"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Suasana hening di apartemen mewah itu mendadak pecah ketika suara bel pintu ditekan bertubi-tubi, disusul suara langkah kaki yang terburu-buru di lorong. Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan Mama Sofia dan Papa Zelbarra dengan wajah yang sangat pucat.
"Azel! Mana Runa? Kenapa nggak bilang kalau menantu Mama sampai masuk IGD?!" seru Mama Sofia dengan nada dramatis, tas mahalnya ia lempar begitu saja ke kursi.
Azel yang sedang menyuapi Runa sesendok bubur hanya menoleh datar. "Dia nggak ke IGD, Ma. Cuma istirahat di rumah."
Papa Zelbarra mendekat, menepuk bahu Azel kuat. "Kamu ini gimana? Papa dapet laporan kamu batalin rapat triliunan gara-gara 'urusan darurat'. Papa kira Runa kenapa-kenapa!"
Runa yang bersandar di tumpukan bantal merasa sangat tidak enak hati. Wajahnya memerah melihat mertuanya datang dengan kepanikan luar biasa. "Mama, Papa... maaf ya udah bikin khawatir. Runa nggak apa-apa, kok. Cuma... anu... perutnya lagi sakit banget."
Mama Sofia langsung duduk di pinggir ranjang, memegang tangan Runa dan memeriksa suhunya. "Sakit gimana, Sayang? Keracunan? Atau..." Mata Mama Sofia tiba-tiba berbinar, ia melirik ke arah perut Runa dengan penuh harap. "Atau ini tanda-tanda... morning sickness? Kamu hamil?"
Pertanyaan itu membuat Runa tersedak udara. Ia melirik Azel yang ekspresinya tetap sedingin es.
"Bukan, Ma," jawab Azel singkat. "Runa lagi hari pertama. Biasa, nyeri haid."
Seketika itu juga, bahu Mama Sofia merosot. Guratan kekecewaan terpancar jelas di wajahnya, meski ia mencoba menutupinya dengan tawa renyah yang dipaksakan.
"Oalah... Mama kira Azel udah tokcer kasih Mama cucu," canda Mama Sofia sambil menepuk pelan paha Runa. "Padahal Mama udah nyiapin nama buat cucu pertama, loh. Ternyata Mama gagal dapet kado bulan ini, ya?"
Papa Zelbarra tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Sudah, Ma. Jangan bikin Runa makin pusing. Mereka kan baru nikah, biarkan mereka menikmati waktu berdua dulu."
"Iya sih, Pa. Tapi Mama beneran nggak sabar liat Azel kecil atau Runa kecil lari-lari di sini," tambah Mama Sofia sambil mengerling nakal ke arah Azel. "Zel, kamu jangan kelamaan jadi CEO dingin di kantor doang. Di kamar harus lebih 'hangat', biar Mama nggak nunggu kelamaan!"
Runa menunduk dalam, jantungnya berdegup kencang karena rasa bersalah. Ia merasa sangat tidak enak hati pada mertuanya yang begitu mencintainya. Kenyataannya, jangankan hamil, melakukan hubungan suami-istri yang nyata pun belum mereka lakukan. Semuanya masih terikat dalam bayang-bayang kontrak dan rasa ragu yang ia miliki.
Setelah orang tua Azel pulang, keheningan kembali menyelimuti kamar. Azel merapikan nampan sarapan, lalu ia kembali duduk di sisi Runa. Sebelum bicara, Azel merogoh ponselnya, membuka folder rahasia yang selalu ia perbarui untuk memahami setiap jengkal emosi istrinya.
Runa’s Manual Book: Analisis Mental Sore Hari
Aku melihat wajahnya mendung lagi setelah Mama pulang. Runa terlihat sangat tertekan soal "cucu" dan fakta bahwa hubungan kami masih terbatas pada kontrak di atas kertas. Dia pasti merasa bersalah karena menganggap dirinya sedang membohongi orang tuaku yang tulus mencintainya. Aku harus segera memberikan jaminan keamanan padanya, dia harus tahu bahwa dia tidak perlu merasa dipaksa melakukan apa pun hanya karena ekspektasi orang lain. Hubungan ini milik kami berdua, bukan milik yayasan atau keluarga besar.
"Runa," panggil Azel lembut. Ia meletakkan ponselnya dan meraih tangan Runa. "Jangan dipikirin omongan Mama. Beliau memang suka bercanda."
"Tapi, Zel... Mama dan Papa baik banget sama aku. Mereka beneran sayang sama aku seolah aku anak kandung mereka. Aku ngerasa... aku jahat karena belum bisa kasih apa yang mereka mau. Dan aku jahat karena nahan kamu dalam kontrak ini."
Azel menatap Runa lekat-lekat, jemarinya mengusap pipi Runa yang mulai merona. "Denger, aku nggak pernah ngerasa tertahan. Aku yang milih buat nunggu kamu. Aku mau kita mulai karena kamu siap, bukan karena Mama pengen cucu."
Runa menatap mata Azel, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni. Ketakutannya selama ini—bahwa ia tidak diinginkan, bahwa ia hanya beban—perlahan terkikis habis oleh perlakuan Azel yang begitu detail menjaganya.
Malam itu, saat udara semakin dingin, Azel bersiap untuk tidur di sofa seperti biasanya. Namun, Runa menahan ujung kemeja Azel.
"Zel..."
Azel menoleh. "Kenapa? Sakit lagi?"
Runa menggeleng pelan, wajahnya memerah sampai ke telinga. "Sini... tidur di sini aja. Aku... aku nggak mau kamu sakit punggung karena tidur di sofa terus."
Azel tertegun. Matanya membelalak kecil, jantung sang CEO yang biasanya sedingin es itu kini berdegup liar. "Runa, kamu sadar apa yang kamu omongin?"
"Aku mau percaya sama kamu, Zel," bisik Runa hampir tak terdengar. "Aku mau kita... coba jadi suami istri yang beneran. Nggak ada kontrak lagi. Aku mau kamu jadi 'manual book' hidupku selamanya."
Azel terdiam seribu bahasa. Ia perlahan mendekat, naik ke atas ranjang dan menarik Runa ke dalam pelukannya. Kali ini, dekapannya terasa berbeda—lebih intim, lebih posesif, namun penuh dengan rasa syukur yang mendalam.
"Makasih, Runa. Makasih sudah kasih aku kesempatan buat jadi satu-satunya pria yang kamu inginkan," bisik Azel di kening Runa.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, Runa akhirnya memutuskan untuk melepaskan segala ketakutan masa lalunya. Ia sadar, ia mungkin tidak diinginkan oleh ayahnya, tapi di pelukan pria ini, ia adalah segalanya. Dan bagi Azel, ini adalah bab paling penting yang pernah ia tulis dalam hidupnya: Bab di mana Runa akhirnya benar-benar menjadi miliknya.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣