Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20.
Setelah selesai dengan urusan proyek, mobil Arkan kembali membelah jalanan menuju kantor. namun alih-alih langsung turun, Arkan menahan kemudi sejenak saat perutnya mulai berbunyi cukup nyaring.
"Kiara, aku lapar sekali. bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum kembali ke sana."
Ajak Arkan sembari melirik Kiara yang sedang merapikan buku catatannya.
Kiara mengangguk setuju. "Kebetulan aku juga lapar. tapi bolehkah aku mengajak temanku? dia kebetulan mau ke kantin cari makan." pinta Kiara.
Arkan mengangkat bahu santai.
"Tentu, semakin ramai semakin bagus. siapa tahu dia semenarik dirimu." godanya dengan kedipan mata khas Arkan.
"Jangan mencoba menggodanya, dia temanku." Kiara memperingati.
"Tapi dia wanita, aku tidak yakin bisa menahan diri." Balas Arkan membuat Kiara menaikan sebelah alis.
Mereka akhirnya sampai di sebuah restoran bernuansa modern tak jauh dari kantor. tak lama kemudian seorang wanita dengan gaya modis namun tampak sedikit terburu-buru menghampiri meja mereka.
Dia adalah Tasya.
"Kiara! maaf aku terlambat. tadi jalanan—"
Kalimat Tasya terhenti saat matanya menangkap sosok pria tampan yang duduk di depan sahabatnya. Tasya mematung sejenak, memandangi Arkan dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan yang sangat terang-terangan.
"Kiara... kau tidak bilang kalau makan siang ini ditemani oleh pria tampan." bisik Tasya, namun suaranya cukup keras hingga terdengar oleh Arkan.
Arkan mendadak salah tingkah melihat cara Tasya menatapnya.
"Hai.. aku Arkan." sapa Arkan mencoba tetap terlihat keren.
Tasya langsung duduk di samping Kiara, namun matanya tetap terkunci pada Arkan.
"Aku Tasya. Arkan?... nama yang bagus. cocok dengan wajahmu yang sepertinya didesain langsung oleh malaikat. apakah kamu punya peta? karena aku baru saja tersesat di matamu." ucap Tasya dengan nada menggoda yang sangat berani.
Kiara menyenggol lengan Tasya sambil tersenyum penuh maksud.
Arkan tersedak air minumnya sendiri. wajahnya yang biasanya tenang kini memerah hingga ke telinga.
'Mereka punya kesamaan kalau sedang salah tingkah.' Kiara melirik kuping Arkan saling tersenyum.
"Hei, stop menggodaku! biasanya aku yang melakukan itu pada wanita." protes Arkan sembari mencoba menutupi kegugupannya.
Tasya yang menyadari Arkan tersipu justru semakin menjadi-jadi.
"Duh, maaf ya kalau aku terlalu agresif. Aku memang begini kalau melihat pria tampan."
Tasya kemudian mengambil sendok plastik di meja dan meletakkannya di atas bibirnya seperti kumis, mencoba melakukan lelucon konyol.
"Lihat Arkan, aku sekarang adalah detektif kumis yang sedang menyelidiki kenapa jantungku berdebar kencang saat melihatmu."
Kiara meledak dalam tawa melihat tingkah konyol Tasya.
"Tasya! hentikan, kau memalukan sekali!" tawa Kiara sambil memegangi perutnya.
Di seberang meja, suara Arkan tidak kunjung keluar. Ia justru terdiam mematung dengan mata yang terpaku sepenuhnya pada Tasya.
Lelucon konyol itu, dipadukan dengan wajah canggung Tasya yang berusaha melucu, justru membuat Arkan terpanah pada pandangan pertama.
Arkan yang selama ini selalu dikelilingi wanita penuh rayuan justru merasa Tasya adalah sesuatu yang sangat berbeda. meski wanita itu pandai menggoda, tetapi kenyataannya dia sedang gugup. itu kentara sekali.
"Kenapa diam? Aku aneh ya?" tanya Tasya mendadak merasa malu dan menurunkan sendoknya.
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyum yang jauh lebih tulus daripada biasanya.
"Tidak... kau sama sekali tidak aneh. kau hanya sedikit berbeda." gumam Arkan tanpa sadar, mengabaikan Kiara yang masih asyik tertawa di samping mereka.
Tasya mencoba mengangkat wajahnya, namun setiap kali matanya bertemu dengan manik mata Arkan, Ia segera berpaling dan pura-pura tertarik pada dekorasi dinding restoran.
Pria tampan ini tidak ilfeel denganku? apa dia jatuh cinta padaku? dia melihatku dengan dua matanya, ah... benar-benar tampan sekali. kurang lebih Tasya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Pelayan mengantar pesanan mereka. lalu pergi setelah menyelesaikannya. mereka bertiga mulai makan menu-menu di atas meja itu. terutama kiara, karena memang sungguh lapar.
"Ehm... Arkan, kamu memang malu-malu jika sedang makan?" Goda Kiara memperhatikannya.
"Tidak juga. tergantung siapa yang ada di depanku. kalau orangnya... unik, aku jadi sedikit hilang fokus." Balas Arkan melirik Tasya sejenak.
Setelah itu, Kiara sama sekali tidak memedulikan drama romansa di depannya.
Ponselnya terus bergetar di atas meja. sebuah pesan dari Kenan masuk dengan nada yang beruntun.
"Sudah selesai?"
"Kenapa belum kembali ke kantor?"
"Arkan tidak membawamu kemana-mana, kan?" Pesan Kenan.
Kiara mengetik balasan dengan cepat sambil menahan senyum geli. begini ternyata berpacaran dengan bos sendiri.
"Kami sedang makan siang Pak. sabar sedikit, asisten kesayanganmu ini akan segera kembali." Balasnya.
Kiara melirik ke depan, melihat Tasya yang kini berusaha memotong steaknya dengan sangat hati-hati. terlalu hati-hati sampai potongan dagingnya tidak terputus.
"Sini, biar aku bantu." ucap Kiara tiba-tiba. Ia mengambil alih piring Tasya, memotongkan daging itu menjadi bagian-bagian kecil lalu mengembalikannya.
"Terima kasih." bisik Tasya malu-malu.
Setelah makan siang selesai, Kiara memutuskan untuk segera kembali ke kantor karena Kenan sudah mengirimkan pesan ke
sepuluh.
Mereka bertiga sudah berdiri di lobi.
"Tasya, aku harus balik duluan. Arkan, kau tidak ke ruangan Pak kenan?" tanya Kiara sembari merapikan tasnya.
"Nanti. aku masih ada urusan," jawab Arkan cepat, matanya sama sekali tidak lepas dari Tasya yang sedang berpamitan.
Begitu Kiara melangkah pergi dan menjauh Tasya pun berjalan menuju lift. Namun langkahnya terhenti saat Ia mendengar suara langkah kaki yang berlari mengejarnya.
"Tasya! tunggu!" Panggil Arkan.
Tasya berbalik. jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Ada apa? ada yang kamu butuhkan Pak arkan?"
Arkan berdiri di depannya, napasnya sedikit memburu. Ia melipat tangan di dada dan menatap Tasya dengan senyum jahil yang kini lebih berani.
"Kenapa mendadak cuek? panggilannya juga berubah." tanya Arkan namun Tasya tetap bersikap selayaknya.
"Bukannya tadi kamu sangat berani menggodaku saat ada Kiara? sekarang kita sudah berduaan, ke mana perginya detektif kumis tadi?"
Tasya memainkan ujung bajunya.
"Ya... itu kan tadi. sekarang suasananya beda."
"Bedanya di mana?" Arkan melangkah satu langkah lebih dekat.
"Bedanya... sekarang tidak ada Kiara, bagaimana kalau aku khilaf." celetuk Tasya yang membuat Arkan tertawa kecil.
Arkan tertawa kecil, merasa gemas dengan sikap Tasya.
"Bisa minta nomormu?"
Tasya sedikit terkejut.
"Tentu saja boleh." Tasya menyebutkan nomornya sembari tersenyum malu-malu.
Setelah menyimpan nomor tersebut, Arkan menatap Tasya dalam-dalam.
"Aku yang keberapa?"
Tasya mengernyit bingung. "Apa maksudnya?"
"Yang menyimpan nomormu. Aku urutan keberapa?" tanya Arkan penasaran.
"Kalau itu aku tidak tahu. Aku tidak pernah menghitungnya." jawab Tasya jujur.
"Sudah punya pacar?" selidik Arkan lagi.
Tasya menatap Arkan dengan tatapan menantang namun tetap terlihat imut.
"Aku ini wanita setia! kalau sudah ada pacar aku tidak akan melirikmu, Pak Arkan! Aku hanya akan mengagumi ketampananmu dari dalam sini." Tasya menunjuk dadanya.
"Ah... baiklah." Arkan tersenyum puas, merasa egonya baru saja diberi makan.
"Aku yakin pasti aku yang paling tampan dari semua pria yang pernah kamu sukai. kan?"
Tasya terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.
"Tidak juga, sebenarnya ada beberapa pria yang pernah kutemui yang tak kalah tampannya dengannmu." Kata Tasya.
"APAA!?" Arkan melotot, merasa tidak terima.
"Serius?"
"Serius. dunia ini luas Pak,"
"Lalu siapa yang lebih tampan dariku? sebutkan satu nama!" desak Arkan mulai merasa tersaingi.
"Sulit untuk memilih." gumam Tasya sembari memberikan senyum smirk.
Kalau bisa semua, kenapa harus satu? batin Tasya tersenyum penuh maksud. pria tampan adalah berkah yang harus dinikmati. bukan dipilih salah satu jika pilihannya terlalu sulit.
Arkan seolah bisa menebak isi pikiran jahil Tasya melalui sorot matanya. Ia melangkah lebih dekat, memperkecil jarak di antara mereka.
"Jangan tersenyum seperti itu. Aku tahu apa yang ada di otakmu. jangan berani-berani mencoba mengoleksi pria lain kalau sudah mengenalku."
"Memangnya kenapa? Kita kan belum ada ikatan apa-apa." Balas Tasya lagi.
"Akan ada." bisik Arkan dengan nada manis yang membuat bulu kuduk Tasya meremang.
"Simpan baik-baik nomorku. karena setelah ini namaku akan menjadi satu-satunya yang paling sering muncul di layar ponselmu."
Tasya tertegun, menatap Arkan yang kini menatapnya dengan binar yang tidak pernah Ia lihat sebelumnya.
"Pak Arkan, kalau boleh jujur anda seperti seorang play boy."
"Hanya padamu. jadi jangan coba-coba melirik yang lain, mengerti?" Arkan mengacak rambut Tasya pelan sebelum berbalik meninggalkan wanita itu.
"Ah... kenapa pipiku memerah?" Tasya memegang pipinya sambil melompat kecil melihat punggung Arkan menjauh.
"Sial... kenapa dia lucu sekali?" gumam Arkan memegang dadanya.
Bersambung....
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭