WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 Circle High-Class vs Si Mungil Penarik Atensi
...🌹🌹🌹...
Hari Sabtu di penthouse Arkeas biasanya sunyi senyap kayak kuburan estetik. Tapi hari ini, suasana berubah total. Arkeas kedatangan tamu—tiga orang sahabatnya sejak zaman kuliah yang sekarang sudah jadi raksasa di industri kreatif.
Zolla, yang biasanya cuma pakai kaos kebesaran Arkeas (yang baunya bikin candu itu), hari ini dipaksa dandan sedikit lebih rapi.
"Zol, dengerin. Teman-teman saya mau datang buat bahas kolaborasi brand parfum terbaru. Jangan ada adegan jatuh, tumpahin kopi, atau teriak-teriak nggak jelas. Paham?" Arkeas memperingatkan sambil memperbaiki letak jam tangan Rolex-nya.
Zolla mengangguk patuh, meski dalam hati dia pengen rolling eyes. "Paham, Tuan Bos yang Paling Sempurna. Saya bakal jadi asisten yang paling kalem sedunia. Kayak ubin masjid, dingin dan menenangkan."
Arkeas menatap Zolla cukup lama. Hari ini Zolla memakai sweater rajut warna krem yang pas di badannya, dipadukan dengan celana kulot. Rambutnya dikuncir kuda, menyisakan anak rambut yang membingkai wajah polosnya.
Dia... manis banget kalau nggak banyak tingkah, batin Arkeas. Tapi sedetik kemudian dia berdehem keras. "Bagus. Sana siapkan camilan. Jangan yang murahan."
...🌹🌹🌹...
Tak lama kemudian, bel berbunyi. Masuklah tiga pria yang kalau jalan bareng bisa dikira grup boyband baru.
Ada Davi (fotografer fashion yang auranya playboy abis), Genta (pemilik agensi model yang gayanya sangat preppy), dan Raka (arsitek muda yang pendiam tapi tatapannya tajam).
"Woi, Keas! Duda keren kita makin glowing aja ya sejak punya anak," Davi langsung memeluk Arkeas sambil tertawa.
Mereka duduk di sofa ruang tengah. Zolla keluar dari dapur membawa nampan berisi kopi dan croissant mahal. Saat Zolla meletakkan cangkir-cangkir itu, mendadak suasana hening. Tiga pasang mata tamu itu tertuju pada Zolla.
"Eh, Keas... ini siapa? Model baru lo? Kok cute banget?" tanya Davi dengan mata berbinar.
Arkeas yang lagi menyesap kopinya mendadak tersedak. "Bukan. Dia... pembantu saya. Sekaligus nanny-nya Alisya."
"Pembantu?" Genta menaikkan alisnya, menatap Zolla dari atas sampai bawah dengan tatapan mengagumi. "Masa pembantu begini bentukannya? Ini sih kalau dipoles dikit bisa jadi face of brand parfum lo, Keas. Wajahnya innocent banget, tipe-tipe Gen Z crush."
Zolla yang dipuji begitu langsung merasa pipinya panas. "E-eh, makasih Kak... eh, Tuan-Tuan."
"Panggil Davi aja, Manis," Davi mengedipkan mata ke arah Zolla. "Nama kamu siapa?"
"Zolla, Kak."
"Zolla? Wah, unik. Zolla, kamu kalau bosen kerja sama si es batu ini, pindah ke studio gue aja ya? Jadi asisten fotografer gue juga boleh, atau jadi modelnya langsung malah lebih bagus," goda Davi sambil tersenyum lebar.
Arkeas mengepalkan tangannya di bawah meja. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya yang bukan berasal dari kopi. "Davi, fokus ke agenda. Kita ke sini mau bahas kontrak, bukan mau casting asisten gue."
...🌹🌹🌹...
Selama diskusi berlangsung, Zolla sesekali keluar masuk untuk mengecek Alisya atau membawakan air mineral tambahan. Setiap kali Zolla lewat, Davi atau Genta pasti mencoba mengajaknya bicara.
"Zol, tingginya berapa? Seratus lima puluh ya? Mungil banget, gemas," celetuk Genta saat Zolla mengambil piring kosong.
Zolla nyengir. "Seratus lima puluh lima ya, Kak! Jangan dikurang-kurangin!"
Mereka tertawa, kecuali Arkeas. Arkeas merasa dunianya sedang diinvasi. Dia benci melihat Zolla tertawa serenyah itu pada pria lain. Biasanya kan Zolla cuma tertawa kalau habis ngeledek dia atau pas lagi main sama Alisya.
"Zollana! Alisya nangis itu di dalam, urusin!" bentak Arkeas tiba-kira, padahal Alisya di kamarnya tenang-tenang saja sedang tidur siang.
Zolla kaget. "Hah? Perasaan tadi anteng—"
"Masuk sekarang!" suara Arkeas meninggi, membuat teman-temannya saling lirik penuh arti.
Setelah Zolla masuk ke kamar bayi, Davi menyenggol bahu Arkeas. "Santai dong, Keas. Galak amat sama si mungil. Lo takut dia ditikung ya?"
"Nggak masuk akal," Arkeas membela diri dengan wajah datar andalannya. "Dia itu ceroboh. Saya cuma nggak mau dia ganggu konsentrasi kita dengan tingkah konyolnya."
"Masa?" Raka, yang sedari tadi diam, akhirnya bicara. "Tapi mata lo nggak bisa bohong, Keas. Lo ngeliatin dia kayak singa yang lagi jaga wilayahnya."
Arkeas terdiam. Dia merasa tertangkap basah. Dia langsung mengalihkan pembicaraan kembali ke urusan bisnis, tapi pikirannya sudah terbang ke kamar bayi.
...🌹🌹🌹...
Setelah tamu-tamu itu pulang sore harinya, Arkeas mendapati Zolla sedang duduk di balkon sambil menatap matahari terbenam, menggendong Alisya.
Arkeas mendekat, tapi dia menjaga jarak dua meter sesuai aturan konyol yang dia buat sendiri.
"Senang dipuji pria-pria tadi?" tanya Arkeas ketus, bersandar di pintu geser balkon.
Zolla menoleh, wajahnya terlihat lelah tapi ada sisa senyum di bibirnya. "Ya senanglah, Tuan. Ternyata ada juga yang nganggap saya cantik dan berpotensi jadi model, bukan cuma dianggap asisten pembawa sial yang hobi mecahin barang."
Arkeas mendengus. "Mereka itu cuma mau godain kamu. Jangan baper. Davi itu red flag tingkat dewa. Genta juga cuma mau manfaatin wajah polos kamu buat kepentingan bisnisnya."
Zolla berdiri, menghampiri Arkeas sampai jarak mereka hanya satu meter. "Tuan Arkeas... Tuan cemburu ya?"
"Cemburu? Sama kamu?" Arkeas tertawa sinis, meski jantungnya mulai remix nggak karuan. "Jangan halu, Zolla. Saya cuma menjaga aset saya. Kamu itu masih punya hutang banyak sama saya. Saya nggak mau kamu terpengaruh orang lain terus kabur sebelum hutang kamu lunas."
Zolla menatap mata tajam Arkeas. "Ooo... jadi saya cuma 'aset' ya? Oke."
Zolla hendak melewati Arkeas untuk masuk ke dalam, tapi tangannya ditarik oleh Arkeas. Karena Zolla sedang menggendong Alisya, tarikan itu membuat posisi mereka sangat dekat dan canggung.
"Zol," suara Arkeas merendah, sangat dekat dengan telinga Zolla. "Mulai besok, jangan dandan rapi kalau ada tamu pria di sini. Pakai kaos saya yang kegedean itu aja. Paham?"
Zolla tertegun. "Loh, kenapa? Tadi katanya disuruh rapi?"
"Karena saya nggak suka cara mereka natap kamu," bisik Arkeas jujur untuk sepersekian detik, sebelum gengsinya kembali menendang. "Maksud saya... itu bakal ngerusak fokus meeting saya. Udah sana, masakin saya makan malam. Saya lapar."
Arkeas melepas tangan Zolla dan berjalan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Zolla yang mematung dengan jantung yang mau copot.
"Gila... ini duda kalau lagi cemburu kok malah makin bikin baper parah ya?" bisik Zolla pada Alisya.
Alisya hanya tertawa kecil, seolah setuju kalau Papanya memang sudah mulai "kena mental" gara-gara si asisten mungil.
...
(Bersambung ke Episode 6...)