Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Kantor
Lantai divisi pemasaran digital pagi itu mendadak riuh, seolah-olah seluruh staf telah sepakat untuk menunda pengolahan data kampanye demi menyambut kepulangan sang sekretaris andalan. Aiena melangkah masuk dengan napas sedikit terengah, tangannya terbebani oleh dua tas kanvas besar yang tampak penuh sesak. Aroma wangi pewarna pakaian dari kain pantai baru dari salah satu tas menguar menyapa indera penciuman setiap orang yang ada di ruangan.
Belum juga Aiena sempat meletakkan tasnya di atas meja, Ayu sudah meluncur dengan kursi rodanya, memotong jalan dengan presisi dan berhenti tepat di depan Aiena. Matanya berkilat-kilat, memindai penampilan Aiena dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Selamat datang kembali, Calon Nyonya Besar!” seru Ayu dengan suara yang cukup keras hingga membuat beberapa kepala menoleh. Ia segera mengambil alih salah satu tas kanvas itu. “Wah, berat juga. Ini isinya suap untuk kami biar nggak bocor soal kamu yang cuti di masa-masa sibuk, ya?”
Aiena terkekeh sambil menyeka keringat tipis di dahi. “Itu oleh-oleh buat kalian. Ada pie susu sama kain pantai juga. Masing-masing satu kotak pie susu, satu kain pantai. Khusus buat Ayu dobel deh, karena udah nge-back up kerjaanku.”
Rekan-rekan lain mulai berdatangan, mengerumuni meja Aiena layaknya semut yang menemukan tumpahan gula. Namun, Ayu memiliki agenda lain yang jauh lebih mendesak daripada sekadar oleh-oleh. Ia menarik lengan Aiena yang sedang membagikan kain pantai sedikit menjauh dari kerumunan, membawa gadis itu ke sudut ruangan, dekat jendela.
“Na, ada yang lebih penting,” bisik Ayu dengan nada yang sangat serius namun penuh selidik. “Ceritain dong. Gimana perjalanan kalian? Lancar semuanya?”
“Lancar, Yu. Cuaca di Bali lagi bagus, nggak hujan sama sekali, tim fotografernya juga profesional,” jawab Aiena lugas, mencoba tetap berada di jalur pembicaraan yang normal.
Ayu memutar bola matanya, tampak tidak puas dengan jawaban normatif tersebut. “Bukan soal fotonya, Na. Aku tanya soal... performanya. Kamu tahu kan, Bali, resort mewah, matahari terbenam, suasana romantis... Nah, gimaa performa Pak Shane sebagai pimpinan di luar kantor?”
Aiena mengerutkan kening, tampak bingung dengan pilihan kata temannya. “Performa? Dia sangat perhatian, sangat teratur. Dia yang urus semua jadwal makan dan transportasi. Bisa ikutin arahan fotografer dengan baik juga.”
Ayu menghembuskan napas frustasi, lalu memberikan kode dengan kedua tangannya dan meletakkannya tepat di depan wajah Aiena, sambil menaik-turunkan alisnya secara provokatif. Kode universal untuk aktivitas di atas ranjang.
Seketika, wajah Aiena berubah merah padam. Ia tersentak mundur satu langkah, hampir menabrak kubikel belakangnya. “Ayu! Apa-apaan sih?”
“Ya ampun, Na, kalian kan sudah tunangan! Wajar saja kalau ada pemanasan sedikit sebelum malam pertama yang sesungguhnya,” goda Ayu sambil menyenggol bahu Aiena dengan nakal.
Aiena menggelengkan kepala dengan cepat, tangannya bergerak secara defensif. “Nggak ada, Yu. Sama sekali nggak seperti yang kamu pikir. Pak Shane pesan dua kamar terpisah di hotel. Kita tidur masing-masing.”
Kini ganti Ayu yang ternganga. “Hah? Serius? Pak Shane, di Bali, dan dia pesan kamar terpisah? Dia nggak berusaha menyelinap atau apa?”
“Sama sekali nggak,” tegas Aiena, suaranya kini terdengar lebih mantap dan penuh rasa bangga. “Pak Shane sangat menjaga batas. Dia bilang dia menghormatiku dan ingin menyimpan momen itu sampai hari pernikahan kami nanti. Dia malah menolak instruksi fotografer buat adegan ciuman bibir di sesi sunset.”
Ayu terdiam sejenak, menatap Aiena dengan tatapan yang kini berubah menjadi kekaguman yang tulus. Ia bersedekap, lalu mengangguk-angguk pelan. “Oke, aku tarik kembali kata-kataku. Pak Shane ternyata bukan cuma bos yang hebat, tapi pria sejati yang langka. Kamu benar-benar beruntung, Na. Cowok zaman sekarang mana ada yang mau nahan diri kalau sudah dikasih kesempatan di depan mata.”
Aiena tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. “Iya, Yu. Itulah yang bikin aku yakin sama dia.”
Ayu kembali ke mode cerianya, berjalan kembali ke meja Aiena dan menyambar kotak pie susu dari tas kanvas. Mulai membagikannya kepada teman-teman yang lain. “Ayo semuanya, makan! Ini pie susu dari calon pengantin yang dijaga kesuciannya oleh pangeran berkuda hitam kita!”
Aiena hanya bisa menutup wajahnya dengan telapak tangan, pasrah menjadi bahan pembicaraan, namun di dalam hati, ia merasa bahagia sekaligus bangga dengan keputusan Shane untuk menjaga kesucian hubungan mereka sebelum melangkah ke altar nanti.
***
Aroma truffle dan rempah khas kuliner kelas atas memenuhi ruangan kerja Shane yang luas saat kotak makanan dari katering premium itu dibuka. Di dalamnya, tersaji hidangan beef Australia dengan potongan presisi dan sayuran organik yang ditata estetik.
Shane melepas jasnya dan duduk di hadapan Aiena. Lengan kemejanya ia gulung agar tidak terkena cipratan saus atau kemungkinan kotor lainnya.
“Aku tahu kamu banyak kerjaan numpuk. Makanya aku pesan buat kamu juga,” ujar Shane sambil memberikan sebotol air mineral ke tunangannya.
Aiena duduk, menyesuaikan posisi rok kerjanya “Terima kasih, Shane. Padahal aku baru mau ngakak Ayu makan bakso ke depan kantor.”
Shane terkekeh pelan, mulai memotong dagingnya dengan elegan. “Ya besok aja makan baksonya.”
Keduanya makan dengan tenang selama beberapa saat hingga Shane teringat sesuatu. Ia meletakkan garpunya sejenak, menatap Aiena dengan raut yang sedikit lebih serius. “Nanti malam, aku ada janji temu sama Sean. Kamu ingat dia, kan? Yang waktu itu makan steak sama kita.”
Aiena mengangguk perlahan. Jelas Aiena ingat. Sean yang membuatnya merasa iba saat itu. Sean yang Aiena kira terjebak dalam hubungan yang hampir sama dengan hubungannya bersama Haze.
“Iya, aku ingat. Dimana? Jam berapa?”
“Jam enam, di restoran seberang. Nanti juga ada Pak Beo, perwakilan dari perusahaan calon customer potensial. Ini proyek besar, Na. Penting buat ekspansi perusahaan di tahun depan.” Shane menjeda kalimatnya, memberikan tatapan yang lembut namun memberi ruang kebebasan. “Kalau kamu capek, kamu pulang aja. Pakai mobilku, nanti aku yang pulang naik taksi.”
Aiena terdiam sejenak, menyuap potongan kecil dagingnya sambil menimbang tawaran tersebut. Ia melihat gurat lelah yang samar di mata Shane, namun juga ada ambisi yang sehat di sana.
“Aku ikut, Shane. Nggak apa-apa,” jawab Aiena akhirnya, suaranya terdengar mantap.
Shane sedikit menaikkan alisnya, tampak sedikit terkejut namun jelas terlihat lega. “Kamu yakin? Mungkin bakal lama, sampai malam.”
Aiena meletakkan alat makannya, lalu menatap Shane dengan senyum yang tulus, memperlihatkan lesung pipinya yang manis. “Shane, sebagai calon istri, aku memang perlu biasain diri dampingi di acara-acara begini, kan? Aku nggak bisa terus-terusan sembunyi di balik layar. Aku harus mulai belajar menempatkan diri di sampingmu nanti.”
Shane tertegun sejenak, lalu sebuah senyum bangga merekah di wajahnya. Ia meraih tangan Aiena di atas meja, mengusap ibu jarinya di atas punggung tangan gadis itu yang kuku-kukunya masih dihiasi nail art cantik. “Aku nggak nyangka kamu bakal jawab begitu. Itu jawaban paling manis yang pernah aku dengar, Na.”
“Aku serius, Shane. Aku mau jadi partner yang sepadan buat kamu, bukan sekadar karyawan yang perlu fasilitas kantor antar jemput aja,” goda Aiena, membuat Shane tertawa lepas.
“Baiklah, Nyonya Besar. Kalau begitu, setelah jam kantor selesai, kita istirahat dulu sebentar disini. Jam enam kurang baru kita nyebrang,” ujar Shane dengan nada protektif yang tidak hilang.
Aiena mengangguk, merasakan debaran halus di dadanya. Mendampingi Shane dalam pertemuan dengan rekan bisnis adalah langkah besar lainnya menuju pernikahan mereka yang tinggal dua bulan lagi. Meski Aiena pernah dibawa Shane saat bertemu Sean sebelumnya, namun tentu kali ini akan berbeda karena status baru mereka. Kini ia datang sebagai calon istri Shane, bukan lagi karyawan atau perwakilan divisi pemasaran digital.
Sambil melanjutkan makan siang premium itu, Aiena mulai menyusun narasi di kepalanya tentang bagaimana ia akan membawa diri nanti malam, memastikan bahwa ia akan menjadi kebanggaan bagi pria yang telah mempertaruhkan banyak hal untuk menjaganya itu.
***