NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:958
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Ruby mengerjap, menatap Kimi yang tiba-tiba mengacungkan sebuah anting di depan wajahnya. Ia belum sempat duduk nyaman, tapi Kimi sudah menatapnya seolah baru menemukan barang bukti kasus kriminal.

"Tebak punya siapa?" tanya kimi penuh gaya.

Ruby menatap sekilas. "Entah. Tapi kayak pernah liat."

Kimi menghela napas dramatis. "Uby, aku tuh takut salah paham, tapi kamu pernah liat Bu Salma pakai ini gak?"

Ruby mengerutkan kening, mencoba mengingat, lalu menggeleng pelan, Ia bukan tipe orang yang memperhatikan aksesori orang lain, bahkan antingnya sendiri saja sering lupa dipakai.

"Duh, By.." desah Kimi kecewa, "Aku kira kamu bakal bantuin nyari kebenaran, bukan ngerusak semangat penyelidikan,"

"Apa sih? Coba deh pakai waktu lo buat hal yang lebih berguna. Misalnya olahraga, belajar, atau minimal tidur." Ruby melipat tangan, jelas sudah lelah dengan drama mendadak Kimi.

Kimi langsung manyun, bibirnya maju tiga senti. "Aku cuma pengen tau, apa yang kulihat tadi malam itu beneran Bu Salma atau bukan. Soalnya suaranya tuh mirip banget, "

Ruby mengangkat alis. "Suara apa?"

"Kamu penasaran juga kan? Suaranya tuh kayak gini, 'ahh... iya.. di situ, Jul'-"

Ruby refleks menutup mulut Kimi. Cara Kimi menirukan suaranya benar-benar totalitas. Bahkan Ruby merinding bukan karena takut, tapi karena aktingnya terlalu meyakinkan.

"Tunggu. Jul?" Ruby mengernyit. "Maksud lo Juli?"

Kimi mengangguk polos. "Iya. Sebelum dikejar pak Budiman, aku liat mereka di ruang rahasia. Bu Salma jambak rambut Juli sambil mendesah kayak gini-"

"Oke, stop!" Ruby langsung menyela. "Gw gak mau denger lagi."

Ia menatap Kimi lama, lalu mengambil napas panjang. "Kim, denger ya. kalau lo beneran liat, pura- pura aja gak liat. Dunia bakal lebih damai kalau lo gak ngomongin itu,"

"Aku gak ada niat buat nyebarin kok, tapi kan berarti Juli juga... anu ya? Maksudnya, sama kayak kamu. Padahal setau aku dia biasa aja tuh ke yang lain."

"Itu urusan dia. Mungkin aja dia cuma suka sama satu cewek,"

kimi menatapnya serius. "Emang bisa kayak gitu? Suka sama satu cewek doang, terus ke yang lain biasa aja?"

Ruby mengangguk. "Bisa,"

"kalau kamu gimana?"

"Aku terbuka. Tapi kalau punya pasangan, aku cuma setia sama dia."

Kimi terdiam. Ada jeda canggung sebelum akhirnya ia bergumam pelan, "Beruntung banget si Anela."

Ruby menoleh. "Lo ngomong apa?" padahal dia dengar.

Kimi menggeleng pelan, ekspresinya mendadak lembek. Berarti sekeras apa pun aku berusaha, dia gak bakal lihat aku, batinnya. Ia menatap Ruby dalam-dalam, lalu berkata dramatis, "Uby, aku harus gimana?"

Ruby bingung. "Gimana apanya?"

Kimi memegangi dadanya dengan gaya penderitaan maksimal. "Dadaku sesak,"

"Kenapa lagi?"

"Kasih napas buatan dong, By. Ini darurat."

Ruby menatapnya datar. "Ke klinik aja. Minta ventilator."

"Gak mau. Maunya yang alami."

"Alami?"

Kimi mulai mendekat, tapi Ruby malah mundur, sampai punggungnya menabrak kasur.

"Kim, jangan aneh-aneh," kata Ruby sambil menahan bahu kimi.

"Aneh apa? Aku cuma sesak."

Ruby berdecak kesal, akhirnya ia memutuskan untuk balas iseng. Bahu Kimi yang tadi ia tahan justru ia tarik balik. Seketika Kimi kehilangan keseimbangan dan nyungsep, wajahnya menabrak wajah Ruby. Bibir mereka menempel sekilas, karena Ruby langsung mendorong bahunya sedikit.

Mereka sama-sama membeku. Tapi berbeda dengan ekspresi Kimi yang syok, Ruby justru tetap tenang.

Eh? Yang barusan itu apaan? batin Kimi syok.

Kini bibir mereka nyaris tanpa jarak, napas saling bertubrukan, Mata kimi membelalak, bibirnya terkunci, tubuhnya kaku seolah tak lagi dikuasai otak.

"Sekarang gimana? Masih sesak?" bisik Ruby pelan.

Kimi makin gemetaran, Setiap kali Ruby bicara, ujung bibirnya menyentuh bibir Kimi. Panik? Sudah pasti.Jantungnya berdetak brutal, seperti mau keluar lewat tenggorokan.

Padahal tadi niatnya cuma mau ganggu, kenapa malah jadi begini?

Ruby akhirnya mendorong bahu Kimi hingga kembali duduk tegak.

"Nunggu apaan? kabur sana. Biasanya juga gitu kan?" ucapnya santai, meski nadanya terdengar mengejek.

Kimi, dengan gerakan kaku mirip robot, langsung berdiri dan berlari keluar tanpa sepatah kata pun. Begitu sampai di kamar, ia menjatuhkan diri ke kasur, wajahnya tenggelam di bantal.

Beberapa detik kemudian, bantal itu melayang ke lantai. Kimi memegangi dadanya yang berdebar kacau. "Bego. Harusnya tadi aku sosor aja ya, Uby juga gak bakal marah. Yakin deh. Tapi kok aku malah ngeri. Aku kan gak pernah nyosor orang," gumamnya frustrasi.

Rasanya... aneh. Bukan takut sih, bukan juga malu. Lebih ke... Apa ya? Ya ampun, kenapa Kimi malah ingin tahu lebih banyak? Walaupun tadi bibir mereka sempat tabrakan sekilas, tapi tempelan begitu sih bukan termasuk ciuman.

Kimi menyentuh bibirnya, lalu menelan ludah. Sentuhan tadi saja sudah cukup membuat badannya lemas seketika. Ia menutup mata, pingsan dalam pikirannya sendiri.

Sementara itu di kamar sebelah, Ruby duduk menunduk sambil menutupi wajah dengan telapak tangan, ketika dilepas, pipinya masih merah dan napasnya belum stabil.

Niatnya hanya balas menggoda, tapi kenapa malah dia yang kebakaran? Hampir saja tadi dia yang nyosor duluan, kalau saja tak ingat kimi itu.. yah, lurus se-lurus-lurusnya.

"Bisa trauma anak orang kalau gw lanjut," gumam Ruby sambil menggigit kuku, mencoba mengalihkan pikiran.

Tok, Tok. Tok.

Pintu terbuka, dan Anela muncul dengan senyum lembut seperti biasa.

"Ru, aku udah kelar baca novelnya."

Langkah Anela terhenti begitu melihat wajah Ruby. Ia buru-buru menunduk, lalu menyentuh dahi Ruby. "Kamu kenapa? Demam? Tapi gak panas."

Ruby menepis pelan, "Enggak. Cuma... gerah aja."

Anela mengerutkan kening, tapi mengangguk. Memang ada bulir keringat kecil di pelipis Ruby.

"Mau minuman dingin? Aku ambil di dapur ya."

Ruby menggeleng cepat. "Nanti aja, mungkin aku mandi dulu"

Anela tersenyum kecil, lalu pandangannya tertuju ke karpet dekat kaki Ruby. Ia membungkuk, mengambil sesuatu yang berkilat.

"Ini kayak antingnya Bu Salma. kok bisa ada di sini, Ru?" tanyanya heran.

Ruby mengernyit. "Beneran punya Ibu Salma?"

"Iya. Aku pernah liat dia pakai ini beberapa kali, tapi belakangan gak pernah lagi. Mungkin karena ilang satu kali ya."

Ruby terdiam, seperti memikirkan sesuatu yang sudah cukup lama ia simpan.

"Ru?"

Ruby menoleh cepat. "Oh, iya. Biar aku simpen dulu, nanti aku balikin."

"Biar aku aja. Bu Salma ngajar di kelasku, sekalian aku kasih langsung," kata Anela santai sambil ber jalan ke meja.

"Tapi-"

"Udah, gak apa-apa. Aku aja." Anela menaruh anting itu di saku rok, lalu menatap tumpukan buku di meja Ruby. "Oya, ada buku lain gak? Aku mau baca lagi."

Ruby mendengus. "Gak ada. Cari sendiri di perpus."

"Kamu kan tau aku susah milih buku yang bagus." Ia mulai membongkar tumpukan buku di meja Ruby. "Kenapa semua buku kamu isinya begini sih? Motivasi, bisnis, pemasaran, inovasi. Ya ampun, Ru, apa enaknya baca beginian? "

Ruby terkekeh pelan, membiarkan Anela merengut sambil membolak-balik halaman dengan ekspresi tersiksa. Sementara dirinya kembali menatap buku di tangan, pura-pura fokus, meski pikirannya melayang entah ke mana.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!