Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
Jolina melangkah malas menuju gerbang sekolah. Audrey dan Zoya sudah lebih dulu menunggunya, tapi alih-alih menyapa, Jolina justru menyodorkan sebuah paper bag ke depan tubuhnya, seolah benda itu barang terkutuk yang tak ingin terlalu dekat dengannya. Wajahnya masam, bibirnya tertarik ke bawah.
“Lo ke mana aja sih? Dari tadi kita nunggu,” protes Audrey.
Zoya mencondongkan badan, lalu spontan mengerutkan hidung. “Eh… itu apaan? Bau-nya nyebar ke mana-mana.”
“Sepatu Jeremy,” sahut Jolina singkat, suaranya lelah.
“Hah?” Audrey refleks menaikkan alis. “Kenapa sepatu dia nyasar ke tangan lo?”
“Karena dia sok jadi pahlawan pas di kelas. Katanya gue harus tau diri,” Jolina mendecak kesal. “Dan ini… katanya bentuk balas jasanya.”
Zoya langsung menutup hidung dengan dramatis. “Jangan bilang—”
“Iya,” potong Jolina cepat. “Gue disuruh nyuci.”
Audrey terkekeh, nyaris nggak bisa nahan tawa. “Terus lo mau nurut?”
“Jelas nggak!” Jolina mengibas tangan. “Gue bukan ART dia, tau!”
Tawa Audrey dan Zoya pecah bersamaan.
“Nyebelin kalian,” omel Jolina, walau ekspresinya sedikit melunak—kesal, tapi pasrah.
Belum juga mereka tenang, ponsel Jolina bergetar di tangannya. Nama Mama muncul di layar. Jolina menarik napas, lalu mengangkat telepon dengan nada malas.
“Iya, Ma?”
“Jolin, nanti pulang bareng Jeremy ya. Mama masih di luar.”
Jolina langsung berhenti melangkah. “Kenapa harus sama dia?”
“Karena dia adik kamu. Yang penting sampai rumah. Jangan ribut.”
“Tapi, Ma—”
Sambungan terputus.
Jolina menatap layar ponselnya lama, lalu mendengus. “Seen doang.”
Zoya meliriknya. “Kenapa?”
“Disuruh pulang sama Jeremy,” jawab Jolina pelan, tapi nadanya jelas mengandung ancaman.
Audrey berpikir sebentar. “Kalau bareng kita aja?”
Jolina ragu. “Nggak mau ngerepotin…”
“Ah, santai,” Audrey menepuk bahunya.
Namun Jolina tahu, hidup jarang berpihak padanya. Dan kali ini pun, semesta seolah sudah menyiapkan kejutan lain.
Deru mesin motor besar memecah suasana. Sebuah moge hitam berhenti tepat di depan mereka, bodinya mengilap terkena cahaya sore. Jeremy duduk santai di atasnya, helm tergenggam di satu tangan, kacamata hitam masih menutupi matanya.
“Ayo,” ucapnya singkat. “Pulang.”
Jolina langsung memalingkan wajah, seolah keberadaan Jeremy hanyalah angin lalu.
“Nggak. Gue pulang sama temen gue.”
Jeremy menoleh sekilas. “Mama bilang, Lo pulangnya sama gue. Jangan bikin ribet.”
“Kalau gue nggak mau?” Jolina mendongak, menantang.
Jeremy tak menjawab. Ia justru mengangkat ponsel, ibu jarinya siap menekan layar.
“Gue telepon Mama.”
“Heh!” Jolina refleks melangkah maju. “Ngadu mulu kerjaan lo!”
Jeremy menurunkan ponsel, lalu menatapnya datar. “Naik, atau Lo mau di marahi sama mama?”
Jolina mendengus keras. Emosinya naik turun tanpa kendali.
Audrey menepuk bahunya pelan. “Hati-hati, Jo.”
“Iya…” Jolina menghela napas panjang. “Gue duluan.”
Dengan langkah berat, ia mendekat ke motor. Saat berdiri di samping Jeremy, Jolina mencondongkan wajah dan berbisik tajam, “Awas aja lo.”
Jeremy hanya tersenyum tipis, lalu menepuk jok di belakangnya.
“Pegangan yang bener, Kak.”
Dan saat Jolina naik ke motor itu, satu hal langsung ia sadari perang kecil mereka bukan berakhir.
Justru baru dimulai.
Motor melaju.
Terlalu cepat.
Angin menerpa wajah Jolina tanpa ampun, membuat napasnya terputus-putus. Suara mesin meraung keras, menelan semua bunyi lain. Lampu-lampu jalan berubah jadi garis panjang yang berkelebat di sisi pandangannya.
“JEREMY! PELAN!” teriak Jolina, memukul punggungnya dengan panik.
Tak ada jawaban. Atau mungkin, sengaja tak mau mendengar.
Rasa takut merayap naik. Jantung Jolina berdetak tak karuan, perutnya terasa mual. Tanpa sadar, tangannya melingkar erat di pinggang Jeremy—bukan karena mau, tapi karena takut kehilangan keseimbangan.
“LO GILA!” suaranya bergetar, hampir pecah.
Bagi Jeremy, perjalanan itu hanya beberapa menit. Bagi Jolina, rasanya jauh lebih lama—seperti melewati neraka kecil di atas dua roda.
Motor besar itu akhirnya berhenti di depan rumah setelah satpam membuka gerbang. Begitu kakinya menginjak tanah, tubuh Jolina oleng. Ia nyaris terjatuh kalau saja tidak cepat menahan diri.
“Keterlaluan!” suaranya meledak. “Lo keterlaluan, tau nggak!”
Tangannya menghantam bahu Jeremy bertubi-tubi.
“Lo mau bunuh gue, hah?!”
Semua emosi yang sejak siang ia pendam—dari sekolah, dari rumah, dari hidup yang terasa berantakan—tumpah tanpa sisa. Jolina menjambak rambut Jeremy, memukul asal, tak peduli lagi.
“Lo GILA, Jeremy! GILA!”
Jeremy refleks menahan pergelangan tangannya, jelas kaget.
“Jolin, udah—”
Kalimat itu terpotong saat sebuah mobil hitam memasuki halaman. Maya dan Mulya turun tergesa.
“Ada apa ini?!” suara Mulya meninggi.
“Jolina, kenapa kamu mukul-mukul Jeremy?!” Maya panik.
“Dia pantas!” teriak Jolina, masih memberontak. “Dia hampir ngebunuh aku!”
“Jolina, berhenti!” Maya menarik tubuh putrinya ke belakang, sementara Mulya berdiri di depan Jeremy.
Dan detik berikutnya—
“Huek—!”
Jolina membungkuk, muntah keras.
“Ya Allah—Jolina!” Maya langsung memegangi bahunya. “Kamu kenapa, Nak?”
“Tanya aja sama anak kesayangan Mama itu—”
“Huek—!”
Tubuh Jolina melemas. Mulya memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam. Buk Ratih datang membawa air hangat, wajahnya cemas.
Di ruang tamu, Jolina terduduk lemah di sofa. Wajahnya pucat, napasnya belum stabil. Jeremy berdiri agak jauh, kepala tertunduk.
“Sebenernya ada apa?” Mulya bertanya tegas.
“Baru sampai rumah, langsung ribut.”
Jeremy menarik napas panjang. “Aku… bawa motornya terlalu kencang.”
“Apa?” suara Mulya naik. “Kamu bawa kakak kamu kayak begitu?”
“Papa tau kamu itu gimana kalau bawa motor. Lihat akibatnya. Kakak kamu sampai muntah!”
Jeremy mengepalkan tangan. “Aku minta maaf, Pa.”
“Bercanda aja sama kakak,” tambahnya pelan. “Nggak sengaja.”
“Bercanda?” Jolina menoleh tajam.
“Gue hampir mati, tau!”
“Jolina…” Maya mencoba menenangkan. “Jeremy kan sudah minta maaf.”
“Mama belain dia?” suara Jolina bergetar. “Aku anak Mama hampir celaka! Kalau aku jatuh di jalan gimana?!”
“Kan nggak sampai jatuh—” Maya berhenti, menyadari ucapannya sendiri.
“Ma…” Jolina menunduk. “Astaga…”
Ruangan mendadak sunyi.
“Sudah,” Mulya akhirnya angkat suara. “Ini cukup.”
“Jeremy, Papa minta kamu jangan pernah ulangi hal seperti ini.”
“Iya, Pa.”
Maya menatap Jolina. “Dan kamu juga. Jangan main tangan. Kalian sekarang satu keluarga.”
Jolina hanya mengangguk pelan. Dadanya masih terasa sesak.
Di kepalanya, satu kalimat berputar tanpa henti:
Kalau ini baru hari pertama…
berapa lama lagi ia harus hidup bersama adik tiri bernama Jeremy?
Mulya menatap keduanya. “Kalian harus berdamai.”
“Jeremy,” katanya tegas. “Minta maaf sama kakak kamu.”
Jeremy melangkah mendekat, lalu duduk di sisi Jolina. Jarak mereka terlalu dekat untuk disebut nyaman.
“Gue minta maaf, Jolin…” ucapnya lirih.
Jolina tak menjawab. Jolina masih diliputi amarah. Dadanya terasa panas, napasnya berat. Tatapannya menelusuri wajah Jeremy—senyum tipis yang tak pernah benar-benar sampai ke mata, sorot itu… terlalu tenang untuk orang yang mengaku menyesal.
Tidak ada ketulusan di sana.
“Sepertinya Jolina masih marah ya, Ma…” ucap Jeremy pelan, nadanya dibuat hati-hati.
Maya menoleh. “Jolina?”
Jolina mengepalkan tangan.
Lagi-lagi cara yang sama. Mengadu dengan wajah paling rapi.
Jeremy menarik napas panjang, seolah sedang menyiapkan pengakuan besar.
“Gue tau gue salah,” katanya. “Gue nggak seharusnya bawa lo kebut-kebutan. Gue beneran nyesel. Maafin gue ya.”
Tangannya terulur.
Maya menatap Jolina cukup lama. Tatapan yang tak perlu dijelaskan. Jolina mengerti—menolak bukan pilihan.
Dengan enggan, ia mengangkat tangan dan menjabat tangan Jeremy.
“Iya,” ucapnya pelan. “Gue maafin.”
Jari Jeremy bergerak. Pelan, sengaja, mengusap punggung tangan Jolina.
Jolina langsung menatapnya tajam.
“Nah, gitu dong,” kata Papa lega. “Damai itu lebih enak dilihat.”
“Iya,” sambung Mama. “Kalian kan keluarga.”
“Sekarang ganti baju. Kita makan,” ujar Mama sebelum berjalan pergi bersama Papa, meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
Begitu langkah orang tua mereka menghilang, ekspresi Jeremy berubah. Senyum lembut itu lenyap, digantikan tatapan yang jauh lebih jujur.
“Lepasin tangan gue,” desis Jolina.
“Oh,” Jeremy melepaskannya santai. “Iya, maaf.”
“Lo jago banget ya main peran,” sindir Jolina. “Harusnya lo sekalian masuk dunia hiburan.”
Jeremy tertawa kecil. “Udah kepikiran sih.”
Ia mendekat setengah langkah, suaranya direndahkan.
“Lo mau nggak jadi partner gue?”
“Ogah,” jawab Jolina cepat. “Gue nggak mau ada urusan sama lo.”
Jeremy tersenyum tipis.
“Sayangnya, lo udah terlanjur masuk ke hidup gue.”
Jolina menegang.
“Dan soal tamparan lo waktu itu…” lanjut Jeremy, suaranya dingin. “Tenang aja.”
Senyumnya kembali muncul—kali ini tanpa topeng.
“Balasannya bakal lo rasain. Pelan-pelan. Setiap hari.”
Tubuh Jolina menegang mendengar kalimat terakhir Jeremy. Senyum di wajah laki-laki itu masih bertahan, tapi jelas bukan senyum yang tadi ia perlihatkan pada Mama dan Papa. Kali ini tipis, dingin, dan sarat makna.
“Apa maksud lo?” suara Jolina rendah, nyaris bergetar.
Jeremy berdiri. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Ia sedikit menunduk, menyamakan tinggi wajah mereka.
“Tenang aja, Kak,” ucapnya pelan. “Gue nggak bakal nyakitin lo… secara fisik.”
Jolina menelan ludah.
“Ancaman lo nggak lucu.”
Jeremy tersenyum ringan. “Buat gue lucu. Terutama ngelihat reaksi lo sekarang.”
Jolina ikut berdiri. Jarak mereka menyempit, terlalu dekat untuk disebut nyaman.
“Dengerin gue, Jeremy,” katanya tegas. “Gue nggak peduli apa pun rencana lo. Gue nggak bakal tunduk. Jangan pernah mikir lo punya hak ngatur hidup gue.”
Jeremy terkekeh pelan.
“Masalahnya,” katanya santai, “hidup lo sekarang satu atap sama gue.”
“Itu nggak berarti lo berkuasa atas gue.”
“Belum,” jawab Jeremy cepat. “Tapi nanti.”
Napas Jolina memburu. Tangannya mengepal kuat. Ia ingin membalas, ingin meluapkan semua amarahnya—tapi bayangan wajah Mama muncul di kepalanya. Tatapan lelah itu. Harapan agar ia mengalah, lagi dan lagi.
“Aku nggak takut sama lo,” ucap Jolina akhirnya.
Jeremy berdiri tegak.
“Bagus,” katanya ringan. “Permainan jadi lebih menarik kalau lawannya berani.”
Jolina meraih tasnya.
“Jangan pernah berharap gue nurut sama lo.”
Jeremy mengangguk kecil. “Dan jangan berharap gue berhenti.”
Mereka saling menatap beberapa detik. Udara di ruang tamu terasa berat, dipenuhi ketegangan yang tak terucap.
Jolina berbalik lebih dulu.
“Dan satu lagi,” katanya tanpa menoleh. “Jangan sok manis di depan Mama lagi. Gue muak.”
Jeremy memandangi punggung Jolina yang menjauh ke arah tangga. Senyum muncul kembali di wajahnya—kali ini tanpa saksi.
“Sayangnya,” gumamnya pelan, “lo bakal sering lihat itu.”
Di lantai atas, Jolina menutup pintu kamarnya dengan sedikit hentakan. Ia menyandarkan punggung ke sana, menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya.
Ini bukan lagi soal sepatu kotor, nilai ulangan, atau motor yang melaju terlalu kencang.
Ini perang kecil yang baru saja dimulai. Dan entah kenapa, firasat Jolina mengatakan satu hal, Jeremy bukan tipe yang bermain dengan cara adil.
***