Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.
Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.
Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.
Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan yang tidak akan terulang
Mendengar Zea yang bilang bingung dan belum siap, senyum di wajah Bara perlahan menghilang. Dia menutup kembali kotak cincin itu pelan-pelan dengan gerakan santai namun penuh tekanan.
Wajahnya kembali berubah datar, tatapannya tajam dan sedikit menantang. Dia berdiri tegap kembali, menatap Zea dari atas dengan gaya khas Bos yang berkuasa.
"Oh... Jadi kamu masih bingung ya? Masih belum yakin?" Ujar Bara dengan nada dingin tapi terdengar sangat menggoda dan serius.
Zea yang tadinya syok dan baper, langsung kaget melihat perubahan sikap Bara.
"Bukan gitu Tuan... Iya kan ini terlalu mendadak! Baru kemarin kita masih atasan bawahan, tiba-tiba langsung dilamar begini... wajar dong saya kaget dan mikir dulu!" Seru Zea terbata-bata.
Bara tersenyum miring tipis, senyum yang bikin jantung Zea mencelos karena terasa dingin.
"Zea... Dengerin baik-baik ya. Saya orangnya gak suka basa-basi dan gak suka nunda-nunda. Kalau saya mau, saya kejar. Kalau saya dapat, saya pertahankan." Lanjut Bara bicara dengan tegas.
Ia melangkah mundur selangkah, seolah-olah mau menyimpan kembali kotak itu ke saku celananya.
"Dan satu hal lagi yang harus kamu tau... Saya cuma melamar satu kali. Kalau sekarang kamu tolak, atau kamu bilang belum siap, maka anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi. Nggak akan ada yang namanya 'melamar kedua kalinya' buat saya." Seru Bara menekan kalimat terakhir.
GLEK!
Zea menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya pucat.
"GILA! GILA BANGET! DIA BENERAN NGOMONG GITU?! JANGAN DONG BARA! JANGAN GITUU! AKU MAU TAPI TAKUT KALAH! TAPI KALAU AKU TOLAK YA TUHAN HANCUR SUDAH HIDUP AKU!" Gumam Zea dalam hati panik.
Bara melihat wajah Zea yang berubah panik dan ketakutan, dia makin senang tapi tetap mempertahankan wajah dinginnya.
"Jadi gimana? Pilihannya simpel kok Zea. Sekarang juga jawabnya. Terima... dan jadi milik saya selamanya. ATAU... tolak, dan kita kembali jadi atasan bawahan biasa selamanya, tanpa ada harapan apa-apa lagi. Pilih yang mana?" Tanya Bara lagi dengan nada menantang.
Bara sudah siap menutup kotak itu permanen kalau jawabannya salah.
Zea memegang dadanya yang berdegup kencang banget. Antara gengsi, malu, dan rasa takut kehilangan yang luar biasa.
" APA'AN INI, PASTI DIA SENGAJA MENEKANKU, TAPI AKU TAKUT JIKA PERKATAANNYA ITU BENAR-BENAR TERJADI! YA TUHAN, AKU MEMANG MENYUKAINYA TAPI AKU BENERAN BINGUNG" Batin Zea berteriak kencang.
Mendengar ancaman manja Bara bahwa ini kesempatan satu-satunya, Zea rasanya mau nangis. Di satu sisi gengsinya masih tinggi, tapi di sisi lain rasa sukanya sama pria ini udah nempel di hati bertahun-tahun lamanya.
Kalau dia tolak sekarang, selamanya dia cuma jadi bawahan. Selamanya dia nggak bisa punya Bara. Dan itu... Zea nggak sanggup membayangkannya.
Dengan wajah memerah padam, mata berkaca-kaca, dan tangan yang gemetar hebat, Zea akhirnya mengangguk kaku sangat pelan.
"I... Iya deh! Saya terima! Saya mau jadi istri Tuan! Tapi... tapi jangan nyesel ya ambil istri cerewet kayak saya!" Gumam Zea pelan pasrah dan malu.
DEG!
Mendengar jawaban itu, wajah dingin Bara seketika berubah jadi wajah paling bahagia di dunia. Senyum lebar mengembang sampai ke telinga, matanya berbinar cerah.
"YAKIN?! Jangan diambil balik lagi lho ya ucapannya!" Seru Bara girang setengah mati.
Zea mengangguk cepat sambil memukul pelan lengan Bara.
"IYALAH YAKIN! CEPETAN PASANGIN CINCINNYA! JANGAN BASA-BASI!" Seru Zea.
Dengan tangan gemetar karena bahagia, Bara kembali berjongkok. Dia mengambil cincin berlian itu, lalu dengan sangat hati-hati dan lembut memasangkannya di jari manis tangan kanan Zea.
KLIK!
Cincin itu pas dan melingkar indah. Simbol bahwa sekarang mereka terikat resmi.
Bara menatap cincin itu lalu menatap mata Zea dengan penuh kemenangan dan cinta.
"Sekarang... kamu resmi milik saya. Tunangan saya. Calon istri saya. Nggak ada atasan bawahan lagi. Sekarang kamu calon Nyonya Bara." Ujar Bara lembut.
Belum sempat Zea bereaksi atau senyum-senyum manis...
Bara langsung berdiri, menarik tubuh Zea berdiri serentak, lalu dengan gerakan cepat dia mendaratkan ciumannya tepat di bibir Zea!
MUAAACH!
DEG!
Zea membelalakkan mata syok! Jantungnya serasa mau meledak!
Bara menciumnya dengan sangat lembut, penuh rindu, dan penuh rasa memiliki yang meledak-ledak. Ciuman pertama yang mereka tunggu-tunggu sejak zaman MOS dulu.

Zea awalnya kaku, tapi perlahan matanya terpejam, membalas ciuman itu dengan perasaan yang campur aduk antara malu, bahagia, dan cinta yang sangat besar.
Beberapa detik kemudian Bara melepaskan pelukan itu, napas mereka memburu, wajah mereka sama-sama merah padam.
Bara menempelkan dahinya ke dahi Zea, tersenyum sangat lebar dan puas.
"Makasih ya Zea... Makasih udah mau jadi bagian dari hidup aku. Mulai detik ini, nggak ada batasan lagi. Aku bebas peluk, bebas cium, dan bebas sayang sama kamu sepuas hati aku." Bisik Bara tepat di wajah Zea.
Zea memukul pelan dada bidang itu sambil tersenyum bahagia.
"Dasar orang jahil! Suka maksa! Tapi... makasih ya udah milih aku. Aku janji bakal jadi istri yang baik buat kamu" gumam Zea manja.