Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Di Balik Kaca
Lalu membeli satu lagi yang sama.
Jefri Tan tidak pernah mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya.
Ia hanya menutup kotak pena, merapikan meja seperti tidak melihat apa pun, lalu keluar dari ruang kerja Ko Ethan dengan langkah setenang biasanya.
Di Kediaman Ciu, seorang asisten yang baik bukan hanya tahu kapan harus bicara.
Ia juga tahu kapan harus menyimpan sesuatu sampai waktunya tiba.
Panggilan berikutnya untuk Keira datang pada awal minggu kedelapan.
Kali ini bukan dari Bi Sari, melainkan langsung dari Jefri.
"Ko Ethan minta dokumen evaluasi kegiatan Adik Jay," katanya di depan kamar bermain.
Keira sedang membantu Jayden menempel gambar Bola di papan kecil. Anak itu menulis huruf B terlalu besar sampai menabrak gambar wortel.
"Saya baru selesai buat satu salinan," kata Keira. "Bisa saya kirim lewat Bi Sari?"
"Beliau minta kamu bawa sendiri."
Keira menahan napas setengah detik.
Ia mulai terbiasa dengan kalimat itu. Terbiasa, tetapi bukan berarti tidak mencatatnya.
"Baik. Adik Jay, Ci Keira ke atas sebentar. Kamu lanjut warna wortelnya, jangan warna Bola jadi hijau."
Jayden menatap krayonnya. "Kalau Bola makan sayur, dia jadi hijau?"
"Tidak."
"Oh."
Keira meninggalkan Jayden bersama pengasuh tua, membawa map tipis, lalu naik ke lantai tiga.
Ia tiba beberapa menit lebih cepat dari jadwal yang disebut Jefri. Di depan ruang kerja, pintu tertutup, tetapi suara Ethan terdengar samar dari dalam.
Bahasa yang dipakainya baku, dingin, dan rapi. Suara seperti itu bisa membuat orang di ujung telepon merasa salah bahkan sebelum tahu salahnya di mana.
Jefri berdiri di dekat meja konsol.
"Ko Ethan masih conference call," katanya. "Tunggu sebentar."
Keira mengangguk.
Pintu ruang kerja Ethan memiliki panel kaca buram di bagian tengah. Dari luar, orang tidak bisa melihat jelas isi ruangan, hanya bayangan. Namun bayangan cukup untuk menunjukkan gerak.
Keira tidak berniat mengintip.
Ia hanya berdiri di tempat yang disediakan, menunduk memeriksa halaman map.
Namun suara Ethan mendadak turun lebih rendah.
"Saya tidak meminta alasan. Saya meminta hasil."
Kalimat itu membuat tangan Keira berhenti membalik kertas.
Di balik kaca buram, siluet Ethan duduk tegak di meja. Bahunya tidak bergerak. Kepalanya sedikit menunduk ke arah layar. Semua tampak terkendali.
Kecuali tangan kanannya.
Di bawah garis meja, samar-samar, tangan itu mengepal.
Lalu terbuka.
Mengepal lagi.
Terbuka lagi.
Gerakannya kecil, seperti seseorang berusaha menekan sesuatu agar tidak terlihat. Tetapi karena kaca buram memecah bentuk, justru ritmenya tampak jelas.
Keira teringat malam ia mengantar dokumen pertama kali ke lantai tiga. Pena yang jatuh. Jari Ethan yang gemetar. Cara pria itu marah bukan pada dirinya, melainkan pada fakta bahwa kelemahannya terlihat.
Ia teringat halaman luar rumah, ketika Pak Darto dipecat karena terlambat sepuluh menit. Tangan Ethan juga sempat bergetar sebelum ia menyembunyikannya.
Sekarang, di balik kaca buram, gerakan itu muncul lagi.
Tiga kali.
Bukan kebetulan.
Keira menatap map di tangannya, tetapi pikirannya tidak lagi di sana.
Dia kenapa sebenarnya?
Pertanyaan itu datang pelan, tidak seperti rasa penasaran tentang Kevin yang disertai rasa takut. Pertanyaan tentang Ethan terasa lebih rumit. Pria itu bisa sangat kejam kepada orang lain, tetapi tubuhnya sendiri seperti menyimpan sesuatu yang selalu ingin keluar saat tekanan naik.
Suara Ethan di dalam ruang kerja tetap datar.
"Perbaiki sebelum pukul tiga. Kirim ulang."
Setelah itu, hening.
Jefri mengetuk pintu dua kali, membuka sedikit, lalu memberi isyarat kepada Keira.
"Masuk."
Ethan sudah duduk seperti biasa. Ponsel menghadap turun di meja. Tangan kanannya memegang pena baru berwarna perak. Tidak ada tremor yang terlihat.
Keira masuk dan meletakkan map di meja.
"Evaluasi kegiatan Adik Jay, Ko Ethan."
Ethan membuka halaman pertama.
"Bacakan bagian rekomendasi."
Keira berdiri tegak.
"Adik Jay merespons baik kegiatan berbasis objek nyata. Untuk minggu depan, saya sarankan pengenalan pola warna dan jumlah lewat benda yang ia rawat sendiri, misalnya makanan hamster. Tapi durasinya tetap pendek, maksimal dua puluh menit untuk kegiatan fokus tinggi."
Ethan membaca halaman berikutnya.
"Dia masih mudah tantrum?"
"Lebih jarang."
"Karena hamster?"
"Sebagian. Karena Adik Jay mulai punya tanggung jawab kecil. Tapi perubahan paling besar karena aturan diulang konsisten dan orang dewasa di sekitarnya tidak memberi reaksi yang berubah-ubah."
Ethan berhenti membaca.
Keira baru sadar kalimat itu bisa terdengar seperti kritik terhadap rumah ini.
Ia menambahkan dengan nada lebih netral, "Untuk anak lima tahun, konsistensi orang dewasa sangat penting."
Ethan tidak marah.
Ia hanya menatap lembar evaluasi cukup lama, lalu berkata, "Lanjutkan."
Keira menunggu perintah berikutnya.
Tidak ada.
Jefri yang berdiri di dekat pintu juga tidak bergerak.
Akhirnya Ethan bertanya, suaranya kaku seolah kalimat itu baru disusun di tempat, "Jay akhir-akhir ini... belajar apa?"
Keira berkedip pelan.
Pertanyaan itu bukan tentang laporan.
Di map sudah tertulis semua.
"Selain membaca kata sederhana, Adik Jay sedang belajar merawat Bola," jawab Keira. "Dia belajar bahwa makhluk kecil butuh pintu kandang dikunci, makanan cukup, dan suara pelan. Dia juga belajar minta maaf kalau membuat kesalahan."
Pena di tangan Ethan berhenti.
"Minta maaf?"
"Iya. Saat Bola sempat lepas, Adik Jay merasa bersalah. Setelah ditemukan, dia minta maaf pelan-pelan ke kandang."
Jefri menunduk sedikit.
Ia tahu cerita hamster. Tidak tahu detail sayap barat, tentu saja. Tetapi ia tahu sejak kejadian itu, Jefri melihat Suster Keira lebih sering menutup lengan seragam di pergelangan tangan.
Ethan tidak bertanya lebih jauh.
"Keluar."
Perintah itu seharusnya dingin seperti biasa.
Namun kali ini, setelah Keira memberi salam dan berbalik, ia merasa ada sesuatu yang tertinggal di udara. Bukan kelembutan. Ethan Ciu belum sampai sejauh itu.
Lebih seperti seseorang yang berdiri di depan pintu yang tidak pernah ia buka, lalu menyentuh gagangnya sekali.
Keira keluar dari ruang kerja.
Di koridor, Jefri mengikuti dua langkah di belakang untuk menutup pintu.
Ketika Keira sampai di tangga, ia berhenti sebentar.
Entah kenapa, ia menoleh.
Di balik kaca buram, siluet Ethan masih duduk di kursi yang sama.
Tidak bergerak.
Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi arah tubuhnya menghadap pintu.
Menghadap tempat Keira baru saja pergi.