Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Kerja Terlarang
Bunyi denting lift eksekutif yang membuka di lantai teratas Menara Neovault terdengar seperti detak jantung yang terhenti sejenak. Asha, yang kini dikenal dunia sebagai V, melangkah keluar dengan keanggunan yang mematikan. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer hitam, menciptakan gema yang memenuhi koridor sunyi menuju ruang kerja Arlan Valeska.
Udara di lantai ini terasa berbeda, lebih tipis dan dipenuhi dengan aroma kemewahan yang menyesakkan. Asha membetulkan letak jas putih tulang yang membungkus tubuhnya, memastikan tidak ada lipatan yang merusak citra sempurnanya. Di balik kain mahal itu, luka bakar di bahunya seolah berdenyut, bereaksi terhadap kedekatannya dengan sumber penderitaannya.
"Tuan Arlan sudah menunggu Anda di dalam, Nyonya V," ujar seorang sekretaris muda dengan suara gemetar.
Asha hanya memberikan anggukan kecil tanpa ekspresi, matanya tetap tertuju pada pintu kayu jati besar di ujung lorong. Setiap langkah mendekat membuat memori malam itu berputar kembali seperti rol film rusak di kepalanya. Ia bisa merasakan dinginnya air sungai dan panasnya cerutu Elena yang seolah kembali membakar kulitnya.
Pintu ganda itu terbuka secara otomatis, menyingkap sebuah ruangan yang sangat luas dengan pemandangan kota Neovault dari ketinggian. Di sana, di balik meja mahoni raksasa, Arlan Valeska duduk dengan kemeja yang sedikit berantakan. Pria itu tampak lebih kurus sejak badai saham mulai menghantam perusahaannya beberapa hari terakhir.
"Selamat siang, Tuan Arlan. Saya harap kedatangan saya tidak mengganggu jadwal padat Anda," ucap Asha dengan nada rendah yang menggoda.
Arlan segera berdiri, matanya membelalak saat menatap sosok V yang berdiri tegak di tengah ruangannya. Ada binar obsesi yang tidak bisa disembunyikan pria itu, sebuah ketertarikan yang melampaui urusan bisnis semata. Arlan melangkah memutar meja, mencoba mendekat ke arah wanita yang dianggapnya sebagai penyelamat sekaligus misteri terbesar.
"V, Anda adalah satu-satunya gangguan yang selalu saya nantikan setiap hari," jawab Arlan dengan suara serak yang dipaksakan terdengar ramah.
Asha berjalan perlahan mengelilingi ruangan, jemarinya menyentuh permukaan lemari arsip dengan gerakan yang hampir seperti belaian. Ia berhenti tepat di depan rak minuman keras yang tertata rapi di sudut ruangan yang remang. Di sana, sebuah botol wiski yang sudah terbuka berdiri dengan dua gelas kristal yang berkilauan di bawah lampu ruangan.
Bau wiski yang tajam dan khas itu segera menyergap indra penciumannya, mengirimkan gelombang mual yang luar biasa ke perutnya. Ini adalah aroma yang sama dengan yang tercium dari napas Arlan saat pria itu menyeretnya menuju tepi sungai malam itu. Asha memejamkan mata sejenak, menekan kepanikan yang mencoba bangkit dari dasar jiwanya.
"Aroma yang sangat kuat, Tuan Arlan. Sepertinya Anda sedang merayakan sesuatu atau mungkin mencoba melupakan sesuatu?" tanya Asha sambil berbalik.
Arlan tertawa kering, sebuah bunyi yang terdengar hampa di ruangan luas itu sambil mengambil botol wiski tersebut. "Hanya sedikit bantuan untuk menjernihkan pikiran di tengah kekacauan pasar saham yang sedang kita hadapi sekarang."
"Pikiran yang jernih sangat mahal harganya di gedung sebesar ini," sahut Asha sambil berjalan mendekati meja kerja Arlan yang berantakan.
Ia sengaja meletakkan tas tangannya di atas tumpukan dokumen rahasia Arlan, sebuah gerakan yang sangat berani bagi seorang investor baru. Matanya yang tajam memindai setiap inci meja tersebut, mencari celah atau informasi yang bisa ia gunakan nantinya. Arlan sendiri tampak tidak keberatan, ia justru terpaku pada cara V bergerak yang begitu dominan.
"Duduklah, V. Saya ingin mendiskusikan suntikan dana yang Anda janjikan kemarin dalam panggilan virtual kita," ujar Arlan sambil menyodorkan segelas wiski.
Asha menerima gelas itu, namun ia hanya memutar-mutarnya perlahan, membiarkan es batu berdenting menabrak dinding kristal. Ia menatap cairan berwarna amber itu dengan kebencian yang mendalam, membayangkan cairan itu adalah darah yang tumpah dari luka-lukanya. Ia harus tetap tenang, ia harus memainkan peran ini sampai Arlan benar-benar tidak berdaya.
"Investasi saya sangat besar, Arlan. Saya harus memastikan bahwa nakhoda kapal ini masih memiliki kendali penuh atas perusahaannya," ucap Asha sambil menatap tajam.
Arlan menyesap minumannya dalam satu tegukan besar, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan meja kerja yang memisahkan mereka. "Saya adalah Neovault, V. Tanpa saya, gedung ini hanyalah tumpukan kaca dan besi yang tidak memiliki jiwa sama sekali."
"Kesombongan adalah sifat yang menarik bagi seorang pria berkuasa, namun bisa menjadi racun yang mematikan," balas Asha dengan senyum tipis yang misterius.
Ia berdiri dan mulai berjalan menuju jendela besar, membiarkan Arlan menatap punggungnya dari belakang dengan penuh damba. Dari sini, ia bisa melihat distrik Rust yang tampak seperti luka di kulit kota yang mengilap ini. Asha merasakan kepuasan dingin menyadari bahwa sebentar lagi, Arlan akan jatuh ke tempat yang paling ia benci.
Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur menuju kehancuran. Asha bisa merasakan kehadiran Arlan yang kini berdiri tepat di belakangnya, aroma wiski dan parfum mahal pria itu menusuk-nusuk sarafnya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat agar tidak refleks memukul wajah pria yang menghancurkannya itu.
"Siapa Anda sebenarnya, V? Kenapa saya merasa seperti pernah bertemu dengan Anda di suatu tempat yang sangat jauh?" tanya Arlan lirih di belakang telinganya.
Asha berbalik perlahan, jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa inci saja, cukup dekat untuk melihat keringat di dahi Arlan. Ia menatap mata pria itu tanpa rasa takut, sebuah tatapan yang dirancang untuk menarik Arlan lebih dalam ke dalam lubang jebakannya. Ia bisa melihat bayangan dirinya yang baru di dalam pupil mata Arlan yang mulai kehilangan akal sehatnya.
"Mungkin kita bertemu di dalam mimpi buruk Anda, Tuan Arlan," bisik Asha dengan suara yang sangat rendah dan penuh ancaman tersembunyi.
Arlan tampak tertegun, ia seolah-olah melihat kilasan sesuatu yang familiar namun otaknya menolak untuk memproses kebenaran tersebut. Ia mencoba meraih lengan Asha, namun dengan gerakan anggun dan cepat, wanita itu menghindar seolah-olah sedang menari. Asha berjalan kembali menuju meja kerja Arlan, mengambil tasnya dengan gerakan yang sangat berkelas.
"Saya rasa pertemuan hari ini sudah cukup memberikan saya gambaran tentang kondisi Anda yang sebenarnya," ujar Asha sambil melangkah menuju pintu.
"Tunggu! Jangan pergi dulu! Kita belum selesai membahas kontrak kerja sama tersebut!" seru Arlan dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.
Asha berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit dengan sudut mata yang dingin namun terlihat sangat cantik bagi Arlan yang sudah terobsesi. "Gedung ini terlalu berisik hari ini, Arlan. Kita akan melanjutkan pembicaraan ini di tempat yang lebih privat nantinya."
Pintu kayu jati itu menutup di belakang Asha, meninggalkan Arlan sendirian di tengah ruangan yang mulai terasa menyesakkan baginya. Arlan kembali menuangkan wiski ke gelasnya, tangannya gemetar saat ia menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan kendali emosinya pada wanita itu. Ia tidak tahu bahwa setiap napas yang ia hirup di ruangan itu sudah mulai dihitung oleh Asha.
Asha melangkah di koridor dengan napas yang memburu, mencoba melepaskan rasa mual yang menumpuk di dadanya sejak tadi. Ia masuk ke dalam lift dan segera menekan tombol ke lantai dasar dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Saat pintu lift tertutup, ia langsung jatuh terduduk di lantai, mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak.
"Jangan menyerah sekarang, Asha. Kau sudah berada di dalam sarangnya," bisiknya pada diri sendiri dengan suara yang bergetar hebat.
Ia mengeluarkan sebuah botol kecil parfum dari tasnya, aroma bunga melati yang segar segera menutupi bau wiski yang seolah menempel di pakaiannya. Ia harus tetap kuat untuk langkah selanjutnya yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kunjungan kantor. Arlan sudah mulai terpikat, dan Asha akan memastikan umpan itu tertelan sepenuhnya oleh pria serakah tersebut.
Lift berhenti di lobi, dan Asha melangkah keluar dengan wajah yang kembali tenang dan penuh wibawa seperti identitas V yang ia bangun. Para wartawan mencoba mendekatinya, namun dengan pengawalan ketat dari orang-orang setianya, ia berhasil masuk ke dalam mobil. Mobil mewah hitam itu segera meluncur meninggalkan Menara Neovault, membawa Asha kembali ke persembunyiannya yang aman.
"Bagaimana di dalam tadi, Nyonya?" tanya sang sopir yang merupakan orang kepercayaan dari distrik Rust.
"Dia sudah masuk ke dalam perangkap, tapi ruangan itu masih tercium bau busuknya," jawab Asha sambil menatap ke luar jendela yang mulai gelap.
Malam itu, Asha duduk di depan meja riasnya, menatap bekas luka bakar di bahunya yang tampak begitu nyata di bawah lampu temaram. Ia tahu bahwa ia sedang bermain dengan api yang bisa membakarnya kembali jika ia tidak berhati-hati. Namun, bayangan Arlan yang memohon di dalam mimpinya memberinya kekuatan untuk terus melangkah menuju kehancuran total sang mantan kekasih.
Ia mengambil sebuah pulpen dan mulai menandai kalender di meja riasnya, menghitung hari menuju pesta kehancuran yang ia siapkan. Arlan Valeska mungkin masih merasa sebagai raja di menaranya yang tinggi, namun Asha adalah fondasi yang akan runtuh dan menjatuhkannya. Di luar sana, hujan mulai turun membasahi Neovault, seolah ikut mencuci dosa yang belum terbayar.
"Nikmatilah kekuasaanmu untuk beberapa hari lagi, Arlan," gumam Asha sambil memadamkan lampu meja riasnya dengan gerakan tenang.
Ruangan itu menjadi gelap gulita, hanya menyisakan sinar dari gedung-gedung pencakar langit yang masuk melalui celah gorden yang terbuka sedikit. Asha membaringkan tubuhnya, membiarkan keheningan malam menyelimuti dirinya sebelum esok hari ia harus kembali menggunakan topeng V. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai dari balik meja kerja yang paling rahasia di kota itu.