NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Keheningan yang mencekam kembali merayap di koridor belakang rumah Cinta. Di balik pintu kamar yang terkunci rapat, Cinta menenggelamkan wajahnya di atas bantal, membiarkan isak tangisnya terendam agar tidak terdengar hingga ke luar.

Detik demi detik berlalu terasa begitu menyiksa. Jeda panjang dari Rian sebelum ia melangkah mundur tadi seolah menjadi jawaban paling nyata yang menghancurkan sisa-sisa harapan di sudut hati Cinta.

Di luar, Rian masih berdiri mematung di depan pintu kayu tebal itu. Tangannya yang sempat terangkat untuk mengetuk lagi perlahan turun dan terkepal di sisi tubuhnya. Dadanya terasa sesak, bukan karena ia membenarkan tuduhan menjijikkan Clarissa, melainkan karena ia menyadari betapa dalam luka yang telah ia goreskan pada gadis di dalam sana.

Sikap diamnya tadi bukanlah sebuah pengakuan, melainkan rasa syok dan kemarahan yang luar biasa karena tidak menyangka Clarissa akan mengarang cerita sehina itu untuk menghancurkan hubungannya.

"Rian..."

Suara lembut Mamah memecah keheningan koridor. Beliau berjalan mendekat dengan dahi berkerut, membawa segelas air putih hangat di tangannya. Sebagai seorang ibu, beliau bisa menangkap atmosfer ketegangan yang tidak biasa di antara kedua remaja ini.

Rian menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai ekspresi wajahnya sebelum berbalik menghadap Mamah. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, meskipun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasi yang mendalam. "Iya, Tante."

"Ada masalah ya sama Cinta?" tanya Mamah lembut, menyodorkan gelas tersebut. "Minum dulu, tenangkan pikiranmu. Wajahmu tegang sekali sejak datang tadi."

"Terima kasih, Tante," Rian menerima gelas itu dan meminumnya sedikit, merasakan kehangatan air yang setidaknya membantu meredakan rasa tercekat di tenggorokannya. "Maaf kalau kedatangan saya tiba-tiba membuat suasana rumah jadi tidak nyaman. Ada... ada kesalahpahaman kecil di sekolah tadi sebelum pulang."

Mamah mengangguk paham, lalu menatap pintu kamar Cinta yang tertutup rapat. "Cinta itu anaknya memang perasa, Rian. Kalau dia sudah bilang ingin sendiri dan lelah, biasanya dia butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Kalau dipaksa sekarang, takutnya kalian malah bicara pakai emosi."

Rian menunduk, menatap lantai keramik di bawah kakinya. Kata-kata ibu Cinta ada benarnya. Mengetuk pintu ini semalaman tidak akan membuat Cinta luluh selama racun yang disebarkan Clarissa masih menguasai pikirannya. Rian harus mencari cara lain untuk menyelesaikan ini, dan hal pertama yang harus ia lakukan adalah menyingkirkan Clarissa dari hidup mereka.

"Baik, Tante. Sepertinya saya memang harus pamit pulang dulu," ucap Rian dengan berat hati. Ia mengembalikan gelas kosong itu ke tangan Mamah. "Tolong... titip Cinta ya, Tante. Tolong pastikan dia mau makan siang."

"Iya, pasti. Kamu juga hati-hati di jalan, jangan bawa motor terlalu kencang," pesan Mamah penuh perhatian.

Rian melirik pintu kamar Cinta untuk terakhir kalinya malam itu. 'Aku tidak akan menyerah, Cinta. Aku akan buktikan kalau semua itu bohong,' janjinya dalam hati sebelum melangkah lebar meninggalkan rumah tersebut.

Suara deru mesin motor besar Rian yang perlahan menjauh dan menghilang di ujung jalan menjadi penanda bagi Cinta bahwa cowok itu telah pergi. Cinta mengangkat wajahnya dari bantal, menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung lengan sweter. Kamarnya mendadak terasa begitu luas, dingin, dan asing.

TOK TOK.

"Cinta, ini Mamah. Rian sudah pulang," suara Mamah terdengar dari balik pintu, disusul oleh suara kunci yang perlahan dibuka dari dalam oleh Cinta.

Cinta membuka pintu dengan kepala menunduk, tidak ingin Mamah melihat matanya yang sembap dan hidungnya yang memerah. Namun, naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi. Mamah langsung melangkah masuk, meletakkan nampan berisi sepiring nasi dan lauk di atas meja belajar Cinta, lalu duduk di tepi tempat tidur.

"Sini duduk dekat Mamah," panggil Beliau lembut.

Cinta berjalan mendekat dan duduk di samping Mamah, merapatkan jaket rajutnya yang terasa longgar.

"Ada apa sebenarnya, Nak? Sejak kemarin, kalian kelihatan baik-baik saja, bahkan Rian sempat titip pesan ke Mamah untuk jaga kamu. Kenapa pulang-pulang jadi seperti ini?" tanya Mamah sambil mengusap punggung Cinta dengan penuh kasih sayang.

Air mata Cinta kembali merebak. "Mamah... apa Cinta salah kalau mencintai orang yang salah? Apa Cinta terlalu bodoh karena gampang percaya sama orang baru?"

Mamah tersenyum tipis, merangkul bahu anak gadisnya itu. "Mencintai itu tidak pernah salah, Cinta. Yang salah adalah jika kita mengambil keputusan atau menghakimi seseorang saat hati kita sedang dikuasai oleh emosi dan omongan orang lain. Apa yang dikatakan orang tentang Rian?"

Cinta meremas jemarinya sendiri. "Mantannya dari Jakarta datang, Mah. Dia bilang... dia dan Rian dulu sering menghabiskan malam bersama di apartemen. Rian tidak membantahnya saat Cinta tanya tadi. Dia cuma diam."

Mamah terdiam sejenak, meresapi setiap kalimat Cinta. Sebagai wanita yang lebih berpengalaman, beliau tahu bahwa diamnya seorang laki-laki tidak selalu berarti mengiyakan. "Cinta, Rian yang Mamah kenal beberapa bulan ini di rumah kita adalah anak yang sopan dan menghormati kamu. Masa lalu seseorang memang bisa jadi cerminan, tapi apa kamu tidak mau melihat bagaimana usahanya untukmu sekarang? Jangan biarkan orang luar merusak apa yang sudah kalian bangun."

Kata-kata Mamah menembus langsung ke dada Cinta, meninggalkan rasa sesak yang baru. Cinta tahu Rian telah banyak berubah demi dirinya, namun bayang-bayang kebebasan pergaulan Jakarta yang dibawa Clarissa terlalu nyata untuk diabaikan. "Cinta butuh waktu, Mah. Cinta bingung."

"Iya, istirahatlah dulu. Tapi makan ya, nasi gorengnya dihabiskan," ucap Mamah lembut sebelum mengecup kening Cinta dan keluar dari kamar, memberikan ruang yang sangat dibutuhkan putrinya.

...****************...

Sementara itu, sore hari di sebuah kafe, Clarissa sedang duduk santai sambil menyesap es kopi lattenya. Ia menatap layar ponselnya dengan senyum kepuasan yang tidak ditutup-tutupi. Misinya berhasil. Hubungan Cinta dan Rian hancur berantakan hanya dengan beberapa untai kalimat bohong yang ia susun dengan rapi.

BRAK!

Keheningan kafe yang sepi sore itu mendadak pecah saat sebuah tangan kekar menggebrak meja kayu di depan Clarissa dengan sangat keras. Cangkir kopi di atas meja sampai terguncang, menumpahkan isinya ke atas permukaan meja.

Clarissa tersentak kaget, hampir memekik sebelum matanya menangkap sosok Rian yang berdiri di depannya. Jaket hoodie hitam Rian masih melekat di tubuhnya, napasnya memburu, dan sepasang matanya menatap Clarissa dengan kilat amarah yang siap membakar apa saja.

"R-Rian? Kamu gila ya?!" protes Clarissa, mencoba menguasai kepanikannya.

"Kamu yang gila, Clarissa!" desis Rian, suaranya yang berat dan penuh penekanan langsung membungkam mulut Clarissa. Rian menarik kursi di depan Clarissa dengan kasar dan duduk di sana, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan mengunci. "Apartemen? Menghabiskan malam bersama? Sejak kapan aku pernah membiarkanmu menginjakkan kaki di apartemen pribadiku di Jakarta, hah?!"

Wajah Clarissa mendadak pucat. Ia tidak menyangka Rian akan langsung mengonfrontasinya secepat ini tentang detail kebohongan yang ia katakan pada Cinta. "Rian, aku... aku cuma bicara kenyataan kalau kita dulu pacaran!"

"Kita tidak pernah pacaran dengan cara menjijikkan seperti yang kamu katakan pada Cinta!" bentak Rian tanpa memedulikan beberapa pelayan kafe yang mulai menatap mereka dengan cemas.

Rian mengepalkan tangannya di atas meja. "Kamu tahu kenapa aku pindah kesini? Karena aku muak dengan orang-orang penuh kepalsuan seperti kamu di Jakarta. Dan sekarang, kamu datang ke sini, membawa racunmu, dan merusak pikiran gadis yang paling aku jaga?"

Clarissa menelan ludah, rasa takut mulai merayap di dadanya saat melihat Rian yang benar-benar berada di puncak kemarahannya. "Rian, dia itu cuma gadis kampung! Kenapa kamu harus membelanya sampai segitunya? Dia tidak selevel dengan kita!"

"Dia jauh lebih berharga daripada siapa pun yang pernah aku kenal di Jakarta, termasuk kamu," ucap Rian dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan datar, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan.

Rian berdiri dari kursinya, menatap Clarissa dari atas dengan pandangan merendahkan yang mutlak. "Hari ini juga, aku akan telepon Papahmu. Aku akan pastikan seluruh fasilitasmu di sini ditarik, dan kalau besok pagi aku masih melihat wajahmu di lingkungan SMA 1 Nusa Bangsa, aku tidak akan segan-segan membongkar semua skandal busukmu yang selama ini ditutupi di Jakarta. Kamu tahu betul aku punya semua buktinya."

Setelah meluncurkan ancaman maut yang membuat Clarissa membeku dengan wajah pucat pasi, Rian berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Malam hari pun tiba dengan kesunyian yang pekat. Di dalam kamarnya, Cinta masih setia meringkuk di bawah selimut. Ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar sejak sore tadi terus menyala sesekali, menampilkan deretan pesan singkat dan panggilan tidak terjawab yang semuanya berasal dari satu nama yaitu Rian.

Cinta meraih ponselnya dengan tangan lemas. Ada lebih dari dua puluh panggilan tak terjawab dan sebuah pesan teks panjang yang masuk sekitar satu jam yang lalu. Dengan dada yang kembali bergemuruh, Cinta membuka pesan tersebut.

"Cinta aku tahu kamu mungkin tidak mau membaca ini. Tapi aku harus mengatakannya. Semua yang Clarissa katakan tentang apartemen dan malam bersama itu bohong. Aku tidak pernah melakukan hal serendah itu di masa laluku. Diamku tadi didepan pintumu bukan karena aku membenarkannya, tapi aku syok bagaimana bisa ada orang sejahat itu memfitnah ku. Tolong, beri aku satu kesempatan untuk bicara langsung besok di sekolah."

Cinta menatap layar ponselnya yang meredup. Kalimat Rian terdengar begitu tegas dan penuh permohonan. Di satu sisi, hatinya yang terdalam sangat ingin mempercayai kata-kata cowok itu, namun di sisi lain, ketakutan akan kenyataan pahit yang belum terungkap membuat ego Cinta kembali menarik benteng pertahanan tinggi-tinggi.

Malam itu, di bawah sunyi yang mencekam setelah badai prasangka melanda, Cinta tertidur dengan hati yang masih patah dan retak, menyisakan sebuah tanda tanya besar tentang bagaimana hari esok di sekolah akan berjalan.

1
Restu Siti Aisyah
mampir kak👍
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!