NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Iblis / Perperangan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di sudut gua yang paling dalam, jauh dari riuh aktivitas warga desa yang sedang membelah kayu dan membakar ikan, suasana terasa sunyi dan dingin. Hanya ada suara deru napas Gandraka yang kian teratur dan gemertak pelan dari ranting yang terbakar di dalam tungku batu kecil.

​Nyai Lodra perlahan menyelimuti tubuh putranya dengan kain jarik tebal, memastikan hawa hangat tetap terjaga di kulit bocah itu. Di sampingnya, Ki Bagaskara duduk bersila sembari membersihkan bilah pedang kembarnya dengan sepotong kain usang. Gerakannya teratur, namun sorot matanya tak sedetik pun lepas dari sosok pria tegap yang kini berdiri membelakangi mereka, menatap ke arah dinding gua yang gelap.

​Patih Gajah Mada.

​Kehadiran sang Mahapatih di tempat pengungsian ini bagaikan pisau bermata dua bagi suami istri mantan jagal Klan Anggrek Hitam tersebut. Di satu sisi, pria itu baru saja menyelamatkan nyawa anak mereka. Di sisi lain, mereka adalah buronan politik, pelarian yang namanya pernah tercatat dalam tinta merah hukum Majapahit karena masa lalu mereka yang kelam.

​"Kalian merawat raga bocah ini dengan baik," suara Gajah Mada memecah keheningan, membalikkan badannya perlahan. Langkah kakinya tanpa suara saat mendekat ke arah tungku. "Hawa murni Anggrek Hitam yang kau salurkan tadi, Lodra... sangat murni. Berbeda dengan hawa pembunuh yang dulu sering kudengar dari klanmu di pesisir utara."

​Ki Bagaskara menghentikan gerakannya menyeka pedang. Ia menatap Gajah Mada dengan tatapan lurus, tanpa rasa takut namun penuh rasa hormat. "Kami sudah mati bagi dunia luar, Gusti Patih. Sejak Gandraka lahir, pedang ini tidak lagi memburu nyawa untuk bayaran. Kami hanya sepasang orang tua yang ingin melihat anaknya tumbuh seperti manusia biasa."

​Gajah Mada menyiratkan senyum tipis yang sarat akan ketegasan. Ia melirik warangka keris Kyai Gajah yang terselip di pinggangnya sendiri, lalu kembali menatap Bagaskara.

​"Hukum kerajaan tidak pernah melupakan darah yang tumpah, Bagaskara. Di Trowulan, berkas tentang sepak terjang kalian berdua masih tersimpan rapi di balai juri," ucap Gajah Mada datar, namun kata-katanya memiliki bobot yang mampu meruntuhkan nyali pendekar biasa.

​Nyai Lodra menegang. Tangan kanannya tanpa sadar meraba ujung rantai peraknya yang melingkar di pinggang. Namun, sebelum ketegangan itu memuncak, Gajah Mada mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar mereka tetap tenang.

​"Tapi aku berdiri di sini bukan sebagai algojo Majapahit malam ini," lanjut Gajah Mada, suaranya melunak, senada dengan kehangatan api unggun. "Aku melihat masa depan di dalam dada anakmu. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan tebusan darah masa lalu kalian."

​Gajah Mada ikut duduk bersila di seberang mereka, membiarkan api kecil di antara mereka menerangi gurat-gurat tegas di wajahnya yang sarat akan pengalaman perang.

​"Kalian tentu tahu, kutukan atau anugerah yang ada di dalam darah Gandraka bukan sesuatu yang bisa disembunyikan selamanya. Badai es di luar sana..." Gajah Mada mengadahkan wajahnya ke langit-langit gua. "...aku belum pernah merasakan getaran energi sedingin ini. Ini bukan ilmu milik Eyang Jagad Ireng. Ini adalah kekuatan lain yang sengaja mengunci kita di sini. Seolah-olah... dunia gaib sedang bersekongkol untuk menahan anakmu agar tidak keluar dari Mojorejo."

​Ki Bagaskara dan Nyai Lodra saling berpandangan. Mereka memang merasakan keanehan pada salju yang turun di luar, namun mereka sendiri belum bisa menebak siapa atau apa yang mendatangkannya. Yang mereka tahu, desa ini telah menjadi magnet bagi pusaran kekuatan yang melampaui nalar manusia.

​"Kami tidak peduli dengan jagat baru atau ramalan purbakala itu, Gusti Patih," bisik Nyai Lodra, suaranya bergetar menahan emosi seorang ibu. "Kami hanya ingin Gandraka selamat. Jika kekuatan itu harus dicabut dari tubuhnya agar ia bisa hidup tenang, kami akan mencabutnya dengan tangan kami sendiri."

​"Kau tidak bisa membendung takdir yang sudah digariskan oleh leluhur, Lodra," sahut Gajah Mada, matanya mengunci pandangan Nyai Lodra. "Kekuatan di dalam darah Gandraka adalah penyeimbang. Jika kau mencabutnya, raga anakmu akan ikut hancur. Pilihan kalian hanya dua: membiarkannya mati di tangan entitas jahat yang mengincarnya, atau mendidiknya agar mampu mengendalikan gerbang jagat netral tersebut."

​Gajah Mada berdiri kembali, merapikan jubah kebesarannya. "Aku menawarkan sebuah kesepakatan. Lindungi Gandraka, didik dia bersamaku di bawah naungan Majapahit. Jika saatnya tiba dan anak ini berhasil membuka jagat netral tersebut tanpa menumpahkan darah tak berdosa... maka dosa masa lalu Klan Anggrek Hitam akan kuputihkan dari lembaran hukum kerajaan. Kalian akan mendapatkan kehidupan tenang yang kalian impikan."

​Ki Bagaskara terdiam lama. Ia menatap pedang kembarnya, lalu beralih menatap wajah Gandraka yang mulai kembali merona kemerahan di bawah pendar api. Tawaran dari seorang Mahapatih bukanlah sesuatu yang bisa ditolak atau diterima dengan mudah. Ini adalah sumpah yang akan mengikat hidup mereka selamanya.

​"Biarkan kami merawatnya hingga sembuh total dulu, Gusti Patih," ucap Ki Bagaskara akhirnya, sebuah jawaban yang diplomatis namun penuh rasa hormat. "Raga anak ini masih terlalu rapuh untuk memikirkan masa depan Nusantara."

​Gajah Mada mengangguk pelan. "Rawat dia. Kita punya waktu setidaknya beberapa hari di dalam kebekuan gua ini sebelum ilusi di luar sana menuntut jawaban dari kita."

​Sang Mahapatih kemudian melangkah pergi, kembali membaur dengan kegelapan gua untuk memeriksa barisan penjagaan Bhayangkara di mulut gua, meninggalkan sepasang suami istri itu dalam keheningan malam yang panjang, merenungi takdir baru yang baru saja diletakkan di atas pundak anak mereka.

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan sudut gua tersebut. Senopati Jayantaka berjalan cepat masuk ke dalam, didampingi oleh Ki Lurah Argapati. Tubuh kedua pria perkasa itu menggigil hebat; pakaian mereka basah oleh lelehan es, dan uap putih pekat keluar dari mulut mereka setiap kali bernapas.

​Tanpa membuang waktu, mereka langsung berlutut di dekat perapian kecil, menjulurkan telapak tangan yang kaku demi mengusir rasa beku yang nyaris melumpuhkan persendian.

​Melihat kondisi bawahannya yang tidak biasa, Patih Gajah Mada melangkah mendekat. Sorot matanya menajam. "Jayantaka, Argapati. Bagaimana situasi di luar? Apa yang kalian temukan?"

​Jayantaka menggosok kedua telapak tangannya dengan cepat sebelum mendongak menatap sang Mahapatih. Napasnya masih memburu, bukan hanya karena hawa dingin Chandra Pralaya, melainkan karena gelombang keterkejutan yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.

​"Gusti Patih..." Jayantaka menjeda kalimatnya, mencoba menata suaranya yang bergetar. "Hamba dan Ki Lurah baru saja menyisir perbatasan desa hingga menembus ke dalam jantung hutan selatan. Ada hal yang sangat janggal di sana."

​"Katakan," perintah Gajah Mada singkat namun tegas.

​"Di tengah kebekuan hutan, ada satu area luas yang sama sekali tidak disentuh oleh hujan salju. Di tempat itu, hawa udara justru terasa normal. Dan di sana... hamba melihat sebuah perkemahan militer yang sangat besar. Ada ratusan prajurit bersenjata lengkap yang sedang bersiaga dalam formasi tempur rahasia," lapor Jayantaka.

​Ki Lurah Argapati ikut mengangguk dengan wajah pucat. "Benar, Gusti Patih. Mereka sengaja bersembunyi di balik kabut tebal, mengintai desa kita dari kejauhan seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerjang."

​Gajah Mada mengkerutkan keningnya. Fakta bahwa ada pasukan misterius yang memiliki perlindungan dari badai salju ini menegaskan dugaannya bahwa fenomena alam ini digerakkan oleh dalang sekutu mereka. "Siapa pemimpin pasukan itu? Bendera klan mana yang mereka kibarkan?"

​Mendengar pertanyaan itu, Jayantaka mendadak terdiam. Lidahnya mendadak kelu, dan rahangnya mengatup rapat. Ada ketakutan dan keraguan yang luar biasa besar di matanya, membuat sang Senopati Bhayangkara yang biasanya gagah berani itu tampak tergugup.

​"Kenapa kau diam, Jayantaka? Bicaralah!" desak Gajah Mada, nadanya mulai meninggi.

​"Hamba... hamba hampir tidak mempercayai penglihatan hamba sendiri, Gusti Patih," bisik Jayantaka dengan suara yang tercekat di tenggorokan. "Di tenda utama perkemahan itu... hamba melihat sesosok pria yang sangat kita kenal dari masa lalu. Pria yang memimpin ratusan prajurit pemberontak itu... dia adalah... Ra Kuti."

​Deg!

​Kata-kata Jayantaka bagaikan petir di siang bolong yang menghantam dinding batu gua.

​Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, topeng ketenangan di wajah Patih Gajah Mada runtuh seketika. Mata sedalam samudera milik sang Mahapatih membelalak, menyiratkan keterkejutan yang teramat sangat. Tubuh tegapnya sempat menegang selama beberapa detik.

​Di sudut lain, Ki Bagaskara dan Nyai Lodra yang mendengar nama itu langsung menghentikan aktivitas mereka. Sebagai orang-orang yang hidup di era pergolakan Majapahit, nama Ra Kuti adalah simbol dari salah satu pemberontakan paling berdarah yang nyaris meruntuhkan takhta Jayanegara.

​"Kau pasti salah lihat, Jayantaka!" desis Gajah Mada, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berat. "Ra Kuti sudah tewas bertahun-tahun yang lalu dalam peristiwa Bedander. Aku sendiri... aku dengan tangan dan kerisku ini yang memastikan napasnya putus. Dan aku sendiri yang menyaksikan jasadnya dikubur di dalam tanah!"

​"Hamba berani bersumpah demi leluhur, Gusti Patih!" sahut Jayantaka penuh desakan, menatap lurus mata Gajah Mada. "Wajah itu, gurat rahang itu, dan aura pemberontak yang haus darah... hamba tidak mungkin melupakannya. Pria itu benar-benar Ra Kuti. Dia hidup kembali, Gusti!"

​Gajah Mada membalikkan badannya, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan bunyi gemertak. Pikirannya berputar cepat, berkejaran dengan nalar logisnya. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah membusuk di dalam liang kubur bisa kembali berdiri tegak dan membawa sepasukan prajurit?

​Seketika, Gajah Mada teringat akan ucapan Ki Bagaskara dan hawa beku misterius yang sedang mengurung mereka saat ini. Ilmu hitam. Hanya kekuatan sihir tingkat tinggi yang mampu mempermainkan batas antara hidup dan mati.

​"Rupanya..." Gajah Mada bergumam pelan, pandangannya beralih menatap raga Gandraka yang masih pingsan. "...musuh lama dari masa lalu sengaja dibangkitkan dari kuburnya hanya untuk merebut bocah ini. Badai yang sesungguhnya ternyata jauh lebih pekat dari yang kubayangkan."

1
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
hancurrrr leburrrkannn sudahhhhh.....
Semoli Ginon
waduh lawan makin berat nih kayanha
saniscara patriawuha.
ratakannnnn dannn salinggg hancurrrrkannnn......
Semoli Ginon
wah dua eyang rebutan
saniscara patriawuha.
sikatttty sudahhhh manggg jigurrr ojooo kendorrrr....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnn manggg jigurrrrrr....
Semoli Ginon
ayo balaskan dendam 👍
saniscara patriawuha.
gassssd manehhhhh manggg jigurrrr... ojo kondorrrrr....
saniscara patriawuha.
gassddd....
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap...🔥
Protocetus: jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
total 1 replies
Semoli Ginon
mantul. lanjut 👍
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
gassdd pollll manggg jigurrrr...
Semoli Ginon
lanjur bos 👍
saniscara patriawuha.
gassss pollllll
Semoli Ginon
mantap👍
saniscara patriawuha.
lqnjutttttt kannnn manggg jigurrrr....
🆓🇵🇸 Jenahara
up
Semoli Ginon
woke. 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!