Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pintu mobil tertutup dengan bunyi debuman pelan yang terasa final. Tanpa sepatah kata pun, Zivara melangkah menjauh, mengabaikan kehadiran Adrian dan Luna yang berdiri mematung tak jauh dari sana. Rambut panjangnya sedikit berkibar tertiup angin Bandung yang mulai mendingin, mencerminkan sikapnya yang kini jauh lebih dewasa dan tak lagi mudah goyah oleh drama di sekitarnya.
Luna, yang sedari tadi menahan gejolak di dadanya, segera menyusun kembali topeng keanggunannya. Ia berlari kecil menghampiri Kaizar begitu pria itu berdiri di samping pintu kemudi. Dengan gerakan yang terlihat natural namun sarat akan kepemilikan, Luna meraih lengan Kaizar.
"Selamat pagi, Kai," ucap Luna dengan nada ceria, seolah-olah ketegangan beberapa menit lalu bersama Adrian tidak pernah terjadi. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Kaizar, berusaha menghapus jejak keberadaan Zivara yang baru saja keluar dari mobil itu.
Kaizar menatap lengan Luna yang melingkar di tangannya dengan tatapan datar. Kilasan memori tentang kamar hotel dan pengkhianatan Luna di lini masa lain mendadak berdenyut di kepalanya, menimbulkan rasa mual yang tertahan.
"Lebih baik kamu segera masuk ke kelas, Luna," sahut Kaizar dengan nada suara yang rendah dan dingin. "Aku juga harus segera pergi."
Luna sedikit tersentak, tetapi ia tidak melepaskan genggamannya. "Kai, tunggu sebentar. Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku katakan padamu."
"Aku juga punya sesuatu untuk dikatakan padamu," potong Kaizar, matanya kini menatap lurus ke depan, menghindari kontak mata dengan Luna. "Tapi tidak sekarang. Nanti saja saat makan siang."
Tanpa menunggu respon lebih lanjut, Kaizar melepaskan tangan Luna dari lengannya dengan gerakan tegas namun tetap elegan. Ia membalikkan badan, melangkah menuju gedung Manajemen tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Sikapnya yang biasanya protektif kini berganti menjadi sekat tebal yang sulit ditembus.
Luna berdiri mematung, menatap punggung Kaizar dengan perasaan nanar yang mulai menjalar. Dadanya terasa sesak; ia merasa perlahan-lahan kehilangan kendali atas pria yang selama ini menjadi jaminan masa depannya.
Di tengah keheningan yang menyakitkan itu, langkah kaki santai mendekat. Adrian berdiri di samping Luna, menyilangkan tangan di depan dada dengan senyum miring yang meremehkan.
"Sepertinya harapanmu untuk terus berada di sampingnya mulai menunjukkan tanggal kedaluwarsa, Luna," bisik Adrian tepat di samping telinga gadis itu. Suaranya mengandung nada kemenangan yang gelap. "Kamu bisa membohongi dunia, tapi kamu tidak bisa membohongi insting seorang pria yang mulai menyadari kebenaran."
Setelah melemparkan kalimat yang menghunus itu, Adrian melenggang pergi, meninggalkan Luna seorang diri di tengah parkiran yang mulai ramai. Air mata Luna nyaris tumpah, bukan karena cinta, melainkan karena ketakutan bahwa posisinya sebagai calon nyonya Ravindra benar-benar sedang berada di ujung tanduk.
**
Suasana studio DKV pagi itu terasa lebih tenang dibandingkan biasanya. Zivara duduk di bangku pojok, jemarinya sibuk merapikan palet warna, sementara pikirannya masih tertinggal pada konfrontasi singkat di parkiran tadi. Ia merasa ada sesuatu yang bergeser dalam dirinya; rasa takut yang dulu selalu membayangi kini perlahan luruh, berganti dengan keinginan kuat untuk memegang kendali atas hidupnya sendiri.
Keheningan itu pecah saat Dina masuk ke dalam kelas dengan langkah terburu-buru. Sahabatnya itu membawa beberapa lembar blangko berisi daftar kegiatan mahasiswa yang wajib diikuti oleh angkatan tahun pertama. Tanpa permisi, Dina langsung menarik kursi di samping Zivara, membuat bunyi gesekan kayu yang cukup nyaring di lantai beton.
"Vara! lo sudah lihat ini?" Dina menyodorkan kertas-kertas itu ke depan wajah Zivara. "Kita harus menyerahkan pilihannya sore ini. Lo berencana ikut apa? Jangan bilang lo mau ikut klub merajut lagi."
Zivara meletakkan kuasnya, menatap daftar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berderet di hadapannya. Di kehidupan sebelumnya, ia memilih klub seni lukis yang tenang, tempat yang justru membuatnya semakin terisolasi dan mudah menjadi sasaran intimidasi Luna.
"Aku masih bingung," jawab Zivara pelan, matanya menyisir barisan teks pada blangko tersebut. "Aku memang suka alam, tapi kalau ikut Mapala rasanya fisikku tidak akan sanggup. Sepertinya... aku akan mengambil bela diri saja."
Dina melongo. Ia menatap Zivara dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memastikan bahwa sahabatnya itu tidak sedang mengalami demam tinggi.
"Bela diri? Vara, lo bercanda, kan? Lihat tanganmu yang lembut itu. Lo lebih cocok memegang kuas atau bunga daripada memukul orang."
Zivara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memiliki kedalaman makna yang tidak dipahami Dina. "Justru karena aku terlihat feminim, Dina. Aku tidak mau lagi menjadi orang yang hanya bisa diam saat dipojokkan. Aku ingin tahu bagaimana rasanya memiliki kekuatan untuk melindungi diriku sendiri."
Dina masih tampak tidak percaya, tetapi sorot mata Zivara yang tegas membuatnya tak mampu mendebat lebih jauh. Zivara segera mengambil pena dan memberikan tanda centang pada kolom Taekwondo. Ini adalah langkah kecil pertama bagi Zivara untuk menghapus jejak gadis pasif yang dulu selalu pasrah pada keadaan.
Meskipun terlihat sederhana, keputusan ini adalah pernyataan perang Zivara terhadap takdir lamanya. Di saat Kaizar sedang sibuk dengan obsesi pelindungnya, Zivara justru memilih untuk membangun bentengnya sendiri. Ia tahu, di masa depan yang ia ingat, kelemahannya adalah senjata utama yang digunakan orang-orang di sekitarnya untuk menghancurkannya.
"Oke, kalau itu maumu," gumam Dina sembari ikut mencentang kolom yang sama. "Tapi jangan menangis kalau besok badanmu pegal-pegal semua ya."
Zivara hanya terkekeh. Rasa pegal di otot tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan saat tubuhnya terhempas dari gedung tinggi dalam ingatannya. Ia siap menghadapi apa pun, asalkan bukan menjadi Zivara yang lama.
**
Restoran bergaya kolonial di pinggiran Dago itu terasa tenang, kontras dengan gemuruh yang berkecamuk di dalam dada Kaizar. Aroma kopi dan kayu tua menyelimuti meja sudut tempat ia duduk berhadapan dengan Luna. Sesuai janjinya tadi pagi, jam makan siang ini menjadi waktu bagi mereka untuk menuntaskan apa yang selama ini menggantung tanpa kepastian.
Luna menyesap minumannya, mencoba mempertahankan senyum manis yang selama ini menjadi senjatanya.
"Jadi, Kai... apa yang begitu mendesak sampai kamu ingin bicara berdua saja?" tanya Luna, matanya menatap Kaizar penuh selidik.
Kaizar meletakkan sendoknya, menatap piring yang masih setengah penuh di hadapannya. "Katakan dulu apa yang ingin kamu bicarakan, Luna," sahutnya dengan nada suara yang rendah dan stabil.
Luna menggeleng perlahan, meletakkan alat makannya. "Tidak, aku lebih penasaran dengan apa yang membuatmu bersikap sedingin ini belakangan ini. Silakan, kamu dulu".
Kaizar menarik napas panjang, membiarkan udara dingin restoran mengisi paru-parunya sebelum mengeluarkan kalimat yang telah ia susun semalaman.
"Aku ingin kita berakhir, Luna. Mari kita putus".
Suara denting alat makan yang beradu dengan porselen di meja sebelah seolah berhenti di telinga Luna. Tangan Luna yang hendak menyendokkan makanan membeku di udara. Ia menatap Kaizar dengan sorot mata yang perlahan berubah dari bingung menjadi terkejut luar biasa.
"Kenapa? Apa alasannya, Kai? Kamu bercanda, kan?" suara Luna bergetar, mencoba mencari celah gurauan di wajah kaku pria di depannya.
"Aku merasa kita sudah tidak cocok lagi. Lagipula, sejak awal hubungan ini memang sudah berpijak di landasan yang salah," jawab Kaizar tanpa keraguan sedikit pun.
"Salah? Bagian mana yang salah?" Luna tidak terima, suaranya mulai naik satu oktaf.
Kaizar menatap Luna tepat di mata, memberikan kejujuran yang pahit. "Dulu mungkin aku memang mencintaimu, atau setidaknya aku percaya begitu. Tapi aku sadar, kamu hanya menganggapku sebagai pengganti Adrian. Sosok 'pelarian' itu semakin jelas saat Adrian pergi ke Italia. Kamu menjadikanku tameng untuk rasa sakitmu".
Luna terpaku, wajahnya memucat mendengar nama itu disebut.
"Dan sekarang, Adrian sudah kembali," lanjut Kaizar dengan nada selogis mungkin. "Tidak ada alasan lagi bagiku untuk terus memerankan peran pria pengganti di hidupmu. Semuanya sudah selesai".
"Ini pasti gara-gara Zivara, kan?" tuduh Luna tiba-tiba, matanya berkilat penuh amarah dan kecemburuan. "Kamu berubah karena gadis itu!"
Rahang Kaizar mengetat. "Keputusan ini murni antara aku dan kamu. Hubungan kita tidak ada sangkut pautnya dengan Zivara. Dia hanya teman dan tetanggaku, tidak lebih. Jadi, aku berharap kamu bisa menerima ini dengan kepala tegak".
Kaizar berdiri, merapikan kemejanya yang tidak kusut sedikit pun. Tanpa menunggu balasan atau tangisan Luna yang mulai pecah, ia melangkah pergi meninggalkan restoran tersebut. Ia membiarkan Luna meratapi hatinya yang terluka oleh keputusan sepihak yang terasa begitu dingin, namun bagi Kaizar, ini adalah langkah pertama untuk menebus dosa di masa lalunya.
Di luar, gerimis tipis mulai membasahi aspal jalanan Bandung. Kaizar masuk ke dalam mobilnya, menyandarkan kepala pada setir sembari memejamkan mata. Ia merasa satu beban berat terangkat, meskipun ia tahu badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
***