Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bridal Suite
Rangkaian acara hari itu akhirnya terlewati. Semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala. Kini Shane dan Aiena dapat bernapas lega. Sudah tidak ada lagi beban pikiran yang memberatkan.
Keduanya berjalan bergandengan menyusuri lorong hotel menuju kamar mereka. Kamar pengantin yang telah dihias dan disiapkan spesial untuk malam pertama mereka.
Shane berhenti di depan pintu kamar yang dihias dengan pita merah. Tangannya merogoh saku jas, mengambil kartu akses yang sedari tadi disimpannya disana. Menempelkannya pada sensor di bawah gagang pintu.
Bunyi klik pelan dari sistem kunci digital langsung disusul oleh helaan napas lega yang panjang saat daun pintu itu berayun terbuka. Shane melangkah masuk terlebih dahulu, menahan pintu dengan sikunya agar Aiena, yang masih sedikit kesulitan karena gaun pengantinnya, bisa masuk dengan nyaman ke dalam bridal suite.
Begitu lampu-lampu kamar menyala secara otomatis dengan pendar temaram yang romantis, pandangan Aiena langsung tertuju pada hamparan kelopak mawar merah yang ditaburkan ke atas karpet dan membentuk motif hati di atas ranjang king size.
Wangi aromaterapi melati dan mawar berbaur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang seketika membuat dada Aiena berdesir hebat. Warna kelopak mawar itu tampak sangat senada dengan buket bunga mawar merah besar yang sejak acara resepsi tadi terus berada dalam genggamannya.
Di belakang punggung Shane, pintu tertutup rapat, mengunci otomatis. Kamar itu kini hanya milik mereka berdua.
Shane berbalik, menatap Aiena yang masih berdiri agak kaku di dekat meja konsol. Tanpa suara, Shane melangkah mendekat. Sepatu pantofelnya tidak bersuara di atas karpet tebal. Ia mengulurkan tangan, perlahan mengambil alih buket bunga mawar merah dari pelukan Aiena, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kayu di samping mereka.
"Akhirnya, kita cuma berdua," bisik Shane, suaranya terdengar lebih berat dan dalam daripada biasanya.
Sebelum Aiena sempat membalas, sepasang lengan kokoh Shane sudah melingkar sempurna di pinggangnya. Pria itu menarik tubuh Aiena ke dalam dekapan yang erat, menyandarkan dagunya di puncak kepala sang istri.
Aiena memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma familiar dari tubuh Shane yang selalu berhasil menjadi penenang terbaiknya.
"Shane, gaunku nanti kusut," gumam Aiena pelan, meskipun tangannya justru bergerak naik untuk membalas pelukan itu, meremas kain kemeja hitam Shane yang sudah tidak tertutup jas tuxedo.
Shane terkekeh, getaran di dadanya terasa langsung di pipi Aiena. "Kalau begitu, mau dibantu buka, Nyonya Besar?"
Pria itu merenggangkan sedikit pelukannya, hanya cukup untuk membuat mereka bisa saling bertatapan. Ibu jari Shane bergerak lembut, mengusap pipi Aiena yang perlahan mulai merona merah padam.
"Shane! Aku mau mandi dulu." Aiena menunduk, menyembunyikan senyum malunya di dada Shane. Jemarinya yang dihiasi nail art mutiara yang cantik kini memainkan salah satu kancing kemeja Shane.
"Mandi bareng aja…"
"Nggak, Shane. Aku bisa mandi sendiri," sahut Aiena cepat. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Shane dan berjalan tergesa masuk ke kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang. Rasanya gugup sekali.
***
Aiena duduk di tepi ranjang yang masih dihias kelopak mawar merah yang bergeser, tidak lagi membentuk hati. Dadanya berdegup dengan ritme yang tak beraturan. Sanggul modern yang mengikat kepalanya sejak subuh tadi kini sudah dilepas, membiarkan rambut panjangnya tergerai lurus setelah disisir rapi.
Dari arah kamar mandi, suara gemericik air yang mengalir dari shower mendadak berhenti. Keheningan yang menyusul setelahnya justru terasa beberapa kali lipat lebih menegangkan bagi Aiena.
Pintu kamar mandi terbuka perlahan dan tertutup kembali. Shane melangkah keluar dengan rambut hitamnya yang masih basah dan berantakan. Ia hanya mengenakan celana piyama panjang berwarna hitam, membiarkan dada bidangnya yang berotot terbuka tanpa sehelai benang pun, memperlihatkan sisa-sisa titik air yang belum sempat dikeringkan dengan sempurna oleh handuk yang kini tersampir di pundak.
Aiena menelan ludah dengan susah payah, refleks mengalihkan pandangannya ke arah taburan kelopak mawar di atas karpet. Gugup setengah mati adalah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan kondisinya saat ini.
Shane menyadari ketegangan itu. Ia mengeringkan rambutnya sekilas dengan handuk sebelum meletakkannya di atas kursi terdekat, lalu melangkah perlahan menuju ranjang.
"Na, kamu tegang banget. Kayak lagi nunggu hasil sidang skripsi," goda Shane.
Pria itu naik ke atas ranjang, menggeser tubuhnya hingga duduk tepat di samping Aiena. Kehangatan yang memancar dari tubuh Shane yang baru selesai mandi seketika mengalir ke kulit Aiena, membuat bulu kuduknya meremang halus.
Dalam kepungan rasa gugup yang hebat itu, sebuah kilasan memori mendadak melintas di benak Aiena. Ingatannya terseret mundur ke Bali beberapa tahun lalu, ke sebuah kamar hotel murah saat study tour SMA bersama Haze. Detik itu, Aiena tersadar akan sesuatu yang sangat mendalam: rasanya benar-benar berbeda dengan saat bersama Haze.
Dulu, bersama Haze, ada rasa bersalah yang menghimpit, ketakutan akan penghakiman, dan rasa tidak aman yang konstan karena segalanya dilakukan dalam keremajaan yang impulsif dan sembunyi-sembunyi. Namun sekarang, bersama Shane, rasa gugup ini murni lahir dari rasa hormat, antisipasi yang indah, dan kesadaran penuh bahwa ia sedang berada di samping suaminya yang sah, pria yang telah membuktikan cinta dan keseriusannya dalam wujud tindakan nyata.
"Sayang…" Shane meraih dagu Aiena dengan jari-jarinya yang hangat, memutar wajah istrinya agar menatapnya langsung.
"Shane..." Aiena mendongak, menatap mata hitam Shane yang kini memancarkan ketulusan dan intensitas yang begitu besar. "Shane... aku bingung…"
Shane tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat lembut tanpa ada sisa nada jahil seperti saat resepsi tadi. Ia membawa tangan kanan Aiena ke dalam genggamannya, mengusap cincin pernikahan bermata berlian yang melingkar di sana dengan ibu jarinya. "Aku nggak maksa kalau kamu belum siap."
Aiena menatap kedalaman mata suaminya, dan seketika itu juga, sisa-sisa ketakutan masa lalunya luruh tak berbekas.
"Aku siap, Shane," bisik Aiena akhirnya, suaranya tidak lagi bergetar. Ia membalas genggaman tangan Shane, membiarkan jemari mereka bertautan erat di atas seprai yang bertabur mawar merah. "Ini malam spesial buat kita."
Shane tertegun sejenak, lalu sebuah tatapan penuh rasa syukur dan cinta yang mendalam merekah di wajahnya. Ia mencondongkan tubuhnya, menepis jarak yang tersisa di antara mereka untuk menjemput awal dari kisah mereka yang sesungguhnya.
***