Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 ~ Menengok Anak Kita
Pintu mobil langsung tertutup rapat.
Ayra mencoba berteriak, namun pria itu lebih dulu menekan bahunya kuat-kuat. "Diam jika tidak ingin terluka."
Napas Ayra memburu. Tangannya refleks melindungi perutnya. "Siapa kamu?" tanyanya dengan suara bergetar.
Namun pria itu sama sekali tidak menjawab. Mobil segera melaju meninggalkan area basement.
Tepat saat itu, Tristan yang baru saja keluar dari rumah sakit berjalan menuju area parkir VIP sambil berbicara melalui sambungan telepon.
"Kalau proyek sudah disetujui, kirimkan dokumennya ke meja saya sore ini."
Langkahnya terhenti sesaat saat matanya menangkap sebuah mobil hitam yang melaju cukup cepat keluar dari area basement.
Awalnya tidak ada yang aneh. Namun sepersekian detik kemudian, Tristan melihat sesuatu.
Alis Tristan langsung berkerut. Entah kenapa ekspresi wajah Ayra terlihat tidak biasa. Bahkan sesaat sebelum mobil itu berbelok keluar, Tristan sempat melihat Ayra seperti sedang berusaha mengatakan sesuatu.
Deg. Instingnya langsung memberi peringatan.
"Pak Tristan? Halo?" suara asistennya masih terdengar dari telepon.
"Saya hubungi kembali nanti."
Tut. Panggilan langsung diputus.
Tanpa membuang waktu, Tristan segera berlari menuju mobilnya.
Brak! Pintu mobil terbuka. Mesin langsung dinyalakan.
Matanya tetap mengawasi mobil hitam yang kini mulai menjauh dari area rumah sakit.
"Semoga aku salah..."
Namun firasatnya mengatakan sebaliknya. Ban mobil berdecit pelan saat Tristan segera keluar dari area parkir dan membuntuti kendaraan tersebut dari kejauhan.
Ia sengaja menjaga jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Sementara itu, didalam mobil yang membawa Ayra, suasana masih mencekam. Wanita itu berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup sangat kencang.
Ayra sama sekali tidak menyadari bahwa dibelakang sana, sebuah mobil lain diam-diam mengikuti setiap pergerakan kendaraan yang membawanya pergi.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil itu akhirnya memasuki kawasan vila yang cukup sepi. Jantung Ayra berpacu semakin kencang saat kendaraan berhenti tepat di depan sebuah bangunan mewah berlantai dua.
“Turun!” seru pria itu, lalu menarik pergelangan tangan Ayra kasar tanpa rasa belas kasihan.
“Akh!” Ayra meringis menahan sakit, tangannya bergerak refleks melindungi perutnya. “Tolong… jangan sentuh aku sekeras itu.”
Permintaannya sama sekali tak dihiraukan. Pria itu terus menyeretnya masuk ke dalam vila hingga pintu tertutup rapat di belakang mereka.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?!” bentak Ayra yang mulai kehilangan kesabaran.
Tak ada jawaban. Ia tetap ditarik paksa menaiki tangga, menuju salah satu kamar di lantai atas. Suara kunci diputar terdengar jelas.
Bruk!
Tubuh Ayra langsung dihempaskan hingga jatuh ke atas permukaan ranjang besar di dalam sana. Belum sempat wanita itu bangkit, sosok itu sudah berdiri tegak menghadapnya, menciptakan bayang-bayang gelap yang menindihnya.
Perlahan, tangan pria itu terangkat melepas masker hitam yang selama ini menutupi separuh wajahnya. Saat penutup itu terlepas, mata Ayra membelalak tak percaya seolah melihat hantu.
"Kamu?!" serunya parau.
Di hadapannya berdiri Arga, menatapnya datar tanpa ekspresi, namun rahangnya terlihat mengeras menahan emosi yang tertahan.
"Aku terpaksa melakukan ini," ucapnya pelan namun berat.
"Apa kamu sudah gila?" suara Ayra bergetar campuran marah dan tak percaya. "Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan padaku sekarang, Mas?!"
“Aku sudah mencoba bicara baik-baik denganmu, Ayra. Tapi kau tak pernah mau mendengarkan,” jawab Arga dingin, menatap tajam ke arah wanita itu. “Jadi aku terpaksa mengambil jalan ini supaya kau mau mematuhi apa yang aku minta.”
Alis Ayra mengernyit tajam. "Apa maksudmu dengan semua ini?!" bentaknya geram.
Arga perlahan melangkah mendekat, lalu membungkuk menatap wajah Ayra begitu lekat hingga napasnya terasa memburamkan udara di antara mereka. "Kamu yang menutup segala akses agar kita tak bisa bertemu. Jadi… ini jalan satu-satunya supaya aku bisa punya waktu berdua bersamamu, Ra."
Ujarannya terdengar lembut namun memaksa, seraya jemarinya terangkat menyentuh dagu Ayra dan memaksanya menatap lurus ke manik mata itu.
"Singkirkan tanganmu, Mas! Aku tidak sudi sedikit pun disentuh olehmu lagi!" tepis Ayra keras, berusaha melepaskan diri.
Namun Arga tak bergeming. "Tapi saat ini kita masih tercatat sah sebagai suami istri,” jawabnya tenang namun penuh penekanan. Pandangannya perlahan turun jatuh tepat ke arah perut Ayra yang masih terlihat rata. Senyum tipis melengkung di bibirnya. "Lagipula, saat ini kamu sedang hamil anak kita. Aku merindukanmu, Ra… dan aku juga sangat ingin menengok buah hati yang sedang kau kandung."
Belum sempat Ayra membalas, tubuhnya sudah terdorong jatuh kembali ke atas kasur empuk.
Brukk! Arga menindihnya dengan berat badan kekar miliknya, mengunci kedua pergelangan tangan Ayra di atas kepala dengan satu cengkeraman kuat. Napas panas pria itu langsung menyapu kulit sensitif di leher, diikuti ciuman kasar, basah, dan bernafsu yang mendarat paksa, meninggalkan jejak basah hingga membuat Ayra bergidik ngeri.
"Lepaskan! Mas Arga, kamu sudah gila? Jangan sentuh aku!" teriak Ayra meronta sekuat tenaga, namun kekuatannya jauh kalah oleh pria yang kini tampak hilang kendali itu.
Arga sama sekali tak peduli pada penolakan itu. Bibirnya merambat naik merebut bibir Ayra, menekan dan menghisapnya seolah berusaha menelan seluruh udara di paru-paru wanita itu. Tangan bebasnya bergerak liar turun ke sisi gaun yang Ayra kenakan. Dengan tarikan keras dan kasar, suara kain yang robek terdengar nyaring memecah suasana mencekam itu. Kain tipis itu terbelah, mengekspos sebagian kulit putih Ayra yang kini merinding ketakutan.
“Kamu milikku, Ra… tubuhmu dan anak ini milikku seorang. Kita tidak akan pernah berceri, aku sangat mencintaimu Ayra...” gumam Arga parau, matanya memancarkan obsesi yang gelap. Ia mulai menurunkan posisi tubuhnya, semakin menekan hingga tak ada celah sedikit pun untuk Ayra bernapas lega. Tangan kasarnya mulai merambat masuk di balik kain yang tersisa, perlahan bergerak menuju titik terlarang wanita itu.
“Tolong… jangan… Mas, aku mohon… lepaskan…” isak Ayra, air matanya mulai menetes deras. Ia meremas sprei hingga buku jarinya memutih, berharap ada keajaiban yang menghentikan kekejaman ini.
Arga seolah tuli. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh kemenangan saat tangannya hampir mencapai tujuannya, selangkah lagi ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tiba-tiba suara ledakan benturan keras menggema memekakkan telinga. Pintu kamar yang terkunci rapat tadi mendadak terhempas terbuka, kusennya ikut terlepas dari dinding.
BRAKK!!
Angin kencang menerobos masuk membawa bayangan tinggi yang berdiri tegak di ambang pintu, aura dingin dan amarahnya langsung memenuhi seluruh ruangan hingga suhu udara terasa jatuh drastis.
"Tristan..." lirih Ayra.