Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Reuni Alumni
Gelas kaca itu berdenting. Berdenting berulang kali. Berbenturan dengan sendok logam kecil yang terus diputar tanpa henti.
Fais menatap pusaran kopi hitam pekat di bawahnya.
Ia mengabaikannya. Ia tidak peduli.
"Kau masih suka pakai kemeja murahan begitu, Is?"
Suara itu datang dari seberang meja bundar. Seorang pria dengan jam tangan perak tiruan terkekeh. Tawa yang terlalu keras. Terlalu palsu.
Fais tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser pandangannya perlahan. Mengukur pria itu dari ujung rambut yang kaku karena gel hingga sepatu kulit sintetiknya.
Itu Anton. Mantan ketua kelas. Sekarang mungkin hanya pegawai kelas menengah di sebuah firma pinggiran.
Fais hanya duduk di sana. Diam.
Di mata mereka, ia hanyalah Fais si mantan kuli bangunan. Si pengangguran berkalung hutang. Begitulah narasi usang yang masih diputar paksa di otak sempit orang-orang ini.
Sebuah memori singkat kembali melintas di kepalanya. Pesan sistem yang berkedip biru sebelum ia melangkah masuk tadi.
[Ding Misi Baru!]
[Misi: Melangkah Lebih Jauh.]
[Hadiri pertemuan Alumni, hadapi masa lalu yang mengganggu. Hadiah: Probabilitas 5%, Skill baru: Weapon Mastery.]
Tulisan sistem itu sudah lenyap. Tapi kata-kata 'masa lalu yang mengganggu' benar-benar menampar kenyataan di depannya. Gangguan itu nyata. Menggigit-gigit kecil seperti nyamuk selokan.
Namun, di tengah ejekan picisan Anton dan tatapan merendahkan belasan alumni lain, ada sebuah anomali. Anomali yang duduk berjejal tepat di sebelah kiri Fais.
Bagas.
Pria yang dulu selalu membusungkan dada dan meludah di depan langkahnya, kini duduk membungkuk. Bahunya kaku. Tangannya bertaut gelisah di atas pangkuan.
Setiap kali Fais bergerak sedikit, walau sekadar menggeser sendok, Bagas menahan napas. Seolah pemuda di sebelahnya itu adalah bom waktu yang tombol pemicunya rusak.
"Sudahlah, Ton," suara Bagas memecah udara. Lirih. Penuh kehati-hatian yang tidak wajar. "Kemeja sederhana itu... bagus. Fais kelihatan santai. Sangat bagus."
Beberapa alumni di meja itu mengerutkan dahi. Mereka menoleh ke arah Bagas dengan raut menganga.
Bagas? Bagas si mulut besar membela Fais si kuli?
Dunia seolah sedang salah urat.
Tapi Fais tahu persis alasannya. Angka probabilitas berdansa pelan di retinanya sejak awal pertemuan.
Bagas tahu. Ia sudah mendengar desas-desus tumpah darah soal monster bernama Grup Cakrawala. Dan Bagas pasti telah menangkap satu atau dua serpihan fakta tentang penguasa mematikan di baliknya.
Bagas ketakutan. Takut setengah mati hingga wajahnya sepucat mayat.
Lalu di seberang Bagas, ada Maya.
Maya beberapa kali mencuri pandang ke arah Fais. Tatapannya tertahan. Ia memutar-mutar ujung gelas minumnya dengan gelisah. Seperti orang kelaparan yang menatap etalase toko roti dari balik kaca tebal.
Perempuan itu sudah memutuskannya di masa lalu. Meninggalkannya mentah-mentah demi kepastian uang Bagas.
Tapi kini, mata perempuan itu terus mencari-cari celah. Mencoba menemukan sisa-sisa pemuda rapuh yang dulu bisa ia permainkan dan ia hancurkan hatinya.
Nihil. Semuanya nihil.
Maya hanya menabrak sebuah kekosongan mutlak pada diri Fais. Aura pria itu berat.
Dan Fais hanya membiarkannya. Membiarkan mereka bertingkah.
Membiarkan Maya mencari atensi murah. Membiarkan Bagas menjilat ujung spatunya dengan sikap patuh berlebihan.
"Ngomong-ngomong soal kerjaan," Anton kembali bersuara. Kali ini nadanya membengkak oleh ego. "Aku baru saja memimpin departemen utama. Proyek kami sering tembus ke birokrasi elit pusat. Koneksiku di balai kota sudah tidak bisa diremehkan."
Beberapa alumni lain segera menyahut. Mengangguk setuju. Menyanjung Anton beramai-ramai. Menjilat demi seciprat prospek pekerjaan.
Mereka mulai unjuk gigi. Memamerkan jabatan staf senior. Memamerkan cicilan mobil mereka. Memamerkan omzet butik pakaian yang tidak seberapa.
Setiap kali mereka melontarkan nominal gaji, tatapan mereka berujung pada Fais. Mengincar reaksi. Menunggu wajah si pekerja kasar itu tertunduk malu, meratapi nasib kulinya.
Fais tetap duduk menyandar santai. Ia menarik napas.
"Bagus," ucap Fais singkat. Suaranya datar. Kosong.
Tidak ada amarah. Tidak tersinggung.
"Lanjutkan saja."
Jawaban itu sangat minim. Tapi efek meremehkannya terasa absolut.
Mereka merasa ada yang meleset. Mereka merasa sedang dikuliti harga dirinya tanpa satu pun kata makian yang terucap.
Mengapa kuli miskin ini tidak ciut? Mengapa pria dengan kemeja pudar ini menatap mereka layaknya rongsokan tak bernilai?
Tensi sosial merayap diam-diam. Obrolan yang tadinya bising karena pamer ego pribadi perlahan bergeser arah. Terbawa arus ke topik yang sedang meneror tengkuk seluruh ibu kota.
"Tapi soal koneksi..." seorang alumni wanita bernama Rina angkat bicara. Ia merapikan kerah bajunya dengan lagak sok tahu. "Kalian sadar tidak ada perkembangan gila di Muara Tenang akhir-akhir ini? Khususnya di distrik Barat."
Meja itu mendadak hening. Topik ini seperti magnet besi raksasa.
Rina bekerja sebagai staf di lingkaran bawah distrik pusat. Ia merasa memegang rahasia dunia.
"Grup Cakrawala," lanjut Rina. Nadanya sengaja direndahkan. "Mereka menelan lahan-lahan sengketa tanpa ampun. Kartel-kartel lokal digilas jadi tanah."
Anton mencondongkan badannya ke depan. Otot wajahnya menegang tertarik. "Aku dengar mereka mempekerjakan mantan tentara sinting bernama Wawan."
Bagas yang duduk di sebelah Fais langsung tersedak ludahnya sendiri. Tenggorokannya berbunyi kencang. Keringat dingin mulai menetes lambat di pelipisnya. Tangannya meremas taplak meja hingga buku jarinya memutih.
Fais hanya menatap pantulan dirinya di cairan kopi.
"Bukan Wawan intinya," bisik Rina sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. "Di kantor birokrasi pusat, para atasan sedang memakan kuku mereka sendiri. Mereka bilang Wawan itu cuma anjing eksekutornya."
Seluruh kepala di meja itu merapat tanpa sadar. Terhipnotis ketakutan yang sedang merajai kota.
"Ada seseorang di balik Wawan," Rina melanjutkan ceritanya. Bola matanya melebar. "CEO Cakrawala yang asli."
Tekanan psikologis turun menyelimuti meja bundar itu. Membawa hawa dingin yang tak kasat mata.
"Orang yang bisa mengendalikan Wawan... bayangkan monster macam apa dia," Anton bergumam parau. Nada congkaknya menguap entah ke mana.
Bagas gemetar. Semakin parah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap lantai kafe terbuka dan menelannya hidup-hidup.
Duduk tepat di sebelah penguasa absolut itu sambil mendengar orang lain membicarakannya layaknya mitos, membuat usus Bagas rasanya terpelintir.
Rina menghembuskan napas keras. Ia menyisir rambutnya. Otaknya mencoba mengingat kepingan gosip yang tak sengaja ia dengar di lorong kantor pemerintahan.
"Ada petinggi yang mabuk dan sempat kelepasan bicara. Katanya... CEO itu sengaja membakar riwayatnya karena asalnya dari tempat kumuh. Dia dulu orang bawah..."
Rina menghentikan kalimatnya. Mengambang di udara.
Ia mulai mengedarkan pandangan. Mengamati gestur Bagas yang ketakutan setengah mati. Mengamati Maya yang terus terpaku dengan tatapan memuja pada satu titik.
Lalu matanya menangkap sesuatu. Kemeja pudar itu.
Arah pandang Rina berhenti bergerak. Terkunci sepenuhnya.
Pikirannya langsung menabrak tembok kesimpulan yang gila. Rina mengingat tumpukan dokumen anomali di mejanya tempo hari. Berkas soal pemuda biasa yang seluruh riwayat sipilnya dihapus paksa oleh kekuatan militer pusat. Nama pemuda itu...
Rina membuka bibirnya lambat-lambat. Menatap sosok pemuda yang otaknya tidak cocok untuk ukuran manusia miskin biasa.
"Tunggu..." suara Rina berupa bisikan patah-patah. "Jangan bilang..."
Jari telunjuk Rina terangkat. Sangat kaku. Ujung kukunya menunjuk lurus melintasi cangkir-cangkir kopi dan piring kotor.
Menembus dinding keangkuhan Anton. Menembus pura-pura butanya Bagas.
Tatapannya mendarat tepat pada wajah dingin Fais.
"CEO Cakrawala itu... Fais?"
Detik jam seolah nyangkut di kerongkongan dunia.
Anton mematung seperti tugu batu, mulutnya menganga tak bisa bersuara. Maya memucat dengan bibir gemetar. Bagas memejamkan mata rapat-rapat, pasrah menunggu eksekusi mati.
Seluruh ruangan itu langsung sunyi. Hampa. Tensi sosial hancur berantakan ditelan horor kesadaran yang baru saja jatuh menghantam mereka.
Fais sama sekali tidak merubah raut wajahnya.
Ia meraih gagang cangkir perlahan. Mengangkat keramik putih itu ke bibirnya. Menyesap kopinya. Diam. Minum dengan sangat santai.