NovelToon NovelToon
ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda
Popularitas:724
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Asisten Duda CEO Tajir Melintir

Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.

Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.

Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.

Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

darah yang mengungkap kebenaran

Dor!

sebelum kepalanya membentur lantai batu.

"Arthur!"

teriak Grizella.

Komandan Ethan langsung memberi aba-aba.

"Cari penembaknya!"

Beberapa anggota tim segera berlari keluar gedung.

Namun hanya keheningan yang mereka temukan.

Penembak itu telah menghilang.

Darah mengalir dari bahu kiri Arthur.

Untungnya peluru tidak mengenai jantungnya.

Vanessa segera merobek kain dari tas medis darurat.

"Kita harus menghentikan pendarahannya."

Elena membantu menekan luka Arthur.

Pria tua itu masih sadar.

Namun napasnya mulai berat.

Galaxy berlutut di sampingnya.

"Arthur."

"Jangan bicara dulu."

Arthur menggeleng pelan.

"Waktuku..."

"...tidak banyak."

Nathaniel ikut mendekat.

Tatapannya penuh penyesalan.

"Arthur..."

"Aku tidak pernah mengira kau masih hidup."

Arthur tersenyum lemah.

"Aku hidup..."

"...karena rasa bersalah."

Semua orang terdiam.

Galaxy menggenggam tangan Arthur.

"Katakan padaku."

"Siapa yang membunuh ayahku?"

Arthur memejamkan mata beberapa detik.

Lalu berbisik,

"Bukan..."

"...Aurelius."

Semua orang membeku.

Galaxy mengernyit.

"Bukan?"

Arthur menggeleng perlahan.

"Aurelius..."

"...hanya memanfaatkan..."

"...kejadian itu."

Nathaniel langsung berdiri.

"Kalau begitu..."

"Siapa pelakunya?"

Arthur menatap Nathaniel.

Tatapannya dipenuhi penyesalan yang mendalam.

"Orang itu..."

"...berasal dari keluarga Wesley."

Alexander membeku.

"Apa maksudmu?"

Arthur belum sempat menjawab.

Batuk keras membuat darah keluar dari sudut bibirnya.

Di luar bangunan...

Seorang pria bertopeng sedang mengamati semuanya melalui teropong.

Ia menekan tombol komunikasi.

"Tuan."

"Arthur masih hidup."

Suara Aurelius terdengar dari alat komunikasi.

"Biarkan."

"Dia hanya akan membuka setengah kebenaran."

Pria bertopeng itu mengangguk.

"Baik."

Kembali di dalam bangunan...

Arthur mengeluarkan sebuah kunci kecil dari saku jasnya.

Ia menyerahkannya kepada Galaxy.

"Kunci ini..."

"...akan membuka..."

"...ruang terakhir."

Galaxy menerima kunci itu.

Kuncinya terbuat dari emas tua.

Di bagian kepalanya terdapat ukiran pohon ek.

Nathaniel langsung mengenalinya.

"Itu..."

"Kunci ruang dewan pendiri."

Arthur mengangguk pelan.

"Di sanalah..."

"...semua jawaban..."

"...berada."

Belum sempat Arthur melanjutkan ucapannya...

Seluruh bangunan kembali bergetar.

BOOM!

Ledakan besar terdengar dari bagian bawah tanah.

Lantai mulai retak.

Aaron berteriak,

"Bangunan ini akan runtuh!"

Galaxy langsung berdiri.

"Kita harus keluar!"

Namun Nathaniel memandang lorong tua yang baru saja terbuka akibat ledakan.

Di balik reruntuhan...

Terlihat sebuah pintu kayu kuno dengan lambang empat pendiri Project Raven.

Nathaniel mengembuskan napas pelan.

"Ruang dewan..."

"Akhirnya terbuka."

Galaxy menggenggam kunci emas itu erat.

Ia tahu...

Di balik pintu itulah...

Rahasia terbesar keluarganya sedang menunggu.

Retakan di lantai semakin melebar.

Debu beterbangan memenuhi lorong bawah tanah.

Namun Nathaniel tetap menatap pintu kayu kuno itu tanpa berkedip.

"Itu ruang yang sudah terkunci selama tiga puluh tahun."

Galaxy menggenggam kunci emas pemberian Arthur.

"Kita masuk."

Komandan Ethan menggeleng.

"Bangunan ini bisa runtuh kapan saja."

Galaxy menjawab tegas,

"Kalau kita pergi sekarang..."

"Kita mungkin tidak akan pernah mendapatkan kesempatan kedua."

Arthur yang masih terbaring lemah mengangkat tangannya.

"Pergilah..."

"Jangan sia-siakan..."

"...pengorbanan mereka."

Vanessa dan Elena tetap tinggal untuk merawat Arthur.

Sementara Galaxy, Grizella, Nathaniel, Aaron, Alexander, Adrian, dan Ethan berlari menuju pintu kuno.

Galaxy memasukkan kunci emas ke lubang kunci.

Klik...

Suara mekanis tua terdengar dari balik pintu.

Lalu pintu itu terbuka perlahan.

Di baliknya terbentang sebuah ruang melingkar yang dipenuhi rak buku dan lemari arsip.

Di tengah ruangan berdiri sebuah meja bundar besar.

Di atas meja terdapat empat kursi.

Masing-masing diberi pelat nama.

Nathaniel.

Edward Wesley.

The Raven.

Dan...

Aurelius Blackwood.

Grizella menatap nama terakhir itu.

"Jadi benar..."

"Aurelius memang salah satu pendiri."

Nathaniel mengangguk pelan.

"Awalnya kami memiliki mimpi yang sama."

Di tengah meja terdapat sebuah kotak kayu hitam.

Tidak ada kunci.

Hanya empat cekungan berbentuk telapak tangan.

Aaron mengernyit.

"Bagaimana membukanya?"

Nathaniel mendekat.

"Dulu..."

"Kotak ini hanya bisa dibuka jika keempat pendiri hadir."

Galaxy menghela napas.

"Itu mustahil."

Namun saat ia menyentuh kotak tersebut...

Permukaannya tiba-tiba menyala.

Sebuah suara elektronik terdengar.

"Identitas keluarga Wesley terverifikasi."

Semua terkejut.

Lalu suara itu kembali berbunyi.

"Protokol pewaris diaktifkan."

Kotak perlahan terbuka dengan sendirinya.

Di dalamnya hanya terdapat sebuah buku kulit tua.

Galaxy mengangkatnya perlahan.

Judul di sampulnya membuat semua orang terdiam.

"Perjanjian Empat Pendiri."

Nathaniel menutup matanya.

"Aku tidak pernah menyangka buku itu masih ada."

Galaxy membuka halaman pertama.

Terdapat tanda tangan keempat pendiri.

Namun pada halaman terakhir...

Tanda tangan Aurelius dicoret dengan tinta merah.

Di bawahnya tertulis sebuah kalimat.

"Mulai hari ini, Aurelius Blackwood dikeluarkan dari Project Raven karena mengkhianati sumpah para pendiri."

Grizella menghela napas.

"Jadi semuanya memang bermula dari pengkhianatan."

Nathaniel menggeleng perlahan.

"Tidak..."

"Itu baru permulaannya."

Tiba-tiba Aaron memanggil Galaxy.

"Tuan, lihat ini."

Di sela-sela halaman buku terdapat sebuah surat kecil yang belum pernah dibuka.

Pada bagian depannya tertulis:

"Untuk putra Edward Wesley."

Galaxy merasakan jantungnya berdegup semakin cepat.

Ia perlahan membuka surat itu.

Baru satu kalimat yang sempat terbaca.

"Galaxy, jika kau membaca surat ini, berarti aku gagal pulang menemuimu..."

Belum sempat ia melanjutkan...

Dor!

Sebuah peluru menembus dinding batu dan menghantam meja bundar.

Seluruh ruangan tersentak.

Komandan Ethan langsung mengangkat senjatanya.

"Musuh masuk!"

Dari lorong utama terdengar langkah puluhan orang yang semakin mendekat.

Dan di antara suara langkah itu...

Terdengar suara Aurelius yang menggema.

"Aku sudah bilang..."

"Beberapa rahasia seharusnya tetap terkubur."

Suara langkah kaki semakin mendekat.

Tok... Tok... Tok...

Puluhan anggota The Black Crown mengepung pintu ruang dewan pendiri.

Komandan Ethan segera memberi isyarat.

"Formasi bertahan!"

Aaron dan Alexander mendorong meja bundar ke arah pintu sebagai penghalang.

Grizella berdiri di sisi Galaxy, sementara Nathaniel menggenggam tongkat kayunya dengan tenang.

Pintu kayu tua bergetar keras.

Brak!

Benturan pertama.

Lalu benturan kedua.

Retakan mulai muncul di permukaannya.

Ethan menoleh kepada Galaxy.

"Tuan, kami hanya bisa menahan mereka beberapa menit."

Galaxy mengangguk.

"Itu sudah cukup."

Ia kembali membuka surat peninggalan ayahnya.

Tangannya sedikit gemetar.

Tulisan tangan Edward Wesley memenuhi halaman itu.

"Galaxy, jika kau membaca surat ini, berarti aku gagal pulang menemuimu."

"Pertama-tama, ketahuilah bahwa aku tidak pernah meninggalkanmu atas kemauanku sendiri."

Galaxy menarik napas panjang.

Ia melanjutkan membaca.

"Aku mengetahui bahwa salah satu sahabatku telah memilih jalan yang salah. Namun aku juga tahu, bukan dia dalang sesungguhnya."

Nathaniel menundukkan kepala.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Surat itu berlanjut.

"Jika suatu hari kau bertemu Nathaniel, percayalah kepadanya."

"Jika kau bertemu Raven, dengarkan penyesalannya."

"Namun jika kau bertemu Aurelius..."

Galaxy berhenti sejenak.

Seluruh ruangan menjadi sunyi.

Ia membaca kalimat berikutnya dengan suara pelan.

"...ingatlah bahwa ia pernah menjadi saudara bagiku."

Grizella memandang Galaxy.

"Ayah Anda..."

"Masih menganggap Aurelius sebagai saudaranya."

Galaxy mengangguk pelan.

"Meski telah dikhianati."

Tiba-tiba...

Brak!

Pintu ruang dewan akhirnya jebol.

Puluhan anggota The Black Crown menyerbu masuk.

Namun sebelum mereka sempat bergerak lebih jauh...

Sebuah suara menggema dari lorong.

"Berhenti!"

Semua orang menoleh.

Aurelius Blackwood berjalan masuk seorang diri.

Ia mengangkat tangan.

Pasukannya langsung menghentikan langkah.

Tak seorang pun berani membangkang.

Aurelius menatap Galaxy.

"Sudah kubilang."

"Aku ingin kau membaca surat itu."

Galaxy menatapnya tajam.

"Kenapa?"

Aurelius tersenyum tipis.

"Karena Edward selalu percaya bahwa kata-kata mampu mengubah hati seseorang."

"Lalu apakah itu berhasil?"

tanya Galaxy.

Aurelius terdiam beberapa saat.

Kemudian menjawab lirih,

"Hampir."

Nathaniel melangkah maju.

"Aurelius."

"Masih ada kesempatan untuk mengakhiri semua ini."

Aurelius menggeleng perlahan.

"Terlambat."

"Banyak darah telah tertumpah."

"Banyak keluarga telah hancur."

Galaxy menggenggam surat ayahnya.

"Kalau begitu..."

"Biarkan aku menghentikannya."

Aurelius menatap Galaxy cukup lama.

Sorot matanya tidak lagi dipenuhi kebencian.

Melainkan keraguan.

Seolah ada bagian dari dirinya yang mulai goyah.

Namun tepat pada saat itu...

Dor!

Suara tembakan menggema.

Semua terkejut.

Peluru itu bukan berasal dari pasukan Ethan.

Bukan pula dari anak buah Aurelius.

Peluru datang dari lorong belakang.

Mengenai bahu Aurelius.

Pria itu terhuyung sebelum jatuh berlutut.

Semua mata langsung mengarah ke sumber tembakan.

Seorang pria bertopeng berdiri di sana sambil menurunkan pistolnya.

Dengan suara dingin ia berkata,

"Aurelius Blackwood."

"Peranmu sudah selesai."

Aurelius mendongak dengan mata membelalak.

"Kau..."

"Ternyata benar..."

"Masih hidup."

Pria bertopeng itu tertawa pelan.

"Lama tidak bertemu, sahabat lama."

Galaxy merasakan firasat buruk memenuhi dadanya.

Jika orang yang menembak Aurelius mengenalnya...

Berarti masih ada satu tokoh lain yang belum pernah muncul.

Seseorang yang selama ini bersembunyi di balik setiap tragedi.

Dan kini...

Ia akhirnya keluar dari bayangannya.

...★----------------★...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!