NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terhindar dari Petaka

Rana mencoba mengerjapkan matanya berulang kali. Sinar lampu neon putih yang menggantung di langit-langit ruangan terasa begitu menusuk indra penglihatannya, memaksa kelopak matanya yang berat untuk kembali terpejam sesaat. Kepala Rana terasa pening, berdenyut-denyut seakan ada ribuan jarum menancap di dalam, dan seluruh persendian tubuhnya terasa lemas tanpa daya.

Ketika ia mencoba menggerakkan lengan kirinya untuk menyeka keringat dingin di dahi, Rana meringis pelan. Ada rasa ngilu yang tajam menyengat di punggung tangannya. Ia menunduk dan mendapati seutas selang transparan menempel di sana, mengalirkan cairan dari botol infus yang menggantung di tiang besi samping ranjang.

"Kamu sudah sadar?" sebuah suara berat, serak, namun sarat akan nada kelegaan terdengar dari sisi kanan.

Rana menolehkan kepalanya perlahan. Di atas kursi besi, Pradika tampak baru saja menegakkan tubuh. Wajah maskulinnya terlihat sangat lelah dengan lingkaran hitam samar di bawah mata, pertanda laki-laki itu terjaga hampir sepanjang malam demi menjaganya.

"Mas... Pradika? Aku... aku di mana?" tanya Rana.

Suaranya terdengar sangat serak dan kering, seperti tenggorokan yang telah lama tidak tersentuh air.

"Kamu di klinik mess, Rana. Semalam kamu pingsan," jawab Pradika lembut, bergeser duduk lebih dekat ke tepi ranjang.

Rana mengernyitkan dahi dalam-dalam, mencoba memanggil kembali kepingan ingatannya. Pingsan? Benaknya berputar keras, namun kosong. Ia sama sekali tidak ingat kapan atau bagaimana dirinya bisa kehilangan kesadaran hingga terdampar di ranjang klinik ini.

Kepingan memori terakhir yang melekat di otaknya hanyalah saat ia menerima gelas berisi minuman soda cokelat dari Umi di kantin, meminumnya satu tegukan, lalu merasakan pening yang hebat menyerang kepalanya saat berjalan menuju toilet. Ingatannya benar-benar terputus sampai di sana.

Saat kesadarannya mulai terkumpul sepenuhnya, Rana mendadak menyadari sesuatu yang aneh. Sentuhan kain yang melekat di kulit tubuhnya terasa jauh lebih longgar dibandingkan kemeja garis-garis yang ia kenakan kemarin sore. Ia melirik ke bawah dan seketika jantungnya mencelos.

Bukan kemejanya yang melekat di sana, melainkan sebuah kemeja berbahan flannel berukuran besar berwarna biru gelap. Secara spontan dan diliputi kepanikan instan, Rana langsung mengangkat kedua tangannya, menyilangkan lengan di depan dada untuk menutupi tubuhnya sendiri. Matanya menatap Pradika dengan tatapan waspada sekaligus bingung.

Melihat respons spontan Rana, Pradika langsung mengangkat kedua telapak tangannya di udara, memasang ekspresi wajah bersalah sekaligus cemas agar tidak memicu kesalahpahaman.

"Maaf, Rana. Tolong jangan salah paham dulu," ucap Pradika cepat, suaranya melembut penuh permohonan.

"Semalam... aku benar-benar tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Pakaianmu semalam kotor karena terkena muntahanmu sendiri saat pertama kali tiba di klinik. Dokter bilang pakaian itu harus segera dilepas agar kamu bisa bernapas dengan lega dan tidak kedinginan. Jadi... terpaksa aku yang mengganti kemeja atasmu dengan kemeja bersih milikku. Aku bersumpah demi Allah, aku hanya mengganti kemeja bagian atasmu saja dan segera memalingkan wajah. Aku tidak melakukan tindakan tidak senonoh apa pun padamu."

Pingsan? Muntah? Mengganti pakaian?

Rentetan kata yang meluncur dari bibir Pradika membuat otak Rana berputar semakin kencang. Apa yang sebenarnya terjadi semalam?

"Bagaimana... bagaimana bisa aku sampai pingsan, muntah dan berada di sini, Mas?" tanya Rana, suaranya bergetar menahan rasa takut yang tiba-tiba merayap di dada.

Pradika tidak terkejut melihat kebingungan Rana. Sebelum gadis itu terbangun, dokter klinik sudah memperingatkannya bahwa ada kemungkinan besar Rana akan mengalami amnesia sesaat mengenai detail kejadian yang menimpanya.

Dokter menjelaskan bahwa kondisi ini disebut sebagai blackout. Konsumsi cairan alkohol dengan kadar tinggi yang masuk secara mendadak ke dalam tubuh yang tidak terbiasa, terbukti secara medis dapat mengganggu fungsi kerja hipokampus di dalam otak; yakni area sensitif yang bertanggung jawab penuh untuk mengubah memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang. Itulah mengapa otak Rana gagal merekam kejadian traumatis setelah ia meminum soda tersebut.

Pradika menarik napas dalam-dalam, lalu dengan nada suara yang dijaga agar tetap tenang dan tidak menakut-nakuti, ia mulai menceritakan secara runut apa yang telah dialami Rana semalam.

Mulai dari ia yang melihat ada yang tidak beres dengan Rana, jebakan minuman soda yang ternyata telah dioplos dengan minuman keras bening dosis tinggi oleh Sapo, Umi yang ternyata komplotan Sapo, hingga detik-detik menegangkan saat Pradika menemukan Rana sedang dicegat dan hampir dilecehkan oleh Sapo di koridor gelap dekat mesin genset belakang.

Rana mendengarkan setiap bait cerita Pradika dengan tubuh yang berangsur-angsur menegang. Bulu kuduknya meremang hebat, dan rasa ngeri yang teramat sangat menjalar dari tengkuk hingga ke ujung jemari kakinya. Air mata haru sekaligus takut mulai menggenang di pelupuk matanya.

Ia tidak bisa membayangkan, jika saja Pradika tidak menaruh perhatian padanya, jika saja laki-laki di depannya ini terlambat datang beberapa menit saja... entah bagaimana nasib dan kehormatannya sekarang. Ia pasti sudah hancur lebur di tangan pria bejad seperti Sapo.

"Terima kasih... Terima kasih banyak, Mas Pradika," ucap Rana tulus, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi.

"Jika kamu tidak datang tepat waktu semalam, aku mungkin..."

"Sudah, jangan dibahas lagi kejadian yang sudah lewat itu. Yang terpenting adalah sekarang kamu sudah aman dan baik-baik saja di sini," potong Pradika cepat, menatap Rana dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa protektif.

"Urusan Sapo dan Umi, sudah ditangani secara tegas oleh orang personalia dan HSE (Health, Safety, and Environment). Mereka bergerak cepat setelah Mas Budi dan Dino menyerahkan barang bukti gelas soda oplosan itu."

"Apa... apa mereka berdua akan dikeluarkan dari perusahaan, Mas?" tanya Rana penuh harap.

Di dalam hatinya yang terdalam, ia sangat berharap bisa terlepas sepenuhnya dari gangguan orang-orang yang hampir saja membahayakan masa depannya itu.

Pradika mengembuskan napas pendek, raut wajahnya berubah agak masam saat mengingat regulasi birokrasi site.

"Umi kemungkinan besar akan langsung diberhentikan secara tidak hormat hari ini karena statusnya masih karyawan kontrak. Tapi untuk Sapo... karena dia karyawan permanen dan memiliki kedekatan dengan beberapa serikat pekerja lokal, manajemen hanya bisa memberikan surat warning sekaligus menjatuhkan sanksi mutasi darurat ke site TIA."

Rana menundukkan kepalanya, menatapi jemari tangannya yang saling meremas di atas selimut klinik. Ada rasa kecewa karena Sapo tidak dipecat, namun mengetahui bahwa pria itu akan dipindahkan ke site yang jauh dari jangkauannya, sudah cukup membuatnya bernapas lega.

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!