Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi
Malam itu, Nova pulang ke rumahnya dalam keadaan kacau balau. Satu kancing kemeja terlepas, dasi menggantung longgar di leher, sementara jasnya tersampir di lengan sembarangan. Wajahnya tampak begitu kusut, lelah, dan kekesalan yang tertahan.
"Malam sekali baru pulang, Mas? Apa ada masalah di kantor?" tanya Marsha menyambut kedatangan suaminya dengan tatapan khawatir.
Nova berjalan dengan langkah gontai lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa seraya memejamkan mata seolah seluruh beban yang terasa berat bertumpu di pundaknya.
Marsha hanya bisa menggelengkan kepala pelan, melihat keadaan suaminya. Ia segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat. Sesaat kemudian ia sudah kembali membawa segelas teh manis yang masih mengepul uap, lantas meletakkannya di meja depan Nova.
"Minumlah, biar sedikit meredakan ketegangan di kepalamu, Mas," ucapnya sambil tersenyum lembut.
Nova meraih gelas tersebut, lalu menyeruputnya isinya perlahan. Hangatnya cairan itu mengalir melegakan kerongkongannya, yang sedari tadi terasa kering dan seakan tercekik oleh realita pahit yang baru saja dia hadapi.
Kemudian Marsha duduk di samping Nova, mencoba menenangkan dengan memijat pelan tengkuk dan bahu suaminya yang menegang.
Nova menghela napas panjang, lalu berbicara dengan suara berat. "Sepertinya peluangku untuk menduduki jabatan Direktur Operasional itu makin tipis," ucapnya seraya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Nada suaranya terdengar begitu kecewa dan putus asa.
"Ini semua gara-gara wanita si*lan itu!" sergahnya tiba-tiba dengan keras. Tangan kanannya mengepal lalu meninju telapak tangan kirinya sendiri dengan kasar.
"Kalau saja dia tak menghilang tanpa jejak, bisa dipastikan akulah calon terkuat dan pasti langsung terpilih untuk jabatan itu. Tapi gara-gara dia -- tadi di rapat saja aku dipermalukan, bahkan Pak Darrel sampai meragukan kemampuanku secara terang-terangan!" sesalnya dengan geram. Gigi-giginya bergemeretak menahan emosi.
Marsha menghentikan pijatannya sejenak. Wajahnya berubah cemas mendengar pengakuan itu. "Terus kita harus bagaimana, Mas? Apa nomor ponselnya masih nggak bisa dihubungi juga?" tanyanya pelan.
"Nomornya pasti sudah diganti. Bahkan waktu itu aku datang ke rumahnya ternyata sudah kosong dan dipasang iklan dijual!" jawab Nova ketus.
"Aku juga sempat tanya sama Fanny, tapi bukannya memberitahu, wanita itu malah menghinaku habis-habisan. Sepertinya mereka memang sudah kompak bersekongkol untuk membuat aku terjatuh dan hancur begitu saja."
Nova kembali bersandar lemas, tatapannya kosong ke arah langit-langit ruang tamu. Rasa marah dan takut bercampur aduk menjadi satu. Ia menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan karir dan ambisinya hanyalah menemukan Alma, harus! Betapa pun caranya!
Marsha menunduk, seolah ikut memikirkan jalan keluar, lalu perlahan ia mengangkat wajah dengan sorot matanya yang berubah menjadi licik. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga suaminya, berbicara dengan nada rendah dan penuh rencana jahat.
"Kalau lewat teman dan kontak biasa nggak ketemu, berarti kita harus pakai cara lain, Mas. Kamu kan, punya banyak kenalan, coba saja pakai jasa orang yang ahli melacak keberadaan seseorang. Selama dia masih ada di negara ini, pasti akan ketemu."
Nova menoleh cepat, menatap istrinya dengan mata berbinar seakan mendapatkan secercah harapan baru.
"Kamu benar, Sayang... Kenapa aku nggak kepikiran? Aku terlalu bodoh hanya mengandalkan diri sendiri dan malah bertanya pada orang yang jelas-jelas memihak dia."
"Oke, aku akan ikuti saranmu!" serunya bersemangat kembali.
Nova langsung bangkit duduk tegak, rasa lelahnya seketika hilang tergantikan oleh tekad yang makin menguat.
"Kali ini aku nggak akan main-main lagi. Kalau jalan halus nggak mempan, aku akan pakai cara kasar. Sekali aku menemukan di mana dia bersembunyi, maka aku akan menyeretnya keluar. Aku akan pastikan dia kembali ke sisiku, bekerja untukku seperti dulu, dan membayar mahal semua rasa malu yang telah dia perbuat padaku!"
Wajah Nova kini terlihat mengerikan, campuran antara dendam dan obsesi yang pekat. Baginya, Alma bukan lagi manusia yang punya hak dan perasaan, melainkan satu-satunya kunci yang harus dia miliki agar bisa tetap bertahan dan memenangkan ambisinya.
"Kamu tenang saja, Sayang. Besok pagi-pagi sekali aku akan atur semuanya. Sekali lagi aku bilang... Dia nggak akan bisa lari dariku. Aku akan pastikan dia menyesal pernah lahir ke dunia ini kalau sudah ada di tanganku nanti," geramnya penuh ancaman.
Marsha tersenyum puas melihat suaminya kembali bersemangat. Ia yakin, selama Nova masih terobsesi pada Alma, posisinya sebagai istri sah tetap aman, sementara beban pekerjaan suaminya akan kembali dipikul oleh wanita lain.
"Begitu dong, Mas. Itu baru suamiku. Apa pun caranya, bawa dia kembali. Demi karirmu, demi masa depan kita dan anak-anak," ucap Marsha menyemangati sambil mengusap lengan suaminya.
Malam itu, Nova tidak lagi memikirkan rasa lelahnya. Pikirannya kini hanya dipenuhi satu tujuan -- menemukan Alma, menundukkannya kembali, dan memastikan dialah yang menang, apa pun risikonya.
.
Di unit apartemen yang kini dihuninya, beberapa hari ini Alma tampak gelisah bukan main. Dan malam itu, ia sama sekali tak dapat memejamkan matanya barang sekejap pun. Seolah otaknya terus berputar, kering, dan tak mau beristirahat. Ia bangkit dari posisi berbaringnya, lalu duduk bersila di atas kasur, memejamkan mata sambil mengatur napas pelan-pelan, berusaha menenangkan diri layaknya orang yang sedang bermeditasi. Namun, setelah beberapa waktu berlalu, rasa gelisah itu tak jua mereda, pikirannya tetap berisik dan penuh tanda tanya.
Ada rasa tak nyaman yang menjalar ke sekujur tubuhnya, seolah firasat buruk sedang merayap masuk ke dalam pikiran. Tanpa pikir panjang lagi, ia lantas meraih ponsel di meja samping tempat tidur, lalu menekan nomor Danish.
Tak berapa lama, panggilan pun tersambung.
"Ya, Al? Ada apa malam-malam begini menghubungiku?" tanya Danish dari seberang, nada suaranya terdengar khawatir.
"Aku ganggu kamu nggak, Nish?" tanya Alma pelan, sedikit gugup.
"Nggak, kok. Kebetulan aku baru saja selesai ngobrol sama Bang Rel," jawab Danish cepat, tanggap akan perubahan nada sahabatnya.
"Ada yang kamu rasakan? Kamu baik-baik saja, kan?" lanjutnya bertanya.
"Entahlah, Nish..." Alma menghela napas panjang, tangannya meremas ujung selimut. "Tiba-tiba perasaanku nggak enak banget. Seperti ada seseorang yang diam-diam sedang mengintaiku, atau seolah bahaya sedang berjalan mendekat ke arahku. Rasanya nggak tenang banget, padahal aku sudah berusaha menenangkan diri, tapi firasat ini makin lama makin terasa nyata."
Di seberang telepon, Danish tampak terdiam. Pikirannya seketika tertuju pada satu orang. "Mungkinkah pria itu merencanakan sesuatu?" pikirnya.
Melihat seberapa besar ambisi dan rasa putus asa pria itu, bukan tidak mungkin dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Aku harus berbuat sesuatu!"