Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Pertama Sang Tawanan
Langkah kaki Briella bergema pelan di atas lantai marmer lorong menuju perpustakaan pribadi Geovani. Malam ini, mansion terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur. Briella merapatkan jubah sutra merahnya, mencoba menghalau hawa dingin yang merayap masuk dari balik dinding kaca.
Ia menghentikan langkah tepat di depan pintu perpustakaan yang menjulang tinggi dengan ukiran kayu jati yang rumit. Briella menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu tersebut. Ia tahu bahwa setiap permintaannya kepada Geovani selalu datang dengan label harga yang tidak murah.
"Kau datang lebih cepat dari yang aku perkirakan, Briella," suara berat Geovani menyambutnya dari balik sebuah meja mahoni besar.
Geovani sedang duduk di kursi kulitnya, dikelilingi oleh ribuan buku medis dan literatur kuno yang menumpuk hingga ke langit-langit. Cahaya lampu meja yang kekuningan menciptakan bayangan panjang di wajahnya, membuat fitur wajah sang dokter terlihat lebih tajam dan mengintimidasi.
"Aku butuh sesuatu, Geovani. Dan aku tahu kau adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan akses itu di rumah ini," ujar Briella sambil melangkah mendekat.
Pria itu meletakkan pena peraknya dan menatap Briella dengan penuh minat. "Katakan. Apakah makananmu kurang enak? Atau gaun-gaun di lemarimu masih kurang terbuka untuk seleramu?"
Briella mengabaikan sindiran itu dan berdiri tepat di depan meja Geovani. "Aku butuh akses internet. Aku harus memantau perkembangan di kampus. Aku tidak mau ketinggalan ujian semester atau kehilangan status beasiswaku hanya karena aku dikurung di sini."
Geovani terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat sinis di tengah kesunyian perpustakaan. "Beasiswa? Kau masih memikirkan hal sepele seperti itu sementara kau sedang mengandung pewaris dinasti medis terbesar di Etheria? Kau benar-benar wanita yang unik."
"Ini bukan hal sepele bagiku! Pendidikan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dirampas oleh keluarga Adijaya dariku. Aku mohon, beri aku akses hanya untuk situs akademik kampus," desak Briella.
Geovani bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja hingga ia berdiri sangat dekat dengan Briella. Ia menyentuh dagu gadis itu dan memaksanya untuk mendongak. "Akses internet berarti risiko pelacakan. Aku tidak bisa membiarkan celah sekecil apa pun terbuka untuk Prilly atau detektifnya."
"Aku akan menggunakan enkripsi jika kau mau. Kau bisa memantau setiap situs yang aku buka. Aku hanya ingin tahu apakah namaku masih terdaftar di sana," Briella berusaha memberikan argumen yang rasional.
Geovani terdiam sejenak, matanya yang dingin menelusuri wajah Briella seolah sedang membedah pikirannya. "Aku bisa memberikannya. Aku akan memasang jaringan satelit terenkripsi di kamarmu besok pagi. Tapi kau tahu hukum di rumah ini, Briella. Tidak ada sesuatu yang gratis."
"Apa yang kau inginkan kali ini? Kau sudah mengambil kebebasanku, bukankah itu cukup?" tanya Briella dengan suara yang sedikit bergetar.
Geovani menyeringai, ia menarik Briella mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Aroma kertas tua dan antiseptik dari tubuh pria itu menyelimuti Briella. "Aku ingin kau memenuhi satu hasrat gelapku malam ini. Di sini, di perpustakaan ini, di antara buku-buku yang kau cintai."
Jantung Briella berdegup kencang, ia tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berakhir. "Kau selalu menggunakan posisimu untuk menekanku. Kau benar-benar seorang predator, Dokter."
"Aku adalah pemilikmu, Briella. Dan seorang pemilik berhak mengklaim apa pun dari miliknya kapan pun ia mau," bisik Geovani sambil meraba punggung Briella yang dilapisi sutra tipis.
Geovani menuntun Briella menuju salah satu sofa beludru besar di sudut perpustakaan yang remang-remang. Ia melepaskan jas putihnya dan membuangnya ke lantai, menyisakan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung hingga ke siku. Suasana di perpustakaan itu berubah menjadi sangat panas dan menyesakkan.
"Duduklah. Aku ingin melihat sejauh mana kau bersedia berkorban demi masa depan akademikmu yang tidak berguna itu," perintah Geovani dengan nada yang sangat mendominasi.
Briella duduk dengan ragu, matanya terus menatap deretan buku di sekelilingnya yang seolah-olah sedang menghakiminya. Ia merasa sangat rapuh namun juga sangat hidup di bawah kendali Geovani. Pria itu mulai mencium lehernya dengan liar, sebuah tindakan yang sama sekali tidak klinis seperti biasanya.
"Kau sangat harum malam ini. Apakah ini karena nutrisi yang kupaksakan padamu atau karena kau memang sudah mulai menyerah pada takdirmu?" tanya Geovani di sela-sela ciumannya.
"Aku tidak pernah menyerah. Aku hanya sedang membayar harga untuk keinginanku," sahut Briella dengan napas yang mulai tidak beraturan.
Tangan Geovani merayap masuk ke balik jubah sutra Briella, menyentuh kulit telanjangnya dengan cara yang kasar namun penuh gairah. Briella tidak bisa membohongi tubuhnya sendiri; sentuhan Geovani selalu berhasil memicu percikan yang membingungkan logikanya. Di bawah lampu remang perpustakaan, mereka terjebak dalam tarian kekuasaan yang sangat intim.
"Jangan tutup matamu, Briella. Aku ingin kau melihat siapa pria yang memberimu segalanya dan siapa pria yang bisa menghancurkanmu dalam sekejap," ucap Geovani dengan suara serak.
Malam itu, di antara ribuan kata dalam buku yang tak bersuara, Briella menyerahkan dirinya pada keinginan gelap sang dokter. Ia membiarkan Geovani mengambil apa yang ia inginkan sebagai alat tukar untuk koneksinya dengan dunia luar. Setiap sentuhan terasa seperti segel baru pada kontrak perbudakannya yang mewah.
Setelah beberapa jam berlalu, Geovani melepaskan Briella dan merapikan kembali pakaiannya dengan ketenangan yang menakutkan. Ia kembali menjadi sosok pria yang dingin dan berjarak, seolah-olah gairah liar yang baru saja terjadi hanyalah prosedur rutin lainnya.
"Aksesmu akan aktif dalam satu jam. Jangan mencoba melakukan kontak dengan siapa pun, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat layar komputer lagi selamanya," ujar Geovani sambil berjalan kembali ke mejanya.
Briella merapatkan kembali jubahnya, tubuhnya terasa lemas dan gemetar. Ia berjalan menuju pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan, namun ia merasa sebagian lagi dari jiwanya telah hilang bersama hasrat gelap Geovani di sofa itu.
"Terima kasih, Dokter," ucap Briella pelan sebelum ia benar-benar keluar dari perpustakaan.
Geovani tidak menjawab. Ia sudah kembali fokus pada tumpukan berkas medisnya, seolah-olah Briella sudah tidak ada lagi di sana. Briella menapaki lorong menuju kamarnya dengan perasaan campur aduk antara kemenangan kecil dan kehinaan yang mendalam.
Sesampainya di kamar, Briella segera menyalakan laptop yang disediakan di atas meja rias. Benar saja, sebuah jendela notifikasi muncul yang menunjukkan koneksi tersembunyi telah aktif. Dengan jari yang masih gemetar, ia mengetikkan alamat portal mahasiswa kampusnya.
Layar itu memuat gambar gedung kampus yang sudah lama tidak ia kunjungi. Namanya masih tercantum di sana, masih sebagai mahasiswa aktif dengan IPK sempurna. Briella merasakan air mata menetes di pipinya. Ia rela melakukan apa pun, termasuk melayani hasrat liar pria iblis itu, asalkan identitas aslinya sebagai Briella sang mahasiswi pintar tidak pernah mati.
"Aku akan kembali ke sana suatu hari nanti. Dan saat itu tiba, kau tidak akan pernah bisa menyentuhku lagi, Geovani," bisik Briella pada layar yang bercahaya.
Di luar mansion, salju terus turun menutupi jejak-jejak dunia luar. Di dalam sangkar emasnya, Briella mulai berselancar di dunia maya, mencari informasi tentang apa yang terjadi di Metropolis sejak kepergiannya. Ia harus tahu seberapa besar api yang telah ia nyalakan, dan seberapa kuat ia harus bertahan sebelum badai yang sebenarnya datang menghantam bukit ini.
Malam semakin larut, namun Briella terus menatap layar, mengumpulkan setiap kepingan informasi yang bisa ia gunakan untuk keuntungannya di masa depan. Permintaan pertamanya telah dikabulkan, namun ia sadar bahwa ini hanyalah awal dari negosiasi-negosiasi berdarah lainnya dengan sang dokter berdarah dingin yang kini tidur hanya beberapa pintu darinya.