Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Peringatan Bahaya
Pagi itu Elvara datang lebih cepat dari biasanya. Langit masih pucat ketika mobil yang ditumpanginya berhenti di depan gedung Alvero Group, dan udara pagi membawa sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Meski begitu, telapak tangannya tetap lembap sejak ia berangkat dari apartemen.
Semalaman ia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul justru wajah Zayden di lobby kemarin. Tatapan tenang yang terlalu tajam, seperti seseorang yang sedang menyusun kebenaran dari potongan-potongan kecil.
Rheon tadi pagi sempat menatapnya lama saat sarapan. Bocah itu lalu bertanya kenapa mata Mommy seperti panda lelah, membuatnya hampir tertawa kalau saja dadanya tidak sesak. Elvara hanya menjawab pekerjaan sedang banyak dan ia perlu datang lebih pagi.
Ia tak mungkin mengatakan bahwa hidup mereka mungkin sedang bergeser.
Di dalam tas kerjanya, sebuah amplop putih tersimpan rapi. Sudut kertasnya sudah sedikit melengkung karena berkali-kali ia keluarkan lalu masukkan lagi sepanjang malam. Surat pengunduran diri itu sudah dicetak ulang dengan format formal, ditandatangani, dan diberi alasan pribadi yang aman.
Hari ini ia akan menyerahkannya ke HR.
Lalu ia akan mulai mencari pekerjaan baru secepat mungkin.
Apa pun lebih baik daripada bekerja di gedung yang sama dengan pria yang mampu mengguncang ketenangannya hanya dengan satu tatapan.
Ia berjalan melewati lobby sambil menahan diri agar tidak menoleh ke sudut tempat Rheon kemarin berdiri bersama Zayden. Namun ingatan itu tetap muncul tanpa diundang. Anak kecilnya tertawa riang, dan pria itu menatap dengan rasa ingin tahu yang berbahaya.
Jangan pikirkan itu, batinnya.
Lift terbuka dengan bunyi lembut. Ia masuk sendiri, menekan tombol lantai divisi kreatif, lalu menatap angka digital yang bergerak naik satu per satu. Cermin di dinding lift memantulkan wajahnya yang rapi namun pucat.
Hari ini sederhana, ia mengingatkan diri sendiri. Serahkan surat. Bekerja seperlunya. Pulang. Cari jalan baru.
Namun hidup jarang peduli pada rencana sederhana.
Begitu tiba di lantai divisi kreatif, suasana terasa lebih ramai dari biasa. Beberapa staf datang lebih awal dan bergerak cepat seolah ada sesuatu yang harus diselesaikan sebelum jam kerja penuh dimulai. Adrian sedang membawa tumpukan map, Vania sibuk menatap tablet sambil berjalan, dan Selena dari HR berdiri dekat meja resepsionis internal dengan senyum terlalu lebar.
"Bu Elvara, saya memang mencari Anda."
Nada antusias itu membuat tengkuk Elvara menegang. "Ada apa?"
"Kabar bagus."
Kalimat tersebut langsung terdengar mencurigakan.
Selena mengajaknya ke ruang kecil di samping area kerja. Begitu pintu tertutup, wanita itu menyerahkan sebuah map biru dengan ekspresi bangga seperti pembawa hadiah besar.
"Selamat ya. Jarang sekali ada penyesuaian secepat ini."
"Penyesuaian apa?" tanya Elvara pelan.
"Mulai hari ini, Anda dipindahkan ke divisi pusat."
Elvara mengernyit. "Saya baru masuk beberapa hari."
"Makanya saya bilang jarang terjadi."
Ia membuka map itu. Di halaman pertama tertulis keputusan internal perusahaan tentang penempatan ulang Senior Creative Strategy Lead ke Corporate Central Office, effective immediately. Huruf-huruf hitam di atas kertas mendadak terasa seperti jebakan yang dicetak resmi.
Jantungnya berdetak tak nyaman.
"Kenapa dipindahkan?"
Selena masih tersenyum antusias. "Permintaan langsung CEO."
Dunia terasa berhenti sesaat.
"Apa?"
"Pak Zayden meminta Anda bekerja dekat divisi pusat supaya koordinasi strategi brand lebih cepat. Beliau bilang kemampuan Anda sayang kalau tertahan di level operasional."
Setiap kalimat terasa makin berat.
CEO meminta.
Bekerja dekat divisi pusat.
Koordinasi langsung.
Artinya hanya satu hal.
Ia akan berada dekat Zayden setiap hari.
Elvara menatap surat keputusan itu seolah tulisan di atas kertas bisa berubah jika dipandangi cukup lama. Namun tinta tetap sama, keputusan tetap sama, dan napasnya justru semakin pendek.
"Apakah ini wajib?" tanyanya perlahan.
Selena tertawa kecil. "Kalau permintaan CEO, biasanya begitu."
"Ada kemungkinan saya menolak?"
Senyum Selena memudar sedikit. "Secara teknis bisa dibicarakan, tapi ini promosi jalur cepat, Bu. Banyak orang akan berebut posisi seperti ini."
Elvara ingin berkata bahwa ia rela memberikannya pada siapa pun saat itu juga.
Sebaliknya, ia justru membuka tas dan menarik amplop putih. Jarinya terasa dingin ketika meletakkannya di atas meja kecil di antara mereka.
"Saya sebenarnya datang untuk menyerahkan surat resign."
Selena terbelalak. "Resign?"
"Saya punya alasan pribadi."
"Bu Elvara, maaf saya bicara terus terang." Wanita itu mencondongkan tubuh sedikit. "Kalau Anda resign sehari setelah dipilih masuk divisi pusat, itu akan terlihat sangat buruk."
Elvara memejamkan mata sejenak. Kalimat itu tepat sasaran dan ia tahu maksudnya. Bukan hanya buruk secara profesional, tetapi juga akan memancing rasa ingin tahu.
"Tapi saya memang perlu mundur."
"Minimal tunggu beberapa minggu. Jangan sekarang."
Ia tahu Selena benar. Mengundurkan diri mendadak setelah diminta langsung CEO akan menimbulkan pertanyaan, gosip kantor, mungkin juga perhatian khusus dari orang yang justru ingin ia hindari.
Perangkap.
Ia merasa sedang berjalan ke satu langkah yang sudah disiapkan rapi.
"Ruangan Anda juga sudah dipindah," lanjut Selena tanpa menyadari badai di kepala lawan bicara. "Lantai tiga puluh satu, area eksekutif."
Elvara hampir tertawa karena putus asa.
Area eksekutif.
Tepat di dekat sarang singa.
---
Lima belas menit kemudian ia berdiri di depan meja kerja barunya. Area itu jauh lebih tenang dibanding lantai kreatif. Ruang terbuka modern dengan sekat kaca rendah, lantai berkarpet tebal, suara percakapan ditahan rendah, dan aroma kopi mahal bercampur kertas baru memenuhi udara.
Orang-orang di sini bergerak cepat namun nyaris tanpa suara. Semua tampak tahu apa yang sedang dikerjakan, ke mana harus pergi, dan kapan harus bicara. Tidak ada candaan keras atau tawa lepas seperti di lantai bawah.
Di ujung koridor terdapat pintu kayu gelap bertuliskan CEO OFFICE.
Jaraknya tak sampai tiga puluh langkah.
Elvara menelan ludah.
Seorang pria muda berkacamata menghampiri dengan map di tangan. "Selamat pagi, Bu Elvara. Saya Daniel, koordinator central strategy. Saya akan bantu adaptasi."
"Terima kasih."
Daniel tampak cekatan dan sopan. Ia menjelaskan sistem kerja, akses file internal, jalur persetujuan dokumen, dan ritme koordinasi lintas divisi. Elvara mendengarkan sambil sesekali mencatat, meski separuh pikirannya sedang berlari ke arah lain.
Kenapa Zayden memindahkannya?
Kalau hanya soal kemampuan, terlalu cepat.
Kalau soal curiga, ini langkah sempurna.
Dekatkan target. Amati langsung.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Nira muncul bersama foto Rheon sedang makan roti dengan mulut penuh sambil memegang robot Sentinel.
Aku baik-baik saja, Mommy.
Mungkin kalimat itu diketikkan Nira, tetapi membuat dada Elvara sedikit hangat. Ia menatap foto itu beberapa detik lebih lama dari perlu.
Ia harus tenang demi anak itu.
"Bu Elvara?"
Ia tersentak. Daniel menatap bingung.
"Maaf."
"Saya bilang, Pak Zayden biasanya datang jam sembilan lewat sedikit. Kalau beliau lewat, cukup sapa."
"Baik."
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan tepat ketika lift privat di ujung lorong terbuka. Suasana lantai berubah halus seperti udara yang bergeser sebelum hujan. Beberapa orang otomatis merapikan posisi duduk, yang lain menghentikan obrolan singkat.
Langkah kaki terdengar mendekat dengan ritme mantap yang sudah terlalu ia kenal.
Zayden Alvero berjalan melewati koridor dengan setelan hitam sempurna dan wajah yang sulit dibaca. Di belakangnya, Arsen membawa tablet serta beberapa dokumen.
Elvara menunduk ke layar laptop, berharap menjadi bagian furnitur.
Terlambat.
Langkah itu berhenti tepat di samping mejanya.
"Bu Elvara."
Ia mengangkat kepala perlahan. "Selamat pagi, Pak."
Tatapan pria itu jatuh padanya dengan tenang, terlalu tenang.
"Sudah menerima penempatan baru?"
"Sudah."
"Keberatan?"
Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi jelas sedang menguji sesuatu.
Elvara memaksakan senyum profesional. "Saya mengikuti kebutuhan perusahaan."
"Jawaban diplomatis."
"Jawaban jujur."
Mata Zayden menahannya beberapa detik lebih lama dari pantas. Lalu pandangannya bergeser pada amplop putih yang sedikit terlihat dari dalam tas.
"Apa itu?"
Ia refleks menutup tas.
"Dokumen pribadi."
"Hm."
Arsen berdiri di belakang dengan ekspresi netral, tetapi Elvara yakin pria itu menyadari ketegangan yang tak terlihat orang lain.
Zayden akhirnya berkata, "Jam sepuluh ikut rapat brand consolidation."
"Baik, Pak."
Ia hendak melangkah pergi, lalu berhenti sebentar.
"Satu hal lagi."
Seluruh tubuh Elvara menegang.
"Anak Anda bagaimana pagi ini?"
Darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir.
Beberapa staf di sekitar pura-pura sibuk, tetapi jelas mendengar pertanyaan itu.
"Baik," jawabnya singkat.
"Bagus."
Pria itu berjalan ke ruangannya tanpa menoleh lagi. Pintu kayu gelap tertutup pelan di belakangnya.
Baru setelah itu Elvara sadar ia menahan napas sejak tadi.
Daniel mendekat sambil berbisik kagum. "Wah, Pak Zayden jarang mengingat urusan pribadi staf."
Elvara tersenyum kaku. "Mungkin beliau sedang ramah."
Dalam hati ia tahu ini bukan keramahan.
Ini pengawasan.
---
Rapat pukul sepuluh berlangsung di ruang kaca kecil dengan delapan orang peserta. Layar besar menampilkan grafik konsolidasi merek, proyeksi anggaran, dan jadwal kampanye semester depan. Elvara duduk di sisi jauh meja, membuka laptop, dan berusaha fokus pada angka.
Namun beberapa kali ia menangkap Zayden sedang menatapnya saat orang lain bicara.
Bukan menatap biasa.
Mengamati.
Mencatat jeda jawabannya, cara ia menanggapi, pilihan kata, perubahan ekspresi kecil di wajahnya.
Seolah seluruh rapat hanyalah alasan untuk berada dalam ruangan yang sama.
Saat sesi berakhir, peserta mulai berdiri sambil membawa berkas masing-masing. Kursi bergeser, suara ucapan terima kasih terdengar singkat, lalu orang-orang bergerak ke pintu.
Zayden menahan pintu dengan satu tangan.
"Bu Elvara, tinggal sebentar."
Yang lain saling pandang sekilas lalu keluar tanpa komentar.
Pintu tertutup.
Ruangan mendadak lebih kecil.
Elvara berdiri kaku di tempat, sementara Zayden menutup folder di tangannya lalu meletakkannya di meja.
"Kenapa ingin resign?"
Udara terasa dingin mendadak.
Ia menatap tajam. "Maaf?"
"Amplop putih. Cara Anda menyembunyikannya terlalu cepat."
Sial.
"Itu urusan pribadi."
"Kalau berkaitan dengan pekerjaan, itu urusan saya."
"Saya belum mengajukan apa pun."
"Tapi berniat."
Elvara menggenggam tangan di sisi tubuh agar gemetarnya tak terlihat. "Kenapa Bapak peduli?"
Ada jeda singkat. Tatapan pria itu tak bergeser sedikit pun.
Lalu Zayden melangkah mendekat satu langkah. Tidak cukup dekat untuk menyentuh, cukup dekat untuk mengacaukan ritme napasnya.
"Karena saya benci saat seseorang kabur sebelum menjawab pertanyaan."
Kalimat itu jatuh tenang, tetapi menghantam keras.
Elvara tahu ia tidak sedang bicara soal surat resign.
Ia sedang bicara tentang lima tahun lalu.
Tentang kepergiannya.
Tentang anak bernama Rheon.
Zayden memiringkan kepala sedikit. Suaranya turun lebih rendah, nyaris seperti bisikan yang hanya mereka berdua boleh dengar.
"Jadi sekarang kita akan bekerja berdekatan setiap hari, Bu Elvara."
Kalimat itu terdengar sopan.
Namun maknanya jelas seperti ancaman halus.
"Kita lihat siapa yang lebih dulu menyerah."