Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Mikayla sengaja bersikap lebih lembut dan manja agar Elang makin lengah.
Elang yang curiga karena mikayla rak bisa di hubungi. Mikayla mengirim pesan. "Aku sakit mas, " Sambil mengirim foto tangannya yang di infus. "Mas fokus ajah dengan pekerjaan, aku nginep di apartemen rasya taukan sahabat aku yang jadi dokter"
"Syukurlah mas khawatir sayang... maafin mas ya belum bisa pulang, mas harus disini 4 hari lagi."
"Its oke mas, lagi pula sahabat aku kan dokter jadi ngga usah khawatir."
Mikayla belum mau mengungkapkan segalanya, bahkan perceraiannya sudah sampai ke pengadilan ia hanya ingin, Elang menerima surat keputusan tanpa tahu ia tengah diceraikan istrinya.
Mikayla meletakkan ponselnya di atas nakas dengan gerakan pelan, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya yang kini nampak lebih segar berkat asupan vitamin dari Rasya. Foto tangan yang diinfus itu adalah umpan yang sempurna. Elang, dengan segala rasa percaya dirinya, pasti merasa lega karena istrinya yang "lemah" sedang berada di bawah pengawasan dokter yang juga sahabatnya sendiri.
"Dia benar-benar percaya," bisik Mikayla pada Rasya yang sedang memeriksa tetesan infus. "Dia pikir aku sedang terbaring lemah meratapi nasib, padahal aku sedang menghitung mundur kehancurannya.”
Rasya terkekeh sinis sambil merapikan selimut Mikayla. "Laki-laki kalau sudah merasa di atas angin memang sering jadi buta, Mika. Dia terlalu asyik dengan Naura di Bali sampai lupa kalau istrinya punya akses ke pengadilan dan triliunan aset."
Sesuai instruksi Mikayla, Pak Hendra telah mendaftarkan gugatan cerai secara diam-diam. Karena Mikayla memiliki bukti sabotase medis dan perselingkuhan yang dilakukan di depan umum (pesta pertunangan), proses ini bisa dipercepat.
Penyampaian Release (Panggilan Sidang) Mikayla meminta agar surat panggilan sidang dikirimkan ke kantor Elang, bukan ke rumah, dengan label "Dokumen Rahasia Proyek". Ia tahu sekretaris Elang bisa disuap oleh Reno untuk menyimpan dokumen itu sampai hari persidangan tiba.
Target: Mikayla ingin surat putusan cerai verstek (putusan tanpa kehadiran tergugat) jatuh tepat saat Elang sedang merayakan sesuatu yang besar bersama Naura. Ia ingin Elang kehilangan status suaminya bahkan sebelum dia sempat membela diri.
"Empat hari lagi dia baru pulang, Ras," ujar Mikayla sambil menatap layar tabletnya yang menampilkan pergerakan saham perusahaan Elang yang mulai ia gerogoti dari bawah. "Empat hari itu cukup untukku mengosongkan sisa-sisa jejakku di hidupnya."
Rasya menatap Mikayla dengan kagum. "Kamu benar-benar tenang, Mika. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah menjambak Naura di Bali kemarin.”
Mikayla menggeleng perlahan, matanya berkilat tajam. "Menjambak itu terlalu murah, Ras. Aku ingin mereka tetap merasa berada di puncak dunia, sampai mereka menyadari bahwa tanah yang mereka injak sudah aku beli, udara yang mereka hirup sudah aku kuasai, dan status yang mereka banggakan... sudah hangus terbakar."
Mikayla memejamkan mata, membiarkan cairan infus itu bekerja maksimal pada tubuhnya. Ia butuh stamina penuh. Dalam empat hari, drama ini akan mencapai babak final, di mana Elang akan menyadari bahwa istri "manja" yang ia tinggalkan di Jakarta sebenarnya adalah predator yang telah menelan seluruh dunianya bulat-bulat.
Suasana di balkon villa mewah Seminyak itu terasa begitu kental dengan aroma pengkhianatan. Angin laut malam yang sejuk menerpa wajah Elang dan Naura, namun percakapan mereka jauh lebih dingin dari udara Bali.
Elang menyesap sisa winenya, jemarinya mengelus rambut Naura dengan tatapan pemujaan yang belum pernah ia tunjukkan pada Mikayla selama lima tahun terakhir.
"Kasihan?" Elang tertawa kecil, suara baritonnya terdengar sinis. "Untuk apa kasihan pada alat, Sayang? Mikayla itu investasi kita. Selama dia masih menyandang status istriku, aset-aset perbankan dan koneksinya masih bisa kita peras. Lagipula, siapa lagi yang bisa kita salahkan atas kecelakaanmu dulu kalau bukan dia? Publik butuh antagonis, dan Mikayla memerankan peran 'pembunuh' itu dengan sangat sempurna tanpa dia sadari."
Naura terkekeh, jemarinya memainkan kancing kemeja Elang yang sudah terbuka setengah. "Kamu jahat banget sih, Mas. Tapi aku suka. Jadi, pil-pil dari Mama masih aman kan?”
"Sangat aman. Mama memastikan dia tidak akan pernah bisa hamil. Aku tidak mau ada 'ahli waris' pengganggu yang lahir dari rahimnya. Harta ini hanya untuk kita, Naura. Hanya untukmu," bisik Elang sambil mengecup leher Naura dalam.
Elang membayangkan bagaimana ia akan membuang Mikayla setelah semua proyek besarnya di Jakarta selesai. Ia berencana menjebak Mikayla dalam sebuah skandal keuangan perusahaan—kasus yang sudah ia susun rapi agar Mikayla yang terlihat sebagai dalangnya.
"Setelah ini, kita akan buat dia seolah-olah depresi dan melakukan penggelapan dana," lanjut Elang dengan nada licik. "Dengan begitu, aku bisa menceraikannya tanpa memberikan sepeser pun harta gono-gini. Dia akan keluar dari rumah itu hanya dengan baju yang melekat di badannya. Itu hukuman karena dia sudah berani mencintaku dan mengambil posisimu selama lima tahun ini.”
Malam yang penuh nafsu Naura mendongak, menatap Elang dengan tatapan menggoda. "Lalu bagaimana dengan pesan singkatnya tadi? Dia bilang dia sedang diinfus di apartemen sahabatnya."
"Biarkan saja dia manja dengan sahabat dokternya itu," Elang mengibaskan tangan seolah hal itu tidak penting. "Mungkin dia cuma butuh perhatian karena aku tinggal. Dia tidak tahu kalau suaminya di sini sedang merayakan kemenangan yang sesungguhnya."
Elang menarik pinggang Naura lebih rapat, melupakan sejenak tentang "istri" yang ia tinggalkan di Jakarta. Baginya, Mikayla hanyalah bidak catur yang sudah berada di posisi skakmat.
"Mas, sudah cukup bahas dia... aku mau lagi," bisik Naura manja, menarik dasi Elang menuju kamar utama yang lampunya temaram.
Di kamar itu, mereka tertawa, bersulang, dan bercinta, yakin bahwa mereka adalah pemenang dari drama ini. Mereka tidak tahu bahwa "umpan empuk" yang mereka bicarakan baru saja mencairkan 1,57 Triliun Rupiah dari brankas rahasia mereka sendiri.
Mereka juga tidak sadar bahwa di apartemen Rasya, Mikayla tidak sedang menangis meratapi nasib. Sambil menatap foto infus yang ia kirimkan tadi, Mikayla bergumam pelan, "Teruslah bercinta, Mas. Teruslah merasa menang. Karena setiap detik yang kamu habiskan bersama Naura, adalah satu detik lebih dekat menuju kemiskinan yang akan mencekik kalian berdua."
Malam di Bali itu sangat indah bagi Elang dan Naura, namun itu adalah ketenangan sebelum tsunami yang sesungguhnya menghantam dari Jakarta.