🏆GOLD NOVEL🏆
...
"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.
Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.
"Aku adalah..."
GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33: Rencana Pembunuhan
"I-Itu pasti dicuri! Mereka pasti mencurinya!" Ji Yang memekik, suaranya melengking pecah, mencoba mengais sisa-sisa alibi dari reruntuhan harga dirinya yang mulai hancur di depan mata para murid.
"Dicuri?" Qin Xiang terkekeh rendah. Sebuah tawa yang tidak sampai ke mata, namun cukup untuk membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya berdiri. Ia melangkah maju, membiarkan bayangan tubuhnya menelan sosok Ji Yang yang kian mengerut. "Katakan padaku, Senior Ji... seberapa payah keamanan di kediaman seorang Tetua Agung hingga tiga pembunuh bayaran rendahan yang bahkan bisa dikalahkan oleh Junior lemah ini? Lalu menjatuhkannya begitu saja di hutan seolah-olah itu hanya sepotong sampah?"
Kalimat Qin Xiang bagaikan silet yang menguliti kebohongan Ji Yang satu per satu. Aula Disiplin yang tadinya bising kini mencekam. Ratusan murid menahan napas, mata mereka beralih dari slip giok di meja Tetua Tie ke wajah Ji Yang yang kini pucat seperti mayat yang sudah terkubur tiga hari.
"Ji Yang..." Tetua Tie bersuara. Nada bicaranya berat, sarat akan tekanan aura ranah tinggi yang membuat udara di sekitar mereka terasa menebal. "Beri aku satu alasan logis mengapa aku tidak harus menyeretmu ke ruang interogasi jiwa sekarang juga."
Ji Yang tergagap, mulutnya menganga namun hanya suara desisan yang keluar. Ia tampak serupa tikus yang terjepit di pojok ruangan, gemetar di bawah tatapan predator yang tak kenal ampun.
Qin Xiang memiringkan kepalanya sedikit, lalu mendekat hingga napasnya yang dingin menyentuh telinga Ji Yang. Dengan suara yang hanya berupa bisikan halus namun setajam sembilu, ia berkata: "Nikmatilah sisa napasmu, tikus kecil. Kau yang memulainya, dan aku akan mengakhiri semua ini dengan nyawa kecilmu itu.”
Urat kemarahan langsung menonjol di wajah pihak lain, Ji Yang berteriak sambil menunjuk, "Tetua! Dia mengancamku! Dia baru saja bersumpah akan membunuhku!" Ji Yang menjerit histeris sembari menunjuk-nunjuk ke arah Qin Xiang dengan jari yang gemetar hebat.
Hening.
Ratusan pasang mata menatap Ji Yang dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan jijik. Qin Xiang masih berdiri tegak di posisi semula, berjarak tiga meter jauhnya, dengan tangan tertangkup tenang di balik punggung. Sosoknya tampak begitu terhormat, kontras dengan Ji Yang yang baru saja menunjuk udara kosong di sampingnya laksana orang gila yang kehilangan kewarasan.
"A-Apa... tadi dia di sini! Bagaimana..." Ji Yang melolong, matanya membelalak liar.
Ia tak menyadari bahwa Qin Xiang baru saja menggunakan teknik ilusi rendahan yang remeh, namun sangat berguna ketika menghadapi tikus rendahan di ranah Inti Formasi yang pikirannya sedang terguncang karena panik.
"Bjingn! Masih berani kau bermain sandiwara di depan kursi ini?!" Amarah Tetua Tie meledak. Ia menggebrak meja batu hingga retakan menjalar ke lantai. "Penjaga! Seret sampah ini ke penjara bawah tanah! Segel meridiannya dan pastikan dia tidak bisa melihat cahaya matahari sampai seluruh konspirasi ini terbongkar!"
“A-Apa... lepaskan aku!” Jeritan Ji Yang bergema memilukan saat para diaken berbaju zirah menyeret tubuhnya dengan kasar. Suaranya perlahan menjauh, tenggelam ke dalam gelapnya lorong penjara, meninggalkan aroma ketakutan yang masih tertinggal di udara. "Tidak! Bukan aku! Ayah! Tolong aku!" serunya.
Seketika, suasana aula berbalik arah. Kabut keraguan yang menyelimuti Qin Xiang luntur seketika, digantikan oleh gelombang rasa hormat yang baru lahir.
"Tetua Tie, Saudara Qin selama ini memang korban!" seru seorang murid dari tengah kerumunan. "Siapa yang tidak tahu betapa busuknya kelakuan trio pengacau? Wajar jika Qin Xiang menuntut kompensasi!"
"Benar! Kami semua saksi betapa arogannya mereka!" imbuh yang lain, suara-suara pembelaan kini menderu seperti air bah, mengukuhkan posisi Qin Xiang sebagai sosok 'Senior' yang harus disegani.
Murid perempuan yang sebelumnya membantu Qin Xiang pun ikut maju, wajahnya berseri-seri penuh kemenangan. "Tetua, aku bersaksi bahwa Qu Long diculik secara paksa semalam. Senior Qin jelas hanya mencoba menolongnya!"
Tetua Tie menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Cukup. Berdasarkan kesaksian dan bukti mutlak yang ada, aku akan mencabut semua tuduhan terhadap Qin Xiang." Ia lalu melirik tajam ke arah lima perundung yang kini membeku saat mendengar kalimat selanjutnya. "Bawa juga kelima orang ini ke sel yang sama. Jangan biarkan mereka tidur dengan tenang malam ini,” titahnya pada salah seorang diaken di sana.
Jeda.
Qin Xiang menangkupkan tangan, membungkuk sedikit dengan keanggunan yang tak terbantahkan. "Terima kasih atas keadilan Anda, Tetua."
"Hehe, naga tidak akan pernah kalah oleh sekumpulan cacing," bisik Qu Long bangga, meski wajahnya masih babak belur.
...
Sementara itu, di sebuah aula megah yang tertutup rapat, aroma dupa gaharu yang mahal mendadak tercium amis oleh amarah.
Prang—!
Gelas kristal di tangan seorang pria kekar hancur, serpihannya merobek telapak tangannya sendiri tanpa ia pedulikan. Matanya merah menyala, memancarkan niat membunuh yang sanggup membekukan darah pelayan di sekitarnya. Dialah Ji Jie, sang Tetua Agung yang namanya baru saja dicoreng oleh darah dagingnya sendiri.
"Bocah saln... dia berani mempermalukan martabat ayahnya sendiri!" geramnya, suaranya berat dan bergetar karena tenaga dalam yang meluap.
"Tenangkan amarahmu, Guru.”
Seorang pemuda tampan masuk dengan langkah tenang, kipas lipat di tangannya bergerak ritmis, memberikan kesan elegan yang mematikan. Dia adalah Fang Yu, murid langsung kebanggaan Ji Jie yang baru saja menyelesaikan meditasi pengasingannya.
Ji Jie menoleh, urat di keningnya berdenyut. "Fang Yu, kau sudah dengar tentang anakku yang bodoh itu?"
"Ah, Tuan Muda Ji? Kenapa dia?”
Ji Jie segera menceritakan segalanya dengan napas memburu. Setiap kata tentang Qin Xiang membuat suasana ruangan itu kian mencekam.
"Qin Xiang..." Fang Yu mengulang nama itu, suaranya berubah serak bagai gesekan pedang di atas batu begitu ingatan tentang ‘bocah kampung’ berkelabat dalam benaknya.
“Apa kau mengenalinya?” Ji Jie mengernyit tajam.
“Ya. Dia adalah bocah kampung yang sebelumnya merebut perhatian Hu Xia dariku,” jawab Fang Yu dengan raut wajah penuh emosi yang bercampur menjadi dendam.
Ji Jie mengangguk, matanya menatap tajam ke arah Fang Yu. "Habisi dia jika kau menemukan kesempatan, untuk memulihkan reputasi gurumu ini.”
Fang Yu menutup kipasnya dengan dentingan tajam. "Tanpa diperintah pun, murid akan memastikan jiwanya memohon untuk mati di tanganku."
"Bagaimana dengan Tuan Muda Ji?" tanya Fang Yu kemudian.
Ji Jie membuang muka, matanya menatap kejauhan dengan dingin. "Biarkan dia membusuk di sana sementara waktu. Aku akan bernegosiasi dengan Tetua Tie secara rahasia untuk menjaga Dantiannya tetap utuh. Membelanya sekarang hanya akan membuat posisiku semakin rawan di hadapan Master Sekte."
“Murid mengerti.”
Bersambung!