Seorang mahasiswi yang marah dengan akhir cerita novel yang baru dibelinya. Dalam novel diceritakan tokoh antagonis di novel, disalahpahami tunangan dan keluarganya sendiri gara-gara hasutan dan trik licik tokoh utama wanita, Audrey Hepburn.
Tapi sungguh sial saat sedang menancapkan charger laptop ke stop kontak, dirinya malah tersetrum dan bertransmigrasi menjadi Eleanor Sinclair. Dengan tekad bulat, ia memilih menjadi antagonis yang sesungguhnya, ia memilih target meningkatkan rasa kebencian semua tokoh hingga 100%. Hadiah dari pencapaian target misi dari sistem ini adalah uang senilai 100 juta dollar dan izin kembali ke dunia nyata. Namun, semuanya malah jadi kacau, tingkat kebencian tokoh utama pria dan keluarganya justru berkurang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia bisa menyelesaikan misi, mendapatkan hadiah, dan kembali ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Eleanor Diculik (3)
Lonceng tanda berakhirnya pelajaran keempat sudah berbunyi, namun dua kursi di dalam kelas masih kosong.
Tas Eleanor dan Poppy masih tertinggal di kelas.
Pak Hans, guru kimia mereka, berdiri sambil mengernyit.
“Ada yang melihat Eleanor dan Poppy?”
Salah satu siswi menjawab.
“Tadi izin ke toilet, Pak. Tapi sudah dua jam tidak kembali."
Seorang siswa laki-laki menambahkan, "Mungkin mereka bolos. Poppy kan terkenal sering bolos.”
“Kalau Poppy mungkin saja,” ucap pak Hans. “Tapi Eleanor tidak pernah bolos sebelumnya.”
Ucapan itu membuat beberapa murid saling pandang.
Audrey yang duduk tenang di bangku depan kemudian berbicara pelan. “Kalau tidak salah… waktu sekolah menengah pertama, Eleanor dan Poppy memang berteman dekat.”
"Setahuku hubungan mereka sudah memburuk sebelum masuk sekolah menengah atas", sanggah siswi lain.
"Mungkin saja kan mereka dekat lagi apalagi tahun ini kembali sekelas", ucap Audrey tidak mau kalah.
Beberapa siswi langsung membenarkan.
“Iya benar, Pak.”
“Mereka dulu memang dekat sekali. Saya satu sekolah dengan mereka.”
Pak Hans tampak semakin bingung.
“Benarkah? Saya tidak pernah lihat mereka dekat walaupun sekarang sekelas.” Ia kemudian menghela napas panjang sebelum memutuskan sesuatu. “Ketua kelas, tolong amankan barang-barang mereka dulu. Saya akan melapor ke kepala sekolah.”
Sejujurnya pak Hans sendiri bingung kenapa siswi bermasalah dengan prestasi biasa saja seperti Poppy bisa masuk sekolah ini dan belum dikeluarkan hingga tahun ketiga. Keluarga Sovien padahal juga bukan keluarga berpengaruh.
Tak lama kemudian, pihak sekolah mulai melakukan pencarian.
Petugas keamanan berkeliling seluruh area sekolah.
Dan di belakang gedung lama, mereka menemukan pintu kecil yang biasanya terkunci kini terbuka lebar.
Gemboknya rusak tergeletak di tanah.
Bekas hantaman benda tumpul terlihat jelas.
Wajah petugas keamanan langsung berubah pucat.
Laporan itu sampai ke meja kepala sekolah hanya dalam hitungan menit. Ia memutuskan memberikan kabar pada keluarga kedua siswa yang tiba-tiba menghilang dari sekolah itu.
Telepon di kediaman Sinclair berdering nyaring.
“Apa?!” suara Evangeline meninggi tajam. “Bolos?! Tidak mungkin!”
Tangannya mencengkeram gagang telepon hingga buku jarinya memutih.
“Anda yakin dia bersama Poppy?! Apa tidak ada kemungkinan penculikan? Bagaimana dengan CCTV? Kami juga akan mengerahkan orang untuk mencari keberadaan mereka.”
Di ruang tengah, Gideon menurunkan koran dengan kasar.
“Aku yakin Eleanor sudah berubah,” katanya tegas. “Aku tidak percaya dia cukup bodoh untuk kembali berulah seperti dulu. Lagipula tidak ada pengeluaran mencurigakan dari kartu kredit Eleanor akhir-akhir ini.”
Namun Evangeline justru terlihat semakin gelisah.
“Aku merasa ada yang tidak beres… Aku khawatir.”
Dan insting seorang ibu jarang salah.
Kabar itu menyebar sangat cepat.
Bahkan sampai ke telinga Liam dan Alistair yang saat itu sedang menghadiri rapat.
Begitu mendengar Eleanor hilang di sekolah, keduanya langsung merasa ada sesuatu yang salah.
Liam bahkan tidak menunggu rapat selesai.
Ia langsung pergi ke sekolah.
Di ruang CCTV, wajah Liam berubah dingin saat rekaman diputar.
Tampak Eleanor berjalan ke belakang sekolah bersama Poppy.
Lalu Poppy menghancurkan gembok.
Namun beberapa detik kemudian, Eleanor terlihat berbalik seolah ingin kembali ke kelas.
Dan saat itulah, seorang pria tiba-tiba muncul membekap Eleanor.
Wajah Liam langsung berubah gelap.
Beberapa pria lain masuk dari luar. Mereka membawa Eleanor masuk ke sebuah van hitam.
Yang paling membuat Liam membeku adalah Poppy masuk ke dalam van secara sukarela setelah berbicara sebentar dengan para pria itu.
“Dia terlibat,” gumam Liam dingin. "Sepertinya dia tidak tahu CCTV di gedung lama masih ada yang aktif."
Aura menakutkan langsung menyelimuti ruangan.
Kepala sekolah bahkan sampai berkeringat dingin.
Liam segera menghubungi Alistair.
Dalam waktu singkat, orang-orang mereka mulai melacak rute van menggunakan CCTV jalanan, kamera toko, hingga kamera rumah warga.
Dan akhirnya, mereka menemukan perkiraan lokasi tujuan kendaraan itu.
Sebuah kawasan industri tua di pinggir hutan.
Di dalam mobil menuju lokasi, Liam menatap layar tablet dengan wajah tanpa ekspresi.
“Apa menurutmu mereka melakukan ini demi uang?” tanya Liam dingin.
Alistair menyilangkan tangan.
“Kalau memang untuk uang,” jawabnya pelan, “kenapa sampai sekarang belum ada telepon meminta tebusan?”
Mobil melaju semakin cepat menembus jalanan gelap.
Sementara di rumah Sinclair, Evangeline duduk dengan tangan gemetar sambil terus menatap ponselnya. Evangeline dan Gideon sudah diberitahu soal penculikan Eleanor tapi Alistair meminta mereka menunggu di rumah saja. Alistair yang akan pergi menyelamatkan Eleanor bersama Liam dan beberapa pengawal mereka. Mereka juga sudah meminta bantuan Evan, anak kedua keluarga Sinclair yang merupakan detektif untuk menyusul sekalian membawa polisi.