NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Daniel yang Malang

Matahari telah lama tenggelam di ufuk barat, digantikan oleh sang rembulan yang menggantung sepi di langit malam. Di sudut sebuah kafe kecil di sudut kota California, angin malam berembus konstan, menusuk pori-pori kulit melalui celah jendela yang terbuka sedikit. Namun, rasa dingin itu kalah telak oleh rasa beku yang menjalar di dalam dada Daniel.

​Sudah dua jam berlalu sejak cangkir kopi pertamanya mendingin tanpa tersentuh. Daniel masih bergeming di kursi kayu yang sama. Kursi yang biasanya menjadi tempat favoritnya dan Elleta setiap kali gadis itu berkunjung ke California.

Di tempat ini, jika Daniel memejamkan mata, ia seolah masih bisa mendengar dengan jelas suara tawa Elleta yang merdu, jenis tawa lepas yang selalu berhasil menyapu bersih seluruh penatnya setelah seharian bekerja.

​Di tengah meja, sebuah kue tar kecil rasa matcha berdiri dengan anggun. Lilin kecil di atasnya sengaja belum dinyalakan. Matcha adalah rasa kesukaan Elleta, dan Daniel telah memesannya jauh-jauh hari secara khusus untuk menyambut kedatangan sang kekasih.

​Jemari Daniel bergerak lambat, mengusap layar ponselnya yang meredup. Ia kembali membaca baris pesan terakhir dari Elleta yang dikirim kemarin malam.

​“Tunggu aku, Kak. Aku bakal langsung ke California malam ini. Begitu sampai, aku mau memelukmu erat-erat. Jangan tidur sebelum aku datang, ya?”

​Namun, hingga detik ini, Elleta tidak pernah muncul di ambang pintu kafe.

​Dengan tangan yang mulai bergetar hebat menahan badai kecemasan, Daniel memutuskan untuk menghubungi pihak maskapai penerbangan yang biasa Elleta gunakan.

Setelah melewati panggilan yang tersambung dari satu operator ke operator lain, suara ramah seorang staf wanita di seberang telepon justru memberikan pukulan telak yang membuat dunianya seakan runtuh.

​“Maaf, Tuan Daniel. Atas nama penumpang Elleta Clarissa Danendra, sistem kami menunjukkan bahwa yang bersangkutan tidak pernah melakukan proses check-in ataupun melewati manifes keberangkatan hari ini.”

​Panggilan itu terputus. Daniel menatap nanar ponselnya. Pertanyaan-pertanyaan liar mulai berputar di kepalanya. Apa Elleta ketinggalan pesawat? Ataukah ada masalah dengan ayahnya di Jakarta?

​Seorang karyawan kafe berjalan mendekat dengan langkah ragu, membawa sekeranjang kain lap dan mulai merapikan kursi-kursi di sekitar meja Daniel. Isyarat halus bahwa tempat ini sudah waktunya ditutup.

​Daniel menarik napas berat yang terasa mengganjal di paru-paru. Dari saku mantelnya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua.

Di dalamnya, terbaring sebuah cincin permata putih yang berkilau lembut diterpa lampu kafe. Cincin yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri, yang ia persiapkan sejak lama untuk melamar Elleta tepat di hari jadi mereka yang kesepuluh.

​Dengan berat hati, Daniel memasukkan kembali kotak itu ke dalam sakunya. Ia meletakkan beberapa lembar uang dolar di atas meja yang jauh lebih besar dari harga kopi dan kue yang ia pesan lalu beranjak berdiri.

​Langkah kakinya terasa begitu berat saat menyusuri trotoar jalanan California yang mulai sepi. Rasa sesak meremas dadanya tanpa ampun. Di dalam hatinya, sebuah doa tak putus-putus ia rapalkan.

​Kamu baik-baik saja kan, Elleta? Tolong beri aku kabar. Kamu adalah segalanya bagiku.

​Malam itu, di bawah langit asing, Daniel membulatkan tekadnya. Jika dalam beberapa hari ke depan ia tetap tidak mendapatkan kabar, ia akan mengemas kopernya dan pulang ke Indonesia.

Persetan dengan proyek besar yang sedang ia tangani di California. Jika semua pekerjaannya selesai lebih cepat, ia bersumpah akan menjemput Elleta dan membawanya pergi jauh dari jangkauan siapa pun yang mencoba menyakitinya.

...***...

​Sementara itu, di belahan bumi yang lain, Elleta sedang termenung di dalam sebuah kamar yang terasa sangat asing dan dingin baginya. Kamar utama di mansion mewah milik Steve itu mengusung interior modern yang dipadukan dengan sentuhan kuno khas Italia.

Megah, namun bagi Elleta, tempat ini tidak lebih dari sebuah sel penjara yang dikelilingi dinding-dinding batu.

​Pandangan Elleta terjatuh pada sebuah dinding kosong di dekat perapian. Beberapa menit yang lalu, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa pelayan menurunkan sebuah bingkai foto besar atas perintah Steve. Itu adalah foto pernikahan Steve dan Katrina.

​Penurunan foto itu tidak membuat Elleta merasa menang, melainkan justru memicu rasa sesak yang menghantam ulu hatinya. Tempat ini dipenuhi hantu masa lalu, dan kini ia dipaksa masuk untuk menggantikan posisi wanita yang telah tiada.

​Air mata Elleta perlahan menetes, membasahi pipinya. Harusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

Harusnya saat ini ia sedang tertawa bersama Daniel, meniup lilin di atas kue matcha, dan merayakan sepuluh tahun perjalanan cinta mereka yang penuh perjuangan.

Namun, ponselnya telah disita oleh Steve, memutus seluruh aksesnya ke dunia luar. Pikirannya langsung melayang pada Daniel. Laki-laki itu pasti sedang menungguku di kafe itu. Dia pasti sangat cemas.

​“Maaf... Maafkan aku, Kak Daniel,” bisik Elleta parau. Suaranya bergetar di dalam keheningan kamar. “Aku ingkar janji. Harusnya malam itu aku berlari lebih cepat... Harusnya aku pergi sejauh mungkin sampai Papa dan iblis itu enggak bisa menemukanku.”

​Tubuh Elleta lemas. Ia perlahan merosot, terduduk di atas lantai marmer yang dinginnya menusuk hingga ke tulang. Ia menekuk lututnya, menyelusupkan wajahnya di antara lipatan lengan, dan membiarkan isak tangisnya pecah tanpa suara.

​Di ruangan yang berbeda, suasana tampak jauh lebih dingin. Steve duduk dengan posisi tegak di balik meja kerja mahoninya yang luas.

Tatapannya lurus memaku pada salah satu monitor besar di dinding yang menampilkan rekaman CCTV dari kamar Elleta.

​Dari balik layar, Steve bisa melihat dengan jelas betapa rapuhnya gadis itu saat ini. Tubuh Elleta yang bergetar di atas lantai memancarkan penderitaan yang nyata.

Namun, pemandangan itu sama sekali tidak mengetuk pintu hati Steve untuk melepaskannya. Alih-alih melonggarkan kekangannya, genggaman Steve pada cangkir klasiknya justru semakin mengerat.

​“Maafkan aku, Elleta. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk menjagamu tetap hidup,” gumam Steve lirih, hampir menyerupai bisikan angin. Di matanya yang kelam, ada ambisi yang bercampur dengan rasa takut akan kehilangan yang mendalam.

​Kringgg... Kringgg...

​Keheningan ruang kerja itu mendadak dipecahkan oleh dering nyaring ponsel milik Steve. Layar ponsel itu menyala, menampilkan nama kontak yang sudah ia tunggu-tunggu, Theo. Without wasting any second, Steve langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

​“Halo, Pak Steve. Mohon maaf mengganggu waktu istirahat anda malam-malam begini,” suara Theo terdengar formal dan penuh kehati-hatian di seberang sana.

​“Katakan, Theo. Ada perkembangan apa?” tanya Steve tanpa basa-basi. Nada suaranya kembali ke mode bariton yang tegas dan penuh intimidasi.

​“Ini mengenai dokumen latar belakang pria bernama Daniel yang Anda minta tempo hari. Dokumen pencarian jilid kedua sudah lengkap, Tuan. Saya berhasil menemukan seluruh riwayat hidup, koneksi keluarga, hingga detail finansialnya selama di California.”

​Sebelah sudut bibir Steve terangkat, menyunggingkan sebuah senyuman miring yang sarat akan kelicikan. “Bagus sekali kerjamu, Theo. Kirimkan seluruh filenya ke email pribadiku sekarang juga.”

​“Baik, Pak Steve. Dokumennya akan segera masuk ke kotak masuk anda dalam satu menit. Kalau begitu, saya izin menutup teleponnya. Selamat malam, Tuan.”

​“Ya, malam. Terima kasih.”

​Tut!

​Sambungan telepon terputus. Steve meletakkan ponselnya di atas meja tepat saat sebuah notifikasi email baru berbunyi dari laptopnya. Ia membuka file dokumen PDF yang dikirimkan oleh Theo, membiarkan cahaya biru dari layar monitor menerangi wajahnya yang dingin.

​Mata Steve menyipit, membaca baris demi baris informasi mengenai Daniel, pria yang menjadi alasan di balik tangisan Elleta malam ini. Dengan perlahan, Steve menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengetukkan jemarinya di atas meja dengan ritme yang konstan.

​“Kita lihat saja nanti, Daniel...” bisik Steve dengan nada meremehkan yang amat pekat. “Kita lihat sampai di mana batas kemampuanmu, dan di titik mana tunanganku ini akhirnya akan menyerah dan melupakanmu sepenuhnya.”

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!