Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Kabar Axel
Pesawat yang menuju negara Jerman cukup memakan waktu panjang. Butuh waktu sekitar delapan belas jam lebih, Axel sudah biasa melakukan perjalanan Indonesia-Jerman karena memang keluarganya ada di Indonesia dan istri serta anaknya di Jerman.
Pernikahan enam tahun, kini sedang tidak baik-baik saja. Axel sendiri merasa istrinya kini berubah setelah bekerja di kantor pemerintah Jerman bagian pariwisata.
Pandangannya ke arah jendela, butuh dua jam lagi dia sampai di bandara Berlin. Dia mencoba memejamkan mata, sejak naik pesawat matanya belum bisa di pejamkan, dan kali ini Axel mencoba untuk tidur.
Baru beberapa menit matanya terpejam, seorang pramugari lewat dan memberikan makanan cemilan. Axel terbangun dan melihat pramugari meletakkan Snack serta susu di dasbor.
"Sorry mister."
"Oke, no problem. Thank you."
"Welcome mister."
Pramugari itu pun pergi menuju penumpang lain, Axel menggunakan kelas bisnis karena dia berharap bisa nyaman tidur di pesawat. Namun ternyata semakin mencoba untuk memejamkan mata, semakin tidak bisa tidur.
Sejak dia pulang ke Indonesia, istrinya tidak pernah menghubunginya lagi. Dan sejak dia pulang ke Indonesia juga sempat bertengkar.
Mungkin istrinya marah, dan dia juga sudah lelah dengan keadaan rumah tangganya itu. Pikirannya benar-benar penuh dengan kemelut rumah tangga, hingga akhirnya dia bisa terlelap juga meski hanya sebentar. Karena pesawat sebentar lagi mendarat.
_
Pukul sepuluh malam waktu Jerman, Axel sampai di apartemennya. Dia melihat anak laki-lakinya Billie sudah tertidur seperti biasa, Axel masuk ke dalam kamarnya tampak kosong.
Emely istrinya belum pulang dari pekerjaannya, dia akan pulang pukul sebelas malam seperti biasanya. Axel menarik napas panjang menatap sekeliling kamarnya, sedikit berbeda dari biasanya.
"Apakah Emely merubah suasana kamar ini? seperti berbeda dari biasanya," gumam Axel.
Tapi dia tidak peduli, langkahnya menuju ruang kecil di mana lemari pakaian berada di sana. Dia membuka pintu lemari, ingin meletakkan baju-baju yang sudah dia bongkar dari kopernya.
Sejenak dia diam menatap gantungan baju yang tidak rapat. Tangannya meraih baju-baju Emely, dia mencari beberapa baju yang biasanya dia gantung. Tapi tidak ada di sana, dia mencari baju-bajunya di lemari bagian lain. Dan ternyata memang baju-bajunya di simpan di sana.
Axel menarik napas panjang, dia benar-benar tidak mengerti kenapa Emely memindahkan semua bajunya. Apa maksudnya?
Axel pun keluar dari ruang walk in kloset, dia melangkah keluar dari kamarnya. Kembali menarik napas panjang, ternyata Emely ingin mengusirnya dari apartemennya sendiri?
Suara pintu terbuka, Axel menatap pintu terbuka dan muncul sosok istrinya. Emely tidak menyadari Axel berjalan mendekat setelah dari kamar.
"Emely," ucap Axel, Emely menoleh padanya dan sedikit kaget.
Perempuan berambut pirang itu menatap Axel balik tanpa ekspresi kaget. Tanpa bicara lagi Emely melangkah hendak masuk ke dalam kamarnya, namun Axel menarik tangannya.
"Emely, tunggu!" teriak Axel memegang tangan Emely.
Emely berhenti menarik napas kasar kemudian menoleh pada suaminya.
"Apa? Apa kamu sudah tahu kalau baju-bajumu itu sudah kupindahkan?" tanya Emely.
"Maksud kamu apa? Kamu mau mengusirku?" tanya Axel.
"Ya," jawab Emely singkat dan tegas.
"Emely, ini bisa di perbaiki. Kenapa kamu bertindak sesuka hati sendiri? Aku masih sabar menghadapimu selama ini, tapi tolong kita bicara dengan baik-baik." kata Axel.
"Bicara apa? Bukankah aku sudah bilang, aku ingin berpisah denganmu."
"Kenapa?" tanya Axel lagi.
Meski dia juga sempat punya keinginan untuk berpisah dengan Emely, tapi dia berpikir lagi bagaimana dengan Billie. Anaknya itu akan kehilangan dirinya karena jika nanti benar-benar berpisah dia akan pulang ke Indonesia dan tidak akan kembali lagi.
"Axel, bukankah kamu mengetahui aku sering jalan dengan Danish? Lalu, untuk apa aku harus menjelaskan lagi padamu," ucap Emely.
"Tidak, itu bisa kumaafkan. Aku hanya ingin Billie memiliki keluarga yang utuh, kita bisa perbaiki. Aku bisa memaafkanmu," kata Axel lagi.
Emely masih diam menatap Axel lalu kembali menarik napas panjang. Tangan Axel di lepasnya pelan lalu menatap lagi laki-laki itu.
"Axel, aku sudah pernah mengenalkan Billie pada Danish. Dia menyukainya, begitu juga dengan Danish. Jika kamu pergi, Billie tidak akan kesepian atau kehilangan papanya karena ada Danish," kata Emely yang cukup membuat Axel terdiam dan hatinya perih.
Kenapa Emely sangat tega padanya, dia sudah selingkuh dan sekarang mengakuinya. Bahkan dia ingin meninggalkannya? Dan Billie?
Anak laki-laki itu tentu saja akan terkejut, tapi kenapa Emely sangat ingin berpisah dengannya?
Axel menunduk lemas, Emely masih berdiri di depannya dengan tatapan tak bersalah itu.
"Maafkan aku Axel, aku sudah memikirkan semuanya. Tentang kebaikan hubungan rumah tangga kita ini, tapi aku sangat mencintai Danish. Dia, menurutku sangat sempurna. Kita bercerai saja, aku sudah memikirkan kalau hartamu tidak aku minta. Mungkin kamu hanya memberikan pada Billie saja." kata Emely lagi.
Axel masih diam, dia berbalik dan melangkah menuju sofa. Duduk di sana dengan lunglai, sungguh dia tidak menyangka kalau Emely ternyata sudah tak lagi mencintainya.
"Ini benar-benar membuatku syok, kupikir ini akan bisa di perbaiki. Tapi ternyata dia ingin berpisah denganku."
_
_
*****