masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
16.
"Hei kemari, duduk di sini." Morline memanggil anak itu disertai gerakan empat jari. "Duduk di sampingku dan Nina."
Nina dengan peka menggeser tubuhnya menjauh dari Morline, dia menatap anak itu yang perlahan berjalan ke arah mereka.
Morline menarik lembut tangannya, menyuruhnya duduk, lalu mengelus rambutnya yang sudah di cuci. "Ayo makan bersama."
Eddy yang duduk di samping Tande menatap interaksi mereka yang terlihat dekat, dalam hati mempertanyakan siapa anak laki-laki di sebelah gadis itu.
"Mor, siapa anak itu? Apa dia anakmu?" Seorang nyonya bertanya.
Eddy menunduk, pura-pura meraih potongan ubi. Dia diam-diam menajamkan pendengarannya.
"Dia adikku." Jawab Morline tanpa kesulitan, Tande dan Gengi saling melirik. Tidak berniat ikut campur urusan ratu muda mereka. "Namanya Karel, dia memang pendiam. Aku ajak kesini karena dia ingin ikut." Tidak ingin memberi kesempatan untuk wanita itu bertanya lebih jauh padanya, Morline mengalihkan pembicaraan dengan cepat. "Emm bubur ini sangat enak siapa yang buat?"
"Itu nyonya Hanfay yang buat, dia memang jago membuat bubur."
Nyonya Hanfay yang namanya disebut membusungkan dada dengan bangga. "Ah, tidak. Masakanku biasa saja, jangan memuji berlebihan."
"Tapi ini memang enak nyonya, sungguh." Morline kembali memancing.
Para nyonya itu sibuk saling memuji sementara pria hanya diam mendengarkan sembari menikmati makanan mereka. Beberapa pria menatap Morline yang memakai korset yang membuat dadanya semakin penuh dan besar, meski di tutupi kain, tapi ketika Morline menunduk maka belahan dadanya terpampang jelas di depan pria-pria itu.
Para nyonya melotot pada suami mereka agar berhenti menatap Morline, suami-suami yang takut istri itu menatap ke arah lain, berusaha mengalihkan perhatian dengan saling mengobrol.
Malam itu berlalu dengan perbincangan ringan dari para warga, Tande dan Gengi masih di sana hingga malam hari sementara dirinya dan Nina kembali ke rumah bersama Karel. Sebenarnya nama itu asal dia sebutan tanpa memikirkan makna dan artinya, tapi karena sudah terlanjur menyebutkan nama Karel di depan warga, Morline juga tak bisa mengubahnya. Lagi pula nama itu cukup cocok untuknya.
"Oy gendut!" Morline yang hendak masuk ke rumah, berhenti dan menoleh. Wanita itu, nyonya Unsay mendekat. Kepalanya terangkat tinggi dan mata hitamnya menatap Morline dengan angkuh. Dia menunjuk wajah Morline tepat di hidungnya. "Gadis gendut penggoda!"
Nina melotot terkejut. "Nyonya jaga bicara anda!"
Unsay beralih menatap Nina, matanya hampir sebesar bola pingpong. "Apa kau! Ini bukan urusanmu! Aku hanya punya urusan dengan gadis gendut ini! Dasar penggoda!" Satu tamparan dari Unsay membuat Morline tertoleh ke kanan, di bawah sinar rembulan warna kemerahan itu muncul dengan samar.
"Nyonya!" Nina menarik tangan Unsay menjauh, bahkan mencengkramnya. Wanita itu meringis, menatap Nina dengan rasa tak percaya. "Jangan berani-berani anda kurang ajar dengan yang...! Dengan teman saya!"
Unsay menggerakkan giginya, rahangnya bergerak kanan kiri seperti gergaji. "Lepas!" Unsay menghentakkan tangannya lalu menampar wajah Nina.
"Nyonya." Suara Morline tak keras juga tak pelan. Matanya sempat melirik Karel yang gemetar ketakutan di sampingnya, lalu menatap Unsay datar. "Apa maksud anda saya penggoda?" Dia bertanya pelan, tatapannya lalu beralih ke wajah Nina yang memerah. "Anda seharusnya tidak berhak menampar orang tanpa alasan, setidaknya jelaskan dulu pada kami."
Melihat ketenangan Morline, Unsay mengernyit heran. Tidak terbiasa berhadapan dengan orang seperti gadis gendut di depannya itu. Namun dia melangkah maju, dagunya terangkat tinggi seakan menantang. "Memang benar kau penggoda. Kau menggoda suamiku! Dia terus menatapmu dengan tatapan bernafsu! Apa sih yang dia lihat darimu! Kau gendut! Tak layak!"
Morline menghela nafas, "seharusnya anda bertanya pada suami anda bukan saya. Sayapun tak tahu mengapa dia menatap saya. Coba obrolan baik-baik dengan dia, jangan main tampar orang sembarangan. Di Hesperias hukum masih berlaku."
Mendengar kata hukum, Unsay seketika gentar. Dia melupakan fakta bahwa orang-orang ini berasal dari kota, menurut ayahnya Morline dan kelompoknya adalah pelajar yang datang ke Targus untuk penelitian soal tanah. Jika mereka menyeretnya ke hukum, maka mati sudah dirinya.
Dirinya adalah orang desa sementara mereka orang yang punya pendidikan, tentunya Unsay tak bisa melawan orang-orang seperti itu.
Unsay mundur, dagunya yang terangkat tinggi turun perlahan.
Nina dibuat kagum dengan bagaimana Morline bisa menangani wanita itu tanpa emosi.
Akan tetapi Unsay tak mau kehilangan muka, dia kembali menunjuk hidung Morline. "Tetap saja, dengan gaya pakaianmu itu kau secara tidak langsung menggoda suami orang. Ganti pakaianmu lebih baik lagi, kalau perlu gunakan karung goni. Makanya jangan gemuk, hingga pakaianmu tak bisa menutupi seluruh tubuhmu. Kalau kau mengulangi kesalahan yang sama, aku tidak akan mengampunimu!" Unsay berbalik dan pergi begitu cepat.
Morline mengelus puncak kepala Karel lembut, "dia sudah pergi jadi jangan takut. Nina kau juga obati pipimu itu."
"Pipi anda juga memerah lady." Nina melihat sebelah pipi tembam Morline memerah, warna itu sangat kentara di kulitnya yang putih pucat.
"Kalau begitu mari obati bersama. Karel ayo masuk, jangan takut ya, dia sudah pergi."
*****
"Kondisi di sini benar-benar buruk, kami bahkan hanya makan singkong dan sayuran liar. Mungkin saya akan tinggal lebih lama di sini sampai masalah di sini selesai.
Oh, ya. Ada anak kecil yang saya tolong dalam perjalanan ke Targus, saya memberinya nama Karel. Ketika saya pulang nanti, anda jangan terkejut melihat anak ini. Saya berencana merawatnya. Salam dari Morline Moralles."
Hanya dua paragraf itu yang Morline tulis dalam suratnya setelah 10 hari berlalu. Berbanding terbalik dari surat yang di kirimkan Gengi padanya yang seperti rentetan laporan keuangan. Gadis itu hanya menulis beberapa kata yang bahkan tidak cukup bagi Cedric.
Dia meletakkan surat di atas meja, tepat di sebelah topeng perak yang tengkurap. Kepalanya bersandar di kursi kayu yang dilapisi bulu angsa, terbalut kain beludru yang lembut. Cedric menghela nafas, satu tangannya menekan kedua alisnya.
Dia merasa sangat lelah hari ini, selama beberapa hari terakhir Cedric bekerja siang dan malam untuk kembali mendapatkan kekuatan politiknya. Bahkan di rapat pagi tadi, Cedric sempat berdebat dengan uskup Vincentius yang seakan memerintahnya.
Dia memang tidak menyukai peran uskup dan gereja yang terlalu terlibat dalam pemerintahan karena selalu merusak rencana Cedric untuk membangun negara lebih revolusioner.
Di saat seperti ini entah kenapa Cedric justru merindukan diskusi dengan Morline, malam itu mereka berdiskusi panjang dan Cedric merasa beban yang dia pikul menjadi lebih ringan. Sayang sekali Joseph tak bisa di ajak diskusi, dia cenderung hati-hati dan tidak memberikan saran yang berarti.
Namun dengan Morline, justru dia lebih luwes dalam pembahasan suatu masalah, bahkan berani mengkritik idenya lalu memberikan beberapa kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sangat menyenangkan bisa berdiskusi dengan orang seperti itu.
Andai saja dia ada di sini, pasti akan lebih seru.
Cedric membuka matanya lalu mengerutkan alisnya. Apakah dia baru saja memikirkan gadis gemuk itu? Yang benar saja! Dia tak mungkin merindukannya bukan?
Tentu saja tidak, untuk apa dia merindukannya. Gadis itu hanya dia jadikan alat untuk membantunya membangun kekuasaan. Dengan kecerdikannya, Cedric sangat yakin dia bisa mencapai tujuan yang diinginkan.
"Hah, benar-benar menyebalkan." Cedric bergumam, lalu bangkit dari meja. Dia meraih topengnya dan memasangkan pada wajahnya yang buruk rupa.
Langkah kakinya yang lebar membawa Cedric ke gazebo dekat paviliun Morline, dia duduk di bawah atap kayu cedar. Menatap malam yang sunyi dengan semilir angin.
Biasanya, dia selalu melihat Morline bersantai di sini setiap malam. Kadang dia terlihat sedang menikmati kue sambil membaca buku, atau hanya bersantai dengan mulut penuh cemilan.
Manik darahnya meluncur turun, menatap sesuatu yang menarik perhatian. Dia raih benda itu dengan salah satu tangannya, ada tekstur debu tipis yang langsung Cedric tiup dan usap.
Sebuah buku catatan kecil berwarna hijau, di ujung buku itu tertulis nama Morline dengan tinta emas, huruf-hurufnya saling menyambung yang indah.
Cedric membuka halaman pertama, dari balik topeng salah satu alisnya terangkat ketika membaca daftar-daftar yang ditulis Morline.
•Membersihkan istana
•Mengubah hukum cacat
•Mengubah sistem pendidikan jadi lebih baik
•Adakan ujian kerajaan
•Membangun sekolah bagi perempuan
•Membangun sekolah gratis bagi anak kurang mampu
Sudut bibir Cedric tertarik membaca daftar-daftar gadis itu, dia lalu membalik halaman dan isinya adalah isi pikiran gadis itu yang selama ini tak dia ketahui.
Dalam buku ini, Morline menuangkan keresahannya pada sistem hukum di Hesperias, dia juga menyebutkan beberapa pejabat yang menurutnya mencurigakan.
Cedric terus membaca buku catatan Morline yang berisi pikiran-pikiran gadis itu selama ini. Membacanya, seolah-olah gadis itu ada di depannya, sedang menceritakan ide-idenya yang hebat.
Hingga larut malam, setelah catatan itu habis, barulah Cedric pergi. Dia membawa catatan itu bersamanya, diletakkan di atas meja kecil samping ranjang lalu tidur.
....
Sebelumnya, Cedric dan Arnad terlibat perbincangan pribadi di ruangan kerja Cedric. Mereka membahas projek senjata api yang akan dirahasiakan dari publik untuk mencegah sabotase dari pihak lawan.
Cedric juga menyarankan Arnad untuk mengerahkan pasukan mata-mata ke wilayah musuh untuk memastikan mereka tak menduplikat apa yang sedang mereka lakukan atau sekedar mendapatkan informasi dari pihak lawan.
Setelah beberapa Minggu berlalu, Arnad yang diberi tugas untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan senjata telah melapor bahwa semua bahan terpenuhi.
Dan tahap selanjutnya adalah pembuatan senjata, tahap yang menurut Cedric akan membutuhkan waktu lebih lama karena para pengrajin senjata belum memahami struktur dan mekanisme senjata api, jadi tugas mereka adalah mengajari para pengrajin senjata itu.
Dengan kemeja yang dilapisi mantel cokelat tua, Cedric melangkah lebar menuju ruang utama di mata Arnad tengah menunggunya. Hari ini mereka akan pergi ke pangkalan militer tempat dimana senjata api akan di buat.
Arnad menunggu saat melihat Cedric, di sampingnya Joseph selalu setia menemani. Arnad mendengar keadaan pria tua itu sedang tak baik, tapi melihat wajahnya sekarang, Joseph tampak seperti hari-hari sebelumnya. Meski begitu, Arnad tetap khawatir karena Joseph sudah cukup renta dan lemah untuk terus bekerja sebagai kepala pelayan.
"Joseph bagaimana rencanamu tentang perekrutan kepala pelayan baru?"
Joseph menatap Cedric, matanya yang sudah berkabut senja tampak tersinggung. "Apa anda berniat menggantikan saya?"
"Tidak, kau adalah kepala pelayan terbaik, tidak ada yang bisa menggantikanmu. Hanya saja sudah waktunya bagimu pensiun, tidak mungkin aku menyiksa orang tua untuk terus bekerja," Cedric sebenarnya kasihan pada Joseph. Dia tahu keinginan pria tua itu untuk terus mengabdi pada istana, tapi tubuhnya yang sudah lemah tak mungkin untuk terus bekerja. Cedric ingin pria ini pensiun dan menikmati masa tuannya.
Joseph menunduk lebih dalam di hadapan Cedric. "Selagi saya mampu saya akan terus bekerja di sini, maaf jika keadaan saya merepotkan anda yang mulia tapi mohon jangan gantikan saya."
Cedric menghembuskan nafas kecil, tak mampu melawan keinginan orang tua ini. Bagaimanapun dia sudah Cedric anggap sebagai orang tua sendiri. "Baiklah, tapi kau harus merekrut orang untuk membantumu agar pekerjamu lebih ringan dan mudah. Aku akan pergi ke pangkalan militer bersama Arnad, jika ada pejabat yang mencariku katakan aku pergi ke wilayah selatan."
Joseph mengangguk, "saya mengerti yang mulia."
Cedric hanya membalas dengan anggukan, lalu berbalik pergi bersama Arnad yang mengekor di belakang.
Mereka pergi menggunakan kuda tanpa kereta agar perjalanan lebih cepat. Pangkalan militer memiliki jarak 3 jam perjalanan menggunakan kuda dengan kecepatan sedang, masih terletak di provinsi Faentael, tepatnya wilayah Kostam.
Kostam memang menjadi tempat mereka membangun pangkalan utama sebagai pangkalan militer, penjagaannya sangat ketat, hanya orang yang memiliki akses berlapis yang bisa masuk.
Selama 3 jam perjalanan tanpa berhenti, Cedric dan Arnad dengan mudah melewati penjagaan karena membawa kartu identitas khusus. Mereka langsung diarahkan ke ruang bawah tanah, tempat pembuatan senjata api akan di lakukan.
Di bawah lentera yang terang, Cedric melihat bahan-bahan yang sudah mereka siapkan. Dia mendekat ke meja berisi tumpukan bubuk mesiu, memegangnya dan merasakan teksturnya lalu mencium aromanya. Ada aroma belerang dan dominan bau gosong dari arang, lalu teksturnya tak lembut tapi cukup jalus untuk ditekan.
"Berapa persen persiapannya?" Cedric bertanya pada Arnad tanpa menatapnya.
"Sekita 40 persen yang mulia, saat ini kami baru membuat bubuk mesiu dan mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat senjatanya."
Cedric berbalik, alisnya mengkerut di balik topeng. "40 persen? Apa kau yakin?"
Arnad mengangguk lalu menunjukkan beberapa orang yang merupakan tukang senjata. "Mereka tak mengenal mekanisme senjata api, jadi kami perlu mengajari mereka terlebih dahulu untuk bisa membuat dan menyusun senjatanya nanti."
Mata Cedric beralih pada para pria yang berdiri diam sedari tadi, tangan mereka berada di samping tubuh terlihat kasar dan banyak luka, membuktikan bahwa mereka benar-benar pantas disebut tukang senjata. Cedric mengangguk, "baiklah ajarkan mereka tentang buku itu."
"Baik yang mulia." Arnad memberi kode untuk mereka pergi ke ruangan lain yang sudah dipersiapkan. "Mereka akan di ajarkan oleh orang kepercayaan saya, apa anda ingin mengawasinya?"
"Hem, aku ingin melihatnya sendiri."
Cedric dan Arnad pergi ke ruangan di sebelah mereka, memperhatikan para pria kekar dan tampak kasar di sana duduk memperhatikan dua orang yang sedang menerangkan dengan gambar besar di papan tulis.
***
Malam tadi, Tande dan Gengi mengikuti sekelompok pria yang pergi ke arah Utara, di sana mereka masuk ke dalam hutan yang daunnya telah mengering dan sebagian besar pohon mati oleh kekeringan panjang.
Dalam senyap dan kesunyian yang mereka buat, Tande dan Gengi mengikuti tiga pria itu masuk ke dalam gua tersembunyi. Mereka dengan lihai masuk ke dalam gua itu tanpa ketahuan dan keduanya mengintip apa yang tiga pria itu lakukan datang ke gua di tengah malam.
Ternyata mereka bertemu dengan beberapa pria lain, diantara para pria itu ada pria tua berjenggot putih, tampak seperti pemimpin mereka. Gengi dan Tande memasang pendengaran mereka yang tajam untuk mencuri dengar percakapan mereka yang tampak mencurigakan.
"Apa yang harus kita lakukan, kelompok kita sudah terpecah belah. Kita tak bisa melanjutkan misi untuk melawan ketidakadilan raja."
Gengi mengernyit, matanya berkilat tajam penuh kewaspadaan.
"Tunggu sampai kekuatan kita besar, ketua juga tak pernah menunjukkan jati dirinya. Dia hanya mengirim pesan dan melewati orang kepercayaannya yang kini sudah mati."
"Kita harus cepat bertindak sebelum pihak kerajaan menekan kita dan menghapuskan kita!"
"Iya, dia benar! Kita harus cepat bertindak!"
"Kalian jangan gegabah, kita tak bisa bertindak menyerang begitu saja saat kekuatan kita belum stabil! Lagi pula saat ini raja sedang menumbuhkan kekuatannya, tak mungkin bagi kita untuk menyerang dalam waktu dekat!"
"Anda terlalu lama menunggu."
"Kadang menunggu itu mendapatkan hasil yang memuaskan, bersabarlah. Lebih baik kau kumpulan anggota lebih banyak lagi dan pasokan senjata. Itu yang terpenting bagi kita saati ini "
Dari balik dinding gua, Gengi dan Tande mendengarkan keseluruhan diskusi mereka, merasa mereka berpotensi menjadi bibit pemberontak.
Gengi memberi kode pada Tande untuk segera pergi dari gua itu, dengan langkah yang senyap dan hati-hati, mereka keluar tanpa ketahuan oleh orang-orang di dalam. Gengi segera menulis surat dan melaporkannya pada Cedric lewat pesan rahasia.
Paginya, mereka bangun tanpa terlihat mencurigakan. Tande dan Gengi membantu mengaduk kompos yang sudah mereka buat kemarin agar udara masuk dan mikroorganisme bisa hidup dan berkembang.
Eddy datang dengan langkah yang tertatih, punggungnya yang bungkuk membuat pria itu berjalan sedikit lebih lambat.
Dia menghampiri Morline yang sedang menebar jerami pada bedengan tanah.
"Selamat pagi."
Morline menoleh, tersenyum ramah. "Pagi juga. Kau datang telat kali ini ya." Sedikit Morline memberi candaan karena biasanya Eddy selalu datang lagi sebelum dirinya.
Eddy tertawa garing, "ya, aku kesiangan tadi. Biar kubantu."
"Silahkan." Morline memberi ruang untuk Eddy, pria itu segera mengambil tumpukan jerami dan tanaman sisa.
"Hei! Kalian berdua! Sudah cukup apa yang kalian lakukan itu!" Seorang pria tinggi besar datang entah dari mana, langsung berteriak pada pada Morline dan Eddy.
Pria itu menghampiri Morline dan Eddy, Tande segera berlari ke arah mereka untuk melindungi Morline. Belum sempat Tande mendekat, pria itu mendorong Eddy hingga jatuh terjengkang ke tanah. Morline terkejut dan segera menunduk untuk membantu Eddy. "Astaga! Apa kai terluka Ed?"
Eddy berusaha tersenyum meski bokongnya tepat menghantam bebatuan kecil saat terjatuh. "Tidak apa-apa." Dia dibantu berdiri oleh Morline, Eddy menggenggam erat lengan Morline dan meringis.
Morline ragu dengan jawabannya, "kau yakin tidak apa-apa?"
Dengan wajah menahan sakit, Eddy tetap berkata. "Ya, aku baik."
"Astaga kau tak perlu menahan diri, bisa aku bantu." Morline tahu bahwa pria di sebelahnya ini sedang kesakitan, melihat kondisi fisiknya yang bungkuk rasa ingin membantu muncul. "Biar aku papah agar kau bisa berdiri, tidak apa-apa bukan?"
"Ya, jika kau tak keberatan aku minta tolong," pintanya dengan wajah yang masih menahan sakit, bibirnya mendesis saat kedua kakinya berusaha berdiri.
Morline mengangguk, lupa bahwa dirinya adalah seorang ratu yang harus menjaga martabatnya sekarang. Dia menarik tangan Eddy untuk di kalungkan ke lehernya.
Tande datang, berdiri tegap menghalangi pandangan pria itu.
Pria itu menuding wajah Tande. "Semua yang kalian lakukan itu sia-sia! Menghabiskan tenaga kita yang seharusnya kita pakai untuk bertani! Tidakkah kalian sadar bahwa kita ini butuh bantuan dari raja bukan orang seperti kalian yang sok tau! Kalian memang punya apa?!"
Gengi di kejauhan memicingkan matanya melihat keributan itu.
setia menunggu up berikut nya 😁👍
lanjuuttttt lagiiii 💪💞
Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
lanjut lagiiii 👍👍👍😍