Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xiao Yan & Li Hua Ditangkap
Ratu Shen Wanqing adalah ibu kandung dari Hao Lin. Dan semua orang di Istana Kekaisaran tahu jika Ratu Shen Wanqing tidak pernah suka dengan Xiao Yan; alasannya hanya satu. Karena Xiao Yan adalah anak dari selir kesayangan Kaisar, dan bahkan, Ibu Xiao Yan hampir menjadi ratu, tetapi sayangnya penyakit merenggut nyawanya.
Dan kini, Ratu Shen Wanqing tiba-tiba memberikan perintah penangkapan Xiao Yan dan Li Hua dengan tuduhan perencanaan pembunuhan Kaisar Tian Huan. Padahal, Xiao Yan tidak pernah melakukan hal itu, terlebih lagi Li Hua.
Walaupun Xiao Yan telah menjelaskan jika dia tidak melakukan apa yang dituduhkan kepada dirinya, para prajurit suruhan Ratu Shen Wanqing tidak mendengarkan pembelaan dari Xiao Yan. Mereka tetap harus menangkap Xiao Yan dan juga Li Hua. Dan saat Xiao Yan melawan, mereka terpaksa harus menggunakan kekerasan untuk melumpuhkan Xiao Yan agar tidak melawan dan ikut dengan tenang ke Istana Kekaisaran.
———
Di hutan, Shu Hua yang tidak tahu apa yang tengah terjadi sedang sibuk berburu binatang. Shu Hua menargetkan seekor rusa yang sejak tadi menarik perhatiannya.
Shu Hua menggunakan panah yang ia panggil; dan saat itu Shu Hua baru sadar jika dia bukan hanya bisa memanggil pedang saja, tetapi Shu Hua bisa memanggil senjata lainnya.
Ini adalah pertama kalinya Shu Hua menggunakan panah. Anak panah yang ia lepas untuk pertama kali meleset, dan karena itu buruannya pun sadar jika dia sedang diburu, dan akhirnya rusa itupun lepas dari kejaran Shu Hua.
"Sial! Rusa itu lepas!"
Kesal karena hewan buruannya terlepas, Shu Hua kembali ke kudanya, mengambil air minum yang menjadi bekalnya saat berburu dan kemudian bersantai sejenak di bawah pohon besar, menikmati angin yang segar.
Ketika berada di tempat yang tenang dan suasana yang khidmat, Shu Hua mulai merasa mengantuk; hal itu terjadi karena selama ini Shu Hua selalu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Terlebih lagi kemarin malam. Shu Hua benar-benar tidak bisa tidur, karena setiap kali Shu Hua menutup mata, bayang-bayang dari orang yang telah ia bunuh muncul dan menghancurkan ketenangannya.
Dan kali ini Shu Hua kembali mencoba untuk menutup mata, berharap kali ini ia bisa tidur. Setidaknya sebentar saja. Dan hal itu terkabul. Selama beberapa menit, Shu Hua bisa tidur dengan tenang, tetapi suara langkah kaki yang mendekat kearahnya membuat Shu Hua langsung terbangun.
Dengan mata yang masih terpejam, Shu Hua memanggil pedangnya.
"Pedang!"
Pedang itu langsung Shu Hua arahkan pada arah di mana sumber suara itu terdengar, dan tepat saat Shu Hua membuka mata, ia langsung dikagetkan dengan seorang gadis cantik yang tertangkap oleh pedang Shu Hua.
"Siapa kamu?" tanya Shu Hua, masih menodongkan pedang tajam itu ke leher gadis yang kini tampak sangat ketakutan.
Gadis itu mengangkat kedua tangan, tanda jika dia menyerah dan tidak akan melawan Shu Hua.
"Aku hanya orang biasa yang kebetulan lewat sini," jawabnya dengan suara yang bergetar.
"Jika ingin lewat, ya lewat saja. Kenapa kamu harus berjalan dengan cara yang mencurigakan?" tanya Shu Hua lagi, benar-benar terlihat menakutkan.
"Bukannya aku ingin berjalan dengan cara seperti itu. Hanya saja, tadi aku melihat kamu sedang tidur, aku tidak membuat tidurmu terganggu. Karena itulah aku berusaha untuk berjalan pelan, tapi... tiba-tiba kamu menodongkan pedang kepadaku. Maafkan aku." Gadis itu menjelaskan dengan hampir menangis.
Melihat gadis itu hampir menangis karena dirinya, Shu Hua pun dengan cepat menurunkan pedang itu dan kemudian menghilangkannya kembali. Dan anehnya, saat itu gadis tersebut tidak terkejut dengan apa yang Shu Hua lakukan.
———
Di Istana Kekaisaran, Ratu Shen Wanqing sudah menunggu kedatangan Xiao Yan dan Li Hua. Dan saat Ratu melihat wajah Xiao Yan, satu tamparan keras langsung dilayangkan ke wajah Xiao Yan.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kamu berniat mencelakai Kaisar?!"
"Begitu licik dirimu, menggunakan putraku sebagai kambing hitam! Ini semua kamu lakukan karena ingin merebut tempat Hao Lin bukan? Mengaku saja kamu! Kamu dan Ibumu sama saja! Sama-sama tidak tahu diri! Menginginkan sesuatu yang tidak pantas untuk kalian!"
Begitu banyak hal yang ingin Ratu Shen Wanqing katakan. Begitu banyak amarah yang Ratu ingin lampiaskan kepada Xiao Yan; dari dulu sampai sekarang, Xiao Yan adalah tempat yang paling tepat bagi sang Ratu untuk melampiaskan rasa lelah dan jenuhnya. Tetapi, kali ini dia sudah keterlaluan. Melibatkan Li Hua dalam masalah antara dirinya dan Xiao Yan.
"Ibu Ratu, jika menurut Ibu Ratu aku bersalah, tidak masalah. Aku akan menerima hukuman apapun itu. Tapi, tolong lepaskan Li Hua. Dia tidak tahu apa-apa dan dia tidak terlibat dalam masalah ini," pinta Xiao Yan.
Ratu Shen Wanqing tertawa jahat.
"Kamu memang harus menerima hukuman, Xiao Yan! Hukuman yang sangat berat. Dan memangnya siapa kamu berani memberi perintah kepadaku?!" seru Ratu Shen Wanqing.
"Dan barusan kamu bilang apa? Wanita buta ini tidak ada hubungannya dengan masalah kali ini? Siapa bilang?! Bukankah wanita ini yang membuat racun untuk Kaisar? Dia membuatkan racun untukmu!" Ratu Shen Wanqing menuduh Xiao Yan dengan sangat kejam kali ini.
"Itu bukan racun, tapi itu obat. Obat itu akan membuat Kaisar kembali sembuh. Jika tidak memakai obat itu, kondisinya akan semakin memburuk. Dan jika terus dibiarkan seperti itu, dia tidak akan selamat," ungkap Li Hua dengan tenang walaupun saat itu kondisinya dirinya sedang diikat dan dipaksa berlutut di hadapan Ratu Shen Wanqing.
Mendengar betapa beraninya Li Hua dalam berbicara, Ratu Shen Wanqing tidak senang. Untuk memberi pelajaran kepada Li Hua, Ratu memberikan tamparan yang keras kepada Li Hua hingga membuat bibir Li Hua berdarah.
"Kurang ajar! Beraninya wanita buta tidak berharga ini mengatakan hal tidak baik tentang Kaisar Yang Agung! Apakah kamu baru saja mendoakan hal buruk akan terjadi kepada Kaisar?!" Ratu Shen Wanqing kini tampak benar-benar sangat marah. Dia mungkin akan membunuh Li Hua jika Li Hua masih tetap berbicara fakta yang menyakitkan untuk didengar.
"Aku hanya mengatakan fakta. Dan aku juga hanya ingin mengingatkan. Dan sebagai tambahan lagi, kuharap Yang Mulia Ratu mau melepaskan aku dan Xiao Yan," pinta Li Hua.
"Untuk apa aku melepaskan kalian? Daripada melepaskan kalian, aku lebih baik menyiksa kalian di penjara!" sahut Ratu Shen Wanqing.
"Jika Yang Mulia Ratu tidak melepaskan aku dan Xiao Yan sekarang, hal buruk akan terjadi. Terlebih lagi jika Ratu menyiksa kami berdua," ungkap Li Hua.
"Memangnya apa yang terjadi?!" Ratu Shen Wanqing tampak tidak takut dengan Li Hua dan kata-katanya.
"Satu hal yang harus Ratu ketahui tentangku. Aku bisa melihat masa depan. Walaupun mata fisikku tidak bisa melihat, tetapi mata batinku bisa melihat. Dan dengan penglihatan itu aku melihat... sebuah pedang... pedang yang tajam, dan pedang itu terarah langsung ke leher Yang Mulia Ratu. Dan apa yang akan terjadi selanjutnya, itu semua tergantung pada keputusan Ratu. Apakah ingin melepaskan aku dan Xiao Yan, atau tidak..."
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄