NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Mantan Kekasih di Bekasi

Kereta commuter melaju membelah pagi yang masih berselimut kabut polusi. Darren duduk bengong di dekat jendela, membiarkan pandangannya terserap oleh deretan gedung tinggi yang perlahan berganti menjadi pemukiman padat yang berhimpitan. Pikirannya tidak setenang air di dalam botol yang diletakkannya di kursi samping. Sejak malam tadi, ingatan tentang Cello terus saja memenuhi setiap sudut kepalanya. Dia teringat tawa anak laki-laki itu yang selalu menyambutnya setiap kali dirinya melangkah masuk ke rumah kontrakan lama. Tapi masalahnya, kini bayangan itu telah berubah menjadi kegelisahan yang memuakkan, membayangkan darah dagingnya sendiri tergeletak tidak berdaya di atas ranjang yang mungkin saja tidak layak.

Darren meraba ponsel di saku jaketnya. Nama Rina terpampang di daftar kontak, meski dirinya memutuskan untuk tidak menekan tombol panggilan. Alih-alih memberikan peringatan, dia merasa lebih baik jika langsung hadir di depan pintu. Alhasil, dirinya hanya bisa menggenggam erat perangkat itu sembari mengatur napas yang mulai tidak beraturan. Kereta mulai melambat saat peron Stasiun Bekasi terlihat di kejauhan. Lalu begitu pintu terbuka, Darren segera berdiri dan merapikan pakaiannya. Tas pinggang berisi uang tunai Rp50 juta masih aman melingkar di tubuhnya.

“Bersiaplah, Cello. Ayah datang untuk membawamu kembali,” batin Darren saat kakinya menyentuh lantai stasiun.

Rumah orang tua Rina berada di sebuah gang yang hanya bisa dilewati satu kendaraan roda dua. Dinding bangunan itu dicat dengan warna hijau yang sudah memudar, sementara pagar besinya tampak penuh karat di beberapa titik. Di sanalah Darren berdiri mematung di depan pintu selama beberapa menit untuk mengumpulkan keberanian yang sempat tercecer sebelum akhirnya mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya muncul. Dia adalah ibu Rina, dan begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, wajah wanita itu mendadak berubah.

“Mau apa datang ke sini?” tanya Ibu Rina, sampai keningnya berkerut kesal. “Belum puas ya kamu membuat hidup anakku menderita?”

Darren berusaha menekan emosinya agar tidak meledak di tempat itu. “Aku datang untuk jemput Cello. Atau setidaknya memastikan kondisi kesehatannya.”

“Jemput? Pakai apa kamu menghidupinya? Pakai daun?” Ibu Rina malah berniat menutup pintu dengan kasar, beruntung suara dari arah dalam menghentikan gerakan tangannya. Rina melangkah keluar dengan penampilan yang membuat Darren tertegun. Wajah perempuan itu jauh lebih kusam daripada ingatan terakhir Darren. Pakaiannya lusuh dan matanya mencerminkan keletihan yang luar biasa.

“Mas Darren?” tanya Rina, tidak percaya melihat suaminya datang ke sini.

Keduanya saling menatap dalam kebisuan yang panjang karena Rina jelas terpaku melihat perubahan penampilan Darren yang kini mengenakan jas rapi dengan wajah yang segar. Perbedaan itu seolah memisahkan mereka dalam dua dunia yang berbeda. Darren tidak ingin membuang waktu dengan basa-basi yang hambar, dan langsung menanyakan keberadaan Cello karena mendengar kabar bahwa anak itu sedang dalam kondisi yang memprihatinkan.

“Cello di mana?” pertanyaan Darren itu langsung menghapus kebingungan Rina. “Aku dengar dia sakit.”

Rina hanya bisa menunduk saat air matanya mulai membasahi pipi. “Dia di dalam, Mas.”

Rina pun menuntun Darren masuk ke dalam rumah yang terasa pengap dan berantakan itu untuk melihat seorang anak laki-laki berbaring di atas kasur tanpa ranjang. Darren segera berlutut di samping anak itu, merasakan hatinya seperti diremas. Cello tampak begitu kurus dengan pipi yang cekung dan kulit yang sangat pucat, padahal belum lama semenjak mereka berpisah.

“Sudah seminggu kondisinya seperti ini,” lirih Rina di belakang punggung Darren. “Aku sudah bawa dia ke puskesmas, tapi mereka bilang harus dirujuk. Sementara dana untuk bawa dia ke rumah sakit umum gak pernah mencukupi di dalam dompetku, Mas. Aku bingung harus gimana.”

Tangan Darren mengusap kening Cello yang terasa sangat panas, menandakan demam tinggi yang sedang membakar tubuh mungil itu. Hingga notifikasi sistem muncul di hadapan matanya, menampilkan data yang hanya bisa dia lihat.

Target terdeteksi. Nama Cello Wirawan. Utang Keberuntungan Rp0. Utang Umur 0 tahun. Status kesehatan kritis akibat kekurangan asupan nutrisi dan infeksi yang tidak tertangani.

Anak ini bersih dari segala utang karma. Cello murni menjadi korban dari keadaan yang menghimpit kedua orang tuanya. Oleh karena itu Darren menyadari bahwa dirinyalah yang paling bertanggung jawab atas semua penderitaan ini. Kemudian dia berdiri, lalu menghadap Rina dengan tatapan yang sedingin es.

“Ternyata benar, tanpa kekuatanku, mereka hanya akan hancur oleh kejamnya dunia ini,” batin Darren dengan rasa yang teramat pedih.

“Siapin baju Cello. Kita bawa dia ke rumah sakit terbaik di kota ini,” perintah Darren tanpa mempedulikan berapa pun biaya yang harus dikeluarkan.

Rina hanya bisa mengangguk patuh sembari isak tangisnya semakin kencang. Kendati demikian, Darren tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menghibur mantan istrinya itu. Saat mereka menunggu kendaraan tiba di depan rumah, Darren menatap Rina dengan tajam.

“Dulu kau bilang bisa hidup lebih baik tanpa kehadiranku. Kau bilang merasa lelah bersamaku,” kata Darren. “Tapi, lihatlah kenyataan di depan matamu sekarang. Lihat bagaimana kondisi anak kita saat kamu lebih memilih lari ke sini.”

“Aku gak punya pilihan, Mas! Aku capek setiap hari melihatmu pulang dihajar preman pinjol tanpa masa depan!” bela Rina sambil terisak semakin keras.

“Terus kamu memutuskan untuk meninggalkanku saat aku nyaris mati dikeroyok?” balas Darren, mengingatkan kembali saat Rina pergi. “Kau bahkan tidak menoleh untuk memastikan apakah aku masih bernapas atau tidak.”

Setelah itu Rina hanya bisa membisu lantaran tidak sanggup membalas kalimat yang menusuk tepat ke arah lukanya. Sedangkan Darren mencoba mengusir amarah yang masih tersisa dengan menarik napas. Dia menegaskan bahwa kedatangannya bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk mengambil alih tanggung jawab atas Cello sepenuhnya.

Setelah sekian lama, kendaraan yang dipesan pun tiba. Darren menggendong Cello dengan sangat hati-hati sementara Rina mengikuti dari belakang.

Setibanya di rumah sakit umum Bekasi, Cello segera dilarikan ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan pertama. Darren menyelesaikan semua urusan administrasi tanpa melakukan tawar-menawar sedikit pun. Adapun Rina hanya bisa berdiri terpaku di kejauhan, menyaksikan bagaimana Darren mengeluarkan uang dalam jumlah besar dengan ekspresi wajah yang datar. Setelah dua jam berlalu, dokter keluar dan memberikan penjelasan bahwa Cello menderita demam berdarah yang diperburuk oleh kondisi gizi buruk yang cukup parah.

Oleh sebab itu, Cello diharuskan menjalani rawat inap setidaknya selama satu minggu ke depan. Darren mengangguk setuju dan segera menyetorkan uang sebesar Rp20 juta sebagai dana awal perawatan. Menjelang malam, Darren duduk di kursi kayu di samping ranjang tempat Cello berbaring. Anak itu mulai membuka matanya secara perlahan, meski gerakannya masih tampak sangat lemah.

“Papa?” suara Cello begitu lemah meski anak itu sebenarnya bersemangat.

“Papa di sini. Papa tidak akan pergi lagi,” kata Darren sembari menggenggam tangan anaknya yang terasa dingin.

Di saat yang bersamaan, notifikasi sistem kembali muncul di udara.

Perhatian. Terdeteksi perubahan status emosi pengguna secara signifikan. Fokus baru telah ditetapkan. Rekomendasi sistem alokasikan sumber daya untuk perlindungan target prioritas Cello Wirawan.

Darren mengabaikan barisan kata itu. Perhatiannya tidak lagi terbagi pada sistem atau angka-angka utang, melainkan hanya terkunci pada wajah putranya yang sedang berjuang untuk sembuh.

Melihat itu, Rina lantas mendekati Darren setelah memastikan Cello kembali terlelap dalam tidurnya. “Mas... aku benar-benar minta maaf. Aku gak tahu harus berbuat apa.”

Namun, Darren tidak sedikit pun memalingkan wajahnya ke arah Rina. “Permintaan maafmu tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu yang sudah terbuang atau menghapus rasa sakit yang dirasakan Cello.”

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa berubah seperti ini dalam sekejap?” tanya Rina, dipenuhi rasa penasaran yang besar.

Darren akhirnya menoleh, menatap mata Rina dengan tatapan yang menunjukkan bahwa urusan di antara mereka sudah benar-benar selesai. “Kau tidak perlu tahu tentang detail kehidupanku sekarang. Yang penting Cello sembuh, dan jangan pernah berpikir untuk membawanya pergi lagi tanpa seizinku.”

Rina ketara sekali ingin melanjutkan pembicaraan, namun sayangnya Darren segera berdiri dan melangkah keluar dari ruangan rawat, sampai berhenti di koridor saat seseorang seolah sedang menunggunya.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!