Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 — Orang Ketiga di Antara Mereka
Sejak malam lembur itu, hubungan Alya dan Reno perlahan berubah tanpa mereka sadari.
Mereka mulai sering makan siang bersama setelah meeting proyek. Reno juga semakin sering mengantar Alya pulang, meski wanita itu selalu berpura-pura menolak lebih dulu.
Dan yang paling membuat Alya bingung—
Ia mulai merasa nyaman berada di dekat Reno.
Pagi itu, Alya baru saja tiba di kantor ketika sebuah buket bunga besar sudah terletak di mejanya.
Beberapa rekan kerja langsung heboh.
“Ya ampun, romantis banget!”
“Pasti dari Pak Reno lagi!”
Alya langsung mendekat dengan bingung. Di tengah bunga mawar putih itu terdapat kartu kecil bertuliskan:
Untuk perempuan paling keras kepala yang pernah aku kenal.
Tanpa nama.
Tapi Alya tahu itu dari siapa.
Pipinya langsung memanas.
“Wih, senyum-senyum sendiri,” goda Siska.
“Aku nggak senyum.”
“Bohong.”
Belum sempat Alya membalas, suara langkah heels terdengar memasuki ruangan kantor.
Semua orang langsung menoleh.
Seorang wanita cantik dengan dress merah elegan berjalan masuk sambil melepas sunglasses mahalnya. Penampilannya begitu anggun dan percaya diri.
Tatapannya langsung tertuju pada Alya.
“Kamu Alya?”
Alya sedikit bingung. “Iya… saya sendiri.”
Wanita itu tersenyum tipis sambil mengulurkan tangan.
“Aku Vanessa.”
Nama itu terdengar familiar.
Dan beberapa detik kemudian Alya langsung teringat artikel berita tentang Reno kemarin.
Vanessa.
Wanita yang dikabarkan akan bertunangan dengan Reno.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Alya berusaha biasa.
Vanessa melirik buket bunga di meja Alya sebelum kembali tersenyum kecil.
“Jadi benar ya… Reno menyukaimu.”
Jantung Alya langsung berdegup tidak nyaman.
“Saya rasa ada kesalahpahaman.”
“Tenang aja.” Vanessa terkekeh pelan. “Aku bukan pacarnya Reno.”
Alya sedikit lega mendengarnya, meski ia sendiri heran kenapa merasa lega.
“Tapi keluarga kami memang dekat,” lanjut Vanessa. “Dan orang tua Reno ingin kami menikah.”
Senyum Alya perlahan memudar.
“Kenapa Anda bilang itu ke saya?”
Vanessa menatap Alya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
“Karena untuk pertama kalinya, Reno menolak keinginan keluarganya… gara-gara seorang perempuan.”
Deg.
Dan Alya tahu perempuan yang dimaksud adalah dirinya.
Tak lama kemudian, Reno datang ke kantor.
Namun ekspresinya langsung berubah saat melihat Vanessa duduk di dekat meja Alya.
“Kamu ngapain di sini?” tanyanya dingin.
Vanessa berdiri santai. “Santai aja. Aku cuma ngobrol sama Alya.”
Tatapan Reno langsung beralih ke Alya seolah memastikan wanita itu baik-baik saja.
“Alya, dia ngomong apa?”
“Tidak banyak,” jawab Alya pelan.
Vanessa tersenyum geli melihat kepanikan Reno.
“Aku baru tahu ternyata kamu bisa segugup ini sama perempuan.”
“Vanessa.”
“Oke, oke.” Vanessa mengangkat kedua tangan menyerah. “Aku pergi sekarang.”
Sebelum pergi, Vanessa sempat mendekat ke Alya dan berbisik pelan,
“Hati-hati sama keluarga Reno. Mereka jauh lebih menakutkan daripada Reno sendiri.”
Setelah wanita itu pergi, suasana mendadak hening.
Reno mengusap wajah frustrasi.
“Aku minta maaf.”
“Kenapa minta maaf?”
“Karena hidupku mulai nyeret kamu ke masalah.”
Alya menatap Reno cukup lama.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh pria itu dengan jelas.
“Apa keluargamu benar-benar memaksa kamu menikah?” tanyanya hati-hati.
Reno tertawa hambar.
“Di keluargaku, pernikahan lebih dianggap bisnis daripada cinta.”
Jawaban itu membuat hati Alya terasa sesak.
“Terus kamu?”
Reno menatap Alya lekat-lekat.
“Aku nggak mau nikah sama orang yang nggak aku cintai.”
Deg.
Tatapan itu terlalu dalam.
Terlalu jelas.
Dan Alya mulai sadar bahwa perasaan Reno padanya bukan lagi sekadar rasa bersalah dari masa lalu.
Pria itu benar-benar menyukainya.
Sementara itu, masalah terbesar Alya justru bukan Reno…
Melainkan hatinya sendiri yang perlahan mulai membuka pintu untuk pria tersebut.
Alya berusaha fokus bekerja setelah percakapan itu, tetapi pikirannya terus kacau.
Tatapan Reno tadi masih membekas jelas di kepalanya.
“Aku nggak mau nikah sama orang yang nggak aku cintai.”
Kalimat sederhana itu terdengar seperti pengakuan terselubung.
Dan Alya takut jika ia mulai berharap terlalu jauh.
Siang harinya, Reno kembali menghampiri meja Alya sambil membawa dua kotak makan.
“Makan dulu.”
Alya menatapnya heran. “Kamu nggak sibuk?”
“Sibuk.” Reno duduk santai di kursi depan mejanya. “Tapi aku lebih khawatir kamu lupa makan lagi.”
Alya mendesah pelan. “Aku bukan anak kecil.”
“Tapi kamu keras kepala.”
“Kamu juga.”
Reno tertawa kecil mendengar balasannya.
Dan anehnya, Alya mulai terbiasa melihat Reno tersenyum seperti itu.
Mereka makan bersama di pantry kantor yang sudah cukup sepi. Awalnya suasana terasa canggung, tetapi lama-kelamaan percakapan mereka menjadi lebih ringan.
Reno mulai bercerita tentang masa kuliahnya di luar negeri, sementara Alya sesekali tertawa mendengar cerita konyol pria itu.
Untuk pertama kalinya…
Alya benar-benar menikmati waktunya bersama Reno tanpa bayangan masa lalu mengganggu terlalu banyak.
Namun kebersamaan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba seorang pria datang memasuki pantry sambil memanggil nama Alya.
“Alya?”
Alya langsung menoleh dan sedikit terkejut.
“Kevin?”
Pria itu tersenyum lebar. “Astaga, ternyata benar kamu kerja di sini.”
Kevin adalah teman SMA Alya. Dulu, pria itu salah satu sedikit orang yang pernah baik padanya saat masa sekolah yang buruk.
“Kamu gimana? Lama banget nggak ketemu,” kata Kevin ramah.
Alya ikut tersenyum kecil. “Baik. Kamu sendiri?”
“Lumayan.” Kevin lalu melirik Reno yang duduk diam memperhatikan mereka. “Oh, maaf. Aku ganggu ya?”
“Enggak,” jawab Alya cepat.
Reno berdiri perlahan lalu mengulurkan tangan formal.
“Reno.”
“Kevin.”
Meski sama-sama tersenyum, suasana di antara kedua pria itu terasa aneh.
Dan Alya bisa merasakan tatapan Reno berubah dingin.
“Kalian dekat?” tanya Reno tiba-tiba.
Kevin tertawa kecil. “Dulu aku sama Alya satu sekolah.”
“Teman lama,” tambah Alya cepat.
Namun Kevin justru berkata santai, “Dulu aku sempat suka sama Alya, sih.”
Bruk.
Sendok di tangan Reno jatuh pelan ke meja.
Alya langsung panik. “Kevin!”
“Apa? Itu fakta.” Kevin tertawa tanpa merasa bersalah.
Namun Reno tidak tertawa sama sekali.
Tatapannya berubah tajam.
Dan Alya baru sadar…
Reno cemburu.
“Kayaknya aku benar-benar ganggu makan siang kalian.” Kevin tersenyum santai. “Lain kali kita ngobrol lagi ya, Alya.”
Setelah Kevin pergi, suasana langsung menjadi sunyi.
Alya menggigit bibir pelan sebelum akhirnya membuka suara.
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Kamu bohong.”
Reno menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap Alya dalam.
“Aku nggak suka dia.”
“Kenapa? Kamu baru kenal juga.”
“Cara dia lihat kamu.”
Jawaban itu membuat jantung Alya berdegup lebih cepat.
“Reno…”
“Aku serius.” Suara Reno melembut. “Aku nggak suka laki-laki lain dekat sama kamu.”
Pipi Alya mulai memanas.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena di sisi lain, ada perasaan kecil dalam dirinya yang diam-diam senang mendengar pengakuan itu.
Namun sebelum suasana berubah semakin canggung, ponsel Reno tiba-tiba berdering.
Ekspresi pria itu langsung berubah saat melihat nama di layar.
Papa.
Reno mengangkat telepon dengan wajah datar.
“Iya.”
Suara keras dari seberang telepon terdengar samar, tetapi cukup membuat rahang Reno mengeras.
“Kamu pulang sekarang. Jangan bikin masalah lagi gara-gara perempuan itu.”
Tatapan Reno langsung berubah dingin.
Sementara Alya yang mendengar kalimat itu perlahan mulai sadar keluarga Reno ternyata sudah mengetahui keberadaannya.