Song Jiao, di kehidupan pertamanya dia adalah Jenderal Wanita terkuat yang berhasil menguasai Dunia, tapi hidupnya berakhir begitu cepat karena sebuah penyakit bawaan yang belum ada obatnya.
Tetapi jiwa berdarah-darah Song Jiao tidak diterima di Surga maupun Neraka, hingga pada akhirnya dia harus menjalani kehidupan kedua sebagai Song Jiao yang lain, yaitu putri Raja yang kehilangan statusnya setelah gagal mengkudeta Kekuasaan Kaisar yang tidak lain adalah Kakaknya sendiri.
Terbangun di tubuh gadis muda kurus yang lemah di akhir musim dingin, ingatan asing diterima Song Jiao begitu membuka mata, dan dari dalam ingatan itu dia tau hidupnya tinggal sebatang kara, dimana orangtuanya meninggal sebelum datangnya musim dingin, lalu para pelayan yang tersisa pergi setelah mengambil seluruh harta milik keluarga Song Jiao.
Tanpa harta, tanpa kekuatan, juga tanpa orang yang bisa diandalkan. Sanggupkah Song Jiao menjalani kehidupan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Tabib Dewa Mo Yan
Wajah-wajah yang semula diselimuti penyesalan seketika berubah menjadi cemas dan khawatir begitu sebuah kabar buruk datang.
Jenderal Besar Qin Haoran dikabarkan terluka parah oleh serangan rahasia Jenderal musuh yang pada akhirnya mati dengan kepala tertebas pedang Jenderal Besar.
Saat ini Jenderal Besar sedang dalam perjalanan kembali ke Kediaman dengan didampingi Mo Yan, sosok tabib yang bergelar Tabib Dewa.
Song Jiao yang bisa merasakan kecemasan dan ketakutan neneknya, dia menegang tangan wanita tua itu, memberi usapan lembut yang memenangkan.
"Nenek tenang saja, Kakek pasti baik-baik saja!"
'Selagi masih ada sisa napas, aku yakin bisa menyembuhkan Kakek!'
Song Jiao mencoba meyakinkan Li Huanran kalau kondisi kakeknya baik-baik saja, dan dalam hati dia meyakinkan dirinya sendiri jika separah apapun luka kakeknya, selagi masih tersisa napasnya, dia pasti bisa menyelamatkan hidupnya.
Li Huanran sedikit lebih tenang setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Song Jiao, bahkan dia bisa menunjukkan senyuman tipis di wajahnya, tapi rasa cemas dan khawatir kembali dirasakan begitu Jenderal Besar dan rombongannya tiba di rumah.
Dibantu Song Jiao saat berjalan, Li Huanran cepat mendatangi suaminya, melihat secara langsung keadaannya saat ini.
"Tabib Dewa, bagaimana keadaan suamiku?"
Begitu melihat sosok Mo Yan, Li Huanran langsung saja menyelamatkan keadaan suaminya.
"Nyonya, meski hamba dipanggil Tabib Dewa, nyatanya hamba hanyalah orang biasa, jauh berbeda dengan Dewa yang sesungguhnya. Mohon maafkan hamba karena saat ini keadaan Jenderal Besar benar-benar sudah tidak tertolong!"
Mo Yan sujud di hadapan Li Huanran setelah sebelumnya menjelaskan keadaan Qin Haoran, dan dia sempat menunjukkan ekspresi putus asa.
Ekspresi itu dilihat jelas oleh semua orang, tapi Song Jiao menjadi satu-satunya yang melihat kejanggalan dari ekspresi Mo Yan.
'Entah kenapa aku tadi melihatnya seperti tersenyum, meski itu hanya sesaat dan berlangsung cepat?!'
Mengabaikan Mo Yan untuk saat ini, perhatian Song Jiao langsung tertuju pada kakeknya yang terluka.
Hanya sekali melihat, dia memang melihat kakeknya terluka parah, tapi itu bukan luka yang sampai bisa mengancam nyawa.
Saat ini juga Song Jiao semakin merasa ada yang aneh dengan Mo Yan, tapi dia terus saja diam, lebih memilih menyelamatkan kakeknya yang jika darahnya terus dibiarkan keluar, yang ada kakeknya benar-benar akan mati.
Saat semua orang larut dalam kesedihan dan Mo Yan yang masih bersujud di hadapan Li Huanran, Song Jiao bergerak cepat menghampiri tubuh kakeknya, membuka kain yang digunakan untuk menutupi tubuhnya, memperlihatkan lebih jelas padanya sebuah luka tusukan di bagian dada.
"Luka ini memang hampir menyentuh jantung Kakek, tapi untungnya masih meleset sedikit, membuat jantungnya dalam keadaan baik, hanya saja pendarahan ini harus segera dihentikan sebelum situasi menjadi semakin buruk!"
Suara Song Jiao lirih terdengar, membuat hanya dia dan Qin Haoran yang samar-samar mendengar suara itu.
Tanpa membuang waktu yang ada, Song Jiao mengeluarkan sebuah gulungan kain berwarna putih bersih, dan begitu gulungan kain terbuka, di dalamnya terdapat berbagai jenis dan bentuk jarum untuk melakukan metode akupuntur.
Dengan metode itulah dia akhirnya bisa menghentikan pendarahan setel menusuk beberapa titik akupuntur yang bisa menghentikan keluarnya darah dari luka di tubuh Qin Haoran.
Cukup menggunakan empat jarum, Song Jiao berhasil menghentikan pendarahan, dan saat masih belum ada yang menyadari perbuatannya seolah ada kekuatan asing yang membuat orang-orang tidak bisa melihat jelas ke arah Qin Haoran, Song Jiao menjahit luka dengan teknik menjahit luka yang pernah diajarkan oleh gurunya di kehidupan sebelumnya.
Tidak lupa Song Jiao memberikan pil penambah darah yang bisa membantu menstabilkan keadaan Qin Haoran setelah kehilangan banyak darah, dan terakhir dia menaburkan bubuk obat yang bisa membantu pemilihan luka berkali-kali lebih cepat dari bubuk obat biasa, sebelum akhirnya dia menggunakan kain khusus untuk membalut luka yang telah dirawat dengan baik.
Kembali memeriksa keadaan Qin Haoran yang merupakan kakeknya, senyum tipis seketika menghiasi wajah Song Jiao begitu memastikan kondisi kakeknya telah melewati masa kritis, hanya saja dalam beberapa waktu jam ke depan ada kemungkinan kakeknya akan mengalami demam, tapi itu adalah sesuatu yang wajar terjadi, dan dia punya pil yang bisa membuat demam kakeknya cepat mereda.
'Mereka benar-benar tidak sadar dengan apa yang aku lakukan.'
Melihat ke arah orang-orang sekitar, Song Jiao mendapati ekspresi mereka kosong, sedangkan saat melihat ke arah anggota keluarga yang baru ditemuinya, mereka sangat bersedih tapi tidak kunjung datang melihat keadaan Qin Haoran lebih dekat lagi.
Lalu yang aneh, Mo Yan terus saja bersujud di hadapan Li Huanran, seolah dia melakukan itu dengan sengaja supaya pihak keluarga Jenderal Besar tidak berjalan lebih mendekat lagi, dan seiring waktu yang terus berjalan jika dan Jenderal Besar tidak kunjung mendapatkan perawatan, bisa dipastikan kematian akan datang pada Jenderal Besar yang kehabisan darah.
'Sial! Mungkinkah tabib gila ini yang selama ini membuat banyak anggota keluarga Qin pada akhirnya mati setelah terluka dalam perang?'
Pikiran Song Jiao seketika tercerahkan, dan saat fokusnya kini tertuju pada Mo Yan, dia bisa merasakan energi jahat yang cukup kuat berasal dari sebuah kantong wewangian yang tergantung di ikat pinggangnya.
Cepat Song Jiao mengambil benda itu tanpa bisa dihentikan oleh pemiliknya, dan begitu sadar benda yang semula terikat di ikat pinggangnya telah berpindah ke tangan orang lain, Mo Yan terlambat mengambilnya, dan pada saat itu juga secara ajaib seluruh anggota keluarga Qin cepat menghampiri tubuh Jenderal Besar.
Melihat semua itu, awalnya Mo Yan tersenyum samar, yakin jika para wanita itu hanya melihat mayat Jenderal Besar, tapi tidak lama setelahnya dia melotot lebar begitu melihat luka Jenderal Besar telah dibalut kain bersih, dan tidak lagi ada rembesan darah di kain itu, pertanda jika luka itu telah diobati dengan baik, menghancurkan sebuah rencana yang sudah disusun sejak jauh-jauh hari.
"Nenek dan Ketiga Bibi, kalian tidak perlu khawatir! Aku sudah mengobati Kakek, dan seharusnya dalam beberapa waktu kedepan Kakek sudah bisa membuka matanya kembali!"
Song Jiao bicara sambil tersenyum kecil, tapi sorot matanya berubah menjadi tajam dan aura di sekelilingnya berubah menjadi sangat dingin begitu matanya tertuju ke arah Mo Yan.
'Gadis ini, siapa dia? Kenapa dia tiba-tiba berada diantara para wanita keluarga Qin, dan mungkinkah dia yang telah menggagalkan rencanaku?'
Mo Yan tiba-tiba merasakan firasat buruk saat pandangan Song Jiao tertuju padanya, apalagi saat dia melihat gadis itu tersenyum lalu bicarakan...
"Tuan Mo Yan, bukankah sudah waktunya Tuan memberikan penjelasan pada kami!"