Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zevran (diam-diam kepikiran)
Setelah berkeliling cukup lama, pada akhirnya Mireya sadar dirinya tidak mungkin membeli terlalu banyak.
Apalagi tadi Zevran hanya menyuruhnya memilih yang benar-benar diperlukan.
Jadi yang masuk daftar akhirnya hanya barang-barang utama.
Kasur tambahan untuk kamar tamu.
Meja rias sederhana.
Lampu tidur hangat.
Karpet kecil di sisi tempat tidur.
Rak buku.
Sofa mungil dekat jendela.
Sisanya yang sekiranya tidak dia pikirkan langsung diserahkan pada Robert melalui terminal pribadi Zevran.
“Yang lain, pilih yang standar.”
Suara Zevran datar.
Robert di hologram mengangguk.
“Baik, Tuan. Akan saya urus.”
Selesai.
Sesingkat itu.
Mireya memandang daftar belanjaan yang sudah diproses.
Entah kenapa dadanya terasa sedikit kosong.
Semua memang bagus.
Mewah.
Bersih.
Namun…
ia menggigit bibir pelan.
“Zevran…”
Pria itu menoleh.
“Apa?”
Mireya memandang ke arah contoh ruang keluarga yang ditata di sudut toko.
Ada sofa panjang, meja rendah, dan dekorasi kecil yang membuat ruangan terasa hangat.
Lalu ia berkata lirih,
“Kamu ngerasa nggak sih… rumah kita terlalu dingin dan terlalu lega?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Natural.
Tanpa ia sadari.
rumah kita
Mata Zevran sedikit berubah.
Tatapannya tertahan sesaat.
Mireya baru sadar beberapa detik kemudian.
Pipi gadis itu langsung memanas.
“…eh.”
Ia hampir menggigit lidah sendiri.
ASTAGA.
tadi aku bilang apa?!
rumah KITA?!
Namun Zevran tidak menanggapi bagian itu.
Ia hanya menatap Mireya sejenak.
“…mm.”
Satu jawaban pendek.
Tapi dia setuju.
Dan itu membuat Mireya sedikit lega.
Mireya berjalan beberapa langkah lagi.
Lalu langkahnya berhenti di depan rak dekorasi kecil.
Matanya langsung berbinar.
Ada pot bunga putih dengan tanaman daun hijau kecil.
Simple.
Tidak terlalu ramai.
Tapi cantik.
Dan terasa hidup.
“Ah…”
Ia mengangkat pot itu hati-hati.
“Ini cocok…”
Ia membalikkan tubuh dan menoleh ke arah Zevran.
Suaranya lebih pelan kali ini.
“Kalau yang ini… boleh nggak?”
Zevran menatap pot kecil itu.
Lalu memandang Mireya.
“Mau ditaruh di mana?”
Mireya berpikir sebentar.
“Di depan pintu masuk boleh?”
“Kalau pulang jadi kelihatan lebih hidup…”
Ia tersenyum kecil.
“Atau dekat jendela ruang tamu juga bagus.”
Tatapan Zevran sedikit melembut.
“Ambil.”
“…beneran?”
“Mm.”
Mireya langsung tersenyum cerah.
“Kalau gitu dibeli!”
...****************...
Zevran memandang Mireya yang kini sibuk memilih beberapa dekorasi kecil.
Pot bunga.
Bantal sofa.
Selimut tambahan.
Barang-barang sederhana.
Namun entah kenapa, saat melihatnya, dia tiba-tiba sadar.
Penthouse itu memang terlalu dingin.
Terlalu kosong.
Selama ini baginya tempat itu hanya bangunan untuk beristirahat.
Bukan rumah.
Tapi sejak gadis itu datang…
dan mulai berkata rumah kita…
tempat itu perlahan terasa berbeda.
Lebih hidup.
Lebih hangat.
Lebih… seperti rumah.
Dia menghela napas pelan.
…dia bahkan baru sehari di sana.
Tapi sudah mulai mengubah suasana yang selama dua tahun dibiarkannya membeku.
...****************...
Mireya menatap kertas kecil di tangannya.
Penuh coretan.
Ada angka yang dicoret tiga kali.
Ada total yang ditulis miring.
Ada bekas hapusan yang sampai hampir sobek.
Jujur saja… tulisannya sendiri sudah mulai sulit ia baca.
Dengan langkah ragu, ia menyerahkannya pada pramuniaga.
“Ini… totalnya…”
Si abang menerima kertas itu.
Matanya turun cepat.
Lalu—
senyumnya langsung melebar.
Wajah tegangnya yang dari tadi pucat seolah kembali bernapas.
“Betul, Nona.”
Mireya membelalak.
“Eh? Bener?”
“Iya, betul.”
Si abang sampai nyengir lega.
Syukurlah.
untung aja 😭
Di balik katalog, jari-jarinya sempat mengepal kecil seperti merayakan kemenangan.
Zevran yang berdiri di samping hanya melirik sekilas.
Tatapannya datar, tapi di dalam hati:
…jelas saja benar.
Dia tahu dari awal ada sedikit “bantuan” dari si pramuniaga.
Namun kali ini dia memilih diam.
Tanpa berkata apa-apa, Zevran mengeluarkan kartu hitamnya.
Kartu bank eksklusif berlapis metal gelap yang langsung membuat si petugas tegak lurus.
“Gesek.”
“Baik, Tuan.”
Beep.
Transaksi berhasil.
Mireya menelan ludah.
Jumlahnya bahkan cukup untuk biaya hidupnya berbulan-bulan dulu.
Dadanya sedikit sesak.
Masih belum terbiasa dengan semua ini.
...****************...
Pulang
Tak lama setelah semua pembayaran selesai, mereka kembali ke mobil terbang.
Perjalanan pulang terasa lebih tenang.
Mireya sesekali melirik pot bunga kecil di pangkuannya.
Ia tersenyum sendiri.
“Lucu ya…”
Zevran melirik sekilas.
“Hm?”
“Rumahnya nanti jadi nggak terlalu sepi.”
Pria itu tidak menjawab.
Namun sudut matanya bergerak tipis.
Begitu sampai di penthouse, Zevran turun lebih dulu.
“Aku harus kembali ke kantor.”
Mireya menoleh cepat.
“Sekarang?”
“Mm. Ada pekerjaan.”
Singkat.
Padat.
Sangat Zevran.
Mireya mengangguk pelan.
“Oh… hati-hati.”
Zevran terdiam sepersekian detik.
Lalu mengangguk.
“Jangan buka pintu untuk orang asing.”
“Kalau ada apa-apa hubungi Robert.”
Dan seperti itu saja, dia pergi lagi.
Mobil terbangnya melesat turun menuju jalur udara kota.
Meninggalkan Mireya di depan pintu penthouse dengan beberapa barang kecil di tangan.
...----------------...
Rumah mulai hidup dengan beberapa dekorasi kecil.
Namun tak lama kemudian, pengiriman barang datang dengan sangat cepat.
Teknologi ibukota memang tidak main-main.
Dalam waktu kurang dari satu jam, beberapa staf pengantar sudah berdiri di depan pintu.
“Nona, barang furnitur sudah tiba.”
Mata Mireya langsung berbinar.
“Masuk, masuk!”
Dan sejak saat itu— penthouse yang tadinya sunyi berubah jadi sangat sibuk...
“Iya, yang meja rias taruh di kamar ini!”
“Eh tunggu, lampunya di sisi kanan kasur aja!”
“Karpetnya lurusin dikit, sudutnya miring!”
Pot bunga kecil langsung ia taruh dekat pintu masuk.
Ia mundur dua langkah.
Kepalanya miring.
“Hmm… kayaknya lebih cocok di samping meja.”
Dipindah lagi.
“Eh nggak, depan pintu lebih lucu.”
Dipindah lagi
Bibi dapur yang melihat dari kejauhan sampai tertawa kecil.
“Rumah jadi rame ya, Neng.”
Mireya tersenyum lebar.
“Iya, Bi…”
Tangannya mengusap sofa kecil yang baru diletakkan dekat jendela.
Cahaya sore masuk lembut dari balik kaca besar.
Ruangan yang tadinya dingin kini mulai terasa hangat.
Untuk pertama kalinya…
tempat itu benar-benar terasa seperti rumah.
Sangat nyaman dan hangat...
...****************...
Tengah malam.
Jarum jam hampir menunjuk tengah malam ketika mobil terbang hitam milik Zevran akhirnya turun perlahan di balkon parkir penthouse.
Hari ini benar-benar melelahkan.
Rapat sejak pagi.
Meninjau pemindahan ibu Mireya ke rumah sakit pusat ibukota.
Menandatangani kontrak kerja sama.
Dokumen bertumpuk.
Tanda tangan di terminal pribadinya bahkan tak sempat berhenti sepanjang hari.
Dia seharusnya pulang ke salah satu properti lain yang lebih dekat dengan distrik bisnis.
Ada tiga rumah lain.
Dua apartemen pribadi.
Beberapa penthouse lain yang lebih dekat ke kantor pusat.
Semua lebih praktis.
Semua lebih masuk akal.
Namun— langkahnya justru membawanya ke sini.
Zevran berdiri sesaat di depan pintu lift privat.
Alisnya sedikit berkerut.
Kenapa aku ke sini?
Ia mengembuskan napas pelan.
…mungkin hanya penasaran.
Ya.
Pasti hanya itu.
Aku hanya ingin melihat seperti apa rumah ini setelah diacak-acak gadis itu.
...----------------...
Saat pintu lift terbuka dan langkahnya sampai di depan pintu utama, Zevran langsung berhenti.
Tatapannya tertuju pada sesuatu yang tidak ada pagi tadi.
Di depan pintu tergantung hiasan kecil berbentuk anyaman bunga dan daun hijau.
Simple.
Manis.
Tidak berlebihan.
Namun cukup untuk membuat pintu yang biasanya terasa dingin itu tampak berbeda.
“….”
Sudut matanya bergerak tipis.
jadi ini yang dia maksud.
Ia membuka pintu dengan sidik jarinya.
klik.
Pintu terbuka.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—
cahaya hangat langsung menyambutnya.
Bukan cahaya putih dingin standar sistem rumah pintar.
Melainkan lampu kekuningan lembut yang membuat seluruh ruang tamu terasa tenang.
Sofa kecil yang tadi siang belum terlalu ia perhatikan kini sudah tertata rapi dekat jendela.
Karpet lembut membingkai area duduk.
Pot bunga kecil di dekat pintu.
Bantal sofa tambahan.
Selimut tipis terlipat rapi di sandaran.
Ada aroma lembut dari diffuser bunga.
Langkah Zevran terhenti di tengah ruang.
Dia memandang sekeliling cukup lama.
…perasaan aku tidak ingat dia membeli ini.
Keningnya sedikit berkerut.
Lalu perlahan ia mengingat.
Pot bunga.
Bantal kecil.
Lampu hangat.
Karpet.
Sebenarnya semua dibeli tadi siang.
Hanya saja saat itu perhatiannya terbagi.
Separuh pikirannya masih berada di kantor.
Separuh lagi pada laporan rumah sakit dan jadwal besok.
Dia memang menemani.
Tapi tidak benar-benar melihat.
Dan baru sekarang semuanya terasa nyata.
...----------------...
rumah yang berubah
Ruangan yang selama ini hanya menjadi tempat singgah…
tiba-tiba terasa seperti rumah.
Hening.
Namun bukan sunyi.
Ada jejak seseorang di mana-mana.
Cangkir teh kecil di meja.
Buku tipis di sofa.
Sebuah selimut yang seolah baru saja digunakan.
Tanpa sadar Zevran menatap semua itu cukup lama.
Dadanya terasa aneh.
Hangat.
Sedikit asing.
Namun tidak buruk.
jadi seperti ini rasanya rumah yang dihuni orang lain.
Bahkan langkahnya tidak langsung menuju kamar.
Dia malah berdiri cukup lama di ruang tamu.
Menatap lampu hangat itu.
Menatap sofa.
Menatap pot bunga kecil.
Sampai akhirnya bibirnya bergerak tipis.
Hampir seperti senyum.
Sangat tipis.
…tidak buruk.
...****************...
Hari Selasa pagi, Mireya sudah bersiap lebih awal.
Jantungnya berdebar jauh lebih cepat dibanding saat datang ke kantor utama Zevran dulu.
Hari ini bukan untuk berunding.
Hari ini adalah hari ujian.
Mobil milik Rhea berhenti tepat di depan sebuah gedung tinggi berlapis kaca hitam keperakan.
Di bagian atas terpampang logo besar berwarna perak:
ARDEVAR MEDIA STUDIO
Mata Mireya membesar.
“Ini… perusahaan hiburan punya Zevran?”
Rhea meliriknya sambil mematikan mesin.
“Kamu baru sadar?”
“…aku kira perusahaannya cuma bisnis dan teknologi.”
Rhea mendengus kecil.
“Bosmu itu punya setengah ibukota.”
Mireya langsung menelan ludah.
Astaga.
Dia mau dites di sini.
Begitu masuk, lobby-nya jauh lebih hidup daripada agensi lamanya.
Ada poster drama.
Billboard artis.
Layar hologram yang menampilkan trailer film terbaru.
Suara langkah orang-orang yang sibuk.
Beberapa trainee berjalan membawa script.
Mireya langsung merasa gugup.
Ini benar-benar dunia hiburan yang sesungguhnya.
Bukan gedung kecil kumuh seperti tempat lamanya.
Rhea berjalan di depan sambil membawa terminal pribadinya.
“Hei, fokus.”
“Kalau gugup dari lobby aja, gimana nanti waktu tes?”
“I-iya, Kak…”
Tak lama, salah satu staf wanita mendekat.
“Selamat pagi, Manager Rhea.”
“Ruang ujian sudah disiapkan.”
Rhea mengangguk.
“Bagus. Dia kandidat yang akan diuji.”
Staf itu menoleh ke Mireya.
Senyumnya ramah, tapi matanya jelas penuh rasa penasaran.
Ah.
Pasti sudah dengar kabar.
tunangan bos datang untuk tes.
Saat mereka berjalan menuju lift, Mireya bisa merasakan beberapa tatapan dari pegawai lain.
Bisik-bisik kecil terdengar.
“Itu dia?”
“Tunangan Tuan Ardevar?”
“Yang katanya dibawa langsung oleh Manager Rhea?”
Mireya langsung salah tingkah.
Rhea melirik ke belakang.
“Jangan pedulikan.”
“Kamu datang ke sini bukan karena statusmu.”
“Kamu datang untuk membuktikan kemampuanmu.”
Kalimat itu langsung membuat Mireya menarik napas panjang.
Benar.
Hari ini dia harus membuktikan dirinya.
Bukan sebagai istri rahasia Zevran.
Tapi sebagai Mireya, calon artis yang layak bersinar.