NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:164.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Adila mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Cengkeramannya pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kepalanya, rekaman Meisya yang tersenyum tipis di depan tangga semalam berputar layaknya kaset rusak. Senyum itu bukan senyum adik yang butuh perlindungan, melainkan senyum seorang pemburu yang melihat mangsanya mulai goyah.

​"Kamu salah pilih lawan, Meisya," gumam Adila pelan.

​Sesampainya di rumah sakit, Adila mencoba bersikap profesional. Namun, setiap kali ia melihat jas putih yang ia kenakan di cermin, ia teringat bagaimana Revan menggunakan profesinya sebagai senjata untuk memaksanya berempati pada Meisya. Baginya, itu adalah penghinaan tertinggi.

​Baru saja ia duduk di ruangannya, sebuah pesan masuk dari Revan.

​Revan: Di, bisakah kita bicara nanti malam tanpa emosi? Aku hanya ingin rumah kita tenang. Meisya tadi sampai tidak mau makan karena merasa bersalah. Tolong, jangan terlalu keras padanya.

​Adila hanya membaca pesan itu tanpa niat membalas. Ia justru membuka kembali aplikasi CCTV di ponselnya. Ia ingin melihat apa yang terjadi di rumah setelah ia pergi.

​Di layar ponsel, Adila melihat Meisya masih duduk di meja makan, namun tangisnya sudah reda. Revan tampak berdiri di sampingnya, mengusap bahu Meisya pelan sebuah gestur yang membuat rahang Adila mengeras.

​"Sudahlah, Mei. Kak Adila memang sedang stres karena pekerjaannya di rumah sakit. Makanlah sedikit, nanti kamu sakit," suara Revan terdengar sayup-sayup melalui mikrofon tersembunyi yang dipasang Adila.

​"Meisya cuma mau jadi adik yang baik, Kak Revan. Meisya nggak tahu kalau Kak Adila sebenci itu sama Meisya. Apa Meisya pergi saja ya dari sini?" jawab Meisya dengan suara yang dibuat serak.

​"Jangan. Kamu mau pergi ke mana? Di luar sana tidak aman untukmu. Biar aku yang bicara lagi dengan Adila nanti," tegas Revan.

​Adila tersenyum miring melihat adegan drama picisan itu. Ia kemudian menelepon seseorang.

​"Halo, Bik Ijah?"

​"Iya, Non Dokter?" suara Bik Ijah terdengar berbisik, sepertinya ia takut ketahuan Revan.

​"Bik, nanti siang, saya ingin Bibik membersihkan gudang di belakang. Dan satu lagi, pastikan Bibik membuang semua sisa makanan yang dimasak Meisya tadi pagi. Bilang saja itu instruksi saya karena saya tidak ingin ada makanan yang tidak higienis di meja makan saya."

​"Tapi... Tuan Revan tadi bilang..."

​"Bik," potong Adila dingin. "Siapa yang membayar gaji Bibik setiap bulan? Saya atau Tuan Revan?"

​Hening sejenak. "Baik, Non Dokter. Segera saya laksanakan."

​Siang harinya, bukannya fokus pada pasien, Adila justru melakukan manuver yang tak terduga. Ia tidak pergi ke rumah sakit pusat, melainkan mampir ke sebuah firma hukum milik rekannya, lalu berlanjut ke kantor Revan.

​Revan terkejut saat melihat istrinya tiba-tiba muncul di depan pintu ruangannya pukul satu siang. Masih dengan jas dokter, namun aura Adila jauh lebih mengancam daripada pagi tadi.

​"Adila? Ada apa? Tumben sekali kamu ke sini," Revan bangkit dari kursi kebesarannya, mencoba mencium kening Adila, namun Adila hanya menyodorkan sebuah map cokelat.

​"Apa ini?" tanya Revan bingung.

​"Diagnosis untuk suamiku yang sedang buta," jawab Adila tenang.

​Revan membuka map itu. Isinya bukan dokumen medis, melainkan rincian pengeluaran Meisya selama seminggu terakhir dari kartu kredit tambahan yang diberikan Revan, lengkap dengan bukti sewa apartemen mewah atas nama Meisya yang ternyata masih aktif.

​"Dia bilang padamu dia tidak punya tempat tinggal dan tidak punya uang, kan?" Adila melangkah mendekati meja Revan. "Apartemen itu masih atas namanya, Revan. Dia masih membayar sewanya. Dia tidak 'terusir', dia sedang 'bermain peran' di rumah kita."

​Revan terdiam, matanya menatap angka-angka di kertas itu dengan tidak percaya. "Mungkin... mungkin ini salah paham, Di. Meisya bilang..."

​"Berhenti membela dia, Revan! Sampai kapan kamu mau jadi pria bodoh yang disuapi kebohongan?" bentak Adila, suaranya memenuhi ruangan kantor. "Aku memasang CCTV bukan karena aku tidak percaya padamu, tapi karena aku tahu ada predator di rumah kita. Dan benar saja, semalam dia menunggu di bawah tangga, menunggumu keluar kamar saat kita sedang bertengkar!"

​Revan terduduk lemas di kursinya. "Dia... dia menunggu di bawah tangga?"

​"Lihat sendiri," Adila menyodorkan ponselnya, memutar rekaman semalam.

​Wajah Revan berubah pucat. Ia melihat Meisya berdiri dalam gelap, menatap ke arah kamar mereka dengan tatapan yang sangat jauh dari kata polos.

​"Sekarang, pilihannya ada di tanganmu," ujar Adila sambil merapikan jas putihnya. "Kamu yang menyuruhnya pergi dengan cara baik-baik hari ini, atau aku yang akan menyeretnya keluar dengan cara dokter menangani tumor ganas: dipotong paksa sampai ke akarnya."

​Adila berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia sudah memberikan dosis obat yang cukup kuat untuk suaminya. Sekarang, ia tinggal menunggu apakah 'pasiennya' itu akan sembuh atau tetap memilih untuk sakit.

1
niktut ugis
ya kali hbis ngerampok 5M msh domisili di kost kumuh🤔
minimal pny rmh tingkat 1 lah dan ada di daerah yg jauh dari jangkauan radar keluarga Ardi.
ajaib juga sich Thor klu tiara sebodoh ini otak nya dlm mengelola uang 5M
niktut ugis
sedikitnya mereka harus berterima kasih juga sama tiara tanpa tiara beberkan semuanya perjodohan Siska Ardi akan terjadi
niktut ugis
tindakan yg keren Tiara biar si curut aris & keluarga nya ikut hancur sekalian
niktut ugis
terlanjur buat hancur saja Aris lewat medsos jadi hancur bersama sama, setidaknya bayar keperawanan kamu dengan hancurkan Aris & keluarga nya
niktut ugis
Siska tolak keluarga Aris
niktut ugis
Tiara siap² di depak Aris
niktut ugis
jika ingin memutuskan semua komunikasi dengan keluarga kenapa Tiara tidak ganti nomor telepon saja biar tidak jadi bumerang buat dia
Lisna Wati
semangat thor
niktut ugis
Thor bukan nya Revan tidak tau status keluarga Adilla ya tp d sini klu Revan pernah di ajak bertemu pak Hadi dan tau kemewahan hidup Adilla 🤔
niktut ugis
RT rese
niktut ugis
kirain si Hadi kakak nya Revan sampai sejauh itu nolongin Mesya yg notabene nya cm sahabat kecil
niktut ugis
rasain loe
niktut ugis
asli si Revan lelaki goblok.. yg buntingin si Mesya siapa yg babak belur keluar dana siapa
niktut ugis
jleb langsung harga diri Revan cs punah
niktut ugis
tinggal saja di apartemen mewah Meisya yg di angsur dari uang jatah bulanan Adila..
niktut ugis
rada curiga nech sama ice price RS kok ya bisa tau semua soal Adila 🤔
niktut ugis
Adila 🤗🤗🫰🫰
niktut ugis
Revan lelaki goblok, buang berlian demi sampah bangke berwujud manusia
Reni Setia
makasih untuk novelnya
Thewie
astaga. aku blom masak buat sarapan wkwkwk .. seru Thor. aku bacanya dr jam 5 sampe jam 7🤭
blcak areng: kak masak dulu ya ampun 🤣🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!