung bisa membantah.

Karena—

mungkin—

itu benar.

Dan itu—

masalah besar.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!