Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*DARAH*
Mereka berjalan berjam-jam tanpa bicara. Langit masih merah, tetapi lebih gelap. Seperti senja yang tidak pernah malam. Tanah di bawah kaki berubah. Dari pasir kering menjadi lempung hitam yang retak. Setiap pijakan mengeluarkan suara. Kretek. Bau belerang menusuk hidung. Semakin dekat ke pusat lembah, bisikan dari tanah semakin jelas. Tangis. Tawa. Gigi mengunyah tulang.
Yue Lian menggendong Ling Fan di punggung. Napas Ling Fan tinggal satu-satu. Dantian sebesar satu kuku sudah redup, seperti api lilin di ujung angin. Penjaga berjalan pincang di depan. Matanya awas, menatap ke setiap bayangan. Tangannya mencengkeram Batu Sumur Kering terakhir. Retakan di dadanya masih menganga.
" Sebenarnya apa yang sedang kita cari saat ini dan arah mana yang sedang kita tuju?" gumam Yulian
"Saat tidak punya arah tujuan yang perlu kita lakukan adalah terus berjalan" Sahut sipenjaga
Yue Lian berhenti. Di depannya, tanah tiba-tiba habis. Diganti lubang raksasa seluas danau kecil. Tidak ada air. Hanya dasar hitam, retak seperti kaca pecah. Di tengah lubang, satu batu berdiri. Sebesar kepala kerbau. Cahayanya redup, putih kebiruan. Batu Sumur Kering. Sumber Batu Sumur Kering yang dipakai Penjaga. Sumber kehidupan bagi mayat, sumber maut bagi yang hidup.
" Tidak ada keberuntungan yang cuma-cuma, di depan ada kesempatan tapi juga ada gerbang kematian" ujar Yue Lian
Sunyi. Terlalu sunyi. Bahkan bisikan dari tanah mendadak hilang. Hanya angin yang berputar di dalam sumur, membawa bau karat dan tulang tua.
SSST.
Desis itu muncul dari dasar sumur. Pelan. Lalu semakin keras. Dari balik Batu Sumur Kering, sesuatu bergerak. Putih. Panjang. Tulang. Seekor Ular Tulang melingkar. Panjang tiga puluh meter. Tulangnya putih pucat, matanya dua titik api hijau. Inti Emas Tingkat Puncak. Auranya menekan, membuat Yue Lian yang Fondasi Tingkat Tujuh lututnya gemetar.
"Dua pilihan," kata Penjaga. Suaranya rendah. "Pertama, kamu alihkan perhatian ular itu. Aku mengambil Batu Sumur Kering, lalu kita lari. Kedua, kita bekerja sama membunuh ular itu terlebih dahulu. Kita ambil intinya."
Dia menunjuk Ling Fan. "Inti Ular Tulang Inti Emas Tingkat Puncak berisi Qi kematian murni. Apabila bocah itu menelannya, Dantiannya dapat langsung naik ke Fondasi Tingkat Lima. Tetapi risikonya besar. Qi kematian dapat bertentangan dengan Dantian Iblis di tubuhnya. Dia bisa mati. Atau menjadi mayat hidup seperti aku."
"Dengan kondisi kita saat ini apakah kita mungkin mendapatkan inti itu " ucap Yue Lian
"Tentu saja tidak" Jawab si penjaga
Yue Lian mencengkeram pedang es. Di punggungnya, Ling Fan mengerang. Bibirnya bergerak, mengulang satu kata. "Ibu. Ibu."
Mimpi buruk malam pertama. Sisa tiga belas malam lagi.
Yue Lian menatap Ular Tulang. Lalu menatap Ling Fan. Apabila melawan ular itu sekarang, mereka bertiga pasti mati. Inti Emas Tingkat Puncak bukan lawan Fondasi Tingkat Tujuh dan mayat Fondasi Puncak.
Tangan Yue Lian mengepal. Es di pedangnya retak.
"Tidak," katanya. Pelan. Tetapi pasti.
Dia mundur selangkah. Lalu dua langkah. Menggendong Ling Fan menjauh dari bibir Sumur Kering.
"Hey!" Penjaga terkejut. "Kamu mau dia mati? Dantiannya padam siang ini!"
"Dia tidak akan menelan inti itu," jawab Yue Lian tanpa menoleh. "Risikonya terlalu besar. Aku cari cara lain."
Ular Tulang meraung. Kehilangan mangsa. Tetapi tidak mengejar. Dia melingkar lagi menjaga Batu Sumur Kering. Tugasnya hanya itu.
Penjaga mendengus. Terpaksa pincang menyusul Yue Lian. "Cara lain? Kecuali kamu memiliki Buah Jiwa Pahit urat seratus, tidak ada cara lain, nona es."
Yue Lian tidak menjawab. Dia terus berjalan. Masuk ke balik batu besar, tersembunyi dari pandangan ular dan dari langit. Dia merebahkan Ling Fan pelan di atas batu datar.
Keadaan Ling Fan semakin parah. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya biru kehitaman. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Tangannya mencengkeram udara, seperti ingin mencekik sesuatu. Dari mulutnya keluar rintihan. "Ibu. Jangan. Aku. Aku tidak mau."
"Apa yang harus aku lakukan?" Dadanya naik turun cepat. Kejang.
Yue Lian berjongkok di sampingnya. Melihat itu, dadanya sesak. Sejak di Tebing Reruntuhan, bocah ini selalu melindunginya. Memberikan Buah Jiwa Pahit urat dua belas untuknya. Sekarang sekarat karena mimpi buruk.
" Kenapa? Kenapa hanya dia yang menderita? Kenapa aku tidak mimpi buruk?"
Pertanyaan itu menghantam benaknya. Dia menatap tangannya sendiri. Teringat di Sumur Naga Beku, dia tidak mati kedinginan. Penjaga pernah berkata, darah Tubuh Yin Es Mutlak sudah menyatu dengan dingin sejak lahir. Itu sebabnya dia kebal.
"Darah. Apakah darahku yang menetralkan racun api jiwa? Apakah itu sebabnya aku tidak mimpi buruk?"
Pikiran itu membuat jantungnya berdebar. Apabila benar, maka darahnya adalah penawar. Tetapi dia tidak yakin. Apabila salah, Ling Fan bisa mati lebih cepat.
Dia harus mencoba. Tetapi tidak boleh ketahuan. Apabila gagal, dia tidak sanggup melihat tatapan kecewa Ling Fan. Apabila berhasil pun, bocah itu pasti menolak meminum darah manusia.
"Harus dengan cara samar." bathinnya
Yue Lian berdiri. Menatap ke semak kering. Dari sana, terdengar desis pelan. Seekor Ular Sisik Perak merayap. Panjang dua meter. Binatang Iblis Tingkat 1. Dagingnya beracun, tetapi jantungnya mengandung Qi murni. Bagus untuk memulihkan Dantian yang kering.
"Muncul di saat yang tepat"
Kilat es melesat dari jari Yue Lian. Jleb. Kepala Ular Sisik Perak tertembus. Mati tanpa suara. Yue Lian menyeret bangkainya. Membelah dada dengan kuku. Mengambil jantungnya.
Jantung itu sebesar telur ayam. Masih berdenyut pelan. Hangat. Uap Qi tipis mengepul dari permukaannya. Bau amis bercampur bau logam.
"Aku harus mencobanya setidaknya tidak ada resiko karena jantung ini juga baik untuk pemulihan" gumam Yue Lian
Yue Lian menoleh. Memastikan Penjaga masih di balik batu, mengawasi langit. Memastikan Ling Fan masih kejang dalam mimpi buruk.
Jari telunjuknya dia gores dengan kuku. Tetes darah muncul. Begitu keluar, Tetes darah jatuh ke jantung ular. Sreet. Darah itu langsung meresap. Hilang. Tidak ada bekas. Tidak ada warna merah. Jantung itu tetap terlihat sama. Hanya auranya sedikit lebih dingin.
Yue Lian menggenggam jantung itu. Menatap Ling Fan yang merintih. "Maaf," bisiknya. "Hanya ini yang dapat aku coba."
Dia kembali ke sisi Ling Fan. Berjongkok. Mengguncang bahu Ling Fan pelan.
"Ling Fan. Bangun."
Ling Fan mengerang. Kelopak matanya terbuka setengah. Kesadaran kembali sebentar. Matanya kosong, penuh ketakutan dari mimpi. Dia melihat wajah Yue Lian di atasnya. Dingin. Tetapi khawatir.
"Makan. Ini," kata Yue Lian. Dia menyodorkan jantung ular ke mulut Ling Fan.
Ling Fan mengerutkan hidung. Bau amis langsung masuk. Dia melihat benda sebesar telur ayam, merah gelap, berdenyut. Jantung.
"Apa. Apa ini? Baunya menjijikan sekali" suaranya serak.
"Jantung Ular Sisik Perak," jawab Yue Lian datar. "Bagus untuk Dantian yang kering. Makan."
Ling Fan menatap jantung itu. Lalu menatap Yue Lian. Wajahnya jelas menolak. "Amis. Menjijikkan. Kamu menyuruh aku memakan jantung mentah?"
Yue Lian tidak menjawab. Dia hanya menatap mata Ling Fan. Diam. Dalam. Tidak ada paksaan di matanya. Hanya perintah yang tidak bisa ditolak.
Ling Fan menelan ludah. Entah mengapa, tenggorokannya kering. Dia mau membantah. Mau berkata tidak. Tetapi melihat wajah Yue Lian, kata-kata itu hilang.
"Baiklah," gumam Ling Fan "Aku makan."
Dia membuka mulut. Yue Lian memasukkan jantung itu. Ling Fan menutup mata. Telan bulat-bulat. Glek.
Rasanya aneh. Hangat. Lalu dingin menjalar dari perut ke seluruh tubuh. Bukan dingin yang menusuk. Dingin yang menenangkan. Seperti salju pertama di musim dingin. Kejang di tubuhnya berhenti. Rintihan di mulutnya hilang. Dantian di ulu hatinya yang tinggal satu kuku, tiba-tiba berdenyut. Terang. Dari satu kuku, membesar. Dua kuku. Tiga kuku. Terus sampai sebesar biji kemiri. Qi mengalir deras. Luka dalam di meridiannya menutup.
"Hangat. Nyaman."
Untuk pertama kali dalam dua hari, Ling Fan tidak merasa lapar. Tidak merasa sakit. Dia hanya merasa. Mengantuk. Matanya terpejam. Napasnya teratur. Dia tertidur. Lelap.
Yue Lian menghela napas. Dia menyentuh dahi Ling Fan. Dingin. Tetapi tidak dingin mati. Dingin hidup. Dia berjaga. Semalaman.
LANGIT MULAI TERANG
Penjaga kembali dari mengintai. Wajahnya tegang. "Tetua Klan Naga Hitam sudah di atas Sumur Kering. Sepuluh Inti Emas menyebar. Mereka mencari kita. Paling lama dua jam lagi, mereka sampai di sini."
Dia menoleh ke Ling Fan. Lalu matanya membesar. Dia berjalan cepat, berjongkok. Menatap wajah Ling Fan lekat-lekat. Wajah yang semalam pucat pasi, bibir biru kehitaman, sekarang sudah merona. Normal. Napasnya teratur.
Penjaga menempelkan jari ke nadi Ling Fan. Merasakan. Alisnya bertaut. "Dantiannya. Sebesar biji kemiri? Tadi hanya satu kuku. Tidurnya lelap. Tidak ada gejolak api jiwa. Tidak ada racun mimpi. Bagaimana bisa?"
Dia menoleh ke Yue Lian. Tatapannya serius. Menyelidik. "Nona es. Katakan jujur. Kamu berikan dia apa sebenarnya?
"Hanya jantung ular perak" jawab Yue Lian
"Jantung Ular Sisik Perak tidak sehebat ini. Mustahil. Katakan yang sebenarnya, aku bukan orang luar ataupun musuh" jara si penjaga
Yue Lian menatap langit. Diam sebentar. Lalu menatap Penjaga. Suaranya pelan. "Beberapa tetes darahku. Aku teteskan ke jantung yang dia makan."
Hening.
Di tanah, Ling Fan yang mendengar kata "darahku" tepat saat kesadarannya pulih, matanya membuka tiba-tiba. Dia terduduk.
Dia menunjuk mulutnya sendiri. Lalu menunjuk Yue Lian. Lalu menunjuk bangkai ular di samping.
"Aku. Aku. Tadi malam. Aku memakan. Jantung. Ada. Darahmu?"
Yue Lian mengangguk. Sekali.
Ling Fan berdiri. Sempoyongan. Wajahnya pucat. Bukan karena sakit. Karena terkejut.
"Jadi. Jadi aku. Meminum. Darahmu?" Suaranya naik satu oktaf. Panik. "Aku. Aku menjadi peminum darah manusia?"
Penjaga tidak tahan lagi. Dia tertawa terbahak-bahak. Serak. Gila. Gembira. "HAHAHA! Benar! Selamat, bocah gila! Kamu resmi menjadi Penghisap darah! Penghisap darah nona es! HAHAHA!"
Yue Lian menatap Ling Fan. Sudut bibirnya naik sedikit. Senyum tipis. "Kamu hidup. Itu yang penting."
Ling Fan menatap Yue Lian. Mau marah. Tetapi ingat semalam dia tidur lelap. Mau muntah. Tetapi Dantiannya hangat. Mau lari. Tetapi kakinya lemas.
Akhirnya dia duduk lagi. Memegang kepala. Bergumam.
"Gila. Aku minum darah. Tetapi. Tetapi mengapa aku tidak dapat marah kepadanya? Mengapa aku malah. Kenapa aku mengikuti semua perkataannya?"
Dia menatap Yue Lian lagi. Yue Lian sudah membalik badan, melihat ke arah Sumur Kering. Siaga. Pedang es di tangan.
Ling Fan menunduk. Batinnya ribut. "Mengapa aku menjadi begini? Apakah aku terkena ilmu pengikat?"
Di langit, teriakan menggelegar.
"KETEMU! TUBUH YIN ES MUTLAK DI SANA!"
Tetua Ketiga Klan Naga Hitam melesat turun. Sepuluh Inti Emas di belakangnya. Aura Jiwa Baru Lahir menekan, membuat tanah retak.