[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Mendaftar
Teman-teman sekelas Luis mulai riuh. Mereka yang tadinya mengejek kini saling berpandangan dengan wajah tidak percaya. Dimas sampai melongo, mulutnya terbuka lebar.
Luis yang mereka kenal biasanya hanya mendapatkan nilai pas-pasan dan selalu tampak bingung saat pelajaran matematika.
"Hanya kebetulan saya pernah membacanya di perpustakaan, Pak. Saya permisi kembali ke bangku," jawab Luis singkat, lalu berjalan kembali ke belakang.
Sepanjang sisa jam pelajaran, suasana kelas terasa berbeda. Orang-orang mulai mencuri pandang ke arah Luis. Ada sesuatu yang berubah pada dirinya. Bukan hanya soal kecerdasannya, tapi pembawaannya yang sekarang terasa lebih dominan dan berbahaya, meski ia tetap diam.
Begitu bel pulang berbunyi, Luis segera merapikan tasnya. Ia menolak ajakan Dimas untuk bermain game di warnet dengan alasan ada urusan keluarga.
Luis tidak pulang ke rumah. Ia menaiki ojek daring menuju sebuah kawasan industri di pinggiran kota.
Di sana, di antara gudang-gudang besar dan bengkel otomotif, terdapat sebuah bangunan beton tanpa papan nama yang mencolok. Hanya ada logo kepala macan berwarna hitam di atas pintunya.
Ini adalah "The Den", sebuah sasana bela diri campuran (MMA) yang terkenal melatih para petarung bawah tanah dan pengawal pribadi elit. Tempat ini tidak menerima murid sembarangan.
Luis melangkah masuk ke dalam. Suara hantaman samsak dan teriakan para petarung menyambutnya.
Aroma keringat dan minyak urut memenuhi udara. Seorang pria bertubuh raksasa dengan tato memenuhi lengannya berjalan menghampiri Luis.
"Mau apa kau ke sini, Bocah? Cari sekolah karate ada di jalan utama, bukan di sini," ujar pria itu dengan suara berat.
Luis tidak gentar. Ia menatap mata pria itu dengan tatapan yang sama dinginnya saat ia mengeksekusi Wijaya. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal berisi uang tunai sepuluh juta rupiah sebagai 'uang muka'.
"Aku tidak butuh sabuk atau sertifikat. Aku ingin latihan pribadi, dua jam setiap malam. Ajarkan aku cara melumpuhkan lawan secepat mungkin, bukan cara bertanding di atas ring," ucap Luis dengan nada yang mutlak.
Pria itu terdiam, menatap amplop itu lalu menatap Luis kembali. Ia melihat sesuatu di mata remaja ini sesuatu yang biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah terbiasa melihat darah.
"Siapa namamu?" tanya pria itu, suaranya kini sedikit lebih hormat.
"Panggil saja Luis."
Pria itu menyeringai, memperlihatkan satu giginya yang terbuat dari emas. "Baik, Luis. Datanglah malam ini jam delapan saat sasana sudah tutup untuk umum. Aku sendiri yang akan melatihmu. Tapi ingat, di sini tidak ada aturan keselamatan. Jika kau patah tulang, itu urusanmu."
"Itu yang aku cari," jawab Luis sambil berbalik.
Malam itu, di dalam sasana "The Den" yang pengap, suara hantaman keras terus bergema. Luis, dengan bertelanjang dada, berkali-kali melayangkan tendangan rendah (low kick) ke arah samsak berat yang tergantung di sudut ruangan.
Keringat mengucur deras dari tubuhnya, membasahi lantai matras di bawah kakinya.
"Lebih kuat! Jangan cuma pakai tenaga kaki, putar pinggangmu!" teriak Bang Tigor, pemilik sasana bertato itu.
Luis tidak mengeluh. Meskipun tulang keringnya terasa seperti dihantam balok kayu setiap kali mengenai samsak, ia terus melakukannya.
Ia sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit. Di kepalanya, ia hanya membayangkan wajah-wajah orang yang akan datang menghancurkan rumahnya.
Pekam demi pekan berlalu. Latihan Luis benar-benar gila. Siang hari ia tetap menjadi murid SMA yang tampak tenang, tapi malam harinya ia berubah menjadi mesin petarung.
Bang Tigor sendiri sampai geleng-geleng kepala melihat perkembangan Luis yang tidak masuk akal.
"Kau ini sebenarnya manusia atau apa? Dalam satu bulan, teknikmu sudah setara dengan petarung yang latihan setahun," ujar Bang Tigor suatu malam setelah mereka melakukan latih tanding (sparring).
Luis hanya menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Aku cuma tidak punya banyak waktu," jawabnya singkat.
Latihan keras itu membuahkan hasil yang luar biasa. Lemak di tubuhnya hilang, digantikan oleh otot-otot yang padat dan tajam.
Bahunya melebar, dadanya bidang, dan rahangnya kini terlihat tegas dan tajam.
Ditambah dengan aura dingin dan misterius yang ia miliki, Luis benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda.