NovelToon NovelToon
Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:26.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?

Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!

Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman untuk mu

"Dai," Sajen mendekati Badai yang jongkok di depan motor sport hitamnya. Ya, si Iteung udah sembuh dari sakitnya setelah sekian lama dirawat di bengkel khusus motor sport karena diseruduk mobilnya Arang jaman penjajahan dulu.

"Hmm." Beneran nggak noleh. Dia hanya mengeluarkan deheman keramat. Sambil tangannya sibuk mengelus body Iteung penuh perasaan.

"Kemarin lo kemana? Lo nggak diajak ke Kamboja buat jual jeroan lo kan? Ginjal lo aman? Otak gimana otak, masih di tempatnya nggak kira-kira?"

"Mulut lo isinya racun dunia ya, Jen? Tiap kali ngomong nggak enak banget gue dengernya."

Badai mendengus, akhirnya bangkit berdiri sambil mengelap tangannya yang terkena sisa oli menggunakan kain lap kumal. Di sudut bengkel yang dipenuhi aroma khas pelumas, ban karet, dan gemuruh suara mesin, dua orang mekanik kepercayaannya yaitu Abu dan Suga tengah sibuk membongkar mesin karburator di sudut lain. Begitu mendengar suara bos mereka meninggi, keduanya kompak menoleh dengan cengiran lebar.

"Sabar, Bos! Si Sajen emang mulutnya perlu diservis pakai kunci inggris sekali-sekali," teriak Abu dari balik kap mesin sebuah motor modifikasi.

Suga hanya terkekeh mendengar obrolan para dedemit di bengkel ini, tanpa berniat ikut ngedabrus seperti yang lain. Dia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Capeknya bikin mager, meski hanya sekedar nimbrung buat ngobrol.

Tadinya Badai masih ingin berlama-lama dengan ketiga teman anomalinya ini, namun sebuah pesan dari Hiro membuat Dai menghela nafas. Tuntutan kerja yang lain.. Menjadi CEO dari MahaTech. Suasana santai seketika menguap.

"Gue tinggal bentar ya, nanti ada orang datang bawain makan siang buat kalian. Sikat aja, nggak usah nunggu gue." pamit Dai sambil menaiki si iteung kesayangan.

Dua jam kemudian, atmosfer di sekitar Badai berubah total. Tak ada lagi aroma oli, kain lap kumal, atau kaus oblong hitam yang melekat di tubuh tegapnya.

Di depan lobi megah MahaTech, gedung pencakar langit berbasis teknologi yang mendominasi cakrawala ibu kota sebuah Mercedes-Benz S-Class hitam berkilau berhenti dengan anggun. Pintu mobil terbuka, dan Badai melangkah keluar. Penampilannya benar-benar bertransformasi. Balutan setelan jas custom-tailored berwarna charcoal grey yang dipadukan dengan kemeja hitam tanpa dasi membuat siluet tubuhnya yang atletis terpancar sempurna. Rambutnya yang biasa berantakan diikat karet bekas nasi goreng kini tertata rapi, menampilkan dahi yang tegas dan tatapan mata yang tajam, dingin, namun luar biasa memikat. Laksana seorang CEO muda yang memegang kendali penuh atas dunia bisnis, karismanya mengintimidasi siapa saja yang memandang.

Di belakangnya, enam orang bodyguard bertubuh tegap dengan setelan jas hitam legam melangkah serentak dalam formasi barikade pengawalan ketat. Mereka adalah orang-orang pilihan yang diperintahkan langsung oleh Hiro untuk memastikan keamanan mutlak untuk putranya.

Langkah kaki Badai yang mantap, diiringi derap langkah para pengawal setianya, menciptakan atmosfer yang begitu prestisius di sepanjang koridor utama MahaTech. Setiap pasang mata karyawan menatapnya dengan kekaguman yang bercampur dengan rasa segan yang mendalam. Hari ini adalah hari pembuktian.. Badai hadir bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai pemegang saham terbesar merangkap pemilik sah dari gurita bisnis teknologi tersebut.

Di antara kerumunan staf yang berdiri menyambut kedatangannya di aula utama, ada satu sosok yang membeku. Kilau.

Gadis itu berdiri di depan barisan divisi pengembangan. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat matanya menangkap siluet pria yang sangat dikenalnya itu. Kilau tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Bibirnya terkunci rapat, namun matanya menceritakan segalanya. Di dalam hatinya, ada gemuruh rindu yang sengaja ditahan.

Menatap Badai yang sekarang tampak begitu gagah, mempesona, dan berada di kasta yang seolah tak terjangkau, mengingatkannya pada masa lalu, pada hari-hari di mana dia dengan keras kepala memaksa lelaki itu untuk menjadi pacar pura-puranya. Siapa yang mengira bahwa pria yang dulu dia seret ke dalam sandiwaranya kini berdiri sebagai penguasa di tempatnya bekerja?

Langkah kaki Badai melambat saat melewati barisan divisi tersebut. Dan pada satu detik yang magis, pandangan mereka bertemu. Sepasang mata elang Badai mengunci manik mata Kilau yang bergetar. Tidak ada senyuman di wajah Badai, hanya ada intensitas tatapan yang seolah mampu menembus langsung ke dalam jiwa Kilau.

Badai menghentikan langkahnya tepat di depan Kilau, membuat para pengawal dan jajaran direksi ikut berhenti seketika. Atmosfer di sekitar mereka mendadak menjadi begitu sunyi.

"Kamu," suara Badai terdengar rendah, berat, dan penuh otoritas. "Ikut saya. Temani saya berkeliling dan perkenalkan beberapa divisi di perusahaan baru saya ini."

Kilau menelan ludah. Logikanya berteriak untuk menolak, untuk lari dari tatapan yang menggetarkan iman itu. Namun, dia tahu posisinya sekarang hanya . Di tempat ini, di bawah atap MahaTech, Badai adalah atasannya, puncak tertinggi dari rantai komando. Dengan anggukan kecil yang berusaha terlihat profesional, Kilau melangkah keluar dari barisan. "Baik, Pak."

Perjalanan berkeliling itu terasa seperti siksaan manis bagi Kilau. Bagaimana tidak.. Badai terlihat mendengarkan penjelasan dari kepala divisi dengan formal, namun Kilau bisa merasakan bahwa fokus pria itu sebenarnya terus tertuju padanya.

Hingga akhirnya, langkah mereka membawa mereka ke ruang kerja pribadi Kilau, sebuah ruangan yang cukup tenang dan terpisah dari hiruk-piruk koridor utama demi privasi pengerjaan proyek sensitif.

"Ini ruang kerja saya, pak. Semua yang ada di MahaTech akan-- Eh,"

Kilau terkejut. Dai dengan sengaja menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Begitu pintu ruangan tertutup rapat dan para bodyguard tanpa diperintah langsung berjaga ketat di luar koridor, ketegangan profesional itu menguap begitu saja.

Tanpa peringatan, Badai berbalik dan langsung menarik pergelangan tangan Kilau dengan satu gerakan cepat namun terukur. Tubuh Kilau tersentak maju, menabrak dada bidang Badai yang kokoh. Sebelum sempat melayangkan protes, lengan kekar Badai sudah melingkar erat di pinggangnya, menariknya masuk ke dalam sebuah pelukan yang begitu posesif, menyalurkan seluruh rasa rindu yang selama ini mengendap dan menyiksa batinnya.

"Dai, lepas! Apa-apaan sih lo!" Kilau memberontak. Kedua tangannya memukul-mukul dada Badai, berusaha menciptakan jarak di antara mereka. Wajahnya memerah antara marah dan gugup yang luar biasa. "Ini di kantor! Lepas, Dai!"

Namun, Badai sama sekali tak bergeming. Dia justru mempererat dekapannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Kilau, menghirup aroma familier yang sangat dia rindukan. "Sebentar saja, Ki. Tolong, diam sebentar saja," bisik Badai, suaranya terdengar begitu parau dan rapuh, sangat kontras dengan sosok CEO yang dingin beberapa menit lalu.

Mendengar getaran dalam suara pria itu, perlahan kepalan tangan Kilau di dada Dai melemah. Kemarahan yang membakar dada perlahan luruh, digantikan oleh kerinduan yang dia sangkal. Tubuhnya yang semula kaku berangsur rileks dalam rengkuhan hangat Badai. Suasana hening menyelimuti mereka, hanya menyisakan deru napas yang saling memburu.

Kilau mendongak, menatap wajah Dai yang berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Tatapan Badai begitu dalam, dipenuhi binar kepasrahan yang emosional. Kilau tak tahu setan apa yang merasukinya saat itu.

Secara tak terduga, Kilau justru memajukan wajahnya dan berinisiatif menempelkan bibirnya ke atas bibir Badai, menciumnya dengan penuh penekanan. Satu gerakan impulsif random yang membuat Dai tersentak.

Mata Dai membelalak kecil karena terkejut atas tindakan berani gadis di pelukannya. Namun terkejutnya Badai hanya bertahan sesaat. Begitu menyadari kehangatan bibir Kilau, pertahanannya runtuh sepenuhnya.

Ciuman itu dengan cepat berubah intens dan menuntut. Badai memiringkan kepalanya, membalas lumatan Kilau dengan kedalaman yang luar biasa, seolah ingin meraup seluruh eksistensi gadis itu ke dalam dirinya. Telapak tangan Badai bergerak naik ke tengkuk Kilau, mencengkeramnya lembut untuk memperdalam tautan bibir mereka, sementara tangan lainnya menekan pinggang Kilau agar tubuh mereka semakin merapat tanpa celah.

Mereka saling melumat, bertukar napas dalam ritme yang memburu dan sarat akan emosi yang meledak-ledak. Kerinduan keduanya disalurkan lewat setiap hisapan dan pagutan yang kian panas di antara belitan lidah yang intim. Namun, di tengah-tengah keintiman yang memabukkan itu, sisa-sisa kekesalan Kilau atas sikap misterius Badai selama ini tiba-tiba mencuat kembali ke permukaan. Dia ingin memberi pria ini pelajaran.

Cess!

Dengan sengaja dan penuh penekanan, Kilau mengatupkan giginya, menggigit bibir bawah Badai dengan cukup keras.

Rasa asin dari darah segar instan merebak di antara cecapan bibir mereka. Badai mendesah tertahan di dalam ciuman itu, rasa perih yang tajam langsung menyengat sarafnya seiring darah yang mulai mengalir dari luka kecil di bibirnya. Namun, alih-alih menarik diri atau melepaskan tautan mereka, Badai justru tetap diam. Dia menerima rasa sakit itu sebagai bentuk hukuman yang layak dia terima dari Kilau.

Bukannya menjauh, Badai justru mengeluarkan erangan rendah di tenggorokannya dan semakin memperdalam ciumannya. Dia menghisap bibir Kilau yang kini ternoda oleh darahnya sendiri, membalas gigitan kecil itu dengan lumatan yang jauh lebih posesif, lebih menuntut, dan seolah enggan untuk melepaskannya sampai kapan pun.

1
Dewi kunti
Yo gek dirabi wae ,kesuwen
Rehat
Galau ya Kil, jauhh sihh 😰
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
kasih dia sepatu roda aja Dai, biar gak mlototin. hape muluk
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
Kilau memang setulus itu sama Dai, meski bapaknya sendiri kek dakjal
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
ujiane arek LDR makanya kalau gak kuat banyak yang belok kiri nyari hiburann
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
cara meluapkan emosimu agak ngeri juga ya Dai🫠
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
seneng bener kamu Dai bikin jantung Kilau gak karuan
Bulan-⁶
ngenesnya kalo LDR
Bulan-⁶
sekarang kamu tau kan dai bagaimana bapak kamu dulu sampai tega ninggalin kalian semua
Bulan-⁶
jangan ngiler ya jen🤣
Bulan-⁶
sokorrrrr ternyata yang dibanggakan masih kalah jauh dibawah kilau dan badai
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
modyarrr kapokmu kapan bondo ra sepiro wae wes nekad mau bikin calon istri pewaris tahta Ananta 😒
Rehat
Lalinan, gak dapat Badai, malah dapat tamparan dari bokapnya sendiri 🤣
Rehat
Dihh, obsesi kali kau Lalinan sama Badai 😎
Rehat
Dihh Lalin kepedean 🤣🤣
Rehat
Makanan kesukaan Kil n Dai 🤤
Rehat
Akhirnya Badai mau memaafkan Bapaknya 👍🏼
Bulan-⁶
gak usah aneh2 kamu lin, minta dibejek2 apa dibikin berkedel?
Rehat
Lebay si Dai Badai 😌
Bulan-⁶
yok kawinnnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!