Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalkan, Ini Mawar
"Kumpulkan tim audit, periksa seluruh aliran dana Wijaya Group dalam tiga tahun terakhir, jika mereka berani mengkhianati kontrak ini karena Sein Group, maka aku akan memastikan Sein Group tidak akan punya cukup modal untuk sekadar membayar uang sewa kantor mereka bulan depan," perintah Lucas.
"Baik, Tuan. Tapi Tuan Wijaya meminta pertemuan darurat di restorannya malam ini pukul sembilan, dia bilang ini kesempatan terakhir bagi kita jika tidak ingin lahan itu jatuh ke tangan pihak lain," ucap Johan.
Lucas melirik jam tangannya, pukul tujuh malam dan ia masih ada waktu untuk memastikan Keysa baik-baik saja sebelum ia harus kembali ke medan tempur yang penuh dengan serigala berjas.
"Siapkan mobil dalam dua puluh menit," perintah Lucas sebelum melangkah cepat menaiki tangga.
Di dalam kamar, Keysa sedang meringkuk di sofa dekat jendela yang menghadap ke taman belakang. Ia tidak menyalakan lampu, hanya membiarkan cahaya bulan yang samar menerangi ruangan. Pikirannya masih terpaku pada surat yang tadi ia temukan, rasa yang ia alami seperti parasit yang perlahan menggerogoti jiwanya.
'Aku ini kenapa sih? Masa aku udah suka sama Lucas? Aku baru kenal Lucas, itupun karena Lucas yang beli aku. Aku nggak mungkin suka, aku cuma merasa bersalah karena Lucas nikah sama aku, bukan perempuan yang ada di surat itu' batin Keysa.
Pintu kamar terbuka pelan dan menampakkan siluet Lucas yang gagah, Lucas tidak segera menyalakan lampu utama, ia hanya menekan saklar lampu redup di sudut ruangan. Ia mendekati Keysa, melihat betapa kecil dan rapuhnya wanita itu di tengah kemewahan kamar ini.
"Kenapa gelap-gelapan?" tanya Lucas lembut, ia berlutut di depan sofa dan mensejajarkan wajahnya dengan Keysa.
Keysa tersentak dan mencoba menghapus air mata yang sempat mengalir tanpa sadar, "Hanya... ingin melihat bintang," jawab Keysa pelan.
Lucas meraih jemari Keysa dan menciumnya dengan sangat lama, "Aku harus pergi sebentar, ada masalah mendesak di kantor yang harus aku selesaikan malam ini juga, mungkin aku akan pulang larut malam," ucap Lucas.
Ada rasa lega yang aneh di hati Keysa mendengar Lucas akan pergi, namun juga ada rasa kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan. "Iya, hati-hati di jalan," balas Keysa.
"Tidur ya, jangan menungguku dan jangan memikirkan hal-hal aneh. Bi Lita ada di luar jika kamu butuh sesuatu," ucap Lucas, lalu ia berdiri dan mengecup kening Keysa dengan posesif seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Sementara itu, di sebuah restoran yang sangat mewah, Tuan Wijaya duduk dengan angkuh. Di sana ada seorang pria dan seorang wanita dari Sein Group yang tampak tersenyum penuh kemenangan.
"Lucas adalah anak muda yang sombong, dia pikir uang bisa membeli segalanya. Dia butuh lahan ini untuk proyek super-bloknya, tapi Sein Group menawarkan saham yang jauh lebih menguntungkan," ucap Tuan Wijaya sambil menyesap cerutunya.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu didobrak. Bukan oleh pengawal, melainkan oleh kehadiran Lucas yang begitu dingin hingga suhu ruangan seolah merosot drastis. Ia masuk dengan santai, tangan di saku celana, namun tatapannya adalah hukuman mati bagi siapa pun yang berani menentangnya.
"Selamat malam, Tuan Wijaya," ucap Lucas, suaranya sangat tenang namun mematikan.
Tuan Wijaya mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang, "Tuan Lucas, anda terlambat sepuluh menit. Kami baru saja akan menandatangani nota kesepahaman dengan Sein Group," ucap Tuan Wijaya dengan begitu sombong.
Lucas menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Tuan Wijaya tanpa diundang, ia memberi isyarat pada Johan yang berdiri di belakangnya, Johan pun segera meletakkan sebuah tablet di depan Tuan Wijaya.
"Sebelum anda menandatangani apa pun, saya sarankan anda melihat laporan audit terbaru mengenai Yayasan Pendidikan Wijaya yang anda kelola," ucap Lucas dengan senyum miring yang mengerikan.
Wajah Tuan Wijaya seketika memucat, "Apa... apa maksud anda?" tanya Tuan Wijaya.
"Pencucian uang dari dana hibah pemerintah ke rekening pribadi anda di Swiss, cukup untuk membuat anda menghabiskan sisa umur anda di balik jeruji besi, Tuan Wijaya. Belum lagi kasus pemalsuan izin lingkungan yang ada di daerah Kalimantan," ucap Lucas datar.
Perwakilan Sein Group yang tadinya tersenyum kini saling berpandangan dengan cemas, mereka tidak ingin terseret dalam skandal kriminal yang bisa menghancurkan reputasi mereka sendiri.
"Anda ingin bermain harga dengan saya?" tanya Lucas sambil condong ke depan dan menatap Tuan Wijaya yang kini gemetar hebat.
"Saya tidak bermain harga, Tuan Wijaya. Saya bermain dengan nyawa bisnis anda, serahkan lahan itu dengan harga awal yang kita sepakati atau saya pastikan besok pagi nama anda akan menjadi headline berita kriminal di seluruh penjuru negeri," ancam Lucas.
Tuan Wijaya menelan ludah, cerutunya jatuh ke lantai. Di depan Lucas, ia menyadari bahwa Sein Group bukan apa-apa. Lucas bukan hanya kaya, dia adalah predator yang tahu persis di mana nadi mangsanya berada.
Satu hal yang Tuan Wijaya lupakan tentang Lucas adalah sikap kejamnya dalam berbisnis bisa merugikan siapapun yang melawannya dan kali ini Tuan Wijaya telah salah mengambil langkah.
Tuan Wijaya gemetar hebat, tangannya yang tadi memegang pena dengan angkuh kini kesulitan untuk sekadar meraih gelas air putih di depannya.
Di bawah tatapan elang Lucas, ia merasa seperti semut yang siap diinjak kapan saja. "Sa-saya... saya akan menandatangani dokumennya sekarang, Tuan Lucas. Harga awal, sesuai kesepakatan pertama kita," jawab Tuan Wijaya pasrah.
Tuan Wijaya segera menarik dokumen dari tangan Johan dan membubuhkan tanda tangannya dengan tangan yang masih gemetar. Melihat kehancuran Wijaya Group, pihak Sein Group, seorang pria paruh baya bernama Bara, berdehem pelan. Ia tahu bahwa berpura-pura setia kepada Wijaya Group adalah tindakan bunuh diri. Dengan kecepatan yang luar biasa, ia mengubah ekspresi wajahnya dari sombong menjadi penuh hormat, hampir mendekati menjilat.
"Tuan Lucas, kami dari Sein Group tidak tahu jika Tuan Wijaya memiliki catatan kotor seperti itu. Kami benar-benar meminta maaf telah mencoba mengganggu proyek super-blok anda. Sebenarnya... kami sangat mengagumi cara kerja Anda," ucap Bara.
Lucas hanya melirik Bara dengan satu alis terangkat, tak berminat menanggapi omong kosong itu. Namun, Bara tidak menyerah, ia memberi isyarat kepada asisten yang sejak tadi berdiri dalam diam di belakangnya.
"Perkenalkan, ini Mawar. Dia adalah asisten kepercayaan saya, lulusan terbaik dari sekolah bisnis di London dan telah menangani berbagai negosiasi internasional kami selama lima tahun terakhir," lanjut Bara.
Seorang wanita cantik melangkah maju, ia mengenakan rok pensil hitam dan kemeja sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sopan namun provokatif, wajahnya dipoles riasan minimalis namun tajam dan memancarkan aura profesionalisme yang sangat kental.
"Selamat malam, Tuan Lucas. Saya Mawar," ucap wanita itu dengan suara yang merdu dan terkontrol, ia menunduk sedikit. Namun, matanya tetap menatap Lucas dengan keberanian yang terukur.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...