Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: GERBANG KEHIDUPAN
Sembilan bulan telah berlalu seperti aliran sungai yang tenang namun menghanyutkan. Rumah di Menteng kini telah berdiri megah dengan warna putih gading yang bersih, seolah-olah seluruh noda hitam masa lalu telah diserap oleh cat-cat baru dan digantikan dengan doa-doa yang dipanjatkan setiap malam. Larasati duduk di kursi goyang di teras belakang, menatap pohon mangga yang kini sudah dipasangi ayunan kayu kecil oleh Baskara. Perutnya sudah sangat besar, membawa beban cinta yang selama ini ia idamkan.
Namun, ketenangan pagi itu terusik oleh rasa mulas yang tajam dan tiba-tiba. Larasati meremas sandaran kursi, mencoba mengatur napasnya seperti yang diajarkan di kelas senam hamil.
"Baskara..." panggilnya lirih.
Tak ada jawaban. Baskara sedang berada di lantai atas, memasang rak buku terakhir di kamar bayi. Larasati mencoba berdiri, namun sebuah sensasi hangat yang pecah di bawah kakinya membuatnya terpaku. Ketubannya pecah.
"Baskara!" kali ini suaranya lebih keras, diiringi rintihan rasa sakit yang mulai menjalar ke pinggangnya.
Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar menuruni tangga jati. Baskara muncul dengan wajah pucat, menjatuhkan palu yang dipegangnya begitu melihat genangan air di lantai dan ekspresi wajah Larasati.
"Sekarang, Laras? Tapi jadwalnya masih minggu depan!" Baskara panik, kepanikannya jauh lebih besar daripada saat ia menghadapi ancaman kebangkrutan perusahaan.
"Bayi ini... tidak mau menunggu jadwal kantormu, Baskara," ucap Larasati di sela ringisannya. "Bawa aku ke rumah sakit. Sekarang."
Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti keabadian. Jakarta sedang macet total karena hujan lebat yang mengguyur sejak subuh. Di kursi belakang mobil, Larasati berpegangan erat pada tangan Baskara. Keringat dingin mengucur di dahinya. Setiap guncangan mobil akibat jalan yang tidak rata terasa seperti belati yang mengiris perutnya.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi sampai," bisik Baskara, suaranya gemetar. Ia terus memerintah sopirnya untuk mencari jalan tikus.
Di tengah rasa sakit yang memuncak, pikiran Larasati melayang ke masa sepuluh tahun lalu. Ia ingat bagaimana ia menangis sendirian saat ayahnya meninggal, bagaimana ia merasa menjadi wanita paling kesepian di dunia saat harus berpura-pura menjadi istri kedua yang tunduk pada siasat. Namun sekarang, ia tidak sendirian. Ada tangan kokoh yang menggenggamnya, ada cinta yang nyata di sampingnya.
Sesampainya di rumah sakit, Larasati segera dilarikan ke ruang persalinan. Dokter dan perawat bergerak dengan sigap. Namun, ada komplikasi kecil. Posisi bayi sungsang dan detak jantungnya mulai melemah akibat stres selama perjalanan tadi.
"Kita harus melakukan tindakan darurat, Pak Baskara," ucap dokter dengan nada serius.
Baskara menatap Larasati yang mulai kehilangan kesadaran karena rasa sakit yang luar biasa. "Lakukan apa pun, Dok. Selamatkan mereka berdua. Saya mohon."
Baskara diizinkan menemani di dalam. Ia memakai baju operasi, berdiri di kepala Larasati, membisikkan kata-kata penguatan di telinga istrinya.
"Laras, dengar aku. Kamu adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal. Kamu sudah mengalahkan Kusuma, kamu sudah membangun kembali kejayaan Hardianto, dan sekarang... satu perjuangan lagi, Sayang. Demi anak kita."
Larasati membuka matanya sedikit, menatap mata Baskara yang basah. Di tengah kabut rasa sakit, ia melihat masa depannya. Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, mengikuti instruksi dokter dengan segenap jiwa yang ia miliki.
Satu dorongan terakhir, satu teriakan yang membelah keheningan ruang operasi, dan kemudian... sebuah suara tangisan yang melengking tinggi pecah memenuhi ruangan.
Suara itu adalah melodi paling indah yang pernah didengar Larasati. Seluruh rasa sakit, dendam, dan kelelahan selama sepuluh tahun seolah menguap begitu saja digantikan oleh rasa syukur yang meluap-luap.
"Laki-laki, Pak. Bayinya laki-laki dan sangat sehat," ucap perawat sambil membersihkan bayi kecil itu.
Baskara menangis terisak, ia mencium kening Larasati berkali-kali. "Terima kasih, Laras. Terima kasih sudah berjuang."
Saat bayi itu diletakkan di dada Larasati untuk inisiasi menyusu dini, Larasati merasakan kulit yang sangat halus dan hangat menempel di kulitnya. Bayi itu berhenti menangis begitu mendengar detak jantung ibunya. Mata kecilnya yang masih terpejam tampak begitu tenang.
"Siapa namanya?" tanya perawat lembut.
Larasati menatap Baskara. Mereka sudah menyiapkan nama ini sejak di desa Ngargoyoso dulu.
"Arya Baskara Hardianto," ucap Larasati dengan suara parau namun bangga. "Arya, yang berarti mulia. Agar dia selalu membawa kemuliaan bagi nama kedua kakeknya, tanpa harus mewarisi kesalahan mereka."
Malam harinya, ruang perawatan Larasati dipenuhi oleh karangan bunga. Aditama masuk dengan wajah ceria, membawa laporan berita bahwa saham Hardianto Group melonjak naik setelah berita kelahiran sang pewaris menyebar. Namun bagi Larasati, angka-angka itu sudah tidak relevan lagi.
Kejutan sesungguhnya datang saat jam besuk hampir berakhir. Seorang perawat masuk membawa sebuah keranjang buah yang sangat sederhana, jauh lebih sederhana dari karangan bunga mewah milik para pejabat.
Di dalam keranjang itu, ada sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang rapi.
"Selamat atas kelahiran Arya. Dari sini, aku mendoakan agar dia tumbuh menjadi pria yang lebih baik dari ayahnya dan kakeknya. - M."
Maya. Larasati tersenyum tipis. Maya tidak datang, tapi perhatian kecil itu menunjukkan bahwa proses penyembuhan jiwa memang nyata adanya.
Namun, bukan hanya Maya yang memberikan tanda. Aditama menunjukkan sebuah pesan singkat di ponselnya dari pengacara Adrian Wijaya.
"Adrian ingin menitipkan sesuatu, Laras. Dia bilang, di dalam selnya, dia tidak punya apa-apa untuk diberikan. Tapi dia memberikan hak asuh atas sebidang tanah kecil di pinggiran kota yang selama ini dia sembunyikan dari siapa pun. Dia ingin tanah itu dibangun taman bermain untuk Arya dan anak-anak lainnya di bawah naungan Yayasan."
Larasati meneteskan air mata. "Ternyata, kelahiran bayi ini benar-benar membawa perdamaian bagi banyak hati yang terluka, ya?"
Baskara mengangguk, ia duduk di pinggir tempat tidur sambil menggendong Arya yang sedang tertidur pulas. "Dia adalah jembatan terakhir kita, Laras. Jembatan yang menyatukan semua potongan hidup kita yang sempat berantakan."
Beberapa hari kemudian, Larasati diperbolehkan pulang. Mereka tidak kembali ke apartemen, melainkan ke rumah di Menteng. Saat mobil memasuki gerbang, Larasati melihat rumah itu dengan pandangan yang berbeda. Ini bukan lagi sekadar bangunan megah; ini adalah tempat perlindungan bagi sebuah nyawa baru.
Baskara menggendong Arya masuk melewati pintu utama. Larasati berjalan di sampingnya, merasakan angin sore yang sejuk bertiup di halaman.
"Selamat datang di rumah, Arya," bisik Larasati saat mereka sampai di kamar bayi.
Baskara meletakkan Arya di boks bayi kayu buatannya. Cahaya lampu tidur yang hangat menyinari wajah bayi itu. Di kamar itu, dikelilingi oleh lukisan pohon dan burung yang dibuat Baskara, Larasati merasa bahwa lingkaran kehidupannya telah sempurna.
Ia teringat kembali saat ia pertama kali setuju menjadi "Istri Kedua" sebagai bagian dari siasat untuk bertahan hidup. Saat itu, ia tidak pernah membayangkan akan sampai pada titik ini—memiliki suami yang mencintainya sepenuh hati dan seorang putra yang menjadi simbol kebangkitan keluarganya.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Baskara sambil merangkul bahu Larasati.
"Aku berpikir tentang betapa manisnya siasat Tuhan," jawab Larasati. "Dulu aku merasa hidupku hancur karena siasat manusia, tapi ternyata semua itu hanyalah jalan agar aku bisa berdiri di sini sekarang, bersamamu dan Arya."
Baskara mencium pelipis Larasati. "Dan sekarang, tidak ada lagi siasat. Hanya ada kenyataan. Dan kenyataan ini jauh lebih indah dari rencana mana pun yang pernah kita buat."